
Mobil Rafael berhenti disalah satu pusat perbelanjaan ternama.
" Turun!"
" Mau ngapain pak?"
" Tadi katanya mau beli keperluan."
" Iya pak."
Duh bagaimana ini sebenarnya kaki ku sakit banget, mana harus jalan muter - muter lagi beli keperluan, duh pak bos ini kok nggak peka banget sih, jalan aja pincang masih disuruh belanja. Tapi ya udah deh nggak papa, dari pada nggak pake baju sama nggak mandi karena nggak bawa keperluan mandi.
Dengan pelan Ara turun dari mobil, dengan tertatih ia berjalan mengikuti bos nya dari belakang.
" Aku tunggu disini kamu cari saja apa yang mau kamu beli."
" Baik pak,"
Ara membeli keperluan mandinya dan hanya membeli dua setel baju serta **********.
Duh kaki ku makin sakit banget sih, mana tempat pak El nunggu masih jauh lagi.
Kaki Ara semakin sakit, dari pincang sekarang menjadi diseret, kaki Ara benar - benar sakit.
Untung nya kaki yang sebelah kanannya tidak begitu sakit.
Saat tengah berjalan menuju tempat El berada, Ara bertabrakan dengan seseorang.
Hingga Ara jatuh di pelukan laki - laki itu.
Dari jauh Rafael yang melihat langsung berlari ke arah Ara, dan dengan paksa Rafael merebut Ara dari pelukan si pria itu.
Sekilas Ara melihat siapa Pria itu.
" Mas Frans,"
Yah aku nggak salah lihat, itu tadi mas Frans meskipun memakai topi, aku masih bisa mengenalinya.
" Mas Frans, tunggu mas." Ara berteriak memanggil Frans namun Frans tidak berhenti.
Ara ingin mengejarnya namun ditahan oleh Rafael, kaki Ara pun terasa sangat sakit, bahkan untuk sekedar berjalan.
Aku ingin sekali membawamu pergi Ra, tapi tidak saat ini, saat kamu tidak bersama laki - laki tadi. Sebenarnya siapa laki - laki yang bersama Ara tadi? apa kekasih Ara yang baru?
ah terserah siapa dia, yang pasti aku akan secepatnya bertemu dengan mu, dan akan ku bawa kamu pergi jauh, supaya kita bisa hidup berdua dengan bahagia. Gumam Frans.
Frans menghilang di balik kerumunan orang yang berada di dalam mall tersebut, ia bersembunyi lalu mengawasi Ara dari kejauhan.
Sial ternyata laki - laki itu mengikuti sampai disini. Untung saja aku datang tepat waktu. Batin Rafael
" Kamu kenal dia?" tanya Rafael.
" Nggak tau, dia mirip sekali dengan orang yang aku kenal, tapi mungkin aku salah orang."
Aku yakin dia tadi mas Frans, tapi kenapa dia di kota ini, dan kenapa dia diam saja saat ku panggi, apa dia sudah melupakan ku?
" Ya udah buruan ayo pulang."
" Sebentar pak, istirahat dulu ya. Sebentar saja."
" Sebenarnya kamu belanja apa nggak sih?"
" Belanja lah pak, nih." Ara menunjukan satu tas kecil yang dibawanya.
" Kamu belanja dari tadi, lama banget, cuma beli segitu, astaga."
" Ya maaf pak, kan yang lama jalan nya, kaki nya sakit."
Melihat Ara yang begitu kesakitan, Rafael merasa kasian.
Duh aku lupa kalau Ara kaki nya sakit.
" Ya udah ayo pulang."
" Iya pak," sebenarnya Ara masih ingin istirahat sebentar lagi tapi Ara takut membuat pak El marah, padahal kakinya masih terasa sangat sakit.
Melihat Ara yang satu kaki nya diseret, Rafael merasa tidak tega. Dia langsung membopong Ara.
" Ah, pak!" Ara terkejut.
" Diam atau saya tinggal kamu disini!"
" Tapi pak," Ara langsung diam tidak berani meneruskan ucapannya, dia takut membuat Rafael marah.
Dari kejauhan Frans yang melihat Ara dalam pelukan pria lain, dia merasa sangat marah.
Tak kan ku biarkan kamu berlama - lama di pelukan pria lain Ra, sebentar lagi aku pasti akan membawamu pergi.
***
Di dalam mobil Ara merasa sangat ngantuk, ia pun memejamkan matanya.
Hawa dingin mulai memasuki mobil itu. Asap hitam mulai berkumpul di sisi Ara.
Rafael mulai menyadarinya.
" Mas Danang," Ara mulai mengigau.
" Mas Danang."
" Dasar dukun mana ini berani - berani nya beraksi saat Ara sedang bersama ku, awas aja nanti kalau sampai dirumah."
Tak henti - hentinya Ara mengigau nama Danang sampai mobil yang ditumpanginya telah sampai tujuan.
Rafael tidak membangunkan Ara, ia mengendong Ara masuk.
" Astaga El, anak siapa yang kamu bawa, dibawa pulang lagi malam - malam begini, terus itu kenapa? kamu nggak habis ngapa - ngapain dia kan?"
" Bunda nanti saja aku jelasin sekarang bunda bukain aja pintu kamar mana yang kosong."
" Tapi El."
" Aku janji nanti aku jelasin, cepatlah bunda."
" Oke, oke."
Rafael membaringkan Ara di tempat tidur.
Lalu membacakan sesuatu dan menempelkan telapak tangannya di kening Ara, lalu berpindah ke kaki Ara.
Setelah selesai Ara langsung terbangun. Namun kali ini Ara kesurupan.
" Hey siapa kamu? kenapa kamu menghalangi ku?"
" Kamu yang siapa bisakah kamu lepaskan gadis ini?"
" Tidak bisa, gadis ini milik tuan ku."
" Sekarang kamu kembalilah kepada tuan mu, dan sampaikan bahwa sampai kapan pun dia tidak akan bisa mendapatkan apa yang dia inginkan, sekarang kamu pergilah."
Rafael memaksa makhluk itu pergi. Dan Ara kembali tertidur lagi.
" Bun bisa kah bunda buatkan teh hangat?"
" Kenapa nggak air putih saja El?"
__ADS_1
" Nggak bun, kalau air putih makhluk itu akan kembali masuk ke tubuh Ara lagi."
" Oh namanya Ara?"
" Iya bun, nanti aku jelasin."
" Ya udah bunda buatkan dulu sebentar."
Kamu orang seperti apa sih Ra, sampai - sampai ada yang tega membuat mu begini, kasian juga sih tubuh mungilnya di kerjain dua dukun sekaligus. Ah tapi itu bukan urusan ku sih.
" Nih El teh nya."
" Bun tolong bangunin dia ya? aku mau mandi dulu, gerah banget soal nya."
" Iya."
Dengan lembut Bunda raina membangunkan Ara.
" Nak bangun, nak bangun minum dulu yuk."
Ara membuka mata, namun ia masih bingung, Ia berada di kamar yang mewah, juga ada perempuan cantik berhijab.
Bu Raina membantu Ara untuk bangun dan bersandar. Ara mengumpulkan keberanian untuk bertanya.
" Maaf sebelumnya, saya di mana ya dan ibuk ini siapa?"
" Kamu ada dirumah saya."
Ara lalu mengingat kejadian sebelumnya.
Oh iya tadi kan aku di mobil sama pak El, dan eh berarti aku ketiduran. Apa ini rumah nya pak El, dan ibuk ini?
Bu Raina tau pasti sekarang Ara sangat bingung, sangat terlihat jelas di wajah cantiknya.
" Saya ibunya Rafael."
" Duh maaf ya buk, tadi penyakit saya kambuh buk, terus ketiduran di mobil. Pasti pak El ya buk yang sudah mengendong saya kesini, jadi nggak enak saya, maaf ya buk ya."
Ara tidak enak hati,malu dan juga takut, statusnya sebagi pembantu dirumah itu, belum juga mulai bekerja tapi sudah merepotkan.
" Iya nggak papa nak, nih diminum dulu tehnya,"
" Terimakasih buk."
Sepertinya dia gadis yang baik, dia juga cantik.
" Oh iya kenalin saya Raina bundanya Rafael, panggil saja saya bunda seperti Rafael."
" Tapi buk saya kan pekerja disini."
" Oh kamu yang disuruh Rio untuk bekerja disini ya?"
" Ya buk."
" Duh bunda senang deh, sekarang bunda ada temennya, panggil saya bunda saja ya, bunda dari dulu pengen anak perempuan, tapi anak bunda laki semua, anggap saja bunda ini juga ibumu, jadi nggak perlu sungkan, semoga betah ya disini, oh iya kalau boleh tau nama lengkap Ara siapa?"
" Narmilani Farasmitha buk, eh bun."
" Nama yang cantik sekali, sekarang kamu istirahat besok kita bicara lagi ya."
" Iya buk, eh bun maksudnya, terimakasih."
" Sama - sama sayang."
Ibunya pak El baik banget sih, ramah lagi. Nggak kaya pak El yang cuek banget. Kadang kalau nyeplos pedes lagi.
*****
Setelah keluar dari kamar yang di tempati Ara, bunda Raina pergi ke kamar Rafael.
" El ini bunda."
" Masuk saja bun."
" Duh ganteng banget anak bunda, tapi kamu kok nggak laku sih El, kapan kamu bawa mantu buat bunda, bunda kan pengen cepat gendong cucu."
" Bunda baru masuk sudah itu yang ditanyain. Kan bisa minta cucu sama mas Rio yang sudah menikah."
" Apa kamu belum pengen menikah Al, umur kamu sudah hampir kepala tiga loh."
" Masih belum ketemu jodohnya bun."
" Bunda kenalin sama santrinya abah ismail ya di pesantren, ada banyak yang cantik."
" Apaan sih bun, aku nggak suka di jodohkan."
" Makanya cepetan nikah."
" Iya bunda."
" Oh iya katanya kamu mau cerita soal Ara, bunda mau dengar."
" Ara itu tadinya mau bekerja di cafenya mas Rio, tapi karena bunda sering dirumah sendiri dan kita sibuk, jadi mas Rio mencarikan teman dan buat bantu - bantu bunda dirumah juga."
" Terus?"
" Ya udah jadi Ara nggak jadi kerja di cafe nya mas Rio."
" Bukan itu yang bunda mau tau, masalah yang Ara kesurupan tadi."
" Oh itu, Ada yang menginginkan nyawanya bun dan bunda tau nggak dia siapa? dia kekasihnya."
" Astagfirullah, kok bisa El?"
" Ya El juga nggak tau bun, tadi Linda bilang cuma begitu."
" Linda kenal sama Ara?"
" Kenal bun, Ara itu sahabatnya Linda."
" Oh, duh kasian banget anak itu."
" Dan sepertinya selain itu ada yang mengirim guna - guna juga padanya."
" Apa itu orang yang sama El?"
" Sepertinya bukan bun, ini orang lain, dibawah alam sadarnya, dia selalu menyebut nama Danang."
" Ya allah kasian banget Ara, bunda jadi sedih."
" Yang sulit itu yang dari kekasihnya bun, karena ini sihir tinggi, aku nggak mampu, mungkin memang harus minta bantuan abah Ismail, sama ustad Agus."
" Iya El, kamu harus menolongnya, bunda liat dia anak ya baik."
" Bunda tau dari mana?"
" Dari filing bunda, jangan salah filing bunda itu banyak benarnya. Dilihat dari wajahnya saja sudah kelihatan El, dia juga cantik lagi. Mungil, duh bunda gemes banget, apa bunda jadiin anak bunda aja ya?"
" Dia anak orang bunda bukan anak kucing, yang sesuka hati bisa bunda minta dan bunda pelihara, pasti dia juga punya orang tua, main mau ngaku anak orang, ya kalau orang tuanya terima, ya kalau nggak gimana?"
" Ya pasti boleh lah. Makanya cepat bawa mantu buat bunda, biar bunda punya anak perempuan."
" Yah bunda itu lagi yang dibahas. Ya sudah bunda istirahat gih ini sudah malam."
" Kebiasaan pasti begitu kalau ditanya soal mantu."
__ADS_1
" Dah yuk aku antar ke kamar bunda."
Rafael mengantar bunda Raina sampai ke kamarnya.
" Bunda istirahat ya,"
" Iya sayang, kamu juga ya?"
" Iya bunda."
Setelah membantu bunda berbaring dan menyelimutinya Rafael kembali ke kamarnya untuk istirahat juga. Hari ini memang cukup melelahkan untuk nya.
***
Pagi harinya.
Ara terbangun pagi sekali.
Ara keluar dari kamar, sayup - sayup Ara mendengar ada suara seseorang sedang mengaji. Ara begitu penasaran di buatnya.
Dia pun mencari arah sumber suara yang menyejukkan hati itu berasal.
Sampailah dia depan sebuah ruangan, Ara tau itu pasti mushola. Di balik dinding ia bersembunyi, dan mengintip.
Pak Rafael rupanya, memakai baju koko, dan memakai sarung dan pecinya. Kenapa pak El jadi tambah ganteng banget, suaranya bagus lagi.
Mendengar lantunan ayat suci Al-Qur'an yang Rafael lantunkan tidak tau kenapa, lantunan ayat - ayat menyentil hati Ara, ia merinding jantungnya berdebar, tak terasa ia juga menjatuhkan air mata.
" Anak bunda ganteng ya?" tegur bunda Raina yang tiba - tiba datang.
Meskipun sudah berumur namun bunda Raina masih sangat cantik, dengan hijab dan baju syar'i nya bunda sangat anggun.
Ara yang terkejut, langsung mengusap air matanya dengan cepat.
" Eh ibuk, maaf bunda maksudnya hehehe."
" Bagaimana keadaan mu sayang?"
" Ara sudah lebih baik bunda, kaki Ara juga sudah nggak sakit lagi, sudah bisa jalan."
" Alhamdulillah kalau begitu, bunda ikut senang."
" Oh iya tadi malem Ara belum minta maaf dengan benar, maaf ya bunda Ara malah merepotkan bunda dan juga pak Rafael."
" Tidak sayang, tidak kok."
" Oh iya bunda mau sarapan apa? biar Ara masakin."
" Ara bisa masak?"
" Bisa bunda."
" Ah bunda jadi tambah senang, sekarang bunda punya teman memasak. Ya sudah yuk ke dapur kita bikin sarapan tuh buat anak gantengnya bunda."
" Yuk bunda."
Sambil bercerita, Ara memasak dengan bunda Raina. Tidak butuh waktu lama buat Ara akrab dengan bunda Raina, apa lagi Ara anaknya ramah, bunda Raina juga baik banget, tidak butuh waktu lama untuk membuat mereka dekat.
" Kamu taruh di meja ya Ra, bunda mau ke kamar mandi dulu."
" Baik bunda."
Ara pun menyiapkan makanan nya di meja, saat Rafael datang, Ara memberanikan diri untuk meminta maaf.
" Pagi pak."
" Iya."
" Em pak, soal yang tadi malam aku ketiduran di mobil bapak, Ara minta maaf ya pak, dan terimakasih sudah membantu Ara."
" Iya, kaki kamu bagaimana?"
" Sudah membaik kok pak."
" Bagus kalau begitu."
" Eh tumben El sudah bangun." Sapa bunda yang baru datang dari kamar mandi.
" Tadi aku nggak balik tidur bun."
" Tumben."
" Iya, aku mau ke pesantren abah dulu sebelum ke kantor bun."
" Oh. Kirain, ya sudah yuk sarapan, Ara duduk disini saja sarapan bareng kita."
" Tapi bun?"
" Udah nggak usah tapi - tapi an. Yuk duduk yuk."
" Baik bun."
" Udah nggak usah sungkan anggap saja rumah sendiri, dan bunda itu ibu kamu."
" Iya bun."
" Makan yang banyak, biar kalau di angkat tuh ada berat - beratnya dikit." Kata Rafael.
Ara tidak menjawab perkataan Rafael dan hanya hanya tersenyum. Dan bunda Raina juga tersenyum.
Dasar pak bos, bilang saja langsung kalau aku kurus. Pakai bilang gitu di depan bunda lagi, kan aku malu.
Selesai sarapan, Ara langsung membereskan piring kotornya dan mencucinya.
Bunda Raina mengantar Rafael sampai ke pintu depan.
" Tumben kali ini nasi gorengnya bunda beda dari biasanya, resep baru ya bun?"
" Enak nggak?"
" Enak, aku lebih suka ya ini bun."
" Itu tadi masakan Ara, bunda cuma bantu - bantu sedikit. Sudah cantik, baik, pinter masak lagi, mantu idaman banget."
" Duh bunda, pagi - pagi sudah mulai lagi."
" Bunda jodohkan kamu sama Ara saja ya."
" Apaan sih bunda, kan aku sudah bilang aku nggak mau di jodohkan."
" Tapi kalau Ara bisa lah dipertimbangkan? Ya El ya? ayo lah."
" Iya bunda, nanti El pertimbangkan. Ya udah aku berangkat dulu."
" Iya sayang, mau ke tempat abah kan? salam buat abah ya?"
" Iya bunda, oh iya, kalau bisa, kasih Ara banyak kegiatan atau apa gitu, usahakan dia nggak melamun ya bun."
" Tuh kan sudah mulai perhatian, ah bunda seneng deh."
" Terserah bunda saja, aku berangkat dulu ya bun, Assalamualaikum."
" Iya, Waalaikumsalam. Hati - hati bawa mobilnya jangan ngebut."
" Iya bunda."
__ADS_1