
Malam sebelum Ara berangkat, Ara meminta Aji untuk menemaninya tidur lagi. Karena Kia sudah pergi jadi mereka hanya berdua sekarang.
Ara berkemas di bantu Aji dengan bu Lani.
" Kamu sudah yakin mau berangkat Ra, kamu baru sembuh lho, ibuk khawatir Ra. Coba kamu dulu dirumah beberapa hari lagi, ibuk mau memastikan kamu benar - benar sembuh." Bu Lani sangat mengkhawatirkan Ara.
" Ara sudah sembuh buk, Ara sudah nggak papa, ibuk tenang aja ya. Ara sudah pengen kerja lagi, dirumah terus tabungan Ara kurus, hehehe."
" Tapi ibuk khawatir Ra, ibuk takut, apa lagi badan kamu sekarang kurus begitu, apa bisa kerja."
" Bisa lah buk. Ibuk tenang saja ya, Ara akan jaga diri, nanti kalau Ara kenapa - napa Ara pasti kabarin ibuk. Kalau sakit kan Ara bisa pulang kan nggak jauh banget buk, paling cuma beberapa jam dari sini. Ibuk tenang ya, kalau ibuk kaya gini malah membuat Ara kepikiran buk, Ara jadi nggak tenang berangkatnya."
" Iya tapi beneran ya, kalau ada apa - apa kabarin ibuk, kalau sakit biar di jemput bapak."
" Iya ibuk, Ara janji."
" Yah rumah tambah sepi lagi Ra, ibuk sudah ditinggal gadis - gadis ibuk." Kata ibuk dengan sedih.
" Kan masih ada Aji buk." Aji ikut menyahut.
" Iya memang masih ada kamu dek, tapi biasanya kan rame, ada mbak - mbak mu. Besok tinggal kamu, ibuk, sama bapak."
" Nanti biar Ara kasih tau Kia untuk sering pulang buk." Ara ikut menenangkan sang ibu.
" Kamu juga kalau libur bisa pulang, usahakan pulang ya Ra?"
" Iya buk, pasti. Ara juga pasti merindukan ibuk. Ibuk jaga kesehatan ya, jangan capek - capek, Aji suruh bantu - bantu kalau ibuk lagi kerepotan, kalau ada apa - apa juga ibuk jangan lupa kabarin Ara."
" Iya Ra, kamu juga harus hati - hati. Semoga kejadian kemarin tidak terulang lagi, gara - gara kejadian kemarin ibuk jadi takut."
" Iya buk. Ya udah ibuk istirahat saja, temenin bapak, kasian bapak di kamar sendirian, ini biar dibantu Aji, sebentar lagi selesai kok buk. Ibuk harus bangun pagi, buat kue sama masak, kan besok mbak Linda mau kesini, hehehe, besok Ara bantuin ya buk, soalnya masakan Ara nggak seenak masakan ibuk, besok jangan lupa bangunin Ara ya buk."
__ADS_1
" Iya Ra, ya sudah kalau begitu, ibuk istirahat dulu, kalian juga jangan tidur terlalu malam."
" Iya buk." Jawab Kia sama Aji serentak.
" Eh mbak aku masih penasaran loh, dengan siapa yang membuatmu sakit seperti kemarin, mbak sudah tahu belum siapa yang membuat mbak sakit?"
" Aku juga belum yakin sih dek,tapi kata mas Danang dia laki - laki yang tergila - gila sama aku. Sedangkan selama ini yang menjalin hubungan dengan ku itu hanya mas Frans saja. Aku nggak punya lagi kenalan laki - laki lain."
" Frans, Frans, ah aku ingat, mbak Ara pernah mengigau nama laki - laki ini, oh ternyata dia pacar mbak Ara?"
" Dia memang pacar mbak waktu mbak kerja di kota J dek. Kata mbah dukun kemarin, katanya yang biasa pakai ilmu itu dari kota J kan? terus laki - laki yang pernah berhubungan dekat dengan ku juga cuma mas Frans dari kota yang sama, sama - sama dari kota J, apa lagi terakhir kali aku berantem sama mas Frans dan dia jadi salah faham."
" Salah faham gimana maksudnya mbak?"
" Mbak pulang kan karena ibuk sakit, dulu mbak diajak nikah sama Frans mbak belum siap, mbak bilang masih mau kerja bantuin ibuk. Mbak nggak tau kalau kalau ternyata mbak bakal lama dirumah kan, jadi mbak keluar dari kerjaan dan nggak balik ke sana lagi. Mbak tau pasti Frans sedih dengan keputusan mbak, makanya aku bilang sama dia kalau mbak mau nikah sama dia, mbak suruh dia kesini buat bilang sama bapak sama ibuk, tapi dia salah faham, dikiranya mbak mau nikah sama pria lain, dan mbak tunggu - tunggu dia nggak datang juga. Apa mungkin itu dia ya dek,yang membuat mbak sakit."
" Bisa jadi sih mbak, kalau misal nya dia sayang banget sama mbak, pasti dia kecewa dan sakit hati banget."
" Ya kita kan nggak tau, mungkin karena saking sayangnya dia sama mbak, pastikan kalau sakit hati, itu bakalan sakit banget. Dan karena sakit hati dia bisa gelap mata mbak."
" Iya sih dek, tapi kan itu cuma salah faham."
" Kenapa mbak nggak coba jelasin ke dia?"
" Mbak sudah coba kirim pesan dan telpon berkali - kali, tapi nomor nya tidak aktif."
" Terus sekarang gimana mbak?"
" Nggak tau dek. Mbak sudah kecewa juga, mbak sudah lama nunggu dia, mbak berharap dia kesini, mbak kira dia sayang banget sama mbak, tapi ternyata apa? dia malah pergi. Apa lagi kalau yang bikin mbak sakit kemarin itu dia, mbak kecewa banget dek sama dia."
" Mbak pasti sayang banget ya sama dia."
__ADS_1
" Sayang banget dek, diantara semua laki - laki yang mencoba mendekati mbak, cuma dia yang mampu meluluhkan mbak, dia baik, dia perhatian, dia sangat senang memanjakan mbak dek. Sudah banyak kenangan indah yang telah kita buat bersama."
" Sedalam itu ya mbak mencintai dia."
" Ya begitulah dek, dia kan pacar pertama mbak."
" Ya sudah nggak usah di ingat - ingat lagi mbak, aku tau pasti nggak mudah, tapi mbak masih harus melanjutkan perjalanan hidup mbak."
" Cie, kenapa adik mbak malah lebih dewasa ya hahaha, duh mbak pasti bakalan kangen banget sama kamu dek."
" Apa lagi aku mbak, biasanya bertiga besok jadi cuma sendiri."
" Hehehe, ya kalau jenuh, undang lah teman - teman mu ke rumah."
" Iya mbak."
" Oh iya dek, kamu beneran udah nggak melihat mahkluk hitam itu kan di sekitar mbak?"
" Sudah nggak sih mbak,"
Semoga mbak Ara beneran udah sembuh deh, walaupun makhluk itu udah nggak ada bukan berarti mbak sembuh sih. Perasaan ku juga masih belum tenang. Tapi makhluk itu sudah nggak ada. Coba deh besok aku cari tau lagi.
" Syukurlah dek, semoga mbak beneran udah sembuh."
" Iya mbak, mbak Ara tetap harus jaga kesehatan ya, makan yang banyak biar nggak kurus."
" Iya dek, duh bawel nya kok melebihi ibuk ya, hahaha."
" Jangan sembarangan kenal sama lelaki ya mbak. Aku juga sama seperti ibuk, takut hal kemarin terulang lagi."
" Mbak akan berusaha dek."
__ADS_1