Pemuja Pembawa Petaka

Pemuja Pembawa Petaka
Mbah Rijan


__ADS_3

Hari sudah petang, pak Nariman bersiap - siap untuk ke rumah mbah Rijan.


" Buk bapak berangkat dulu ya?"


" Bapak sudah mau berangkat sekarang?"


" Iya buk, nanti malah kemalaman."


" Bapak perginya sama siapa?"


" Sendiri buk."


" Nggak ngajak Aji pak, biar ada temanya dijalan."


" Nggak usah buk, bapak sendiri saja. Ya sudah bapak berangkat dulu ya."


" Ya sudah kalau begitu, bapak hati - hati dijalan."


" Doakan ya buk, semoga Ara mendapat obatnya di sana."


" Pasti pak."


Pak Nariman berangkat dengan membawa banyak harapan.


***


Sesampainya di rumah mbah Rijan.


" Ini kok tumben datang kemari, ada perlu apa le?" Tanya mbah Rijan.


" Mau silaturahmi dan sekalian mau menanyakan soal putri saya Ara mbah."


" Ada apa dengan genduk Ara le?"


" Sudah 2 kali saya bawa ke dokter, kata dokter anak saya tidak apa - apa. Tapi sampai sekarang anak saya nggak bisa berjalan mbah."


" Oh begitu, boleh tau hari sama weton nya nduk Ara le."


" Minggu kliwon mbah."


" Baiklah saya akan lihat dulu."


Setelah beberapa saat.


" Ini agak berat le, terus terang saya tidak mampu. memang benar sakitnya genduk Ara adalah kiriman dari seseorang. Apa nduk Ara punya musuh, atau saingan?"


" Saya juga kurang tau mbah. Nanti saya akan menanyakannya pada Ara. Apa mbah bisa mencari tau siapa orang nya?"


" Itu sulit le, jujur saja pengirimnya ini ilmunya lebih tinggi dibanding saya. Saya tidak akan sanggup melawannya. Saya hanya tau dukun, dengan ciri khas begini itu dukun dari di kota J."


" Lalu saya harus bagaimana mbah?"


" Yang jelas dia menginginkan nyawa putrimu, lekas carilah orang yang bisa melawannya. Putrimu dalam bahaya, mungkin waktunya tidak banyak lagi. Untuk sementara berikan ini di air mandi putrimu campur dengan bunga tujuh rupa dan daun beringin. Ini tidak akan membantu banyak le, lekas carilah orang yang ilmunya sebanding dengan si pengirim, maaf saya tidak bisa membantumu lebih banyak lagi, karena ini diluar kendali saya."


" Iya mbah tidak apa - apa. Sekali lagi terimakasih mbah." Pak Nariman menerima sebotol kecil serbuk, ntah itu serbuk apa.


" Ingat ya le itu hanya bisa menjauhkan makhluk itu sementara dari nduk Ara, selama kamu belum menemukan orang yang bisa membantumu."


" Kira - kira menurut mbah siapa yang mampu menolong putri saya mbah?"


" Cobalah minta tolong kepada mbah Weryo di kampung sebelah, siapa tau beliau bisa membantumu."


" Baik mbah, besok malam saya akan ke sana. Terimakasih sekali lagi mbah, ini ada rejeki sedikit buat mbah." Pak Nariman memberikan amplop berisikan uang untuk mbah Rijan.


" Terimakasih banyak le, semoga nduk Ara cepat mendapatkan obat."


" Iya mbah, kalau begitu saya pamit dulu."


Dalam perjalanan pulang, pikiran pak Nariman kacau serta gelisah, dia begitu mengkhawatirkan Ara. Dia juga bingung bagaimana akan menyampaikan berita buruk ini untuk istri dan putrinya nanti.


Apa yang harus bapak lakukan nduk, bagaimana bapak akan menjelaskan ini padamu. Siapa yang tega membuatmu begini? sebenarnya kesalahan apa yang sudah kamu lakukan, hingga orang itu menginginkan kematian mu.


Orang tua mana yang tidak sedih saat mendengar buah hatinya di ambang kematian. Tidak terkecuali pak Nariman,


bapak Nariman begitu hancur saat mengetahui apa yang terjadi dengan putrinya.


Sedih, takut, khawatir semua itu bercampur aduk memenuhi pikiran pak Nariman.


Setidaknya masih ada mbah Weryo, sebagai harapannya.


Pak Nariman berharap mbah Weryo nanti bisa menyembuhkan penyakit putri nya.


***


Sesampainya dirumah.


Di teras depan rumah, ada Aji yang sedang bermain gitar juga tengah menunggu kepulangan dirinya.


Melihat wajah bapaknya tergambar jelas kesedihan, Aji tau pasti ini bukan hal yang baik.


Pak Nariman duduk, menjatuhkan dirinya di samping Aji dan menghela napas panjang.

__ADS_1


" Ada apa pak? pasti bukan hal yang baik ya." Dengan mudah nya Aji menebak, karena sudah tergambar jelas kesedihan di wajah pak Nariman.


" Ya begitulah le, bapak bingung bagaimana akan menyampaikan nya pada mbak dan ibumu."


" Memang apa yang dikatakan mbah Rijan pak?"


" Benar dugaan mu le, sakit mbak mu karena kiriman dari seseorang, dan orang itu menginginkan kematian mbak mu. Ada yang nggak suka sama mbak mu."


" Siapa ya pak yang tega membuat mbak Ara sampai segitunya, mbak Ara juga bukan tipe orang yang suka mencari masalah, apa di tempat kerjanya dulu mbak Ara pernah punya masalah ya pak?"


" Itu bapak juga nggak tau, mbah Rijan pun juga nggak tau, karena yang ngirim itu bukan dukun biasa, dia dukun sakti mbah Rijan tidak mampu menghadapinya."


" Terus bagaimana ini pak?"


" Bapak juga bingung le tapi mbah Rijan menyarankan untuk pergi meminta bantuan mbah Weryo, karena waktunya tidak banyak lagi, mbak mu harus segera ditolong."


" Semoga mbah Weryo bisa menyembuhkan mbak Ara ya pak."


" Bapak juga berharap begitu le. Mbak mu sudah tidak punya banyak waktu lagi, makanya kita harus bergerak cepat. Oh iya apa ibuk mu sudah tidur?"


" Belum pak masih pada ngumpul tuh di kamar mbak Ara. Tadi kondisi mbak juga Ara drop pak, tiba - tiba pucet banget dan pingsan."


" Berarti memang mbak mu dalam keadaan yang nggak baik le. Bapak bingung bagaimana caranya menyampaikan berita buruk ini ke ibumu dan juga mbak mu."


" Kita terpaksa harus berbohong pak, kita harus menyembunyikan ini dari mereka, aku takut mbak Ara akan tambah drop kalau mendengar kabar ini, dan ibuk juga pasti syok, pasti sedih, panik, dan malah bisa sakit."


" Yah mungkin memang bapak harus berbohong. Untuk menjaga keduanya."


" Iya pak,"


" Terus kenapa kamu malah disini?"


" Cari udara segar pak, tadi udah lama di dalem terus keluar, nggak tega lama - lama di dalam liat mbak Ara yang lemas terus pucat begitu. Mau nungguin bapak juga, penasaran dengan apa yang terjadi dengan mbak Ara."


" Ya udah bapak masuk dulu melihat kondisi mbak Ara, dan sekalian menanyakan beberapa hal."


" Aku ikut pak."


" Ya ayok."


Melihat putrinya terbaring lemah, wajah yang pucat, membuat hati pak Nariman bagaikan dihujam banyak belati, ingin sekali ia menangis, tapi dia tidak mau membuat putrinya tambah bersedih, ia ingin menjadi sosok yang kuat untuk sang putri.


Bertahanlah nak sebentar lagi, bapak pasti bisa menolong mu. Bertahanlah sebentar lagi, ini sedang bapak perjuangkan kesembuhan mu.


Kamu pasti bisa. Batin pak Nariman


Juga tak henti - hentinya pak Nariman berdoa di dalam hati agar putrinya tetap baik - baik saja dan segera mendapat pertolongan.


*****


Di kamar Ara.


Ara terbaring lemah, dengan wajah yang pucat, badannya kian kurus. Bu Lani dengan telaten memijit tangan dan Kia memijit kaki Ara. Tergambar jelas kecemasan dan kesedihan di wajah mereka, karena kondisi Ara yang tiba - tiba drop.


" Bagaimana keadaan mu nduk?" tanya pak Nariman


" Udah mendingan pak, tapi masih lemes." Jawabnya dengan senyuman manisnya.


Bagaimanapun keadaannya, Ara selalu berusaha tersenyum, agar orang - orang disekitarnya tidak mengkhawatirkan dirinya.


" Bapak mau tanya beberapa hal, bisa?"


" Bisa pak. Ara udah nggak papa kok."


" Em, kira - kira selama Ara di tempat kerja dulu, ada nggak orang yang tidak suka dengan Ara?, saingan Ara? atau Ara pernah menyinggung seseorang?"


" Setau Ara nggak ada, temen kerja Ara cuma mbak Linda, Ara nggak punya teman lagi selain mbak Linda, Ara juga nggak pernah berantem dengan seseorang, apa lagi mencari masalah."


Ada mas Frans juga pak, tapi itu bukan hal yang perlu diceritakan itu nggak penting.


" Kamu yakin nduk, coba ingat - ingat lagi mungkin kamu pernah menyinggung seseorang?"


" Nggak pak, Ara juga nggak pernah keluyuran, kalau pulang kerja juga langsung pulang ke kosan. Ara juga nggak pernah berantem atau punya masalah dengan mbak Linda."


" Aneh, apa mbah Rijan salah memberi informasi?"


" Memang ada apa pak?"


" Penyakitmu ini kiriman dari seseorang. Mbah Rijan menduga ada orang yang nggak suka sama kamu, dan sang pengirim bukan lah dukun biasa Ra, biasanya dukun dengan ilmu seperti itu kebanyakan dukun dari kota J, tempat kamu kerja dulu."


" Tapi Ara nggak pernah bikin masalah dengan siapa - siapa pak."


Hanya bertengkar kecil dengan mas Frans, tapi itu tidak mungkin dia kan, dia nggak mungkin setega itu, bikin aku kaya gini.


" Iya bapak tau, Ara anak yang baik. Ya sudah jangan terlalu banyak pikiran. Besok bapak akan minta tolong mbah Weryo, semoga bisa membantu dan mendapat titik terang."


" Amin pak, Ara ingin sembuh pak, kira - kira Ara bisa sembuh nggak ya pak?"


" Pasti bisa, kamu harus semangat, harus yakin Ra."


" Iya nak, ini sedang diusahakan, Ara harus sabar ya, Ara pasti sembuh." Kata ibuk Lani menenangkan Ara.

__ADS_1


" Sekarang Ara istirahat, sudah malem, bapak juga mau istirahat, apa Ara mau di temenin bapak sama ibuk?" tanya bapak.


" Nggak usah pak." Jawab Ara.


" Kan ada Kia sama Aji yang akan menemani mbak Ara disini." Kata Kia.


" Ya sudah kalian istirahat ya ini sudah malam."


" iya pak," Kata mereka serentak.


" Jangan memikirkan hal yang tadi ya nak, nanti malah tambah sakit."


" Iya buk," jawab Ara.


Ibu Lani dan pak Nariman bersama meninggalkan kamar Ara.


Pak Nariman tidak mengatakan semua kebenaranya demi menjaga perasaan istri dan putrinya, pak Nariman tidak mau nanti mereka malah syok, khawatir dan malah membuat mereka sakit.


Maaf buk bapak belum bisa menceritakan semua kebenaranya, bapak nggak mau ibuk jadi kepikiran, bapak takut ibuk drop dan sakit lagi. Maafin bapak ya buk.


" Bapak nggak menyembunyikan apa - apa dari ibuk kan?" tanya ibuk yang curiga karena dari tadi bapak hanya diam saja.


" Nggak lah buk, kan ibuk sudah dengar semuanya tadi di kamar Ara."


" Tapi bapak dari tadi diam saja sejak dari kamar Ara."


" Bapak masih bingung saja buk, siapa yang sudah membuat anak kita begini."


" Ibuk juga pak. Apa lagi tadi Ara pingsan, ibuk khawatir pak. Kenapa kondisi putri kita semakin memburuk ya pak, baru beberapa hari sakit, tubuhnya sudah kelihatan kurus, ibuk nggak tega pak, ibuk kasian liat Ara." Kata ibu Lani sambil menangis.


Melihat kondisi anak nya yang semakin memburuk, sebagai seorang ibu yang melahirkan nya, pastilah menjadi pukulan terberat yang dirasakannya. Susah hati, hatinya pun ikut sakit itu sudahlah pasti.


" Ibuk yang kuat ya, bapak juga sedih melihatnya, tapi kita harus kuat dan selalu menguatkan Ara. Dia harus semangat menjalani ini agar cepat sembuh. Kita nggak boleh sedih di depannya."


" Iya pak, "


" Ibuk juga ingat jangan banyak pikiran, jaga kesehatan, kalau ibuk sakit siapa nanti yang akan merawat Ara."


" Iya pak, sebisa mungkin memang sedang ibuk usahakan."


" Oh iya, besok ibuk cari bunga tujuh rupa dan daun beringin serta bubuk ini campur dengan air untuk mandi Ara buk." Pak Nariman memberikan botol kecil yang mbah Rijan tadi berikan, dan menyerahkannya kepada ibu Lani.


" Baik pak."


" Ya sudah kita istirahat yuk buk."


***


Di kamar Ara.


" Mbak dimana lagi yang sakit, aku pijitin." Kata Aji.


" Mbak mau apa biar Kia ambilkan, Kia buatkan susu dulu ya?"


Baru beberapa hari sakit, tubuh Ara sudah terlihat kurus. Kini tubuh Ara semakin kecil dan juga rapuh.


Kondisi Ara semakin hari memang semakin memburuk.


" Makasih dek."


" Nanti kalau ada apa - apa atau perlu apa tolong bangunin aku ya mbak?"


" Mbak nih diminum dulu susunya." Kia membuatkan segelas susu untuk Ara.


" Iya, terimakasih kalian mau susah - susah ngurus mbak mu ini."


" Ngomong apa sih mbak. Diminum dulu susunya, terus biar Adek bantuin mbak berbaring lagi."


" Mbak aku tau pasti sakit ya, kalau lagi sama kita, nggak usah pura - pura kuat, kalau mau nangis ya nangis saja nggak usah ditahan mbak, aku tau mbak nggak mau bikin kita semua khawatir, tapi dengan mbak begini itu membuat ku semakin sedih. Itu malah membuat mbak semakin sakit." Kata Aji.


" Mbak nangis bukan berarti mbak cengeng, mbak nangis bukan berarti mbak bukan wanita yang kuat. Terkadang memang kita perlu menangis untuk melampiaskan rasa sakit yang kita rasakan untuk mengurangi rasa sakitnya." Imbuh Kia.


Ara pun menangis, dia juga tersenyum.


" Terimakasih buat kalian, aku juga bingung bagaimana menggambarkan rasa sakit yang aku rasakan ini, tapi aku masih bisa menahannya. Aku senang memiliki adik yang baik seperti kalian. Mungkin waktu mbak memang sudah nggak banyak lagi."


" Mbak ngomong apa sih, mbak nggak boleh ngomong begitu, mbak pasti sembuh." Kia ikut menangis.


" Mbak mau menyerah? kenapa? apa mbak sudah tidak sayang lagi sama kita? apa sudah nggak mau bareng kita lagi? mbak nggak sayang sama kita?" tanya Aji


" Sayang banget, kenapa kamu bertanya seperti itu?"


" Kalau mbak sayang, berjuanglah mbak, lawan. Mbak pasti bisa, kita juga sedang berusaha mencari kesembuhan buat mbak Ara, masak mbak Ara malah mau menyerah. Mbak Ara nggak kasian sama ibuk, bapak? mereka berusaha buat mbak loh, mereka nggak mau kehilangan mbak, makanya mereka mencoba segala usaha." Aji menyakinkan mbak Ara.


" Iya kita berjuang bersama ya mbak?"


" Iya, terimakasih."


Mereka memeluk Ara.


Sebelum tidur, Ara menghabiskan segelas susu yang Kia buat untuknya, dan Ara berbaring di bantu Aji, Kia juga membantu membetulkan selimut kakaknya.

__ADS_1


Mereka saling bahu membahu merawat kakak tercintanya.


__ADS_2