
Setelah kepergian Ara bersama Linda, kelurga di kediaman pak Nariman beraktifitas seperti semula.
" Dek emang kamu berpesan apa sama mbak Ara?" Tanya Kia
" Mbak Kia kepo deh. Penasaran ya, hahahaha." Jawab Aji.
" Ih gitu kan, sukanya pilih kasih." Kata Kia jeles.
" Bukanya gitu mbak, aku belum bisa cerita sekarang, nanti kalau waktunya udah pas aku bakal cerita."
" Serah kamu deh."
" Jangan marah dong mbak nanti kalau waktunya udah pas aku janji, aku bakal cerita."
" Ini kenapa sih, udah gede juga masih pada berantem," Tiba - tiba bu Lani datang dan menyela obrolan mereka.
" Tau ah, Aji tuh buk yang mulai." Jawab Kia ketus.
" Assalamualaikum," suara seseorang dari teras depan.
" Ada tamu tuh buk." Kata Kia.
" Aduh ibuk masih sibuk nih, coba kamu lihat siapa tamunya dek." Suruh ibuk.
" Iya buk."
" Assalamualaikum,"
" Waalaikumsalam. Eh mas Danang, mari masuk duduk dulu, sebentar aku panggilkan bapak."
" Tunggu sebentar, kabar Ara bagaimana? bisa tolong panggilkan dia."
Tuh kan, kelihatan banget dia juga pasti tergila - gila dengan mbak Ara. Dateng - dateng langsung mbak Ara yang di cari. Dasar bermuka dua. Batin Aji.
" Nggak tau, nanti tanya aja sama bapak." Jawab Aji sebal.
Aji lalu pergi ke kebelakang untuk mencari pak Nariman.
" Siapa dek?" tanya bu Lani.
" Mas Danang." Jawab Aji singkat.
" Ha seriusan dek ada mas Danang?" tanya Kia antusias.
" Iya, sana buatin tuh minum pujaan mu, aku mau panggil bapak dulu."
" Apaan sih dek, kenapa? nggak suka kalau aku muja mas Danang? iri bilang aja."
" Ih ngapain, apa yang di iri in coba? sama orang bermuka dua kaya dia."
" Sudah - sudah, ini kenapa malah berantem lagi sih, dek cepat panggil bapak, dan Kia buatkan minum bapak sama mas Danang." Perintah bu Lani, juga bertujuan melerai mereka.
" Iya buk," jawab mereka serentak.
Mereka pun beranjak untuk mengerjakan apa yang bu Lani perintahkan.
" Eh nak Danang, maaf lama tadi bapak lagi membersihkan kebun belakang."
" Iya pak nggak papa, bapak apa kabar, sehat kan?"
" Iya alhamdulillah kami sekeluarga sehat, nak Danang sendiri bagaimana?"
" Sehat juga pak, oh iya Ara bagaimana pak, apa masih sering kambuh?"
" Tidak, dia sudah sehat, baru saja tadi dia berangkat kerja."
Sial, coba saja aku tadi lebih cepat sedikit, pasti masih bisa ketemu Ara, sepertinya untuk memikatnya dari jarak dekat gagal, harus telaten mengirimnya dari jarak jauh, walaupun lama tapi pasti berhasil, kamu nggak akan aku lepasin Ra, kemanapun kamu pergi.
" Ya alhamdulillah kalau begitu, Ara bekerja dimana pak?"
" Untuk lokasinya pastinya bapak kurang faham, tapi yang jelas di kota S."
" Ini mas diminum dulu, mas Danang sehat kan?" tanya Kia yang baru saja datang mengantarkan minuman.
" Ya sehat lah mbak, kalau nggak sehat kan nggak mungkin sampai sini." Aji menyambar pertanyaan Kia untuk Danang.
" Apaan sih dek, nggak sopan begitu." Kia marah.
" Hahaha, Aji benar Ya, aku sehat kok, kamu juga sehat kan?" Tanya Danang.
" Sehat kok mas. Nih dimakan kue nya." Aji pun menjawab pertanyaan Danang untuk Kia. Dan setelah meletakan sepiring kue yang di bawanya dia langsung pergi.
" Maafin sikap Aji yang tidak sopan ya mas? Nggak tau tuh kenapa sikapnya begitu, biasanya juga nggak." Kata Kia yang tidak enak hati karena sikapnya Aji terhadap Danang.
" Iya nggak papa, namanya juga anak muda, mungkin dia lagi banyak masalah."
Kia langsung mengejar Aji ke belakang.
" Silahkan diminum dulu sama dinikmati ini kue nya nak." Kata pak Nariman.
" Ya pak terimakasih, maaf jadi merepotkan."
" Tidak usah begitu, kita kan sudah seperti keluarga."
" Iya pak, ini ibuk mana kemana ya pak?"
" Ibuk lagi di dapur, sebentar lagi pasti selesai."
Pan Nariman menemani Danang dan berbincang hingga cukup lama.
***
Sementara di kamar Aji.
Kia nggak suka dengan sikap Aji kepada mas Danang, yang menurutnya itu tidak sopan.
Kia mencari Aji di kamarnya dan ingin menegurnya.
" Dek, kamu ada masalah apa sih sama mas Danang? kok sikap kamu kelewatan kaya tadi?"
" Kelewatan bagaimana, kayaknya sikap ku biasa saja, mbak nya aja yang melihatnya kelewatan."
" Dek, kamu itu bisa nggak sih jangan kaya anak kecil, apa selama ini mbak pernah mencontohkan sikap seperti tadi kepada tamu kita, hah!?"
" Oh gara - gara dia, gara - gara mbak belain dia, sampai mbak bentak aku kaya gini? kenapa mbak suka sama dia? jujur ya mbak, aku memang nggak suka sama dia, aku nggak suka dia deketin mbak Ara juga deketin mbak Kia. Tapi kalau mbak nggak terima, mbak masih mau dekat - dekat sama dia, silahkan!! tapi tanggung sendiri resikonya! sekarang mbak keluar!! aku mau istirahat." Aji di buat geram sama Kia, hingga akhirnya Aji pun juga meninggikan suaranya.
" Maksud kamu apa?"
" Mbak keluar!"
__ADS_1
Dari dapur bu Lani mendengar kegaduhan yang Aji sama Kia buat. Bu Lani pun langsung datang untuk melihat apa yang sudah terjadi.
" Dek apa - apaan ini, ada tamu kenapa malah bertengkar, kalau tamu nya dengar apa nggak malu." Kata bu Lani yang tiba - tiba masuk ke kamar Aji.
Melihat muka Aji dan mata Aji yang memerah bu Lani merasa takut, baru kali ini dia melihat Aji marah hingga seperti ini.
" Buk bawa mbak Kia keluar, sekarang."
" Iya, mbak Kia ayok ikut ibuk."
Melihat putranya sangat marah, ia langsung membawa Kia keluar, bu Lani juga tidak bertanya atau bilang apa - apa lagi, karena pasti putranya itu akan bertambah marah. Untuk saat ini mungkin yang benar adalah untuk membiarkan putranya sendiri dulu.
" Iya buk." Jawab Kia patuh.
" Sebenarnya kamu sama adik mu itu ada masalah apa sih Ya? kenapa adik mu sampai semarah itu, coba cerita ke ibuk, ibuk sampai takut loh, liat mukanya yang sampai merah dan matanya juga merah, tidak biasanya adik mu itu marah sampai meninggikan suaranya."
" Kia juga nggak tau buk, kenapa dia sampai semarah itu, nanti aja Kia cerita, ibuk temuin dulu mas Danang, Kia juga mau istirahat."
" Ya sudah, ibuk ke depan dulu, kamu juga dari tadi belum istirahat kan."
" Iya buk."
Kia langsung berlari ke kamarnya, ia juga sangat syok dan juga takut melihat kemarahan adik nya, baru kali ini ia melihat adik nya semarah itu.
Sebenarnya kenapa Aji sampai marah seperti itu, aku juga nggak ngerti maksud dari kata - katanya itu. Aku cuma mau menegurnya karena ia sangat tidak sopan dengan mas Danang, takutnya ia akan seperti itu juga sama orang lain. Apa saat aku menegurnya tadi ada kata - kata ku yang kelewatan sehingga menyinggungnya?
Tapi kurasa tidak, biarlah nanti kalau sudah tenang aku minta maaf sama dia.
Untuk meredakan kemarahannya Aji memilih untuk tidur.
Angin sepoi - sepoi serta gemericik air mengusik tidur lelapnya.
Aji membuka mata, melihat sekeliling.
Aji begitu terkejut, dia berada di gubuk kecil di pinggiran sungai, bantaran sungai yang tidak begitu deras, airnya yang sangat jernih. Bunga liar yang tumbuh di sekeliling gubuk nampak begitu indah.
" Ini dimana lagi? disini sangat tenang juga begitu indah. Apa mbak Ara kenapa - kenapa lagi? tapi biasanya aku terbangun di pinggir hutan, bukan ditempat ini."
" Tempat yang indah bukan?"
Suara perempuan mengagetkan Aji.
Aji pun menoleh mencari sumber suara itu berasal.
Gadis manis, cantik berambut lurus panjang dengan dress selutut berwarna putih, sederhana namun sangat cantik.
Siapa gadis cantik ini, aku tau ini di dalam mimpi berarti dia bukan manusia dong.
" Siapa kamu? apa kamu yang membawa aku kesini?" Aji sebenarnya takut namun ia memberanikan diri untuk bertanya.
" Kurang lebih begitu. Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu."
" Kamu siapa? kenapa membawa aku kesini?"
" Panggil saja aku Sukma, aku tidak suka dengan hawa panas karena kemarahan mu, makanya aku kesini untuk mendinginkan hawa panas yang kau ciptakan."
Bersama gadis ini, aku tidak merasakan adanya ancaman, dan bersamanya kenapa begitu nyaman, padahal dia orang asing.
" Kamu tau dari mana kalau aku marah tadi?"
" Tau, aku selalu bersama mu, aku juga tau semua tentang mu."
" Tapi kenapa aku tidak bisa melihatmu?"
" Kamu sebenarnya berasal dari mana? kamu manusia atau setan."
" Yang jelas aku bukan manusia sepertimu, aku tercipta dari keinginan mu yang kuat untuk melindungi Ara."
" Kamu juga kenal mbak Ara?"
" Kamu banyak sekali bertanya, aku tau semuanya, keluarga mu, teman mu, sampai ukuran ****** ***** mu pun aku tau, hahaha."
" Huh dasar setan mesum. Berarti kamu suka mengintip aku mandi ya?"
" Sembarangan, aku nggak serendah itu."
" Berarti selama ini, gambaran di mimpi ku, dan aku bisa melihat makhluk halus, serta menjadi peka dengan hal - hal gaib itu karena kamu?"
" Iya, kurang lebih begitu, aku ingin membantumu."
" Berarti kamu bisa membantu mbak Ara?"
" Gimana ya?"
" Ayolah, kamu pasti bisa bantunya kan?"
" Dek bangun dek, dek bangun." Suara bu Lani membangunkan Aji.
Suara ibu Lani mengusik tidur lelap Aji, sehingga Aji terbangun, dan membuyarkan mimpi nya dengan Sukma.
" Dek bangun, makan dulu."
" Hem, iya buk. Masih ngantuk."
Yah ibuk, kok membangunkan aku sekarang sih, padahal tadi aku sedang bertanya penting dengan Sukma.
" Kamu udah tidur lama loh, ini sudah habis magrib, ayo bangun makan sama mandi dulu."
" Ha? aku tidur selama itu ya buk?"
" Iya, ibuk sampai takut, ibuk kira kamu pingsan. Mau makan atau mandi dulu? ibuk siapin dulu makanan nya."
" Iya buk, nanti Aji nyusul."
Kayaknya baru ngobrol sebentar deh sama Sukma, kenapa jadi tidurku selama itu.
" Ya karena waktu berjalannya berbeda." Suara Sukma menggema di kamar Aji.
" Astaga!!" Aji begitu terkejut melihat penampilan sukma, melayang di udara dengan wajah yang pucat dan menyeramkan.
" Hihihi hihihi hihihi." Suara Sukma melengking seperti kuntilanak, itu membuat Aji merinding.
" Turun sini dah, jangan bikin aku takut, kenapa kamu jadi jelek begini sih, nggak enak banget dilihatnya?"
" Hehehe," dalam sekejap mata Sukma merubah penampilannya menjadi cantik kembali.
" Nah begini kan cantik, sedap di pandang."
" Hehehe, dasar penakut."
__ADS_1
" Ya kerena kamu datangnya tiba - tiba. Coba bilang dulu."
" Ya mana ada mau menakut - nakuti orang pake pemberitahuan dulu."
" Eh kamu bisa muncul disini?"
" Ya bisa lah, dikamar mandi aja bisa, hehehe."
" Dasar setan mesum."
" Kamu tunggu sini, aku mau mandi dulu. Jangan ikut. Jangan mengintip. Atau mau mandi bareng, hehehe."
" Ih dasar kamu tuh yang mesum."
" Sifat manusia kan begitu, juga ada yang mesum, hehehe."
Tok , tok , tok.
Bu Lani mengetuk pintu kamar Aji, karena Aji tidak kunjung keluar.
" Dek, kok nggak keluar dari tadi ngapain aja?"
" Bentar buk, mau mandi dulu."
" Kamu ngobrol sama siapa?" Bu Lani membuka pintu kamar Aji.
Aji kaget takut ibu melihat Sukma, maka pasti ibuk akan marah besar, dikira membawa anak gadis orang, mana berduaan di kamar lagi.
" Puft, hahahaha, kamu jangan tegang gitu napa, kaya ketahuan selingkuh aja, tenang saja ibuk nggak bisa melihat ku, dan nggak bisa mendengar suara ku juga." Sukma tertawa melihat muka tegang Aji.
Oh iya lupa Sukma kan bukan manusia. Huh, lega.
" Tadi nelpon temen buk. Em Aji makan dulu baru nanti mandi."
" Ya sudah kalau begitu."
Aji mengekor ibuk ke dapur. Karena semuanya sudah makan, tinggal Aji lah yang belum.
Tapi di sana masih ada Kia. Rupanya Kia menunggu Aji, kia ingin minta maaf masalah pertengkaran tadi.
" Dek maafin mbak ya, maaf kalau tadi mbak kelewatan." Kata Kia.
" Iya nggak papa, maafin aku juga tadi kelewatan marahnya sama mbak."
" Nah gitu dong, udah pada gede masih saja berantem." Kata ibuk.
" Iya buk. Oh ya buk tadi mas Danang pulang jam berapa?" tanya Aji
" Setelah ibuk nemuin dia, ngobrol bentar terus dia pulang."
" Oh."
Aji menyelesaikan acara makan malam nya dengan cepat, lalu bergegas mandi. Dia begitu tidak sabar ingin berbincang lagi dengan Sukma, membahas tentang Ara.
" Duh ini cara panggil si Sukma gimana ya? apa pakai mantra? tapi mantra nya gimana?"
Aji bingung bagaimana caranya bertemu dengan sukma.
Aji yang sedang tiduran itu, memiringkan badannya mencari posisi yang nyaman.
Saat Aji miring ke kanan, ia dikejutkan oleh keberadaan Sukma, Sukma tidur disampingnya juga wajahnya berhadapan dengan Aji.
Duh bikin kaget saja nih setan cantik, tapi Sukma memang cantik banget sih. Coba ah di gombalin setan bisa baper nggak ya, hehehe.
" Serasa punya istri cantik, hehehe. Ada yang nemenin tidur, sini peluk abang dek."
" Apaan sih."
" Hahaha, bercanda pengen tau aja setan kalau di godaan bisa baper apa nggak."
" Baper tuh apa?"
Rupanya setan nggak tau bahasa baper, hehehe.
" Bunga setaman sama kemenyan, hahaha."
" Nggak lucu ih. Serius nih tadi mau ketemu aku ada perlu apa?"
" Sebelumnya aku mau tanya dulu, kalau mau panggil kamu caranya gimana? apa pakai mantra, apa harus bakar kemenyan?"
" Sembarangan, cukup panggil nama ku saja di dalam hati aja. Nggak perlu bakar kemenyan, bau tau. Hahaha."
" Dasar, ini nih aku mau bahas mbak Ara, benar kan dia di guna - guna sama dukun muka dua itu?"
" Maksudnya Danang? iya memang Danang sedang memikat Ara sedikit demi sedikit, tujuan nya tadi kesini juga karena itu."
" Tuh kan benar, memang kampret tuh si Danang."
" Bukan cuma Danang, sihir yang dulu juga masih ada, meskipun Ara sudah bisa berjalan."
" Hah serius?"
" Iya, karena sihirnya begitu kuat, sampai sudah memasuki aliran darahnya, itu selamanya tidak bisa hilang."
" Terus gimana?"
" Tenang aja nanti akan ada orang bisa menyembuhkan dia."
" Kamu tau dari mana?"
" Rahasia dong. Hahaha."
" Huh dasar. Tapi syukurlah kalau begitu. Kalau yang mas Danang?"
" Tenang saja, itu bukan hal yang berat kok, Danang cuma ingin Ara menjadi istri ke duanya."
" Ha? mas Danang sudah punya istri?"
" Sudah."
" Tuh dukun emang kampret ya, sudah punya istri masih saja kepincut sama mbak Ara, heran deh."
" Yah memang laki - laki kebanyakan begitu kan?"
" Ye sok tau, nggak semua juga kali."
" Ya memang aku serba tau, apa lagi kalau tentang kamu, hehehe"
" Wah ternyata kamu lebih canggih dari pada mbah gogel. Hahaha."
__ADS_1
" Dukun mana lagi tuh mbah gogel?"
" Hahaha, rahasia."