
Mereka pun benar - benar tidur bertiga di kamar Aji.
Kamar Aji memang nyaman dan luas, cukup untuk tidur mereka bertiga.
" Pantesan mbak Ara betah banget tidur disini, ternyata kamar Aji memang nyaman." Kata Kia.
" Iya lah, asal jangan ikut - ikutan tidur disini juga mbak." Jawab Aji.
" Ya nggak papa, nanti kamu gantian tidur di kamar aku."
" Ogah banget, kamar mbak Kia tuh sumpek, penuh barang - barang yang nggak ada gunanya."
" Sembarangan. Semua barang itu berguna tau, namanya juga cewek pasti barangnya banyak."
" Sudah - sudah, kalian ini berisik banget. Sudah malem ayo tidur." Ara melerai perdebatan mereka.
" Kan tadi mbak Ara sudah tidur seharian masak sudah ngantuk lagi?" tanya Aji.
" Nggak tau dek, mata nya lengket, hehehe mbak rasanya ngantuk banget, kaya habis minum obat tidur." Jawab Ara.
" Ya udah tidur yuk, besok malah kesiangan bangun nya." Ajak Kia.
Mereka pun segera terlelap.
Ara dengan Kia tertidur dengan sangat pulas, nyenyak sekali.
Tapi tidak dengan Aji.
Tidur Aji terusik saat Aji mendengar suara - suara sangat gaduh.
Aji pun membuka mata.
Saat Aji membuka mata, Aji terkejut karena dia tidak berada di kamarnya lagi. Dan suara gaduh itu menghilang.
Aji berada di sebuah pondok kecil di pinggir hutan, tempat itu sangat asing untuknya, tidak ada siapa pun di sana.
Aji nggak tau dia berada dimana, dan tempatnya juga belum pernah di datanginya.
Saat Aji tengah mengamati sekeliling dan
Aji seperti mendengar suara.
Suasana yang sangat sunyi, membuat suara itu terdengar semakin jelas. Karena penasaran dan juga ingin mencari tahu di mana dirinya berada sekarang ini, Aji keluar dari pondok itu dan memberanikan diri untuk mencari sumber suara itu berasal.
" Tolong! tolong!."
Sayup - sayup terdengar suara seorang perempuan meminta tolong.
Lalu Aji mengikuti arah suara itu berasal.
Apa disini ada orang lain selain aku? siapa itu yang meminta tolong?
Suara itu terdengar semakin jelas. Itu tandanya Aji semakin dekat dengan asal suara itu.
" Tolong! tolong aku."
Itu suara perempuan, kenapa mirip banget seperti suara mbak Ara.
Aji berjalan semakin mendekat untuk memastikannya lagi.
" Tolong, tolong aku, hiks, sakit."
Setelah memastikan nya, Aji bertambah yakin kalau itu memang suara kakaknya.
Yah aku yakin itu suara mbak Ara, mbak Ara ternyata disini juga. Tapi ada apa dengan mbak Ara, apa yang sebenarnya terjadi padanya? sepertinya mbak Ara sedang kesakitan. Aku harus segera menemukanya.
Setelah berjalan ke depan, akhirnya Aji menemukanya.
Aji sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya.
Ternyata benar, suara tadi memang milik kakaknya Ara.
Aji sangat ketakutan.
Yang membuat Aji merasa takut adalah pemandangan yang ada di depan matanya.
Astaga mbak Ara!
Ada lelaki yang sedang duduk bersila di depannya. Yang membuatnya terkejut adalah sosok hitam besar yang di belakang Ara, sedang menggigit leher Ara, dress putih Ara berubah jadi merah, karena darah yang terus menetes sehingga membasahi bajunya.
Ara tidak bisa memberontak, karena badannya sudah di kuasai makhluk besar yang ada di belakangnya.
Ke dua kaki Ara membiru serta dililit oleh ular yang besar. Di depan Ara ada lelaki duduk bersila, dan ntah dia sedang membaca apa, Aji pun tidak tau.
Tapi sepertinya laki - laki itu tidak berniat untuk menolongnya.
" Tolong!."
Ara menjerit kesakitan.
Makhluk apa itu yang dibelakang mbak Ara seram sekali, aku harus menolong mbak Ara, aku nggak boleh takut.
Dan siapa laki - laki itu, kenapa tidak menolong mbak Ara, padahal mbak Ara sedang kesakitan di depannya.
Itu membuat Aji semakin tidak tega. Aji ingin segera berlari menolongnya, akan tetapi tidak biasa.
Ara tepat di depan matanya, tapi Aji tidak bisa ke sana, seperti ada penghalang yang tak terlihat yang menghalanginya. Itu membuat Aji tidak bisa menolong kakaknya.
Aji berusaha mendobrak penghalang itu berkali - kali tapi hasilnya tetap sama, tidak bisa. Juga tidak ada siapapun di sana yang bisa membantu menolongnya.
Aji hanya bisa melihat Ara menangis kesakitan.
Tiba - tiba lelaki yang duduk di depan Ara berdiri.
Perasaan Aji seketika lega, Aji mengira laki - laki itu akan menolong Ara.
Tetapi perkiraan Aji salah. Laki - laki itu memegang pisau ditangannya, Lalu menghujam perut Ara dengan pisau berkali - kali.
" Jangan sakiti mbak Ara." Terik aji.
Namun percuma laki - laki itu tidak mendengarnya.
" MBAAK ARAA!!!" teriak Aji yang langsung terduduk.
Aji membuka mata, mengamati di sekitarnya, ternyata dia masih berada di kamarnya.
Ahh syukurlah ternyata cuma mimpi, tapi kenapa terlihat sangat nyata. Serem banget.
" Ada apa sih dek?" tanya Kia.
Ternyata teriakkan Aji membangunkan Kia.
" Nggak ada apa - apa mbak. Cuma mimpi buruk kok." jawabnya.
" Kok panggil - panggil nama mbak Ara?"
__ADS_1
" Yah mimpinya ketemu sama mbak Ara mbak."
" Oh, ya udah balik tidur lagi sana, belum pagi. Makanya berdoa kalau mau tidur biar nggak mimpi buruk."
" Iya mbak."
Kia kembali tidur dan melanjutkan tidur nyenyak nya.
Aji melihat jam dinding menunjukan pukul 03.00.
Sudah hampir pagi, tapi apa maksud dari mimpiku tadi? siapa laki - laki itu? kenapa dia menyakiti mbak Ara?
Aji menoleh ke samping, melihat Ara yang masih tertidur pulas.
Dia merasa lega karena Ara baik - baik saja dan masih berbaring dengan pulas di sampingnya. Tapi dia juga takut, karena mimpinya tadi, perasaan Aji menjadi tidak Enak.
Syukurlah mbak cuma mimpi, tadi aku takut banget mbak. Semoga itu hanya mimpi, hanya sekedar bunga tidur saja. Semoga mbak selalu baik - baik saja.
Karena masih dini hari, Aji pun tidur kembali.
Pagi pun tiba.
Kia membangunkan Aji untuk bersiap ke sekolah.
" Dek bangun dek." Kia membangunkan Aji.
Aji teringat mimpinya tadi dan langsung terbangun mencari keberadaan Ara. Namun Ara sudah tidak berada disampingnya.
" Mbak Ara mana mbak?" tanya Aji.
" Kamu tumben dek baru bangun sudah nanyain mbak Ara." Jawab Kia.
" Mbak Ara mana mbak?" tanya Aji lagi.
" Mbak Ara di dapur dek. Kenapa sih kamu aneh banget."
Aji segera berlari menuju ke dapur mencari keberadaan kakaknya.
" Mbak Ara?"
" Iya dek. Ada apa?"
Aji tidak menjawab pertanyaan Ara, dia terkejut dengan apa yang dilihatnya.
Ada sosok hitam besar di belakang Ara.
Namun saat Aji mengedipkan mata, mahkluk itu hilang.
Mungkin itu hanya halusinasi ku saja, gara - gara mimpi semalam jadi kebawa sampai sekarang.
" Dek?" Panggil Ara.
" Dek?" Panggil Ara lagi.
" Eh iya mbak."
" Kenapa pagi - pagi sudah ngelamun, lagi mikirin apa sih ?"
" Nggak papa kok mbak."
Setelah melihat Ara dari dekat, Aji menyadari ada yang berbeda dengan Ara.
Wajah Ara sangat pucat.
" Eh mbak sakit ya, kok wajah mbak pucat banget?"
" Beneran mbak nggak papa?"
" Iya nggak papa, mungkin mbak cuma masuk angin nanti kalau sudah di kerikin ibuk pasti sembuh."
Aji langsung teringat mimpinya semalam.
Ah mungkin hanya kebetulan, mbak Ara lagi masuk angin. Lagian itu kan cuma mimpi.
" Masak apa mbak?"
" Salah satu makanan kesukaan mu, goreng Ayam sama sambel, ada buncis sama daun singkong rebus juga. Ada nya cuma ini di kulkas, mbak belum sempat belanja."
" Wah nggak sabar pengen makan, udah mateng belum mbak?"
" Sudah, tinggal menaruhnya di meja saja."
" Ya sudah sini aku bantuin."
" Tumben."
" Lagi pengen aja mbak."
Aji pun sarapan dengan lahap, ditemani Ara. Ara menyiapkan bubur untuk ibunya.
" Ini kok makanan kesukaan Aji semua sih mbak?" tanya Kia yang juga ingin ikut sarapan.
" Besok gantian makanan kesukaan mu Ya. Mbak belum belanja. Kamu nggak suka?" tanya Ara balik.
" Hehehe suka kok, apa pun yang dimasak mbak Ara, Kia suka banget." Jawab Kia.
Ya sudah kalian lanjutkan sarapan dulu, aku mau antar bubur ke kamar ibuk.
*****
Di tempat Frans
" Halo pakde, bagaimana tugas yang sudah aku berikan, apakah sudah beres?"
" Sudah Frans. Tapi ya harus pelan - pelan nggak bisa langsung."
" Itu yang aku mau pakde, pelan - pelan tapi pasti."
" Sayang sekali Frans anak itu cantik dan gadis baik - baik. Coba ajak dia bicara baik - baik dulu. Siapa tau hanya salah faham, pakde tau benar sifat kamu itu."
" Semua akan aku akhiri jika dia kembali kesini pakde, aku benar - benar tidak rela jika dia jadi milik pria lain."
" Ya sudah terserah kamu saja, tapi pakde cuma mau mengingatkan saja, dia bisa pergi selamanya dari mu."
Lelaki yang sedang berbicara dalam panggilan telepon bersama Frans adalah Aryo. Dia masih kerabat dekat Frans, Frans biasa memanggilnya pakde.
Aryo memiliki kemampuan supranatural, karena kemampuan yang ia miliki, ia berprofesi sebagai dukun, maka dari itu Frans meminta bantuan Aryo untuk mengerjai Ara.
Dengan dia mengerjai Ara, dia berharap Ara akan kembali ke sisinya dan meminta maaf padanya.
Padahal Ara sendiri bahkan tidak tau kalau Frans marah dan salah faham padanya hingga mengirim hal gaib yang sangat mengerikan untuk dirinya.
***
Di tempat Ara.
__ADS_1
Ara mencari ibunya ke sana kemari.
Ara ingin mengantarkan bubur untuk sarapan ibunya, tapi saat Ara sampai di kamar ibunya, ibu Lani sudah tidak berada di kamarnya, bahkan bapak pun juga sudah tidak ada.
Ini ibuk kemana sih? oh apa ibuk sedang di depan ya? cek dulu lah, pasti ibuk lagi menyapu dihalaman.
Ara pergi ke halaman untuk menemui sang ibunda kesayangan nya.
" Nah kan benar ibuk disini, Ara cari ibuk kemana - mana, apa sudah baikan sih buk kok nggak di pake istirahat dulu."
" Ibuk sudah nggak papa Ra, sudah sehat. Malahan badan ibuk kaku kalau hanya di pakai tidur terus, lagian begini kan hitung - hitung olah raga ringan."
" Syukurlah kalau gitu, tapi jangan capek - capek ya buk, jangan dipaksa buat banyak beraktifitas dulu.Oh ya sarapan dulu buk, tadi Ara sudah bikinin bubur untuk ibuk."
" Makasih Ara, kebetulan ibuk juga rindu bubur buatan kamu."
" Buburnya Ara taruh di kamar ibuk tadi, apa mau Ara bawakan kesini saja?"
" Nggak usah Ra, biar ibuk makan di sana saja."
" Oh iya bapak mana buk?"
" Bapak sudah berangkat ke sawah tadi pagi - pagi sekali."
" Ini kan masih pagi buk, bapak pasti belum sarapan juga ya buk."
" Belum Ra.Ya begitulah bapak mu, bikinin bekal saja Ra, nanti biar dianterin Aji ke sawah, sekalian dia berangkat sekolah."
" Iya buk, Ara bikinkan bekal dulu buat bapak, ibuk segera sarapan ya?"
" Iya Ra."
Selesai membuat bekal, Ara pun memberikan bekalnya ke Aji.
" Nih dek titip bekal buat bapak, nanti anterin ke bapak ya, kasian bapak belum sarapan."
" Iya mbak. Mbak jangan capek - capek ya, cepetan istirahat. Itu mukanya mbak masih pucat banget. Kalau badannya nggak enak buruan minum obat ya mbak, aku khawatir mbak sakit."
" Iya dek, makasih udah di ingetin."
" Tumben dek, kamu perhatian banget sama mbak Ara pasti ada maunya ya?" Kata Kia yang tiba - tiba datang.
" Apaan sih mbak, emang nggak boleh perhatian sama kakak sendiri. Namanya juga sayang."
" Sudah sana berangkat, pagi - pagi nggak usah debat." Kata Ara melerai mereka.
" Ya udah kita sekolah dulu ya mbak, Assalamualaikum." Pamit Kia sambil mencium tangan Ara bergantian dengan Aji.
" Waalaikum salam,udah pamit ibuk kan?"
" Sudah mbak," jawab Aji.
" Hati - hati bawa motornya, belajarnya yang bener. Langsung pulang jangan mampir - mampir."
" Iya mbak." Jawab Aji dan Kia serentak.
" Tapi Kia nanti mau mampir apotik dulu beli vitamin buat mbak. Kayaknya bakal telat pulang."
" Duh makasih, adik - adik ku tercinta atas perhatiannya, cepat pulang ya, rumah sepi kalau nggak ada kalian."
" Iya mbak."
Kepergian mereka membuat suasana rumah menjadi sepi.
Walaupun sering berdebat, tapi keberadaanya mereka membuat rumah menjadi rame.
Bakalan sepi nih rumah nggak ada Kia sama Aji.
Ara bergegas akan mengambil mangkok kotor di kamar ibuk, tetapi ibuk tidak ada. Ara pun mencari ibunya di dapur, benar saja ibunya sedang mencuci piring.
" Buk biarin Ara saja yang nyuci piringnya. Ibuk istirahat saja, kan ibuk baru sembuh, ibuk harus banyak istirahat."
" Kamu yang istirahat saja Ra, ibuk perhatiin dari tadi kok wajah kamu pucat."
" Masak sih buk, Aji juga tadi bilang begitu."
" Iya, pasti kamu kecapekan."
" Cuma masuk angin aja kok buk, nanti Ara mau minta tolong ibuk buat kerikin Ara."
" Ya sudah ayo ibu kerikin, ini ibuk juga sudah selesai cuci piringnya."
Setelah di kerikin, Ara istirahat di kamarnya.
Selain tubuhnya yang lemas, Ara juga merasakan kaki nya seperti kram, dan kesemutan. Tapi Ara tidak menganggapnya serius, dia mengira itu hanyalah kesemutan biasa.
Sejak pertengkaran di rumah sakit waktu itu, kok sampai sekarang mas Frans nggak nelpon atau pun kirim pesan ke Ara lagi ya?
Mas Ara kangen, Ara kangen banget, katanya mau nikahin Ara, kok sampai sekarang Ara tunggu mas nggak dateng? Apa mas nggak serius dengan Ara?
Apa mas sudah punya pengganti Ara?
Katanya nggak bisa jauh dari Ara, tapi Ara suruh kesini kok nggak dateng.
Ara kangen kamu mas, kamu bagaimana kabarnya, baik - baik saja kan?
Ara mencoba menghubungi Frans tapi tidak bisa, beberapa kali dia mencoba tapi hasilnya tetap sama.
Apa mas Frans sudah beneran lupain aku ya?
Dari apa yang telah kita lalui bersama selama ini, Ara kira mas beneran sayang sama Ara. Tapi ternyata cinta mas cuma segini. Cinta mas berhenti cuma karena jarak yang memisahkan.
Ara kecewa sama mas, Ara harus menunggu berapa lama lagi disini, kalau mas kesini Ara bakalan seneng banget, Ara nggak sabar pengen jadi istrinya mas.
Kalau mas nggak kesini berarti mas sudah tidak lagi mencintai Ara ya?
Ara tak kuasa menahan tangisnya, dia sangat berharap sang pujaan hati datang melamarnya. Tetapi Ara tidak tahu, bahwa itu hanyalah harapan yang sia - sia bagi Ara.
Dia bisa berharap seperti itu, karena selama bersama Frans, Ara merasa Frans sangat mencintainya. Itu membuatnya yakin bahwa Ara adalah salah satu kebahagiaan terpenting dalam hidup Frans. Apa lagi Frans selalu bilang tentang menjadikanya sebagai istri.
Ara pun sangat mempercayainya.
Ara sangat kecewa.
Dia selalu menanti kedatangan Frans untuk meminta restu kepada orang tuanya.
Tapi yang dinanti tidak datang, bahkan sudah tidak menghubungi untuk sekedar menanyakan kabar.
Ara juga sangat terluka.
Apa mungkin memang kita tidak berjodoh mas.
Semoga mas sehat selalu, dan menemukan kebahagiaan yang selama ini mas selalu idamkan.
Ara sebenarnya ingin kembali ke sana, tapi untuk apa kalau sekarang saja mas sudah tidak peduli lagi dengan Ara.
__ADS_1
Mas sudah membuang Ara.