Pemuja Pembawa Petaka

Pemuja Pembawa Petaka
Penyakit kiriman


__ADS_3

Di kamar Ara.


Ara terbaring lemah, dengan wajah yang pucat, badannya kian kurus. Bu Lani dengan telaten memijit tangan dan Kia memijit kaki Ara. Tergambar jelas kecemasan dan kesedihan di wajah mereka, karena kondisi Ara yang tiba - tiba drop.


" Bagaimana keadaan mu nduk?" tanya pak Nariman


" Udah mendingan pak, tapi masih lemes." Jawabnya dengan senyuman manisnya.


Bagaimanapun keadaannya, Ara selalu berusaha tersenyum, agar orang - orang disekitarnya tidak mengkhawatirkan dirinya.


" Bapak mau tanya beberapa hal, bisa?"


" Bisa pak. Ara udah nggak papa kok."


" Em, kira - kira selama Ara di tempat kerja dulu, ada nggak orang yang tidak suka dengan Ara?, saingan Ara? atau Ara pernah menyinggung seseorang?"


" Setau Ara nggak ada, temen kerja Ara cuma mbak Linda, Ara nggak punya teman lagi selain mbak Linda, Ara juga nggak pernah berantem dengan seseorang, apa lagi mencari masalah."


Ada mas Frans juga pak, tapi itu bukan hal yang perlu diceritakan itu nggak penting.


" Kamu yakin nduk, coba ingat - ingat lagi mungkin kamu pernah menyinggung seseorang?"


" Nggak pak, Ara juga nggak pernah keluyuran, kalau pulang kerja juga langsung pulang ke kosan. Ara juga nggak pernah berantem atau punya masalah dengan mbak Linda."


" Aneh, apa mbah Rijan salah memberi informasi?"


" Memang ada apa pak?"


" Penyakitmu ini kiriman dari seseorang. Mbah Rijan menduga ada orang yang nggak suka sama kamu, dan sang pengirim bukan lah dukun biasa Ra, biasanya dukun dengan ilmu seperti itu kebanyakan dukun dari kota J, tempat kamu kerja dulu."


" Tapi Ara nggak pernah bikin masalah dengan siapa - siapa pak."


Hanya bertengkar kecil dengan mas Frans, tapi itu tidak mungkin dia kan, dia nggak mungkin setega itu, bikin aku kaya gini.


" Iya bapak tau, Ara anak yang baik. Ya sudah jangan terlalu banyak pikiran. Besok bapak akan minta tolong mbah Weryo, semoga bisa membantu dan mendapat titik terang."


" Amin pak, Ara ingin sembuh pak, kira - kira Ara bisa sembuh nggak ya pak?"


" Pasti bisa, kamu harus semangat, harus yakin Ra."


" Iya nak, ini sedang diusahakan, Ara harus sabar ya, Ara pasti sembuh." Kata ibuk Lani menenangkan Ara.


" Sekarang Ara istirahat, sudah malem, bapak juga mau istirahat, apa Ara mau di temenin bapak sama ibuk?" tanya bapak.

__ADS_1


" Nggak usah pak." Jawab Ara.


" Kan ada Kia sama Aji yang akan menemani mbak Ara disini." Kata Kia.


" Ya sudah kalian istirahat ya ini sudah malam."


" iya pak," Kata mereka serentak.


" Jangan memikirkan hal yang tadi ya nak, nanti malah tambah sakit."


" Iya buk," jawab Ara.


Ibu Lani dan pak Nariman bersama meninggalkan kamar Ara.


Pak Nariman tidak mengatakan semua kebenaranya demi menjaga perasaan istri dan putrinya, pak Nariman tidak mau nanti mereka malah syok, khawatir dan malah membuat mereka sakit.


Maaf buk bapak belum bisa menceritakan semua kebenaranya, bapak nggak mau ibuk jadi kepikiran, bapak takut ibuk drop dan sakit lagi. Maafin bapak ya buk.


" Bapak nggak menyembunyikan apa - apa dari ibuk kan?" tanya ibuk yang curiga karena dari tadi bapak hanya diam saja.


" Nggak lah buk, kan ibuk sudah dengar semuanya tadi di kamar Ara."


" Tapi bapak dari tadi diam saja sejak dari kamar Ara."


" Ibuk juga pak. Apa lagi tadi Ara pingsan, ibuk khawatir pak. Kenapa kondisi putri kita semakin memburuk ya pak, baru beberapa hari sakit, tubuhnya sudah kelihatan kurus, ibuk nggak tega pak, ibuk kasian liat Ara." Kata ibu Lani sambil menangis.


Melihat kondisi anak nya yang semakin memburuk, sebagai seorang ibu yang melahirkan nya, pastilah menjadi pukulan terberat yang dirasakannya. Susah hati, hatinya pun ikut sakit itu sudahlah pasti.


" Ibuk yang kuat ya, bapak juga sedih melihatnya, tapi kita harus kuat dan selalu menguatkan Ara. Dia harus semangat menjalani ini agar cepat sembuh. Kita nggak boleh sedih di depannya."


" Iya pak, "


" Ibuk juga ingat jangan banyak pikiran, jaga kesehatan, kalau ibuk sakit siapa nanti yang akan merawat Ara."


" Iya pak, sebisa mungkin memang sedang ibuk usahakan."


" Oh iya, besok ibuk cari bunga tujuh rupa dan daun beringin serta bubuk ini campur dengan air untuk mandi Ara buk." Pak Nariman memberikan botol kecil yang mbah Rijan tadi berikan, dan menyerahkannya kepada ibu Lani.


" Baik pak."


" Ya sudah kita istirahat yuk buk."


***

__ADS_1


Di kamar Ara.


" Mbak dimana lagi yang sakit, aku pijitin." Kata Aji.


" Mbak mau apa biar Kia ambilkan, Kia buatkan susu dulu ya?"


Baru beberapa hari sakit, tubuh Ara sudah terlihat kurus. Kini tubuh Ara semakin kecil dan juga rapuh.


Kondisi Ara semakin hari memang semakin memburuk.


" Makasih dek."


" Nanti kalau ada apa - apa atau perlu apa tolong bangunin aku ya mbak?"


" Mbak nih diminum dulu susunya." Kia membuatkan segelas susu untuk Ara.


" Iya, terimakasih kalian mau susah - susah ngurus mbak mu ini."


" Ngomong apa sih mbak. Diminum dulu susunya, terus biar Adek bantuin mbak berbaring lagi."


" Mbak aku tau pasti sakit ya, kalau lagi sama kita, nggak usah pura - pura kuat, kalau mau nangis ya nangis saja nggak usah ditahan mbak, aku tau mbak nggak mau bikin kita semua khawatir, tapi dengan mbak begini itu membuat ku semakin sedih. Itu malah membuat mbak semakin sakit." Kata Aji.


" Mbak nangis bukan berarti mbak cengeng, mbak nangis bukan berarti mbak bukan wanita yang kuat. Terkadang memang kita perlu menangis untuk melampiaskan rasa sakit yang kita rasakan untuk mengurangi rasa sakitnya." Imbuh Kia.


Ara pun menangis, dia juga tersenyum.


" Terimakasih buat kalian, aku juga bingung bagaimana menggambarkan rasa sakit yang aku rasakan ini, tapi aku masih bisa menahannya. Aku senang memiliki adik yang baik seperti kalian. Mungkin waktu mbak memang sudah nggak banyak lagi."


" Mbak ngomong apa sih, mbak nggak boleh ngomong begitu, mbak pasti sembuh." Kia ikut menangis.


" Mbak mau menyerah? kenapa? apa mbak sudah tidak sayang lagi sama kita? apa sudah nggak mau bareng kita lagi? mbak nggak sayang sama kita?" tanya Aji


" Sayang banget, kenapa kamu bertanya seperti itu?"


" Kalau mbak sayang, berjuanglah mbak, lawan. Mbak pasti bisa, kita juga sedang berusaha mencari kesembuhan buat mbak Ara, masak mbak Ara malah mau menyerah. Mbak Ara nggak kasian sama ibuk, bapak? mereka berusaha buat mbak loh, mereka nggak mau kehilangan mbak, makanya mereka mencoba segala usaha." Aji menyakinkan mbak Ara.


" Iya kita berjuang bersama ya mbak?"


" Iya, terimakasih."


Mereka memeluk Ara. Lalu Ara menghabiskan segelas susu yang Kia buat untuknya, dan Ara berbaring di bantu Aji, Kia juga membantu membetulkan selimut kakaknya.


Mereka saling bahu membahu merawat kakak tercintanya.

__ADS_1


__ADS_2