Pemuja Pembawa Petaka

Pemuja Pembawa Petaka
Kekhawatiran


__ADS_3

" Assalamualaikum," salam bunda Raina saat masuk ke kamar rawat Ara.


" Waalaikumsalam." Ara dan Rafael menjawab serentak.


Bunda Raina menangis melihat kondisi Ara.


" Pasti sakit ya nak? maafin bunda ya sayang bunda nggak bisa jagain kamu."


" Ini bukan salahnya bunda kok."


" El ini bunda bawakan baju ganti, cepetan mandi sana lihat tuh kamu lusuh banget."


" Terimakasih bunda, aku mandi dulu ya."


Saat Rafael sudah masuk ke kamar mandi.


Ara kembali memeluk erat bunda Raina sambil menangis.


" Ada apa sayang? cerita sama bunda, mana yang sakit, sini biar bunda usap - usap."


" Ara takut dan juga sakit bunda."


" Sekarang kan sudah ada bunda ada El juga, jangan takut lagi. Cerita sama bunda yuk? biar Ara lega."


" Saat Ara bertemu dengan mas Frans Ara seneng bun, karena selama ini jujur Ara masih merindukannya. Tapi rasa kecewa Ara juga masih ada karena dia bohongin Ara, makanya Ara nggak mau saat kemarin dia minta balikan, dia ingin menikah dengan Ara, dia minta diberi kesempatan. Tadi nya Ara ingin mempertimbangkan lagi, tapi setelah itu ada wanita yang datang, ternyata dia calon istrinya, dan mereka bercumbu di depan mata Ara bun, Ara merasa jijik dengan mas Frans, perasaan Ara hancur."


" Dan dia yang membuatmu begini? yang memukulmu sampai begini?"


" Iya bunda."


Rafael mendengarkan Ara bercerita kepada bunda dibalik pintu kamar mandi.


Gadis itu ternyata dari tadi menahan tangis dan rasa sakitnya di depan ku. Dia juga mengalami hal yang buruk dirumah lelaki itu, aku pasti akan membuat perhitungan dengan pria gila itu saat bertemu dengan nya, bisa - bisa nya dia membuat Ara sampai seperti ini.


" Mulai sekarang lupakan dia ya sayang, dia tidak baik untuk mu, dia tega menyakitimu sampai seperti ini. Bunda nggak mau kamu mengingat dia lagi."


" Iya bunda,"


" Kamu tidak memberi kabar ibu mu?"


" Nggak bunda, Ara takut ibu malah khawatir dan jadi kepikiran."


" Ya sudah kalau begitu."


***


Saat Ara tengah dibawa Frans, Sukma memberi tahu Aji.


Ini kenapa ya kok perasaan ku jadi nggak enak, dan aku kepikiran terus dengan mbak Ara.


Wuss buku tulis Aji terbalik dengan sendiri nya, lalu muncul tulisan ARA DALAM BAHAYA.


Ini pasti ulah Sukma. Aku harus keluar dulu untuk bertanya apa yang terjadi.


Jam pelajaran tengah berlangsung, Aji meminta izin untuk ke toilet sebentar.


Sesampainya di dalam toilet Aji memanggil Sukma.


Tidak butuh waktu lama, Sukma langsung muncul di hadapan Aji.


" Uma apa yang terjadi dengan mbak Ara?"


" Aku juga tidak tau, tapi sama dengan mu aku merasa mbak Ara dalam bahaya."


" Coba aku telpon dia dulu."


Berkali - kali Aji menghubungi Ara dan juga Linda namun sama tidak ada yang menjawab telponnya.


" Aku harus gimana uma? ini pasti ada yang terjadi dengan mbak Ara."


" Berdoalah, tenang jangan panik pasti Ara akan baik - baik saja. Sekarang fokuslah dulu dengan pelajaran mu, sambil menunggu kabar dari Ara."


" Baik lah, terimakasih uma."


" Tenang lah, jangan mudah panik semua akan baik - baik saja." Sukma menenangkan Aji, dengan senyuman manisnya.


Uma terimakasih selalu mengingatkan aku untuk menjadi lebih baik. Senyuman mu nyatanya selalu ampuh untuk menenangkan ku.


Tak bisa aku pungkiri sekarang aku sering baper sama nih makhluk halus. Kenapa kamu cantik dan manis banget sih, baik lagi. Duh ternyata makhluk halus pun bisa meresahkan hati ku begini.


" Hey, kok malah melamun sih, sana balik ke kelas."


" Ah, oke, ya udah aku kelas dulu ya, terimakasih uma."


" Tuh anak kadang aneh deh." Gumam Sukma.

__ADS_1


Dirumah Ara.


Firasat seorang ibu itu, banyak benarnya.


Dari kemarin perasaan ibu Lani memang sudah tidak tenang, ada rasa sedih, cemas dan gelisah.


Saat tengah bersantai dengan suami dan kedua anaknya bu Lani mengutarakan apa yang dirasakannya, dan ternyata Aji pun sudah merasakannya juga.


" Pak perasaan ibuk kok nggak enak ya pak? ada apa ini, dan kenapa ibuk kepikiran terus dengan Ara."


" Mungkin karena ibuk merindukan mbak Ara." Jawab Kia.


" Kia benar, bisa jadi ibuk terlalu memikirkan Ara." Imbuh Bapak.


Aji hanya terdiam, di dalam hatinya ia mengiyakan perkataan ibu nya, bahwa memang telah terjadi sesuatu dengan Ara. Namun Aji tidak berani mengungkapkannya, ia takut membuat semuanya khawatir, lagian dia juga belum tau pasti apa yang terjadi dengan Ara.


" Ibuk sekarang kan sudah malem, ibuk istirahat saja dulu, besok pagi kita telpon mbak Ara ya."


Kata Aji.


" Iya Aji benar buk, kita istirahat dulu yuk, besok pagi kita telpon Ara untuk memastikan." Imbuh bapak.


" Baik pak."


Tinggal Kia dan Aji di ruangan itu.


" Dek kamu tau sesuatu ya?"


" Kok mbak Kia tau?"


" Dari dulu kan memang kamu kalau soal mbak Ara pasti sensitive seperti ibuk, dan Kia juga merasa apa yang ibuk katakan tadi benar. Aku berkata seperti itu untuk menenangkan ibuk."


" Iya mbak, memang dari tadi perasaan Aji juga tidak nyaman, dan Aji sudah berusaha telpon mbak Ara dan mbak Linda tapi tidak di jawab. Semoga besok saat ibuk telpon mbak Ara, mudah - mudahan di angkat, biar ibuk tidak khawatir lagi."


" Sebenarnya apa yang terjadi dengan mbak Ara?"


" Aku juga tidak tau mbak."


" Apa mungkin penyakitnya kambuh lagi?"


" Bisa jadi mbak."


" Tapi kok mbak Ara tidak memberi tahu kita?"


" Nggak tau juga mbak."


" Iya mbak,"


***


Ara sudah keluar dari ruang operasi, Bunda Raina dan Rafel yang setia menemani Ara.


Linda tidak bisa menemani Ara, karena pekerjaan Linda banyak, dan mengharuskannya untuk segera kembali ke kota S, dan Tomy juga harus kembali ke perusahaan untuk bekerja. Rafael bisa bekerja dari rumah sakit.


" Bunda makan dulu ya, biar aku yang nungguin Ara, nanti gantian, bunda dari tadi belum makan loh."


" Melihat Ara begini bunda nggak ***** makan El,"


" Nanti kalau bunda sakit, siapa yang mau merawat Ara bunda, Ara juga pasti sedih kalau bundanya sakit. Bunda tunggu sini, biar aku yang beli makanan buat bunda."


" Nggak usah El, bunda saja yang keluar sama sekalian bunda mau beli baju buat ganti, mau beli juga buat Ara, kemarin bunda buru - buru jadi lupa bawa baju ganti."


" Ya sudah bunda hati - hati ya."


" Iya sayang, kabarin kalau Ara sudah sadar yah."


" Iya bunda."


Ara menangis sambil berteriak ketakutan, mungkin di bawah alam sadarnya dia mengalami trauma karena kejadian kemarin.


Rafael menggenggam tangan tangan Ara.


" Ara hey bangun, tenang lah ada aku disini, kamu aman bersama ku, Ra, buka matamu."


" Hiks, hiks."


" Hey, kamu aman sekarang, ada aku disini tenang ya."


Setelah beberapa menit berlalu Ara sudah agak tenang.


" Pak bunda mana?"


" Bunda lagi keluar cari makan, ada perlu apa? bilang sama aku juga sama saja."


" Nggak kok pak, aku hanya tidak enak hati saja sudah merepotkan bapak sama bunda. Padahal Ara datang kan untuk kerja."

__ADS_1


" Tuh tau, makanya biar nggak merepotkan menikah lah dengan ku."


" Apaan sih bapak, bercanda mulu ih."


" Aku serius Ra, siapa tau kamu nggak mau jadi pacar ku tapi mau jadi istriku, bukan kah wanita itu suka kepastian?"


" Iya sih pak, tapi ya jangan nikah sekarang juga, Ara masih sakit."


" Berarti kamu mau?"


" Nanti Ara pikir - pikir dulu ya pak."


" Dasar kamu, iya jangan lama - lama. Nih hp kamu dari tadi bunyi terus, ibuk kamu nelpon tapi aku nggak berani angkat, takut salah omong."


" Terimakasih pak, aku telpon ibuk dulu ya pak, tapi bapak diem aja ya?"


" Iya."


Ara menghubungi ibu nya balik, karena pasti ibunya khawatir telpon dia berkali - berkali tapi tidak di angkat.


" Halo buk assalamualaikum."


" Waalaikumsalam Ra, kamu kenapa nggak angkat telpon ibuk sih Ra. Ibuk telpon kamu dari pagi loh."


" Buk ibuk lupa ya? kan Ara lagi kerja buk, jadi hp nya Ara tinggal dikamar, ada apa buk?"


" Duh maaf ya Ra, ibuk nggak kepikiran, soal nya dari kemarin perasaan ibuk nggak enak, ibuk takut kamu kenapa - napa."


" Iya buk, nggak papa, ibuk sehat?"


" Sehat Ra, kamu sendiri gimana nak?"


" Ara juga sehat buk."


" Syukurlah kalau begitu, ibuk jadi tenang, ya udah kalau lagi kerja, maaf ibuk ganggu, jaga kesehatan ya Ra."


" Iya buk, ibuk juga. Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."


Maaf ya buk, Ara terpaksa bohong, Ara takut ibuk jadi kepikiran, maaf ya buk, nanti kalau Ara sembuh, Ara akan pulang.


Setelah panggilan dari bu Lani berakhir, dan panggilan baru masuk dari Aji. Kali ini vidio call.


" Haduh gimana nih, adek mau vidio call lagi." Ara panik.


" Angkat saja." Kata Rafael.


" Ya nanti dia tau dong pak, aku dirumah sakit." Jawan Ara.


" Kalau dia seperti mu, dia nggak akan bilang, pasti dia juga mikirnya sama kamu, jawab saja."


Ara pun menjawabnya sesuai perkataan Rafael.


" Halo dek assalamualaikum." Sapa Ara.


" Waalaikumsalam mbak. Mbak nggak papa kan? itu kenapa muka cantiknya jadi begitu? pasti sudah terjadi sesuatu ya?"


" Iya dek, tapi udah nggak papa kok."


" Kok bisa kaya gitu sih mbak? siapa yang membuat mbak kaya gitu?"


" Mas Frans dek, tapi jangan bilang ibuk ya?"


" Dia lagi, dia lagi, kenapa dia seneng banget menyiksa mbak sih, mbak masih di rumah sakit ya?"


" Iya habis operasi dek, kaki mbak patah."


" Ya Allah mbak, aku nyusul ke sana ya mbak?"


" Jangan lah dek, nanti ibuk malah tau, besok saja kalau mbak sudah membaik akan pulang."


" Tapi siapa yang jagain mbak di sana?"


" Tenang aja dek, ada bunda sama pak El, mereka baik sama mbak."


" Syukurlah mbak kalau begitu, cepat sembuh ya mbak, maaf aku nggak bisa jagain."


" Nggak papa ganteng, kamu fokus belajar saja ya, mbak baik - baik aja kok. Bentar lagi juga pasti sembuh."


" Pasti sakit banget ya mbak?"


" Nggak terlalu kok, mbak kuat kok, kamu jangan khawatir ya?"


" Iya mbak, ya udah mbak istirahat ya, hati - hati di sana ya mbak, kalau nggak ada yang jagain mbak pulang aja nanti aku jemput."

__ADS_1


" Iya ganteng, terimakasih, assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."


__ADS_2