Pemuja Pembawa Petaka

Pemuja Pembawa Petaka
Pulang


__ADS_3

Ara sibuk mengecek kembali apa kah ada barang penting yang belum dibawanya sebelum menuju terminal.


Ara pulang tanpa diantar sang pujaan hati.


Sebelum Ara berangkat Ara menyempatkan diri untuk menghubungi Frans terlebih dahulu.


" Mas Ara berangkat ya, jangan telat makan."


" Iya sayang, kamu juga hati - hati, kabarin kalau udah sampai."


" Iya, mas jangan telat makan ya, akhir - akhir ini mas sibuk banget, Ara takut mas sakit. Jaga kesehatan jangan bikin Ara khawatir ya?"


" Iya sayang, makanya jangan lama - lama di sana dan cepat balik kesini."


" Iya mas."


" Ya sudah mas sudah mau mulai rapat nih, mas tutup telponnya ya, ingat hati - hati dijalan, i love you Ara."


" love you to mas."


Setelah memutuskan panggilan, Ara segera berangkat di antar oleh mbak Linda ke terminal.


" Pacar kamu perhatian banget ya Ra ganteng lagi."


" Iya mbak, dia juga perhatian dan baik banget."


" Kamu sayang sama dia?"


" Iya mbak sayang banget."


" Semoga langgeng ya Ra."


" Amin mbak. Eh tuh busnya udah dateng mbak."


" Ya udah sana gih terus masuk."


" Iya mbak, makasih sudah diantar ya."


" Iya, hati - hati dijalan ya Ra, kabarin kalau sudah sampai, dan kalau ada apa - apa jangan lupa telpon."


" Siap mbak. Ya udah Ara berangkat ya mbak."


" Iya cantik."


Ara pulang dengan perasaan yang campur aduk, dia berat meninggalkan Frans, tapi dia lebih cemas dengan keadaan sang ibu, yah dia sangat menghawatirkan keadaan ibunya.


Anak mana yang ketika ibunya sakit, hatinya tidak kalut. Pasti juga sangat cemas dan menghawatirkan nya.


Begitupun dengan Ara, Apa lagi Ara sangat dekat dengan sang ibu.


Sesampainya di terminal, Ara masih harus naik ojek untuk menuju kerumahnya.


Sesampainya dirumah Ara langsung menuju ke kamar ibunya. Rumahnya nampak begitu sepi, karena ke dua adiknya masih sekolah, dan bapaknya mungkin masih di sawah.


" Assalamualaikum buk,"


" Waalaikumsalam."


Ara masuk ke kamar ibunya, mencium tangan ibu nya dan memeluknya dengan erat.


" Ibuk kenapa nggak kasih tau Ara kalau ibuk sakit."


" Nak kamu pulang? kok nggak bilang kalau mau pulang, kan bapak bisa jemput.Ibuk nggak mau nanti malah ganggu kerjaan Ara, kalau tau ibuk sakit."


" Kerjaan itu nggak penting buk, yang penting itu ibuk,"


" Kamu pulang pasti karena di kasih tau adik mu ya, padahal ibuk sudah melarangnya untuk nggak kasih tau kamu."


" Ibuk, Ara nggak suka ih kalau ibuk begitu. Ara ini juga anak ibuk lho, Ara ingin menjadi anak yang berbakti buk, Ara nggak akan bisa balas semua jasa ibuk yang telah membesarkan Ara. Setidaknya ara bisa berbakti, merawat ibuk seperti ibuk yang dengan tulus hati merawat Ara."


" Tapi ibuk nggak papa Ra, cuma pusing, paling juga cuma masuk angin."


" Walaupun kata ibuk nggak papa, tapi tetap saja ibuk sakit, berbaring di kasur. Ara khawatir buk. Kita ke dokter ya buk?"


" Ibuk nggak papa Ra, besok juga sembuh."


" Ibuk sayang kan sama Ara? ibuk nggak pengen cepat sembuh? kalau ibuk sakit kami anak - anak ibuk sangat khawatir. Kan kalau ibuk cepat sembuh Ara bisa balik kerja lagi dengan tenang, bisa bantuin ibuk cari uang untuk membiayai sekolah adik, jadi ibuk nggak perlu lagi kerja serabutan di tempat orang - orang. Ibuk tinggal urusin pekerjaan rumah saja. Ayok lah buk, kita berobat ya? ibuk sayang kan sama Ara?"


" Kamu ini, paling bisa kalau membujuk ibuk,"


" Ibuk mau kan."


" Iya Ra."


Saking senangnya Ara memeluk ibu nya sambil mencium ibunya. Ibunya hanya tersenyum melihat tingkah anak gadisnya.


" Ibuk memang yang paling cantik."


" Yah gadis ibuk lebih cantik."


" Ara ke tetangga sebelah dulu ya buk cari orang yang bisa bawa kita ke dokter."


" Kamu nggak istirahat dulu Ra? makan dulu."


" Iya buk, itu bisa nanti. Yang penting kita ke dokter dulu."


Gimana Ara mau makan buk, lihat ibuk yang lemas dan pucat begitu bikin Ara khawatir.


Ara pun segera mencari orang yang bisa mengantar mereka ke rumah sakit dengan mobil. Melihat kondisi sang ibu Ara tidak tega membawa ibunya berobat hanya dengan memboncengnya dengan sepeda motor.


Sebelum Ara berangkat, Ara mencari bapaknya ke sawah agar ikut serta mengantar ibu nya ke rumah sakit.


Sedangkan untuk memberi tahu adik - adiknya Ara hanya mengirim pesan singkat saja.


***


Karena keadaan ibunya yang memang sudah drop, dokter pun menyarankan untuk ibunya dirawat dirumah sakit.


Ara menyuruh bapaknya pulang, karena Ara khawatir adik - adiknya takut dirumah sendirian apa lagi juga nggak ada yang jagain mereka.


" Kamu nggak papa Ra bapak tinggal sendiri, padahal kamu juga baru sampai rumah loh?" Tanya pak Nariman khawatir.


" Nggak papa pak, bapak pulang aja, kasian adik nanti pada takut dirumah sendiri, apa lagi Ara juga khawatir nggak ada yang jaga mereka."


Bapak juga pasti capek kan seharian bekerja di sawah, Ara takut nanti bapak malah ikutan sakit kalau nggak istirahat yang cukup. Ara tau bapak juga pasti khawatir sama ibuk.


" Ya udah bapak pulang dulu ya, besok gantian bapak yang jagain ibuk."


" Iya, bapak hati - hati dijalan."

__ADS_1


" Iya Ra kamu juga jangan lupa makan."


" Iya pak,"


" Ya sudah bapak pulang dulu ya, assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."


" Oh iya sampaikan salam bapak ya Ra kalau nanti ibuk sudah bangun."


" Iya pak, nanti Ara sampaikan."


Duh bapak ini so sweet banget sih, bikin iri saja.


Setelah Ara mengantarkan bapaknya keluar, Ara pun balik ke ruang rawat sang ibu.


Dia juga mengabari mbak Linda bahwa mungkin akan cuti lama karena mau mengurus ibunya dulu.


" Mbak ibuk masuk rumah sakit, kayaknya Ara bakalan libur lama mbak, Ara harus nunggu ibuk dirumah sakit."


" Ya allah, ya udah kamu fokus rawat ibuk dulu ya, biar disini mbak yang urus."


" Iya mbak, makasih ya mbak."


" Semoga ibuk cepat sembuh ya Ra."


" Amin mbak."


Tak lupa dia juga mengabari Frans, karena takut menganggu Frans, Ara hanya mengirim pesan singkat memberi tahu bahwa Ara akan lama dirumah, karena ingin mengurus sang ibu hingga pulih.


" Bapak mana Ra?"


" Eh ibuk sudah bangun, Ara berisik ya? maaf ganggu istirahat ibuk."


" Nggak Ra, ibuk bangun karena tenggorokan ibuk kering, ibuk haus."


Ara pun membantu ibunya duduk, lalu mengambilkan air minum untuk ibunya.


" Nih buk minum dulu."


" Makasih Ra."


" Oh iya bapak Ara suruh pulang, kasian adik nanti takut dirumah kalau cuma berdua. Ibuk nggak papa kan disini sama Ara? besok bapak kesini kok buk."


" Nggak papa Ra, maaf ibuk jadi ngrepotin kamu nak, pasti kamu capek ya, baru pulang belum istirahat, masih harus ngurus ibuk disini."


" Ibuk ngomong apa sih, Ara seneng kok bisa ngurus ibuk, malahan Ara bakal sedih kalau nggak bisa nemenin ibuk saat ibuk lagi sakit gini. Ya sudah ibuk balik tidur lagi ya, istirahat biar cepat sembuh."


" Ya Ra."


" Pelan - pelan buk, Ara bantuin ibuk berbaring."


" Makasih ya nak."


" Nggak perlu makasih buk, ini sudah kewajiban Ara,"


" Ara sudah makan?"


" Belum buk, makanya ibuk cepetan istirahat lagi, terus nanti Ara baru cari makan."


" Iya, makan yang banyak ya, biar nggak sakit."


Badannya aja masih lemah gini, pasti nggak karuan rasanya, gitu masih sempat - sempatnya mengkhawatirkan anaknya. Cintamu memang luar bisa buk. Lekas membaik ya buk, Ara nggak tega lihat ibuk sakit begini.


******


Di rumah Frans.


Frans sedang tiduran di sofa, hari ini Frans libur tidak ke kantor.


Libur kali ini dipakainya untuk bersantai dirumah.


Rupanya kepergian sang pujaan hati membuat sebagian semangatnya hilang. Kerinduan yang teramat sangat sudah pasti dirasakannya, apa lagi sudah beberapa hari tidak melihat Ara membuatnya gelisah dan cemas.


Rasa cintanya yang terlalu besar buat Ara membuatnya terobsesi ingin memiliki Ara untuk dirinya sendiri, sehingga kepergian Ara membuatnya cemas berlebihan, apa lagi tak kunjung ada kabar kapan Ara akan kembali.


Jarak mereka yang sekarang jauh, membuat Frans menjadi parno dan berfikiran yang tidak - tidak tentang Ara. Frans takut Ara akan meninggalkan dirinya dan menikah dengan orang lain. Hal itu membuatnya cemburu buta.


Tapi Ara tidak mengetahui hal itu, Ara tidak menyadarinya. Bagi Ara perlakukan dan kecemburuan Frans ke dirinya itu merupakan hal yang wajar bagi sepasang kekasih yang terpaut jarak.


" Ra mas kangen, kapan kamu balik ke sini?"


Tanya Frans lewat panggilan telepon yang sedang mereka lakukan.


Ibu Lani memang cukup lama dirawat dirumah sakit, Ara ingin ibunya benar - benar pulih dulu baru pulang kerumahnya.


" Ibuk masih dirawat mas. Sabar ya, oh iya Ara sudah menyuruh mbak Linda membuatkan surat pengunduran diri. Ara udah nggak kerja lagi di sana mas. Mungkin kita jadi susah untuk ketemunya."


" Loh kok jadi begini sih Ra? kenapa kamu nggak tanya dulu sama aku, dan main mengambil keputusan begitu saja? Ini bukan alasan kamu untuk ninggalin Aku kan Ra. Jangan - jangan kamu sudah menjalin hubungan dengan laki - laki lain?"


" Kamu ini apa - apaan sih mas, jangan ngawur deh Ara sayangnya cuma sama kamu, kan mas juga sudah tau itu, ya mau gimana lagi mas, bos nya Ara pasti juga nggak kasih izin kalau Ara ambil cutinya kelamaan, kasihan juga kan mbak Linda di sana nggak ada yang bantuin kalau bos nggak cari karyawan baru. Kita masih bisa ketemu kok mas, walaupun Ara sudah nggak lagi kerja di sana, nanti kalau ibuk sudah sembuh Ara pasti kesitu kok mas, Ara juga kangen sama mas. Tolong dong mas jangan berpikiran yang tidak - tidak."


" Kalau sayang ya cepetan balik kesini!!"


" Belum bisa mas, kan Ara masih harus ngerawat ibuk sampai ibuk sembuh dulu."


" Sampai kapan Ra? berapa lama lagi?. Itu kelamaan Ra. Itu pasti cuma alasan kamu saja karena nggak ingin ketemu lagi dengan ku kan?"


" Nggak gitu mas, kan tadi Ara sudah jelasin, ya udah sekarang gini aja, kalau mas nggak percaya, mas ingin nikahin aku kan? Oke aku sekarang siap. Kalau mas memang beneran serius, mas dateng ke rumah, mas bilang sama orang tua ku tentang niat baik mas itu. Ara akan tunggu dirumah. Kapan mas mau kesini kasih tau Ara? Ara kirimin alamat rumah Ara, Ara tunggu ya mas."


Ara pun langsung mematikan ponselnya karena sebal dengan Frans atas tuduhan macam - macam nya. Ara benar - benar dibuat pusing. Ara juga sebenarnya lelah, tidur dirumah sakit tidak membuatnya nyaman, belum lagi Ara memikirkan kondisi ibunya yang masih belum stabil sepenuhnya, dan lagi Ara yang masih harus segera mencari pekerjaan lagi.


" Halo, Ara!!! ah sial dimatiin!!! berani - beraninya dia. Arrgghhhh!!!" Teriak Frans sambil membanting ponselnya ke lantai.


*Kenapa Ara jadi tiba - tiba minta dinikahin? jangan - jangan benar di sana Ara sudah punya pacar, dan karena ingin menikah dengan pacarnya jadi Ara meminta hal yang nggak mungkin ini. Ini hanya sebagai alasan saja.


Aku memang ingin secepatnya menikahi Ara, tapi tidak mendadak begini, uangku pun belum cukup karena kemarin habis aku pakai untuk melunasi rumah ini. Aku belum siap kalau harus menikahi Ara dalam waktu dekat ini, tapi kalau aku nggak nikahin Ara secepatnya nanti dia dinikahin orang lain. Ahhh Apa mungkin Ara tau kalau aku memang nggak bisa menikahinya sekarang, makanya dia buat syarat ini, dan kalau aku nggak bisa menikahi secepatnya dia akan menikah dengan lelaki pilihannya. Nggak, nggak, nggak boleh!!!! itu nggak boleh terjadi!


Bagaimana pun Ara itu milik ku, harus jadi milik ku. Kalau aku tidak bisa memilikinya, maka orang lain pun juga tidak boleh memilikinya. Ara milik ku, yah,, Ara itu hanya milik ku*.


" Ha ha ha ha Ara kamu yang memaksaku berbuat seperti ini, aku akan membuatmu kembali padaku, dengan cara ku." Gumam Frans dengan raut wajahnya yang sudah merah padam karena amarahnya.


Saat ini Frans sangat marah, hingga membuatnya tidak bisa berfikiran dengan jernih.


Yah amarah telah menguasainya. Jika amarah yang sudah mengendalikan, maka bukan hal baik yang akan dilakukan.


Saat ini yang Frans pikirkan hanyalah cara untuk membuat Ara kembali ke sisinya.


***

__ADS_1


Di rumah sakit.


Ara duduk di kursi di samping ibu nya sambil memijat - mijat keningnya, yah apa yang di pikirkan membuat kepalanya pusing.


" Kamu kenapa Ra?" tanya bu Lani, melihat putrinya yang sepertinya sedang tidak baik - baik saja.


" Nggak papa buk, kepala Ara pusing, mungkin tadi malam Ara salah tidur." Jawab Ara ngasal. Sebenarnya juga nggak sepenuhnya salah, karena memang Ara merasa lelah, tapi yang membuatnya pusing adalah tuduhan dari Frans yang ditudingkan kepadanya.


" Pasti kamu masuk Angin karena kurang istirahat, karena merawat ibuk."


" Iya nggak lah buk, capek apa, orang disini cuma makan tidur, makan tidur."


" Pulang aja yuk ra, ibuk sudah nggak betah, badan ibuk juga sudah enakan kok."


" Ah pasti itu cuma alasan ibuk saja karena nggak betah disini kan? kalau dokter udah membolehkan ibuk pulang baru kita pulang."


Di tengah - tengah perbincangan mereka, dokter pun datang untuk memeriksa keadaan ibu Lani.


" Gimana dok keadaan ibuk saya?" tanya Ara.


" Udah jauh lebih baik, Ibuk anda sudah boleh pulang hari ini."


Mendengar perkataan dokter, membuat senyum ibu Lani secerah mentari. Yah ibu Lani sangat senang akhirnya sudah di perbolehkan pulang. Tidak ada yang lebih nyaman selain rumah sendiri. Bu Lani juga sudah rindu berkumpul dengan suami dan anak - anaknya.


" Bener kan Ra ibuk sudah sembuh, sudah boleh pulang. Kamu sih nggak percaya." Kata ibu Lani kepada Ara.


" Iya buk iya. Makasih ya dok."


" Sama - sama mbak, oh iya walaupun sudah sembuh ibuk harus jaga kesehatan, jangan terlalu capek dan makan yang teratur ya buk."


" Iya pak dokter, sekali lagi terimakasih."


" Iya buk sama - sama."


Ara pun segera menelpon sang bapak untuk menjemput mereka.


***


Sesampainya dirumah, Ara mengantar ibu nya ke kamar.


" Ibuk makan dulu, minum obat terus istirahat ya?"


" Iya. Biar bapak saja yang ambilkan, kamu istirahat aja Ra." Sahut pak Nariman.


" Oh iya, udah ada nasi sama lauk belum pak? kalau belum, Ara masak dulu ya."


" Udah Ra, tadi pagi sebelum Adik mu berangkat sekolah dia sudah masak."


" Bagus deh kalau gitu,"


" Ya udah kamu istirahat saja, biar gantian bapak yang rawat ibuk."


" Iya pak, Ara pamit mau mandi dan istirahat dulu."


Ara lalu berjalan ke kamar, mengambil handuk serta baju ganti.


Setelah mandi Ara merasa tubuh dan pikirannya lebih baik.


Ara beristirahat di kamar Aji, Ara berbaring di tempat tidurnya.


Kamar ini masih sama seperti dulu, nyaman buat istirahat, menenangkan pikiran dan melepas lelah.


Ara memang suka di kamar Aji dari pada kamar nya sendiri.


Kamar Aji yang luas, nggak penuh dengan barang dan pernak pernik, nggak seperti kamarnya sendiri dan kamar Kia.


Aroma kamar Aji juga sangat menenangkan, ntah pengharum apa yang di pakainya.


Karena rasa lelah yang dirasakannya membuat


tidak butuh waktu lama untuk Ara terlelap.


***


Karena saking pulas nya, Ara sampai tidak menyadari bahwa sang Adik sudah pulang.


" Mbak ini kebiasaan banget, suka tidur di kamar orang padahal sudah punya kamar sendiri," gumam Aji yang tak sengaja di dengar Kia saat Kia lewat di depan kamar Aji.


" Biarkan saja dek, liat tuh pules banget tidurnya, sampai kita pulang saja dia tidak bangun."


" Iya ya mbak, pasti mbak Ara capek banget, selama beberapa hari ini nungguin ibuk dirumah sakit."


" Iya, ya udah kita kemar ibuk yuk, kita tiduran aja di kamar ibuk, kamu nggak kangen apa sama ibuk udah berhari - hari nggak ketemu, jangan ganggu mbak Ara, biarkan dia istirahat disitu."


" Iya mbak, lagian juga mana tega mau ganggu tidurnya pulas banget begitu, ya udah ke kamar ibuk dulu sekalian tanya bagaimana keadaanya."


Mereka berdua pun ke kamar ibunya untuk bermanja dan melepas rindu karena sudah beberapa hari tidak bertemu.


" Ibukkkk, kia kangen." Teriak kia sambil berlari dan langsung memeluk ibunya.


" Ibuk juga kangen kamu, kamu nggak kelaparan kan selama ditinggal ibuk?"


" Ya nggak lah buk, kan Kia sudah bisa masak."


" Masak nggak enak aja bangga," kata Aji.


" Walaupun nggak enak tapi kamu juga doyan." jawab Kia.


" Terpaksa karena nggak Ada yang lain mbak." Elaknya.


" Udah, udah ini kenapa jadi ribut sih. sini Aji nggak mau peluk ibuk, nggak kangen sama ibuk."


" Ya kangen lah buk, ibuk sudah baikan kan? masih ada yang sakit nggak?."


" Nggak kok, ibuk sudah sehat, sudah sembuh." Jawabnya sambil tersenyum.


Di antara mereka memang Aji lah yang tidak manja ke pada ibunya. Tidak seperti ke dua kakaknya. Mungkin karena ia anak lelaki.


" Mbak, mbak Kia kangen nggak sama nasi goreng buatan mbak Ara?" tanya Aji kepada Kia.


" Aku mah kangen semua makanan yang dimasak mbak Ara, entah resep apa yang dia punya, hingga apa pun yang dimasak mbak Ara selalu enak."


" Iya sih, tapi nasi gorengnya yang paling aku suka."


" Gimana kalau nanti malem minta di buatin dek?"


" Ide bagus tuh mbak."


" Ya tunggu mbak kamu bangun dulu, jangan di bangunin kasian dia pasti capek banget," kata ibu Lani.

__ADS_1


" Iya buk," jawan Aji dan Kia serentak.


__ADS_2