
Selesai membeli kebutuhan yang di perlukan Ara, Linda dan Ara mencari tempat makan yang nyaman untuk ngobrol serta beristirahat.
" Makan disitu aja ya Ra, kayak nya tempat nya enak dan nyaman."
" Ara ikut mbak Linda saja."
" Oke lah. Kita cari tempat parkir dulu."
Selesai memarkirkan mobilnya, keduanya lalu memesan makanan.
" Mbak yang pesan Ara mau cari tempat duduk yang enak."
" Kamu mau pesan yang mana?"
" Terserah mbak aja, Ara mah apa aja suka, hehehe."
" Oke."
Ara memilih duduk lesehan di pinggir kolam, ada banyak tanaman di sekelilingnya, tempatnya teduh, sejuk dan juga tenang.
" Mbak Linda sini!!" Ara melambaikan tangannya, agar Linda bisa melihatnya.
" Pinter banget kamu cari tempat duduk. Oh iya kamu rencana mau ketempat ibunya pak bos kapan?"
" Belum tau, enaknya kapan ya mbak?"
" Mending besok pagi aja Ra, hari ini kita puas - puasin main dulu, kan jarang loh kita ada waktu berduaan begini, mumpung di kasih libur juga sama si bos, hahaha."
" Iya yah mbak. Ya udah deh Ara ngikut mbak Linda aja."
Makanan yang dipesannya pun datang, mereka dengan lahap menyantapnya.
" Habis ini kamu pengen kemana lagi Ra?"
" Nggak tau mbak, lagian ini udah sore, kaki Ara juga sakit."
" Aduh, pasti karena kecapean ya Ra?"
" Nggak tau juga mbak, kayaknya nggak deh, Ara kan jalan tadi juga nggak lama, nggak capek capek banget, sepertinya memang penyakit Ara mau kambuh."
" Duh terus gimana? apa kita ke dokter dulu?"
" Udah mbak jangan panik gitu dong. Dibawa istirahat bentar nanti juga baikan lagi."
" Tapi kalau masih sakit bilang ya, nanti mbak antar ke dokter. Mbak jadi takut Ra, kalau kamu kenapa - napa. Sebenarnya kaki kamu tuh sakit apa sih Ra?"
Ara lalu menceritakan semuanya kepada Linda.
" Mungkin memang Frans deh Ra yang membuat mu begini, kalau orang lain siapa? laki - laki yang dekat sama kamu di kota J kan cuma dia."
" Hem, nggak tau deh mbak, kalau mungkin iya, iya udah biarin saja. Toh Ara juga masih baik - baik saja."
" Kamu nggak kepikiran gitu, buat balikin tuh santet ke dia, biar dia juga merasakan apa yang kamu rasain?"
" Nggak lah mbak, buat apa? lalu apa bedanya Ara dengan dia kalau Ara juga melakukan hal yang sama. Ara malah ingin ketemu sama orang nya, Ara mau tanya apa salah Ara padanya, Ara mau minta maaf, supaya dia nggak dendam lagi sama Ara."
" Duh kamu ini kelewat baik banget sih Ra."
" Nggak lah mbak, mungkin orang lain pun juga akan melakukan hal yang sama."
" Ya belum tentu semua orang punya hati sebesar kamu Ra, apa lagi dia udah menyiksa kamu, menginginkan kematian mu juga."
" Biarlah mbak, lagian Ara juga sudah sembuh kok. Ara sudah maafin orangnya."
" Ya bagus kalau begitu, aku salut banget sama kamu, belum tentu loh aku bisa kaya kamu kalau aku berada di posisi kamu Ra."
" Ya harus bisa mbak, nggak baik kan, kalau keburukan harus dibalas dengan keburukan juga, malu dong mbak sama pohon manga,"
" Ha? kok bisa?"
" Ya pohon mangga aja di lempar batu di balas buah, hehehe."
" Hahaha iya juga, ya kalau pohon nya nggak berbuah gimana?"
" Ya kalau nggak berbuah nggak mungkin dilemparin batu lah mbak."
" Hahaha iya bener, bisa aja kamu Ra, oh iya nanti malem kita nongkrong di cafe yuk."
" Cafe mana mbak?"
" Cafenya pak bos hahaha."
" Biasanya kalau malem ada live musiknya gitu. Nonton yuk."
" Boleh deh."
" Habis ini kita pulang aja ya istirahat, kasian kaki kamu."
" Iya mbak, tapi nanti aja pulangnya Ara masih betah disini."
" Iya, kamu pasti kangen ya sama Frans?"
Pertanyaan simpel itu mampu membuat Ara menitihkan air matanya.
" Yah, kangen banget mbak. Nggak mudah buat Ara melupakan dia, apa lagi dia pacar pertama Ara."
" Nangis aja nggak usah ditahan, luapkan aja semuanya biar lega, ada aku disini yang siap kok dengerin apa yang pengen kamu ungkapin."
" Ara kecewa mbak, salah Ara juga yang sudah percaya sama kata - kata dia yang katanya pengen nikahin Ara, Ara jadi berharap. Dan sekarang harapan itu sirna, membuat Ara semakin kecewa. Ara selalu berharap dia akan datang, tapi ternyata sampai detik ini, jangan kan dia yang datang, sekedar kabar pun nggak ada."
" Sudah lah, kamu nggak salah, mungkin memang kalian tidak berjodoh. Aku benar - benar nggak nyangka loh dia bakal setega itu, yang aku lihat dia laki - laki baik, sayang banget sama kamu juga."
" Entah lah mbak, Semoga di kota ini Ara bisa membuka lembaran baru, bisa melupakan kenangan indah itu dan membuat kenangan indah lagi yang baru."
" Yap, kamu benar, kamu memang harus bangkit, menata hidupmu kembali, fokus ke tujuan awal mu. Tetap semangat ya."
" Iya, masih ada ibuk, bapak, dan adik - adik yang harus Ara bahagiakan mbak. Salah satu kebahagiaan Ara juga ada di bahagia mereka. Terimakasih ya mbak, makasih buat semuanya."
" Iya makanya harus tetap semangat, jangan sedih - sedih lagi, kalau ada apa - apa jangan sungkan, cerita sama mbak."
" Iya mbak, asal nggak merepotkan mbak saja."
" Nggak lah, kalau buat kamu mah."
Tring , ting , ting.
Ponsel Linda berdering.
" Eh bentar pak bos nelpon, aku angkat sebentar ya."
__ADS_1
" Iya mbak."
" Assalamualaikum bos, ada apa?"
" Maaf ganggu waktu kamu lin."
" Nggak kok bos, ada apa?"
" Kamu bisa balik ke cafe dulu nggak, ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan mu."
" Bisa bos, tapi aku antar Ara ke kosan dulu ya,"
" Iya. Ya udah assalamualaikum."
" Waalaikumsalam."
***
" Ada apa mbak?"
" Nggak tau tuh si bos katanya ada hal penting yang mau dibicarakan. Maaf ya kita harus pergi dari sini."
" Nggak papa kali mbak, kita juga udah kelamaan disini. Lain kali kan bisa kesini lagi."
" Kamu istirahat di kosan ku aja ya Ra?"
" Ara nggak ikut mbak aja? kan repot kalau harus antar Ara dulu ke kosan."
" Nggak papa, di kosan kan kamu bisa tidur, takutnya nanti aku lama."
" Iya mbak."
" Sip, cakep kalau begitu."
Linda melajukan mobilnya menuju ke kosan nya untuk mengantarkan Ara. Setelah mengantarkan Ara, ia bertolak lagi ke cafe
tempatnya bekerja.
Setelah sampai di kosan, Ara langsung mandi untuk membersihkan dirinya.
Hari ini entah kenapa setelah masuk ke kosan Ara diliputi rasa takut. Serta Ara merasa ada yang mengawasinya, dia juga terganggu karena beberapa kali ada kelebat bayangan.
Setelah mandi Ara memilih untuk tidur. Ara merasa sangat lelah, dan kaki nya juga sakit, padahal hari ini dia tidak banyak beraktifitas yang menguras tenaga.
" Duh kok kaki Ara malah tambah sakit ya. Apa sebenarnya Ara belum sembuh total, tapi semoga lekas membaik, Ara pengen kerja, Ara nggak mau sakit lagi."
Deg.
" Mas Danang, kenapa tiba - tiba Ara kepikiran mas Danang, dan ada rasa rindu pengen ketemu. Nggak, nggak Ara nggak boleh mikirin mas Danang. Yah Aji, Ara harus mikirin Aji."
Ara terus memfokuskan memikirkan Aji, mengingat semua kenangan mereka berdua.
Hingga Ara ketiduran.
****
Linda memarkirkan mobilnya, lalu hendak berjalan ke dalam cafe.
Saat tengah berjalan, secara tidak sengaja Linda melihat seseorang yang tidak asing baginya tengah duduk di dalam cafe dengan seorang perempuan.
Kenapa sepertinya aku tidak asing dengan laki - laki itu ya, siapa ya?
Linda sesaat mengingat - ingat seseorang itu.
Linda memang sudah familiar dengan Frans, karena sering kali Linda melihat nya menjemput Ara di tempat kerjanya yang dulu.
Linda pun berjalan kearah meja tempat Frans dan wanitanya itu duduk.
" Ehm, maaf sebelumnya kalau saya menganggu. Boleh saya bicara berdua dengan bapak Frans." Kata Linda dengan sopan.
" Maaf kamu siapa?" tanya wanita itu.
" Anda boleh menanyakan itu nanti kepada bapak Frans. Pak bisa kah saya minta waktu bapak sebentar?"
" Bisa," jawab Frans yang juga penasaran dengan Linda, Frans belum menyadari kalau itu Linda, karena Frans hanya sesekali ketemu Linda itu pun cuma sebentar.
" Mari pak ikut saya."
Frans mengikuti Linda dari belakang. Linda membawa Frans ke parkiran.
" Loh mbak kenapa saya dibawa kesini, ada perlu apa ya dan mbak ini siapa?"
" Ah capek bicara formal, sekarang aku mau langsung saja, siapa wanita itu? pacar baru mu, atau selingkuhan mu?"
" Aku nggak tau dengan apa yang kamu katakan, kita tidak saling kenal, dan siapa dia itu tidak ada hubungannya dengan mu." Jawab Frans yang sudah mulai marah. Ia merasa dikerjai oleh wanita yang ada di depannya itu.
" Oh gitu, kita memang tidak saling mengenal, tapi aku tau siapa kamu! aku nggak terima ya, Ara di permainkan oleh mu seenak jidat mu. Dan pasti kamu juga yang sudah menyantet Ara kan? dasar laki - laki biadab."
" Ara? oh aku ingat pasti kamu Linda kan? nggak usah ikut campur kalau nggak tau apa - apa, dia sendiri yang sudah mengkhianati aku, dia pasti sudah menikah dengan pria lain kan? atau mungkin dia sudah mati? hahaha."
" Oh berarti benar, kamu yang sudah bikin dia sakit?"
" Ya, bukan hanya sakit, aku mau dia mati agar dia tidak bisa bahagia dengan orang lain, itu balasan karena dia sudah meninggalkan aku."
" Dasar gila, untung saja kamu sudah tidak bersama Ara, dia nggak pantes sama orang gila seperti kamu. Asal kamu tau, dia tidak pernah mengkhianati kamu!! kamu tau kan di pulang karena ibunya sakit? sampai saat ini dia masih menunggumu!! dia masih berharap kamu datang melamarnya, setiap hari dia menanti mu. Tapi Apa? kamu tidak datang, dia mencoba menghubungi mu, tapi tidak bisa. Ditengah sakit nya pun, tak henti - hentinya dia memikirkan dan menunggumu. Meskipun dia tau kamu yang sudah mencelakainya, namun dia tidak membencimu, dia tidak marah atau bahkan mengirim balik santet terkutuk mu itu! dia malah ingin bertemu kamu dan meminta maaf atas kesalahan apa yang sudah ia berbuat.
Dia sangat merindukanmu, dia masih sangat mencintaimu, dia mencoba menghubungimu, tapi nomor ponselmu sudah tidak aktif, kamu tau betapa kecewanya dia, karena janji yang kamu buat!!"
" Benarkah apa yang kamu katakan? apakah semua itu benar."
" Ya semua itu benar."
" Dimana Ara sekarang, aku ingin menemuinya."
" Hahaha apa? aku nggak salah dengar kan? kamu ingin bertemu dengan nya, atas apa yang sudah kamu lakukan? urat malu mu itu dimana!!! apa kah sudah putus? apa kamu berfikir kamu masih pantas bertemu dengan nya? kamu ingat baik - baik, mulai detik ini aku tidak akan pernah mengizinkan mu bertemu dengan Ara, walaupun hanya sekedar melihatnya. Jangan harap!!! Ara akan melupakan mu!! ingat itu!!."
Kemarahan Linda memuncak, hingga mukanya memerah, ingin sekali dia menampar Frans, namun tangannya masih terlalu berharga untuk menampar pria gila seperti dirinya.
" Aku mohon, kasih tau aku dimana Ara."
" Jangan mimpi, anggap saja Ara sudah mati seperti yang kamu mau."
Tring , ting , ting.
Ponsel Linda berbunyi, dilihatnya ternyata itu panggilan dari bosnya.
" Iya bos, sebentar. Aku sudah didepan."
Linda lalu mematikan ponselnya, dia begitu emosi karena Frans.
__ADS_1
" Saya ingatkan sekali lagi. Jangan pernah mencoba mencari Ara, jangan pernah mencoba dekati Ara. Saya duluan, permisi dan terimakasih atas waktunya."
Dengan langkah cepat Linda meninggalkan Frans di parkiran.
" Tunggu Linda !!! tunggu!!"
Linda tak menghiraukan panggilan Frans.
Frans terduduk lemas di parkiran.
" Ara maafin aku, maafin mas Ra." Frans menyesali perbuatanya.
Aku harus menemukanmu, di manapun kamu berada Ra. Aku harus bertemu denganmu.
Frans berdiri dari duduknya, membenarkan dan membersihkan celananya yang kotor, lalu kembali masuk kedalam cafe menemui wanita itu lagi.
Sementara Linda masuk keruangan bosnya masih dengan emosinya yang belum mereda, muka serta mata yang masih memerah, serta nafas yang masih memburu.
Tanpa salam dia langsung membuka pintu ruangan bosnya.
" Ada apa bos?" tanya nya tanpa ada sopan santunnya.
" Kamu kenapa?" tanya bosnya melihat Linda yang sangat tidak seperti biasanya.
Barulah Linda tersadar dengan apa yang dilakukanya, menutup telpon bosnya dan nyelonong masuk ke kantor bosnya dengan tidak sopan. Setelah sadar dilihatnya ternyata ruangan itu sudah ramai, ada pria tampan selain bosnya juga ada wanita cantik berhijab, wanita itu adalah istri bosnya.
Keringat Linda langsung bercucuran, antara takut dan juga gugup serta tatapan aneh dari ketiga orang di ruangan tersebut.
" Sini dulu duduk di sampingku," perintah istri bosnya.
Karena takut, Linda pun mengikuti perintahnya, Linda memang tidak akrab dengan istri bosnya, Linda lebih akrab dengan pak bosnya, karena istri bosnya jarang mengunjungi cafe tersebut.
" Atur nafas dulu, pelan - pelan." Dengan lembut istri bosnya bicara dengan Linda.
" Kamu kenapa Lin? ada apa?" tanya bosnya.
" Em anu pak, tadi ketemu sama orang gila." Jawab Linda asal.
" Ketemu orang gila saja sampai bisa membuatmu semarah itu."
" Ya itu orang gilanya bikin emosi pak."
" Kok aku nggak percaya ya."
" Ya sih bos, udah deh percaya saja ya."
Istri bosnya hanya tertawa melihat cara Linda bicara dengan suaminya.
" Eh maaf ya bu bos, ya habis si bos kepo."
" Hahaha iya, pantes saja suamiku mempercayakan cafenya padamu, kamu lucu banget."
" Bu bos nggak cemburu kan?"
" Huft, hahaha ya nggak lah Lin, aku percaya kamu orang baik."
" Ya syukur deh kalau begitu, aku jadi lega."
" Udah ya ngobrolnya, aku mau bicara penting."
Sela si bos.
" Ada apa bos?"
" Begini, aku sama istri akan buka cafe cabang di kota lain, dan cafe ini aku serahkan padamu Lin, aku percayakan sepenuhnya cafe ini padamu."
" Hah!! nggak bos, aku nggak bisa, nggak, aku nggak mau."
" Ayok lah Lin, cuma kamu yang saya percaya, pasti kamu bisa mengelola cafe ini. Cuma kamu loh yang kalau sama bos malah ngebantah."
" Ya bukanya gitu bos, aku nggak bisa, aku takut nanti kalau malah bangkrut gimana, aku mau ganti rugi pakai apa?"
" Pakai ginjal mu."
" Ya jangan dong bos."
" Makanya urus yang bener jangan sampai bangkrut."
" Tapi ini berat bos,"
" Apanya yang berat, aku nggak suruh kamu angkat cafenya, aku suruh kamu urus saja."
" Dih si bos malah bercanda."
" Ya udah gini deh, tuh kamu nanti akan dibantuin sama dia."
Pak bos menunjuk laki - laki tampan yang tengah duduk santai di sofa pojok.
" Ganteng banget bos, siapa dia?"
" Ganteng ya?"
" Iya ganteng banget,"
" Tapi sayang belum laku, hahaha."
" Apaan sih bos. Bercanda mulu."
" Oke, oke, dia adik ku. Kalau misalnya ada kesulitan tanya saja atau minta bantuan sama dia."
" Kenapa nggak dia saja yang gantiin bos."
" Dia juga punya usaha sendiri makanya aku menyuruh kamu."
" Iya deh bos."
" Tenang saja, gaji mu naik banyak."
" Ya harus dong bos."
Istrinya sang bos hanya tertawa melihat suaminya dan Linda, yang tidak seperti atasan dan bawahan karena keakraban keduanya.
" Oke, baiklah ingat urus yang benar, aku mau pulang istirahat, karena besok mau berangkat."
" Baik bos hati - hati dijalan, oh iya bos aku antar Ara nya ke rumah besok pagi saja."
" Iya terserah kamu."
" Oh iya dia namanya siapa?"
__ADS_1
" Tanya aja sendiri."
" Ih si bos mah gitu."