Pemuja Pembawa Petaka

Pemuja Pembawa Petaka
Harapan


__ADS_3

Selama Ara sakit, setiap pulang dari sekolah Aji langsung mencari Ara ke kamar dan menemaninya makan.


Setelah Aji berganti pakaian, dia segera ke dapur, menyiapkan makan untuk dirinya dan juga untuk kakaknya.


Ibu Lani sangat senang saat melihatnya, meskipun Aji anak laki - laki tapi dia begitu luwes mengurus kakaknya.


Sebenarnya Kia juga sama, tapi Kia disibukan dengan tugas sekolah nya, sering pulang sore karena ada pelajaran tambahan.


" Sini ibuk bantu dek."


" Makasih buk. Ibuk sudah makan?"


" Sudah le, tadi makan sama bapak."


" Oh iya kapan bapak mau ketempat nya mbah Weryo buk?"


" Mungkin nanti malam."


" Oh, ya bagus deh buk, lebih cepat lebih baik. Nanti keburu terlambat. Aku belum siap kehilangan mbak Ara."


" Maksud kamu apa dek? kenapa kamu bilang seperti itu?" tanya ibuk dengan wajah bingiung nya.


Duh, pasti bapak nggak cerita semuanya ke ibuk, pantas aja ibuk tenang - tenang saja. Mungkin bapak nggak mau membuat ibu khawatir. Berarti aku salah ngomong ini, aduh, gimana jelasinnya ke ibuk ya?


" Gini buk, tadi disekolah aku tanya temen aku di kampung sebelah, dia satu rt dengan mbah Weryo. Katanya mbah Weryo akan mengunjungi anaknya ke kota S, dan akan di sana beberapa hari. Takutnya nanti bapak ke sana, mbah nya udah pergi." Elak Aji.


Aji memang mencari informasi dari teman - temannya mengenai mbah Weryo ini. Itulah mengapa Aji tau kabar tentang rencana kepergian mbah Weryo dari temannya yang rumahnya tidak jauh dari tempat mbah Weryo tinggal.


" Oh gitu, kamu nakutin - nakutin ibuk saja. Ara pasti sembuh dek, keadaannya sudah membaik sekarang."


Untung saja ibuk nggak nanya - nanya lebih jauh lagi. Aku kan nggak bisa bohong sama ibuk.


" Syukurlah buk kalau gitu. Ya sudah aku bawa ini ke kamar mbak Ara dulu ya buk."


" Mau ibuk bantuin nggak?"


" Nggak buk, bisa sendiri kok."


" Hati - hati bawanya."


" Iya buk."


Semenjak Ara sakit pintu kamarnya tidak pernah di tutup rapat.


Aji merasa merinding saat tepat berada di depan pintu kamar Ara.


Hawa dingin menyeruak dari dalam kamar Ara berserta wangi kembang yang membuat Aji semakin takut.


Aji memberanikan diri membuka sedikit pintu lalu masuk, Ara terlihat tengah tertidur pulas.


Ini kan masih siang, kenapa dikamar mbak Ara dingin banget, dan hawanya nggak enak. Kok jadi horor gini ya kamar nya mbak Ara.


Mbak Ara masih tidur rupanya, pules banget tidurnya kasian kalau dibangunin.


Tapi pasti mbak Ara belum makan.


Bangunin aja deh.


" Mbak bangun, ayo makan dulu."


" Eh kamu sudah pulang dek?"


" Sudah mbak."

__ADS_1


" Kia mana?"


" Mbak Kia mungkin hari ini pulang sore lagi mbak."


" Oh, mbak mau ke kamar mandi dulu dek."


" Oke, yuk aku bantu, pelan - pelan ya mbak bisa kan agak jalan pelan?"


" Bisa dek,"


" Kalau sakit nggak usah dipaksa, nanti aku bopong saja mbak."


" Sama latihan jalan pelan - pelan dek."


" Iya mbak."


Saat Aji menunggu Ara, Aji mendengar suara - suara gaduh di kamar Ara, padahal di kamar itu tidak ada siapapun.


Aji berjalan dengan pelan ingin membuka pintu kamar Ara. Saat Aji ingin membuka pintunya, Ara memanggilnya.


" Dek, adek."


" Iya mbak. Mbak Ara sudah?"


" Sudah dek."


Aji mengantar Ara kembali ke kamarnya. Dengan pelan Aji membantu Ara berbaring.


Tak sengaja mata Aji menatap pojokan kamar Ara.


Mata Aji menangkap ada sosok hitam besar di sana.


Itu, itukan mahkluk yang selalu menempel dengan mbak Ara. Kenapa sekarang di sana?


" Iya mbak."


" Ngelihatin apa sih? dipojokan ada apa?"


" Nggak ada apa - apa mbak, tadi aku kira tikus, sepertinya bukan."


Mbak Ara nggak bisa melihatnya. Berarti cuma aku yang melihatnya.


" Mbak Ara pakai parfum apa sih, kok kamarnya jadi wangi kembang begini?"


" Masak sih dek? mbak tadi pagi mandi pakai kembang sama apa gitu aku nggak tau, katanya itu dari mbak Rijan. Nggak mungkin kan wanginya sampai sekarang?"


" Ya nggak tau juga sih mbak."


Kenapa mahkluk itu bisa lepas dari mbak Ara? apa mungkin ada hubungan nya dengan mbak Ara mandi kembang arahan dari mbah Rijan. Tapi kata bapak ini hanya sementara.


" Ya udah yuk makan, mbak udah laper."


" Siap tuan putrinya Aji."


" Hahaha, ternyata kamu bisa manis juga ya dek."


" Ya tergantung sama siapa sih mbak. Hehehe."


" Jangan ke sembarang cewek ya dek?"


" Nggak kok, cuma sama mbak aja."


" Oh iya sebentar lagi ujian ya?"

__ADS_1


" Udah ujian mbak, makanya tadi pulangnya nggak siang banget."


" Tapi kok pulangnya siang banget?"


" Oh tadi nongkrong dulu sama temen mbak."


" Biasain langsung pulang dek, jangan keluyuran."


" Iya mbak, besok nggak akan di ulang lagi."


" Bagus, oh iya mau nerusin kemana dek?"


" Belum tau mbak, kayaknya ke sekolahan mbak Kia saja deh mbak."


" Ya nggak papa, tempat Kia sekolah kayaknya fasilitasnya juga lengkap. Belajar yang benar, biar lulus dengan nilai yang baik dek."


" Iya mbak, aku usahain. Tapi kalau nggak seperti yang mbak harapkan bagaimana?"


" Nggak papa dek, yang penting kan udah berusaha."


Aji menemani Ara hingga malam tiba, seperti biasa Aji dan Kia juga belajar di kamar Ara.


***


" Buk bapak berangkat dulu ya?"


" Iya pak, nggak minta ditemenin Aji?"


" Nggak buk, bapak sendiri aja, Aji juga lagi belajar."


" Ya udah, hati - hati dijalan ya pak."


" Iya buk."


Pak Nariman berangkat dengan penuh harapan. Harapan semoga mbah Weryo bisa menyembuhkan putrinya.


Harapan itu begitu besar. Melihat putrinya tidak bisa berjalan itu membuat hatinya sakit. Andai bisa ditukar, pak Nariman ingin menggantikan posisi putrinya.


Sesampainya di tempat tujuan. Pak Nariman mengetuk pintu.


Beberapa kali ia mengetuknya, pintunya tidak terbuka, bahkan tidak ada yang menyahutnya.


Akhirnya pak Nariman bertanya ke tetangga terdekat rumah mbah Weryo.


" Maaf buk mau tanya, mbah Weryo kemana ya?"


" Oh mbah Weryo pergi ke tempat anaknya pak. Baru beberapa menit yang lalu berangkat."


" Kira - kira berapa lama ya buk?"


" Waduh pak, saya kurang tau kalau soal itu."


" Oh, ya udah buk, terimakasih informasinya."


Raut wajah pak Nariman langsung berubah. Kesedihan dan kekecewaan sangat tergambar jelas di wajahnya.


Harapan yang dia bawa pupus sudah.


Pak Nariman bingung harus bagaimana, sementara putrinya sudah tidak punya banyak waktu lagi.


Maafin bapak Ra, tapi bapak nggak akan menyerah, bapak akan terus berusaha. Bapak akan usahakan semua yang bapak bisa untuk menyembuhkan mu nak. Kamu akan baik - baik saja Ra. Sabar ya nak, bapak akan coba cari cara lain.


Ara yang kuat, Ara harus kuat, bertahan lah sebentar lagi Ra.

__ADS_1


__ADS_2