Pemuja Pembawa Petaka

Pemuja Pembawa Petaka
Bunda Raina


__ADS_3

Setelah keluar dari kamar yang di tempati Ara, bunda Raina pergi ke kamar Rafael.


Tok tok tok.


" El ini bunda."


" Masuk saja bun."


" Duh ganteng banget anak bunda, tapi kamu kok nggak laku sih El, kapan kamu bawa mantu buat bunda, bunda kan pengen cepat gendong cucu."


" Bunda baru masuk sudah itu yang ditanyain. Kan bisa minta cucu sama mas Rio yang sudah menikah."


" Apa kamu belum pengen menikah Al, umur kamu sudah hampir kepala tiga loh."


" Masih belum ketemu jodohnya bun."


" Bunda kenalin sama santrinya abah ismail ya di pesantren, ada banyak yang cantik."


" Apaan sih bun, aku nggak suka di jodohin."


" Makanya cepetan nikah."


" Iya bunda."


" Oh iya katanya kamu mau cerita soal Ara, bunda mau dengar."


" Ara itu tadinya mau bekerja di cafenya mas Rio, tapi karena bunda sering dirumah sendiri dan kita sibuk, jadi mas Rio mencarikan teman dan buat bantu - bantu bunda dirumah juga."


" Terus?"


" Ya udah jadi Ara nggak jadi kerja di cafe nya mas Rio."


" Bukan itu yang bunda mau tau, masalah yang Ara kesurupan tadi."


" Oh itu, Ada yang menginginkan nyawanya bun dan bunda tau nggak dia siapa? dia kekasihnya."


" Astagfirullah, kok bisa El?"


" Ya El juga nggak tau bun, tadi Linda bilang cuma begitu."


" Linda kenal sama Ara?"


" Kenal bun, Ara itu sahabatnya Linda."


" Oh, duh kasian banget anak itu."


" Dan sepertinya selain itu ada yang mengirim guna - guna juga padanya."


" Apa itu orang yang sama El?"


" Sepertinya bukan bun, ini orang lain, dibawah alam sadarnya, dia selalu menyebut nama Danang."


" Ya allah kasian banget Ara, bunda jadi sedih."


" Yang sulit itu yang dari kekasihnya bun, karena ini sihir tinggi, aku nggak mampu, mungkin memang harus minta bantuan abah Ismail, sama ustad Agus."


" Iya El, kamu harus menolongnya, bunda liat dia anak ya baik."


" Bunda tau dari mana?"


" Dari filing bunda, jangan salah filing bunda itu banyak benarnya. Dilihat dari wajahnya saja sudah kelihatan El, dia juga cantik lagi. Mungil, duh bunda gemes banget, apa bunda jadiin anak bunda aja ya?"


" Dia anak orang bunda bukan anak kucing, yang sesuka hati bisa bunda minta dan bunda pelihara, pasti dia juga punya orang tua, main mau ngaku anak orang, ya kalau orang tuanya terima, ya kalau nggak gimana?"


" Ya pasti boleh lah. Makanya cepat bawa mantu buat bunda, biar bunda punya anak perempuan."


" Yah bunda itu lagi yang dibahas. Ya sudah bunda istirahat gih ini sudah malam."

__ADS_1


" Kebiasaan pasti begitu kalau ditanya soal mantu."


" Dah yuk aku antar ke kamar bunda."


Rafael mengantar bunda Raina sampai ke kamarnya.


" Bunda istirahat ya,"


" Iya sayang, kamu juga ya?"


" Iya bunda."


Setelah membantu bunda berbaring dan menyelimutinya Rafael kembali ke kamarnya untuk istirahat juga. Hari ini memang cukup melelahkan untuk nya.


***


Pagi harinya.


Ara terbangun pagi sekali.


Ara keluar dari kamar, sayup - sayup Ara mendengar ada suara seseorang sedang mengaji. Ara begitu penasaran di buatnya.


Dia pun mencari arah sumber suara yang menyejukkan hati itu berasal.


Sampailah dia depan sebuah ruangan, Ara tau itu pasti mushola. Di balik dinding ia bersembunyi, dan mengintip.


Pak Rafael rupanya, memakai baju koko, dan memakai sarung dan pecinya. Kenapa pak El jadi tambah ganteng banget, suaranya bagus lagi.


Mendengar lantunan ayat suci Al-Qur'an yang Rafael lantunkan nggak tau kenapa, itu menyentil hati Ara, ia merinding jantungnya berdebar, tak terasa ia juga menjatuhkan air mata.


" Anak bunda ganteng ya?" tegur bunda Raina yang tiba - tiba datang.


Meskipun sudah berumur namun bunda Raina masih sangat cantik, dengan hijab nya dan baju syar'i nya bunda sangat anggun.


Ara yang terkejut, langsung mengusap air matanya dengan cepat.


" Bagaimana keadaan mu sayang?"


" Ara sudah baikkan bunda, kaki Ara juga sudah nggak sakit lagi, sudah bisa jalan."


" Alhamdulillah kalau begitu, bunda ikut senang."


" Oh iya tadi malem Ara belum minta maaf dengan benar, maaf ya bunda Ara malah merepotkan bunda dan juga pak Rafael."


" Tidak sayang, tidak kok."


" Oh iya bunda mau sarapan apa? biar Ara masakin."


" Ara bisa masak?"


" Bisa bunda."


" Ah bunda jadi tambah senang, sekarang bunda punya teman memasak. Ya sudah yuk ke dapur kita bikin sarapan tuh buat anak gantengnya bunda."


" Yuk bunda."


Sambil bercerita, Ara memasak dengan bunda Raina. Tidak butuh waktu lama buat Ara akrab dengan bunda Raina, apa lagi anaknya ramah, bunda Raina juga baik banget, tidak butuh waktu lama untuk membuat mereka dekat.


" Kamu taruh di meja ya Ra, bunda mau ke kamar mandi."


" Baik bunda."


Ara pun menyiapkan makanan nya di meja, saat Rafael datang, Ara memberanikan diri untuk meminta maaf.


" Pagi pak."


" Iya."

__ADS_1


" Em pak, soal yang tadi malam aku ketiduran di mobil bapak, Ara minta maaf ya pak, dan terimakasih sudah membantu Ara."


" Iya, kaki kamu bagaimana?"


" Sudah membaik kok pak."


" Bagus kalau begitu."


" Eh tumben El sudah bangun." Sapa bunda yang baru datang dari kamar mandi.


" Tadi aku nggak balik tidur bun."


" Tumben."


" Iya, aku mau ke pesantren abah dulu sebelum ke kantor bun."


" Oh. Kirain, ya sudah yuk sarapan, Ara duduk disini saja sarapan bareng kita."


" Tapi bun?"


" Udah nggak usah tapi - tapi an. Yuk duduk yuk."


" Baik bun."


" Udah nggak usah sungkan anggap saja rumah sendiri, dan bunda itu ibu kamu."


" Iya bun."


" Makan yang banyak, biar kalau di angkat tuh ada berat - beratnya dikit." Kata Rafael.


Ara tidak menjawab perkataan Rafael dan hanya hanya tersenyum. Dan bunda Raina juga tersenyum.


Dasar pak bos, bilang saja langsung kalau aku kurus. Pakai bilang gitu di depan bunda lagi, kan aku malu.


Selesai sarapan, Ara langsung membereskan piring kotornya dan mencucinya.


Bunda Raina mengantar sampai ke pintu depan.


" Tumben kali ini nasi gorengnya bunda beda dari biasanya, resep baru ya bun?"


" Enak nggak?"


" Enak, aku lebih suka ya ini bun."


" Itu tadi masakan Ara, bunda cuma bantu - bantu sedikit. Sudah cantik, baik, pinter masak lagi, mantu idaman banget."


" Duh bunda, pagi - pagi sudah mulai lagi."


" Bunda jodohin kamu sama Ara saja ya."


" Apaan sih bunda, kan aku sudah bilang aku nggak mau di jodohin."


" Tapi kalau Ara bisa lah dipertimbangkan? Ya El ya? ayo lah."


" Iya bunda, nanti El pertimbangkan. Ya udah aku berangkat dulu."


" Iya sayang, mau ke tempat abah kan? salam buat abah ya?"


" Iya bunda, oh iya, kalau bisa, kasih Ara banyak kegiatan atau apa gitu, usahakan dia nggak melamun ya bun."


" Tuh kan sudah mulai perhatian, ah bunda seneng deh."


" Terserah bunda saja, aku berangkat dulu ya bun, Assalamualaikum."


" Iya, Waalaikumsalam. Hati - hati bawa mobilnya jangan ngebut."


" Iya bunda."

__ADS_1


__ADS_2