Pemuja Pembawa Petaka

Pemuja Pembawa Petaka
kaki 2


__ADS_3

Aji dengan telaten memijat kaki Ara. Ara semakin tenang karena ada Aji yang menemaninya. Namun sesekali air matanya masih menetes.


" Mbak udah dong nangisnya, pasti kaki mbak Ara nggak papa kok. Nanti kalau ibuk denger mbak Ara nangis, ibuk malah khawatir, mbak Ara nggak mau kan ibuk khawatir, makanya mbak Ara nelpon Aji nggak manggil ibuk kan?"


Iya benar apa kata Aji, aku nggak boleh terlihat sedih di depan ibuk, aku nggak mau ibuk khawatir, nanti kalau ibuk jadi sakit lagi gimana? nggak! aku nggak boleh cengeng, aku harus kuat, aku pasti sembuh.


" Iya dek, makasih ya, udah nemenin mbak, maaf mbak jadi ganggu tidur mu, padahal jam segini kan lagi enak - enaknya buat tidur."


" Nggak papa mbak, lagian aku seneng kok bisa bantu mbak Ara. Oh iya kenapa mbak Ara nggak ngasih tau mbak Kia?"


" Tadinya mbak mau nelpon Kia dek, tapi hp mbak mu Kia nggak aktif, makanya mbak terpaksa telpon kamu."


" Lain kali kalau ada apa - apa mbak Ara jangan lupa kasih tau aku juga ya mbak."


" Iya dek, ya udah gih kamu balik tidur sana."


" Nanggung mbak, bentar lagi juga udah harus mandi mau siap - siap sekolah. Oh iya dimana lagi mbak yang sakit?"


" Badan mbak sakit semua dek, rasanya lemes banget, kaki mbak juga sakit apa lagi kalau berdiri."


" Ya sudah mbak istirahat aja, nanti kalau udah pagi dibawa ke dokter. Aku temenin disini sampai pagi mbak."


" Tapi nanti kamu ngantuk kalau disekolah dek?"


" Nggak mbak tenang aja, adik mbak ini laki - laki loh, nggak selemah itu."


" Adik mbak sudah besar rupanya, hehehe."


" Iya dong, udah bisa bantuin ibuk, bapak mbak, walaupun aku anak paling kecil, tapi aku ini laki - laki, aku harus bisa melindungi mbak Ara sama mbak Kia juga."


" Duh seneng banget nih mbak, sekarang ada yang melindungi mbak loh, jadilah laki - laki baik, bertanggung jawab, jangan suka nyakitin perempuan, jangan juga suka obral janji sana sini."


" Iya mbak, aku akan berusaha. Sampai saat ini juga aku belum punya pacar."


" Lah kenapa? kan adiknya mbak gantengnya kaya gini."


" Aku mau fokus sekolah mbak, biar ngga mengecewakan kalian. Dan kalau punya pacar juga aku takut nggak bisa bahagiain dia, uang aja masih minta sama orang tua sama mbak juga. Masak ia mau kencan tapi minta duit ibuk, kan malu - maluin."

__ADS_1


" Hahaha, bener juga tuh. Mbak bangga sama kamu dek, biasanya laki - laki seumuran kamu pada berlomba - lomba menunjukan karisma pada lawan jenisnya untuk menarik perhatiannya. Berpacaran hingga diluar batas kewajaran, banyak juga yang akhirnya hamil diluar nikah karena mereka tidak bisa menahan hawa nafsunya. Mbak takutnya kamu akan begitu juga, tapi syukurlah adik gantengnya mbak ini bisa berfikiran begitu, tetap selalu jaga diri, menahan diri dan mengendalikan diri ya dek, Mbak harap kedua adiknya mbak bisa jaga diri dan tetap baik - baik saja, tidak membuat bapak ibuk kecewa."


" Iya mbak, aku akan ingat terus pesan mbak."


Adanya Aji yang menemani dikamar Ara itu menjadi hiburan buat Ara, perasaan Ara sekarang jauh lebih tenang. Sudah bisa menerima keadaannya yang sekarang.


Karena hari sudah pagi, Aji pamit untuk mandi dan bersiap ke sekolah.


Setelah selesai mandi, Aji ke dapur untuk sarapan, ternyata di sana sudah ada ibuk yang menyiapkan sarapan, ada bapak dan juga mbak Kia.


" Dek bangunin mbak Ara sekalian untuk sarapan." Perintah ibu Lani.


" Mbak Ara sakit buk, kaki mbak Ara nggak bisa buat berdiri." Jawab Aji.


" Kok bisa dek, kemarin saja Ara masih baik - baik saja?" tanya bu Lani dengan raut wajah yang sangat panik.


" Ya udah buk, ayo kita lihat Ara." Ajak bapak.


Ibu sama bapak Ara kelihatan sangat panik, mereka langsung bergegas menuju kamar Ara.


" Ha! seriusan dek? kemarin saja mbak Ara nggak papa kan, dia nggak ada cerita kalau kakinya sakit?" tanya Kia kaget.


" Maksud kamu apa si dek, apa hubungannya dengan hp?"


" Mbak tau nggak, dini hari tadi mbak Ara mau ngambil minum, tapi jatuh kakinya nggak bisa buat berdiri, dia mencoba berdiri berulang kali sampai lututnya membiru dan berdarah, mbak Ara mau telpon mbak Kia, tapi telpon mbak Kia mati.


Untung saja Aji langsung bangun saat mbak Ara telpon. Mbak Ara nangis, baru kali ini aku liat mbak Ara nangis sampai kaya gitu. Aku kasian melihat mbak Ara."


" Iya dek, memang hp nya mbak mati, lupa ngecas. Kasian banget mbak Ara, kenapa aku seceroboh ini sih."


Kia merasa bersalah, karena sampai nggak tau kalau kakaknya sakit dan membutuhkan dirinya, namun dirinya malah nggak ada.


Maafin Kia mbak, Kia nggak tau, selama ini juga Kia nggak memperhatikan kondisi mbak. Kia kurang perhatian sama mbak.


****


Di kamar Ara.

__ADS_1


" Kok nggak bilang sama ibuk Ra kalau kakimu sakit?" tanya ibuk Lani.


" Ara juga nggak tau buk, kemarin juga nggak sakit, cuma kesemutan aja. Baru tadi, Ara mau ambil minum, tapi saat Ara turun dari ranjang kaki Ara sakit kalau buat berdiri."


" Ya ampun nak, berapa kali kamu mencoba berdiri, kenapa sampai luka begini? kenapa nggak panggil ibuk Ra?"


" Maaf buk, cuma Ara nggak mau ganggu istirahat ibuk."


" Kita bawa kedokter saja ya Ra?" tanya bapak.


" Iya pak."


Ara segera mengiyakan karena Ara ingin cepat sembuh, Ara nggak mau merepotkan bapak sama ibu nya, dia juga ingin segera bekerja untuk membantu ibu nya membiayai kebutuhan sekolah kedua adiknya.


" Ya sudah bapak cari orang yang bisa mengantar dulu ya buk, ibuk siapkan sarapan buat Ara."


" Iya pak, ini juga mau ibuk ambil kan."


Melihat bapak dan ibunya keluar dari kamar Ara. Kia bergantian masuk ke kamar Ara.


Dengan air mata yang sudah berderai, Kia berlari menghampiri Ara yang tengah duduk di atas tempat tidur.


" Mbak maafin Kia, Kia nggak tau, Kia nggak perhatiin mbak Ara."


" Duh Kia jangan nangis, nanti kalau ibuk dengar, malah jadi tambah khawatir."


" Hiks, hiks, maafin Kia ya mbak, Kia janji kali ini Kia pasti akan lebih perhatian sama mbak Ara, maafin Kia, semalam mati hpnya lupa ngecas."


" Iya Kia, nggak papa mbak maafin. Mbak sudah nggak papa, jangan nangis lagi."


" Pasti kakinya sakit banget ya mbak?"


" Nggak kok, cuma sakit dikit. Ya sudah sana berangkat nanti kesiangan malah telat loh."


" Ya udah Kia sekolah dulu, nanti pulang sekolah Kia bakal temenin mbak. Ya udah Kia berangkat, assalamualaikum." Kia pamit sambil mencium tangan Ara.


" Iya, hati - hati bawa motornya. Waalaikumsalam."

__ADS_1


Setelah Kia keluar dari kamar Ara, Aji bergantian masuk untuk berpamitan dengan Ara.


__ADS_2