Pemuja Pembawa Petaka

Pemuja Pembawa Petaka
Jalan ke mall


__ADS_3

" Berangkat dulu ya bun."


" Iya sayang, hati - hati dijalan, jangan ngebut bawa mobilnya."


" Iya bunda, assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."


Rafael berjalan menuju mobil yang sudah pak Joko siapkan.


Pak Joko adalah satpam di rumah bunda Raina.


" Terimakasih pak."


" Sama - sama tuan. Oh ya tuan, beberapa hari ini ada mobil yang mencurigakan yang selalu datang."


" Maksud bapak?"


" Itu tuan, kalau tuan sudah berangkat bekerja selalu ada mobil parkir di dekat rumah ini, dan selalu pergi sebelum tuan pulang kantor, saya kira itu hanya mobil orang di dekat sini, tapi bukan, mobil nya selalu sama, dan saya amati dari cctv orang nya nggak pernah keluar dari mobil, sangat mencurigakan."


" Sejak kapan itu pak?"


" Beberapa hari ini tuan, dan itu setiap hari, seperti dia sedang memantau rumah ini."


" Baik pak, perketat pengawasan dan keamanan ya pak, jangan biarkan ada orang yang di kenal masuk. Kalau ada orang yang mencurigakan datang atau orang itu belum pernah datang kesini, bapak segera hubungi saya dulu."


" Baik tuan, hati - hati dijalan tuan."


" Terimakasih pak."


Di sepanjang jalan Rafael bertanya - tanya, dan sangat penasaran dengan mobil itu. Rafael takut orang itu merupakan ancaman untuk keluarganya.


Sepertinya aku harus menyuruh Tomy untuk menyelediki mobil itu, aku takut mobil itu ancaman untuk kelurga ku, aku takut dia saingan bisnisku yang mempunyai niat jahat.


Sesampainya di kantor, Rafael menuju ruangannya dengan langkah yang cepat.


Rafael langsung meminta tomy untuk segera menemuinya.


Tomy adalah sekertaris, serta orang kepercayaan Rafael.


" Assalamualaikum pak."


" Waalaikumsalam masuk Tom."


" Ada perlu apa bapak memanggil saya?"


" Saya ingin kamu membantu saya menyelidiki sesuatu."


" Apa itu pak."


" Tolong kamu telpon pak Joko, minta nomor plat mobil mobil yang mencurigakan, dan segera selidiki siapa pemilik mobil itu."


" Baik pak,"


" Terimakasih Tom. Segera kabari saya secepatnya kalau sudah ada hasilnya."


" Baik pak."


Rafael menunggu kabar dari Tomy dengan rasa gelisah, ia begitu tidak sabar ingin mengetahui siapa pemilik mobil itu.


" Pak saya sudah mengetahui siapa pemilik mobil itu."


" Bagus, siapa dia?"


" Frans Afandi."


" Ah sial, ternyata dia mengikuti ku sampai rumah. Oke Tom terimakasih, kembalilah bekerja."


" Baik pak."


" Terimakasih."


" Sama - sama pak."

__ADS_1


Mungkin dia mengintai rumah dan menunggu Ara keluar rumah. Kenapa dia sampai bertindak sejauh ini, apa tujuannya? bukakan kah dia yang membuat Ara sakit dan menginginkan kematian nya? lalu untuk apa dia bersikeras sampai seperti ini hanya untuk menemui Ara.


***


Dirumah bunda Raina.


" Ra kamu ganti baju ya, kita akan jalan - jalan hari ini."


" Mau kemana bun?"


" Belanja mungkin atau makan diluar, bunda pengen ngajak kamu jalan."


" Yey, ya sudah bunda, Ara ganti baju dulu, nggak lama kok."


" Iya sayang."


Bunda senang Ra ada kamu, bunda serasa punya anak perempuan.


" Bunda,,,,"


" Iya sayang, subhanallah anak bunda cantik banget."


" Beneran bun? "


" Iya sayang, Ara tambah cantik banget kalau berhijab begitu."


" Berarti Ara harus berterimakasih sama pak El bun, kan pak El yang membelikan ini."


" Oh jadi baju ini El yang belikan?"


" iya bun, rok sama pasmina nya juga."


" Oh iya? kamu cantik sekali memakai ini."


El bunda nggak menyangka ternyata selera kamu bagus juga, baju dan pasmina yang kamu belikan untuk Ara, sangat cantik. Dan sangat anggun jika di pakai Ara, Ara juga kelihatan cantik. Sepertinya kamu memang tertarik dengan Ara.


" Ya sudah yuk bun, kita berangkat."


Bunda Raina mengajak Ara ke salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota S.


Bunda Raina ingin sekali membelikan Ara berbagai macam baju. Dia sangat antusias ingin memilihkan baju buat Ara, memilihkan baju perempuan yang selama ini ia inginkan.


Seperti seorang ibu yang memilihkan baju untuk putrinya, baju yang menurutnya cantik jika di kenakan sang putri.


" Bunda sudah ya, ini bajunya sudah banyak, nanti malah tidak terpakai."


" Tapi Ra, bunda masih ingin membelikan mu yang itu sama yang itu, kayaknya kamu cantik deh kalau memakai gamis yang itu."


" Bunda tapi ini sudah banyak, em gimana kalau kita gantian belikan buat pak El?"


" Bunda sudah sering beli buat dia,"


" Yah dibelikan lagi buat oleh - oleh bun."


" Oke, tapi kamu yang pilih ya,"


" Loh kok jadi Ara yang pilih?"


" Ya bunda udah bosan pilih baju buat anak laki - laki Ra, anak bunda 2 kan cowok semua. Makanya bunda seneng bisa memilihkan baju buat kamu, dari dulu bunda ingin membeli baju buat perempuan."


" Oke bunda, untuk saat ini kan ini udah banyak, gimana kalau lain kali lagi? sekarang kita beli baju buat pak El ya."


" Iya sayang."


Ara pun memilih satu kemeja dan dasi yang cocok, serta kaos lalu ada baju koko untuk Rafael.


" Kira - kira pak El suka nggak ya bun sama baju yang aku pilihkan?"


" Pasti suka Ra. Bunda lapar kita cari tempat makan dulu ya?"


" Iya bunda."


Bunda Raina mengajak Ara untuk makan serta beristirahat sejenak untuk melepas lelah.

__ADS_1


Bunda Raina diam - diam mengambil foto Ara, dan mengirimnya ke Rafael.


" Bunda Ara ke toilet sebentar ya."


" Iya sayang."


Dari jauh Frans telah memantau Ara, melihat Ara yang pergi sendiri, itu kesempatan dia untuk menemui Ara. Dia segera bergegas mengikuti Ara.


***


Di kantor.


Rafael sedang sibuk dengan setumpuk berkas yang berada di depannya.


Rafael terkejut saat ponsel nya berbunyi, ada pesan masuk.


" Bunda? tumben bunda kirim gambar?"


Rafael terkejut saat melihat gambar yang bunda kirimkan, bibirnya tersenyum lebar.


Ara kamu cantik, tidak salah aku memilihkan itu untuk kamu.


Eh foto ini sepertinya bunda sedang diluar.


Astagfirullah aku lupa memberi tahu bunda tentang Frans.


Pasti Frans juga berada di sana, ah gawat, Frans pasti berusaha menemui Ara.


Aku harus menelpon bunda.


" Assalamualaikum bunda."


" Waalaikumsalam El, ada apa?"


" Bunda, bunda sekarang dimana?"


" Bunda lagi jalan - jalan sama Ara ke mall."


" Ara ada di dekat bunda kan?"


" Ara lagi ke toilet El."


" Ah sial!! bunda, bunda tunggu disitu El akan ke sana, bunda tolong telpon Ara, suruh Ara segera menemui bunda, jangan biarkan Ara sendiri, usahakan bunda berada di keramaian."


" Ada apa El, kenapa kamu panik seperti itu, bunda jadi takut."


" Nanti El jelaskan, sekarang bunda tolong telpon Ara, El akan jemput bunda, bunda jangan kemana - kemana. Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."


Mendengar suara El yang panik, bunda Raina tau pasti ada yang buruk yang akan terjadi. Bunda Raina juga tiba - tiba mengkhawatirkan Ara.


Bunda Raina berkali - kali mencoba menghubungi Ara, namun Ara tidak mengangkatnya.


Bunda Raina bertambah khawatir.


Bunda Raina memutuskan untuk menyusul Ara ke toilet.


Ternyata Ara juga tidak ada di toilet.


Bunda Raina menjadi panik, ia segera menelpon Rafael.


" El Ara nggak ada, Ara nggak ada di toilet." Suara bunda bergetar, terdengar jelas bahwa ia sedang menangis.


" Bunda tenang ya, bunda sudah mencoba menelpon Ara."


" Sudah, tapi tidak di angkat. Gimana ini El?"


" Tenang bunda, ini El sebentar lagi sampai."


" Cepetan ya El, bunda takut Ara kenapa - kenapa."


" Iya bunda, bunda tenang ya, nanti El akan mencari Ara."

__ADS_1


__ADS_2