Pemuja Pembawa Petaka

Pemuja Pembawa Petaka
Teror


__ADS_3

Hari sudah semakin petang, hingga menjelang magrib Ara belum bangun juga, tidak ada yang berani membangunkan Ara, karena tidur pulas nya, dengan wajah yang lelah membuat tidak tega yang ingin membangunkan nya.


Ntah mengapa sore ini perasaan seluruh keluarga ibu Lani menjadi tidak enak.


Di tambah lagi ada suara benda - benda jatuh di rumah nya.


Braak!!!


" Apa itu yang jatuh dek?" tanya ibuk kepada Aji.


" Nggak tau buk, bapak mungkin buk." Jawab Aji.


" Dari arah belakang sepertinya." Imbuh Kia.


" Coba kamu lihat dek, kali aja ada kucing masuk dan menjatuhkan barang di dapur, soalnya bapak lagi ke warung." Suruh ibuk.


" Iya, ya udah Aku cek dulu ya buk."


Aji berjalan ke dapur untuk mencari tau apa yang terjatuh tadi.


Setelah sampai di dapur, dilihatnya dapur masih tampak rapi, tidak ada yang berantakan atau barang jatuh, semua masih tertata rapi pada tempatnya masing - masing.


Aji berbalik badan hendak keluar dari dapur, baru tiga langkah berjalan tiba - tiba,,


Pranggg!!!!


" Astaga!!!" suara keras itu berhasil mengagetkan Aji.


" Apa lagi yang jatuh." Gumam Aji.


Aji kembali memeriksa dan masih tetap sama tidak ada benda apa pun yang terjatuh, semua barang masih berada di tempatnya. Piring dan gelas juga masih tersusun rapi di rak.


Aji pun merinding. Ia merasa takut, dan segera berbalik meninggalkan dapur dengan langkah yang cepat.


Tok , tok, tok.


" Ada orang di depan, apa pintu depan kamu tutup Ya?" tanya ibuk.


" Belum Kia tutup sih buk."


" Kok tumben ada orang mengetuk pintu, nggak salam aja kalau pintunya masih dibuka. Coba liat ke depan Ya, ada siapa."


" Iya buk, mungkin tetangga yang mau jenguk ibuk. Ya udah Kia cek ke depan dulu."


Sesampainya di depan Kia nggak melihat siapa - siapa, bahkan kia sampai mencari ke halaman juga nggak ada siapa - siapa.


Karena hari sudah menjelang magrib, melihat nggak ada orangnya yang tadi mengetuk pintu, membuat bulu kuduk Kia berdiri. Kia yang ketakutan langsung menutup pintu dan berlari ke kamar ibunya.


Aji dan Kia tiba di kamar ibuk bersamaan.


" Kalian ini kenapa berlari begitu?" tanya bu Lani.


" Kia takut buk, di depan nggak ada siapa - siapa loh."


" Emang ada apa buk?" tanya Aji.


" Tadi waktu kamu ke dapur ada yang mengetuk pintu." Jawab bu Lani.


" Tapi mbak Kia cek keluar nggak ada siapa - siapa dek. Kia kira ada tetangga yang mau jenguk ibuk."


" Mungkin hanya orang iseng Ya."


" Tapi sama loh buk, tadi aku cek ke dapur juga nggak ada barang yang jatuh ataupun kucing, dan saat aku mau balik kesini ada suara lagi kaya piring jatuh, dan aku cari lagi, memang nggak ada apapun yang jatuh." Aji bercerita.


" Buk kenapa rumah kita mendadak horor begini ya?" tanya Kia yang ketakutan.


" Mungkin cuma kebetulan saja Ya. Nggak usah terlalu dipikirin nggak usah takut juga." Kata bu Lani menenangkan kedua anaknya.


Memang baru kali ini dirumah ada kejadian begini. Perasaan ku juga dari tadi nggak enak, semoga tidak ada hal buruk yang terjadi, mungkin ini hanya perasaan ku saja. Batin bu Lani.


Sementara dikamar Aji Ara masih terlelap. Ara pun juga mengalami hal aneh. Tiba - tiba pintu jendela kamar Aji terbuka sendiri, padahal tidak ada angin kencang dan juga jendela Aji masih terkunci karena memang tidak dibuka dari pagi.


Angin yang masuk membuat tidur Ara sedikit terusik. Angin yang berhembus membuat rasa dingin menusuk tulang Ara.


Ini kok dingin banget sih, batin Ara yang masih setengah tertidur.


Lampu kamar Aji yang remang - remang, ditambah dengan angin yang masuk, membuat bulu kuduk Ara merinding, Ara pun diselimuti rasa takut.


Nggak biasanya aku begini, ini ada apa sih, kok aku jadi merasa takut.


Saat Ara setengah tidur, sayup - sayup terdengar ada suara orang yang sedang membaca mantra atau apalah itu, Ara sendiri nggak begitu jelas mendengarnya, yang jelas suara itu membuat Ara semakin takut.


Ara merasa tubuh Ara tidak bisa di gerakan, itu membuat Ara semakin takut, Ara ingin berteriak minta tolong tapi Ara tidak bisa.


Suara itu masih terdengar, tiba - tiba di samping Ara ada sosok hitam besar yang menyeramkan, sosok itu semakin mendekat, seperti ingin menyentuh Ara. Ara ingin lari tapi Ara nggak bisa, bahkan badan Ara susah untuk di gerakkan, Ara sudah sekuat tenaga mencoba untuk bangun, namun tetap saja tidak bisa. Ara sangat ketakutan.


Ibuk tolong Ara, bapak, adek ayo dong tolong Ara, Ara takut. Kenapa Aji nggak masuk ke kamar sih, siapapun tolong. Hiks, hiks.


Ara pun menangis dalam diam.


Sosok besar itu kemudian berubah menjadi asap hitam dan menghilang di antara ke dua kaki Ara.


" Hah,, hufh hufh,," Ara bisa membuka mata dan terbangun dari tidurnya dengan nafas yang memburu, serta sisa air mata di ujung mata Ara.

__ADS_1


" Syukurlah hanya mimpi, tapi kok seram banget ya." Gumamnya.


Saat Ara melihat ke arah jendela ternyata benar, jendelanya terbuka.


" Ini Aji gimana sih kok jendelanya nggak di tutup, pantesan dingin,"


Ara melihat ke arah jam dinding, ternyata sudah pukul 18.45.


" Ternyata Aku tidurnya lama banget, kok gak ada yang bangunin sih."


Kelamaan tidur membuat perut Ara keroncongan, Ara keluar dari kamar Aji dan berjalan menuju kamar ibu nya.


Ternyata bapak dan ke dua adik nya sudah berkumpul di kamar ibunya.


" Oh pada ngumpul disini toh, pantas sepi. Oh iya dek, lain kali kalau udah sore, mau magrib tuh jendelanya di kunci."


" Eh mbak Ara sudah bangun." Kata Kia


" Kamar aku nyaman banget ya mbak? nyampe mbak pules banget tidurnya, sampai seharian nggak bangun - bangun, eh tapi dari pagi memang jendelanya nggak aku buka tuh mbak." imbuh Aji.


" Apa iya? kali aja kamu lupa jadi belum di kunci jendelanya, terus terbuka sendiri. Maaf ya dek mbak kelamaan tidur di kamar kamu, habis kamar kamu kaya ada aroma terapinya gitu. Jadi bikin rileks, bikin nyaman, hehehe."


Nggak mungkin, jelas - jelas hari ini aku nggak membuka jendela, dan nggak ada angin kencang juga masak iya jendelanya kebuka sendiri. Sepertinya memang mbak Ara juga mengalami hal aneh, tapi biarlah dia berfikir begitu, kasian dia nanti malah ketakutan. Batin Aji.


" Ya udah sana mandi dulu Ra, terus nanti kamu makan." kata bapak.


" Iya pak."


" Mbak Ara," panggil Aji.


" Apa dek?," jawab Ara.


" Nanti buatin nasi goreng dong."


" Em, oke."


" Aku juga mau Mbak," imbuh Kia.


" Kalian ini, mbak mu kan masih capek, baru juga bangun masak iya langsung disuruh buat makanan," sahut ibu Lani.


" Aku udah nggak capek kok buk, kan udah tidur seharian. Ya udah aku mandi dulu."


" Jangan lama - lama mandinya ya Ra, udah malem, nanti masuk angin." bapak mengingatkan Ara.


" Iya pak."


Karena dingin juga, Ara pun tidak berlama - berlama di kamar mandi. Ara segera menyelesaikan mandinya, dan langsung ke dapur untuk membuat nasi goreng untuk dirinya dan ke dua adik kesayangannya, tak lupa dia juga memasak lebih, kalau - kalau ibuk sama bapaknya juga ingin makan nasi goreng buatannya.


Saat Ara sudah memasuki dapur, ara merasa aneh, seperti ada sekelebat bayangan di belakang Ara.


Ah, ini mungkin cuma perasaan aku saja, karena mimpi buruk tadi.


Ara melanjutkan memasaknya, sebenarnya perasaan takut sudah menyelimuti Ara. Tapi Ara memberanikan diri dan tetap berfikir positif.


Saat Ara tengah asik memasak, pundak Ara ada yang menepuk. Ara mengira itu adalah adiknya Kia. Karena biasanya Kia lah yang sering menganggu Ara saat tengah memasak.


" Apaan sih Ya, jangan ganggu deh, sabar ya? sebentar lagi selesai nih. Oh iya ambilkan garam dong, kurang garam sedikit nih."


Kemudian tempat garam pun sudah ada di meja samping tempat Ara memasak, Ara masih mengira bahwa itu Kia yang mengambilkan untuknya.


" Makasih dek, Oh iya tolong ambilkan piring sekalian."


Tapi tidak ada jawaban sama sekali, tapi Ara belum menyadarinya.


Dan Braakkkkk, suara benda terjatuh. Suara iti membuat Ara terkejut. Ara masih mengira itu Kia.


" Astaga Kia, pelan - pelan dong ngambil piringnya. Apa itu yang kamu jatuhkan?"


Masih tidak ada jawaban.


" Dek, apaan itu yang jatuh?" tanya Ara lagi dengan nada yang sedikit kesal karena dari tadi tidak ada jawaban.


Ara mematikan kompornya lalu ia pun menoleh kebelakang, dan ya tidak ada siapa - siapa di sana.


Ini Kia iseng banget sih, pasti mau menakut - nakuti aku, awas aja ya!


" Kia! kia!!"


Ara berteriak memanggil Kia. Dia masih mengira bahwa tadi Kia lah yang berada di sana.


" Apaan sih mbak, nggak usah teriak - teriak, berisik tau."


" Tadi kamu kan yang ngerjain mbak, kamu mau menakut - nakuti mbak ya?"


" Mbak jangan mengigau deh, orang dari tadi Kia di kamar ibuk."


" Bohong."


" Tanya aja sama bapak sama ibuk, Aji juga di sana, Ada apaan sih mbak, mbak aneh banget?"


" Nggak ada apa - apa, ya udah bantuin siapin piringnya."


" Nanti, Kia mau ke kamar mandi dulu."

__ADS_1


Ara pun bergegas ke kamar ibunya.


" Buk, tadi Kia ke dapur nggak?"


" Nggak Ra, Kia dari tadi disini tiduran di pangkuan ibuk, kan kamu yang di dapur Ra, masak nggak tau kalau Kia ke dapur."


Jawaban dari ibunya membuatnya semakin merasa takut.


Ini memang kebetulan, atau memang dirumah ini ada yang aneh, selama tinggal disini baru kali ini aku mengalami hal aneh begini. Batin Ara.


" Oh, ya udah."


" Ada apaan sih mbak?" tanya Aji.


" Nggak, nggak ada apa - apa."


Sepertinya mbak Ara mengalami hal yang aneh lagi. Hal aneh apa ya yang di alami mbak Ara, sampai mukanya panik seperti itu. Batin Aji.


" Yakin nggak ada apa - apa mbak?"


" Nggak. Ya udah yuk bantuin mbak nyiapin piring, nasi goreng nya udah mateng."


" Kan ada mbak Kia?"


" Mbak Kia lagi di kamar mandi, kelamaan nungguin dia."


Ara di buat bingung dan juga takut, baru kali ini dia mengalami kejadian aneh seperti ini.


Kalau tadi bukan Kia bukan Aji juga, berarti tadi siapa? yang menepuk pundak, yang mengambilkan garam. Duh kok jadi horor gini sih rumah ku.


" Mbak, kok nasi gorengnya cuma di aduk - aduk sih, nggak di makan?" tanya Kia yang bingung melihat kakak nya melamun dan tidak melahap nasi di depannya.


" Kamu kenapa Ra? kamu sakit?" tanya ibuk Lani khawatir.


" Nggak papa kok buk, mungkin karena tadi Ara tidurnya kelamaan jadi badan Ara malah lemes."


Ara tidak menceritakan kejadian yang di alaminya, Ara takut ibunya khawatir, karena ibunya baru sembuh, dan juga tidak ingin membuat semua orang dirumah menjadi takut.


" Ya sudah habis makan nanti kamu minum vitamin terus istirahat, pasti itu juga karena kamu kecapean." Kata bapak mengingatkan Ara.


" Iya pak. Oh iya nanti kita tidur bareng aja yuk Ya, sama kamu juga dek."


" Mbak, kan kita udah besar udah punya kamar sendiri - sendiri masak tidur bareng." Jawab Aji.


" Kan lama kita nggak tidur bareng dek, mbak kangen masa - masa itu, mumpung mbak masih dirumah lho."


" Ya deh iya, tapi dikamar aku aja ya, kalau dikamar kalian males."


" Gimana Ya mau nggak?"


" Aku ngikut aja apa mau nya mbak Ara." Jawab Kia.


Selain Ara merindukan kebersamaan itu, sebenarnya karena kejadian tadi, Ara masih takut. Apa lagi kalau tidur sendiri.


" Mbak, tadi mbak Ara mengalami hal aneh ya?" tanya Kia penasaran.


" Nggak kok." Elak Ara.


Ara tidak mau menceritakannya karena takut membuat adiknya takut.


" Terus tadi kenapa teriak - teriak panggil Kia, dan nuduh Kia kalau Kia yang menakut - nakuti mbak?"


" Mbak minta kita tidur bertiga karena mbak takut kan?" selidik Aji.


" Ayo lah mbak cerita, Kia juga memang ingin tidur sama mbak tadinya, sebelum mbak bilang mau tidur bertiga. Karena tadi Kia sama Aji juga ngalamin hal yang aneh ya dek ya." Kia bercerita."


" Iya," jawab Aji singkat.


" Hah masak sih? kapan?" tanya Ara penasaran.


" Tadi pas mbak masih tidur, mungkin sekitar mau magrib tadi." Jawab Aji.


" Kejadian apa memang nya?"


" Ada yang mengetuk pintu mbak, padahal pintunya terbuka loh, kalau emang ada orang kan kenapa nggak salam aja? iya kan? terus di dapur ada suara barang jatuh, ibuk menyuruh Aji mengecek, dan nggak ada apa - apa." Jawab Kia.


" Dan itu sampai 2 kali loh mbak." Imbuh Aji.


" Nah sekarang gantian mbak yang cerita, tadi ada apa?" tanya Kia penasaran.


" Tadi waktu mbak masak, ada yang menepuk pundak mbak, mbak kirain itu Kia, kan biasanya Kia yang iseng kalau lagi masak kan? ya udah mbak kira itu Kia, mbak suruh ambil garam, dan di ambilkan di taruh di samping mbak. Mbak suruh lagi ambil piring, dan ada suara barang jatuh, mbak kira Kia menjatuhkan sesuatu saat ambil piring. Mbak sampai tanya 2 kali loh barang apa yang jatuh, tapi nggak ada jawaban. Karena mbak kesal mbak matikan kompor dan mbak menoleh ke belakang nggak ada siapa - siapa. Makanya mbak kira itu Kia yang sengaja mau menakut - nakuti mbak."


" Wah sepertinya yang dialami mbak Ara lebih serem deh, lebih horor. Mungkin kalau Kia yang alami Kia udah heboh teriak - teriak."


" Aku juga mau konfirmasi soal jendela tadi deh mbak. Jendelanya memang Aji nggak buka, tadi pagi aku langsung berangkat sekolah karena buru - buru, terus siang pulang sekolah juga cuma masukin tas sama ganti pakaian, karena ada mbak dan aku nggak mau ganggu tidur nya mbak, aku sama mbak Kia langsung ke kamar ibuk. Kita dikamar ibuk juga sampai sore. Harusnya walaupun ada angin kencang juga nggak akan terbuka sendiri jendelanya."


" Perasaan nggak ada angin kencang juga tadi mbak." Imbuh Kia.


" Em, kok bisa ya. Kenapa hari ini banyak sekali kejadian aneh?" Tanya Ara heran.


" Kan Kia jadi takut mbak nggak bisa tidur sendiri mah kalau kaya gini."


" Ya udah yuk tidur kan sekarang udah bertiga. Dipikirkan besok lagi, sekarang saat nya istirahat udah malem." Ajak Ara untuk menenangkan adiknya serta menyembunyikan rasa takutnya.

__ADS_1


" Iya mbak." Jawab Kia sama Aji.


Semoga besok nggak ada kejadian aneh lagi, rasanya seperti diteror. Batin Aji.


__ADS_2