Pemuja Pembawa Petaka

Pemuja Pembawa Petaka
Kedokter


__ADS_3

Setelah selesai sarapan, Ara di gendong pak Nariman ke mobil, dan membawanya ke klinik.


Sesampainya di klinik, Ara langsung diperiksa.


" Bagaimana keadaan putri saya dok?" tanya bapak Nariman.


" Anak bapak tidak apa - apa setelah saya periksa semua normal."


" Tapi kok kakinya nggak bisa buat berdiri ya dok?" ibuk Lani ikut bertanya."


" Itulah buk yang membuat saya heran. Coba ibuk bawa ke rumah sakit, akan lebih teliti jika diperiksa di sana."


" Baik dok, besok coba saya bawa ke rumah sakit." Jawab bapak Nariman.


" Saya kasih vitamin aja ya mbak, biar mbaknya nggak lemes."


" Iya dok," jawab Ara.


***


Setelah sampai dirumah.


" Pak nggak usah ke rumah sakit ya?"


" Memangnya kenapa Ra?"


" Ya nggak papa pak, gimana kalau kita pindah ke dokter lain saja? siapa tau tadi dokternya kurang teliti tadi periksa nya."


" Baik lah kalau itu mau mu Ra."


" Ya sudah nih diminum dulu vitamin nya Ra." Perintah ibu Lani sambil membawakan segelas air putih untuk Ara.


" Iya makasih buk."


" Habis diminum terus istirahat ya Ra? kalau mau apa - apa panggil ibuk, ibuk mau ke dapur dulu cuci piring."


" Iya buk."


***


Keesokan harinya, Ara pun dibawa ke dokter lagi.


Setelah di periksa hasilnya pun sama seperti apa yang dokter kemarin katakan.


Ara dinyatakan sehat, semuanya normal.


Itu membuat ke dua orang tua Ara bingung dan juga makin khawatir dengan kondisi Ara. Karena kaki Ara tak kunjung membaik.


Ara juga bingung, apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya.


Tapi melihat ibu, bapaknya yang sangat mengkhawatirkan dirinya, Ara berusaha tenang, dan menerima apa yang tengah menimpa dirinya.


Agar ibu bapaknya tidak semakin cemas.


Ara takut jika ibunya banyak pikiran nanti bisa sakit lagi.


***


Diruang tamu lbu Lani dan pak Nariman sedang ngobrol berdua.


" Anak kita itu bagaimana ya pak, ibuk kasian, ibuk nggak tega melihatnya hanya duduk di atas kasur."


" Sepertinya memang kita harus membawanya ke rumah sakit buk."


" Iya pak, kita harus mengupayakan apa yang kita bisa, ibuk ingin putri kita cepat sembuh, ibuk nggak tega melihat Ara sakit."


" Iya, ibuk jangan banyak pikiran nanti malah sakit lagi, kasian Ara kalau ibuk sakit lagi. Lihatlah Ara dia nampak tabah, dia sudah bisa menerima apa yang tengah menimpanya, kita juga harus kuat buk."


" Iya pak."


Aji yang baru saja masuk rumah, mendengar percakapan ibu dan bapaknya.


Dia sudah bisa menebaknya, bahwa pasti ke dokter kali ini pun tidak ada hasil.


Aji langsung bergegas ke kamar Ara.


Aji ingin memastikan dulu apakah kakaknya sedang istirahat atau tidak. Aji takut kalau tiba - tiba masuk akan mengganggu istirahat kakaknya. Untuk memastikannya Aji mengintip pintu kamar Ara yang sedikit terbuka.


Lagi - lagi Aji dikejutkan oleh sosok hitam dibelakang Ara, dengan dua ular di kaki Ara.


Berarti apa yang aku lihat dari kemarin memang bukan halusinasi. Makhluk itu masih menempel di mbak Ara. Mungkin sakit mbak Ara memang dibuat oleh seseorang. Dan mimpiku mungkin itu benar. Tapi bagaimana aku harus menjelaskan ini ke bapak dan mbak Ara, pasti aku malah dikira mengada - ngada.


" Mbak aku masuk ya?"


" Masuk aja dek, udah pulang sekolah?"


" Barusan pulang mbak, gimana apa mbak sudah baikan?"


" Ya beginilah dek."


" Aku yakin pasti secepatnya mbak akan cepat sembuh."


" Amin dek. Oh iya Kia belum pulang?"


" Sebentar lagi pasti pulang mbak, mbak sudah makan belum?"


" Belum."


" Ya udah aku ambil makan dulu ya mbak? kita makan bareng disini ya mbak."


" Iya dek."


Ara sangat senang adik - adiknya begitu perhatian padanya. Ara sangat menyayangi kedua adiknya.


Saat Aji hendak mengambil makanan.


" Sudah mau makan dek?" tanya ibu Lani.


" Iya buk, sekalian mau mengambikan mbak Ara juga, mau nemenin mbak Ara makan di kamarnya."


" Ya sudah ibu bantu siapin ya."


" Aku ikutan dong, mau makan di kamar mbak Ara ya?" Tanya Kia yang tiba - tiba datang.


" Loh mbak Kia sudah pulang toh?"


" Sudah dari tadi dek."


" Kok aku nggak tau?"


" Tadi pas kamu lagi ngobrol di kamar mbak mu Ara dek." Ibu Lani ikut menjawab.


" Buk siapin buat Kia juga ya, Kia mau ikut makan di kamar mbak Ara."


" Iya Kia." Jawab ibuk Lani.


" Udah besar ngambil sendiri kenapa? apa nggak bisa? pake nyuruh ibuk lagi." Kata Aji.


" Kamu juga di ambilkan." Jawab Kia nggak mau kalah.


" Mana ada, itu ibuk nyiapin buat mbak Ara, nih aku ngambil sendiri."


" Udah, kenapa jadi ribut sih, kalian ini kalau ketemu kok ribut mulu." Kata ibuk Lani menengahi mereka.


" Ya Aji duluan buk yang mulai." Kia membela diri.


" Makanya udah gede jangan manja, nggak usah merepotkan ibuk. Punya mbak Ara sudah kan buk?"


" Sudah dek, nih punya Kia juga sudah. Sana temenin mbak mu makan kasian dia."


" Iya buk, ibuk juga jangan lupa makan ya." Aji mengingatkan.


" Iya, nanti ibuk makan bareng sama bapak."


" Sini dek piring mbak Ara biar aku yang bawa." Pinta Kia."


" Nih, aku yang bawa minumnya."


Ibu Lani menatap Kia dan Aji dengan menyunggingkan senyum di bibirnya.


Teruslah kalian saling menyayangi hingga kalian tua nanti. Ibuk senang melihat kalian rukun nak.


Ibu Lani senang karena anaknya rukun dan saling menyayangi, walaupun Kia dengan Aji sering ribut, tapi itu tidak jadi masalah buat bu Lani. Karena itu adalah bentuk dari kasih sayang mereka yang mereka ungkapkan secara tidak sengaja dengan cara yang berbeda.


Ibu Lani bersyukur karena anak - anaknya saling peduli, dan juga perhatian dengan Ara yang tengah sakit.


" Mbak ku tersayang yang cantik jelita, Kia udah datang dengan makanan pesanan mu. Mari makan bersama."


Ara pun di buat tertawa geli oleh tingkah Kia.


" Oh terimakasih sudah diantarkan adik manis dan masnya yang tampan. Mari makan bersama." Kata Ara.


" Dengan senang hati nona - nona cantik kesayangan ku." Aji tak mau kalah dengan kekonyolan mereka.


Mereka pun tertawa bersama.


Ibu Lani dan bapak Nariman yang melihatnya dari balik pintu pun juga ikut tersenyum.

__ADS_1


" Alangkah baiknya jika selamanya mereka bisa akur seperti itu ya pak?"


" Mereka akan tetap seperti itu buk, kita sudah mendidiknya dengan baik."


" Semoga saja ya pak, ibuk sangat bahagia melihat mereka tertawa lepas seperti itu."


" Bapak juga."


" Yuk kita makan buk. Makan berdua, anggap lah kita pengantin baru lagi, hehehe."


" Ah bapak ini bisa aja, malu kalau anak - anak dengar. Bisa - bisa diledekin mereka."


" Hehehe, ya nggak papa lah buk, mengenang masa muda."


Ibu Lani dan pak Nariman pun juga menyantap makan siangnya dengan hati yang bahagia.


******


Di kamar Ara.


Mereka sudah menyelesaikan acara makan mereka.


" Mbak aku belajar gitar loh. Mau dengar nggak? ya walaupun belum mahir sih." Kata Aji.


" Boleh banget tuh dek, nanti mbak Ara yang nyanyi, kan mbak Ara suaranya bagus banget." Imbuh Kia yang sangat antusias.


" Ya udah bentar aku ambil gitarnya dulu."


Aji balik ke kamar Ara dengan membawa gitar. Aji menarik kursi mendekat ke Ara.


" Gitar siapa itu dek?" Tanya Ara.


" Gitar temen mbak, mbak Ara tau lagunya Andmesh nggak yang judulnya Hanya Rindu?"


" Tau dong."


" Aku baru hafal beberapa lagu, salah satunya itu."


" Ya udah yuk mulai." Kata Kia sangat bersemangat, sambil mengeluarkan hp nya bersiap untuk membuat vidio aksi dari kakak dan adiknya itu.


Jrengg,,,


Aji memulai memetik senar gitarnya, dan Ara mengeluarkan suara merdunya.


Saat ku sendiri, kulihat foto dan video


Bersamamu yang telah lama ku simpan


Hancur hati ini melihat semua gambar diri


Yang tak bisa ku ulang kembali


Kuingin saat ini engkau ada di sini


Tertawa bersamaku seperti dulu lagi


Walau hanya sebentar, Tuhan, tolong kabulkanlah


Bukannya diri ini tak terima kenyataan


Hati ini hanya rindu


Segala cara telah kucoba


Agar aku bisa tanpa dirimu, hoo


Namun semua berbeda


Sulit ku menghapus kenangan bersamamu


Kuingin saat ini engkau ada di sini


Tertawa bersamaku seperti dulu lagi


Walau hanya sebentar, Tuhan, tolong kabulkanlah


Bukan diri ini tak terima kenyataan


Hati ini hanya rindu, ooh


Hanya rindu, ooh


Kuingin saat ini engkau ada di sini


Tertawa bersamaku seperti dulu lagi


Walau hanya sebentar, Tuhan, tolong kabulkanlah


Bukannya diri ini tak terima kenyataan


Hati ini hanya rindu, ooh


Hati ini hanya rindu, hmm


Ku rindu senyummu


Plok, plok, plok


Suara tepuk tangan dari Kia.


Kia sangat puas menikmati pertunjukan yang ada di depan itu.


" Keren,, suara mbak Ara bagus banget." Puji Kia.


" Terimakasih adik ku yang cantik." Balas Ara.


" Rindu siapa sih mbak, menghayati banget nyanyinya?" tanya Aji.


" Nggak ada dek." Jawab Ara mengelak.


Apa mbak Ara sudah punya pacar? jangan - jangan laki - laki itu yang ada di mimpi ku. Ah mudah - mudah bukan dan tebakan ku ini salah, lagian mungkin saja kan mbak Ara berpacaran tidak hanya sekali, dan bukan hanya dia lelaki satu - satunya di hidup mbak Ara. Tapi kenapa perasaan ku seperti bilang kalau sakit mbak Ara ada hubungan nya dengan laki - laki itu, dan laki - laki itu juga yang membuat mbak Ara sedih.


Ntah kenapa pikiran Aji langsung tertuju di sana.


Nggak, nggak aku nggak boleh menduga - menduga, lagian belum tentu benar. Wajar sih mbak Ara sudah punya pacar, mbak Ara kan sudah bukan remaja lagi, sebentar lagi juga menikah. Semoga mbak Ara di pertemukan dengan laki - laki yang baik ya mbak.


" Dek, dek!"


" Iya mbak Kia, apa?"


" Kok ngelamun sih?"


" Nggak ngelamun, cuma lagi mikir ada pr apa tadi. Oh iya mbak nanti aku belajarnya di sini aja mbak?" Aji bertanya kepada Ara.


" Iya boleh, emang nggak ke ganggu?"


" Nggak lah mbak."


" Aku ikut juga ah, mau ngerjain pr nya disini." Kia tak mau ketinggalan.


" Boleh, tapi jangan ribut ya, nggak boleh debat." Ara mengingatkan.


" Iya mbak." Jawab Aji dan Kia serentak.


Malam harinya mereka belajar dengan tenang dikamar Ara.


Kia dan Aji juga memutuskan untuk menemani Ara. Jadilah mereka berdua tidur dikamar Ara.


Aji tidur di samping Ara, Ara tidur ditengah.


" Ara,, "


Ara mendengar ada yang memanggil namanya.


" Ara."


Itu suara mas frans.


" Ara."


" Mas itu kamu kan?"


Ara ingin berjalan mencarinya, tapi Ara tidak bisa bergerak. Ara menoleh kebelakang tenyata dia peluk makhluk hitam dari belakang.


" Arrrkkkhhhh,"


Ara teriak ketakutan.


" Tolong lepasin aku."


" Ara."


Suara Frans memanggil namanya masih terdengar.


" Mas Frans tolongin Ara."


Tidur Aji terusik, Aji mendengar Ara berbicara sesuatu. Aji pun terbangun.

__ADS_1


" Mas Frans tolongin Ara."


" Mas tolong."


Mbak Ara mengigau rupanya. Siapa Frans? apa yang sebenarnya mbak Ara impikan, kenapa sampai mengigau minta tolong.


" Mbak Ara, bangun mbak."


Dengan lembut Aji membangunkan Ara. Aji mengelus pipi Ara.


" Mbak bangun mbak."


" Akh, hufth , huh."


Ara pun akhirnya terbangun, dengan nafas yang terengah-engah.


Aji membantu Ara untuk duduk. Lalu


Aji mengambilkan minum untuk Ara.


" Ini mbak diminum dulu."


" Makasih dek."


" Mbak Ara mimpi buruk ya?"


" Iya."


" Apa mbak Ara sering mimpi buruk."


" Akhir - akhir ini mbak sering mimpi buruk dek. Mimpi hal yang sama."


" Siapa Frans mbak? tadi mbak mengigau manggil nama Frans."


" Em,"


" Kalau mbak belum mau cerita nggak papa."


Dari jawaban Ara yang ragu, Aji tahu bahwa Ara memang belum mau bercerita.


" Maaf mbak belum bisa cerita sekarang dek."


" Nggak papa mbak, aku ngerti mbak."


Pasti hal yang menyakitkan ya mbak? sampai mbak belum sampai hati menceritakannya. Aji bertanya di dalam hati.


" Dek bangunin mbak Kia dong. Aku mau ke kamar mandi."


" Lha memang kalau sama Aku kenapa?"


" Ya nggak papa, emang adek mau nganter mbak ke kamar mandi?"


" Dengan senang hati mbak, kasian juga mbak Kia kalau dibangunin."


" Iya juga ya, tapi sama kamu nggak papa dek?"


" Iya nggak papa."


" Nanti kamu tunggu diluar aja ya?"


" Iya mbak."


Aji pun memapah Kia untuk membantunya ke kamar mandi. Namun Aji tidak tega melihat Ara yang berjalan nya dengan raut wajah yang kesakitan, Aji langsung membopong Ara.


Meskipun Aji anak paling kecil, namun badannya lebih besar.


" Eh, kamu kuat gendong mbak dek, nggak keberatan?"


" Ya nggak lak mbak, badan Aji lebih besar dari badan mbak Ara, badan mbak mungil gini nggak berat sama sekali."


Aji lalu mendudukkan Ara di kursi yang sudah tersedia di kamar mandi, semenjak Ara sakit, memang kursi itu diperuntukkan untuk dirinya.


Aji dengan sabar menunggu Ara diluar kamar mandi, sampai Ara memanggilnya dan membawa Ara ke kamar lagi.


" Makasih ya dek, maaf udah ngerepotin."


" Nggak papa mbak. Nggak ngerepotin."


" Ya udah yuk balik tidur lagi."


" Iya mbak."


Aji membantu Ara berbaring dan juga menyelimuti kakinya, saat Aji menyentuh kaki Ara, kaki Ara sangat dingin.


" Kakinya sakit banget ya mbak?"


" Nggak kok dek, cuma sakit sedikit."


" Mau aku pijitin, kaki mbak Ara dingin banget?"


" Nggak usah dek, yuk tidur lagi, besok kan kamu harus sekolah.


" Nggak sekolah mbak, besok hari minggu."


" Apa iya?"


" Iya, besok aku bisa nemenin mbak seharian dirumah, pasti mbak jenuh banget ya?"


" Nggak juga, kan ada ibuk. Kadang ibuk nemenin mbak ngobrol. Emang besok kamu nggak ada acara main sama temanmu?"


" Nggak mbak, besok acaranya nemenin mbak."


" Duh mbak jadi seneng banget, ada temennya."


Mbak pasti jenuh dirumah, biasanya kan mbak yang nggak bisa diem, ngerjain semua pekerjaan rumah, sekarang hanya bisa duduk, bahkan berdiri pun nggak bisa. Sebenarnya siapa sih mbak, yang tega membuat mu kaya gini?


" Ya udah yu tidur lagi, mbak ngantuk banget."


" Iya mbak."


Pagi - pagi sekali Kia sudah terbangun, dan dia juga membangunkan Aji.


" Dek bangun. dek bangun."


" Apaan sih mbak."


" Stttt jangan kenceng - kenceng, nanti mbak Ara bangun."


" Ada apa sih mbak."


" Ayuk keluar sebentar."


" Ini masih pagi buta mbak."


" Iya tau, mbak mau ngomong."


Aji sebenarnya masih malas bangun. Dengan langkah gontai dia mengikuti Kia dari belakang dan masuk ke kamarnya, Kia menutup pintunya dengan rapat.


" Ada apa mbak?" tanya Aji bingung, Aji yang masih ngantuk dia kembali tiduran di kamarnya.


" Tadi mbak melihat sesuatu."


" Ha sesuatu apa?"


" Ada hantu di kamar mbak Kia."


" Hantunya seperti apa?" tanya Aji santai.


" Aku nggak lihat jelas karena takut, tapi aku juga nggak yakin itu mimpi atau beneran, soalnya aku masih setengah tidur. Ada sosok hitam besar di ujung tempat tidur, tepatnya di ujung kaki mbak Ara. Terus Dia kayak megangin kaki mbak Ara."


" Terus?"


" Kok terus - terus sih dek, kamu nggak takut apa? kamu nggak kaget?"


" Nggak, aku sering lihat juga."


" Ha!!!!???"


" Duh jangan teriak mbak, nanti membangunkan semua orang."


" Oh iya maaf. Kamu nggak takut?"


" Awalnya takut, tapi lama - lama nggak, soalnya sering lihat, makhluk itu memang seperti menempel dengan tubuh mbak Ara."


" Kok kamu nggak cerita sih dek?"


Aji lalu menceritakan mimpi serta hal yang sering dia lihat di kamar Ara.


" Aku takut mbak nanti malah dikira mengada - ada."


" Iya juga ya."


" Duh gimana ya aku takut."


" Udah lah mbak santai Aja. Kalau mbak malah menjauhi mbak Ara gara - gara takut, kan kasihan mbak Ara apa lagi sekarang dia nggak bisa jalan. Mbak harus bersikap biasa kaya aku."


" Mbak nggak seberani kamu dek, tapi mbak akan berusaha."

__ADS_1


__ADS_2