
Beberapa hari dirumah sakit, membuat Ara semakin tidak enak hati dengan bunda Raina, dan Rafael. Seharusnya saat ini dia bekerja tetapi malah dirumah sakit dan di urus sama bunda Raina juga Rafael. Meskipun bunda Raina tidak keberatan dan menganggap Ara sudah sebagai putrinya, namun Ara tetap masih tidak enak hati.
" Bunda, pulang yuk,"
" Kan kamu belum sembuh sayang, tunggu sampai kamu bisa jalan ya."
" Lama bunda, Ara nggak betah. Ara pengen pulang."
" Tapi takutnya kalau dirumah malah kenapa - napa. Kamu kan nggak bisa diam."
" Ara janji deh, akan nurut sama bunda. Ara mau pulang."
Melihat Ara yang memohon seperti itu membuat bunda Raina tidak tega.
" Ya udah tunggu sebentar ya, bunda mau tanya dulu sama dokternya, boleh nggak Ara dirawat dirumah."
" Iya bunda."
" Ini si El malah kemana lagi nggak balik - balik." Gerutu bunda.
" Bunda Ara nggak papa ditinggal sendiri disini, bunda pergi aja, bentar lagi juga pak El bakalan balik."
" Ya sudah kalau begitu, bunda tinggal sebentar ya, telpon bunda kalau memerlukan sesuatu."
" Iya bunda."
Setelah bunda Raina pergi, benar saja, Rafael datang.
" Bunda kemana Ra?"
" Bunda ketemu dokter."
" Ngapain?"
" Mau tanya Ara sudah boleh pulang belum."
" Kenapa bunda nggak tanya aku dulu, kamu kan belum sembuh Ra."
" Ya ini maunya Ara pak, Ara bosen disini, Ara mau pulang."
" Tapi kamu belum sembuh."
" Iya nanti lama - lama sembuh sendiri, mau nunggu Ara sembuh pasti lama. Pokoknya Ara mau pulang, Ara nggak betah."
" Oke, oke kita pulang, tapi jangan nangis dong, segitu nggak betahnya dirumah sakit ya?"
" Iya."
Ara juga kasian sama bunda sama pak El, bunda pasti capek, pekerjaan pak El juga gimana.Tidur dirumah sakit kan nggak nyaman.
" El!! kenapa Ara nangis? kamu apa in? kenapa sih El kamu itu, bisa nggak sih, kalau sama Ara tuh lembut sedikit bicaranya." Omel bunda Raina yang baru datang.
" Tapi bun aku nggak,,"
" Iya bunda, kenapa sih bun pak El kalau sama Ara begitu, begitu bencinya ya pak El sama Ara." Kata Ara masih dengan air matanya.
" Nggak sayang, nggak begitu, biarin nanti bunda kasih pelajaran sama dia ya," kata bunda sambil memeluk Ara.
Ara menjulurkan lidahnya mengejek Rafael.
Dasar rubah kecil, bisa banget akting nya. Awas saja nanti, pembalasan ku akan lebih membuatmu terkejut.
" Hari ini kamu boleh pulang, tapi ingat harus hati - hati, nurut sama bunda ya?"
" Alhamdulillah, yeeee akhirnya bisa pulang." Sorak Ara kegirangan.
" Segitu nggak betahnya dirumah sakit ya nak?"
" Iya bunda, Ara juga kangen sama mbok Yem."
" El beresin semuanya kita pulang sekarang!"
" Iya bunda,"
" Jangan dekat - dekat lagi sama Ara, bunda nggak suka ya kamu membuat Ara menangis lagi."
" Kok gitu sih bun?"
" Jangan bantah!"
" Iya bunda."
***
Sesampainya dirumah.
Ara di gendong Rafael turun dari mobil.
" Pak, pakai kursi roda aja, nggak usah di gendong sampai dalam rumah."
" Kenapa?"
" Malu sama bunda dan yang lainnya, lagian juga Ara nggak mau merepotkan bapak terus."
" Baru tau ya kalau kamu itu merepotkan?"
Celetuk Rafael.
Bunda yang mendengarnya, langsung menjewer telinga Rafael.
" Aww sakit bunda."
" Turunin Ara, biar bunda yang bawa Ara ke kamar."
Rafael menurunkan Ara di kursi roda yang sudah bunda Raina siapkan.
" Biar bunda saja yang bawa Ara ke kamar."
" Biar aku saja, bunda langsung istirahat ya."
" Nggak El, kali ini bunda nggak mau kamu dekat - dekat dengan Ara. Yang ada Ara tambah sakit karena mendengar omongan mu yang pedas itu."
" Tapi bunda, maaf aku nggak bermaksud begitu."
" Sebelum kamu bisa bicara baik - baik dengan Ara, bunda nggak mengizinkan kamu bertemu dengan Ara."
Bunda Raina tidak tau bahwa Rafael sudah mengutarakan isi hatinya kepada Ara.
Bunda Raina geram dengan sikap Rafael terhadap Ara, yang menurutnya cara bicara Rafael terhadap Ara terkadang memang kelewatan.
" Ini sebenarnya yang anak nya bunda tuh aku atau Ara sih?"
" Ara juga putri bunda, bunda nggak pernah mengajarkan anak - anak bunda untuk bicara tidak sopan dan menyakitkan, apa lagi dengan orang yang sakit."
" Iya bunda, aku minta maaf."
" Bawa tas nya masuk, bunda mau mengantar Ara ke kamar."
" Iya bunda."
Bunda mendorong kursi roda Ara ke kamar nya.
" Bunda marah sama pak El?" tanya Ara.
" Nggak sayang, bunda cuma kecewa, bunda nggak suka sikap nya El ke kamu."
" Tapi Ara nggak apa - apa bunda, Ara sudah terbiasa."
" Takutnya dia bersikap seperti itu bukan hanya ke kamu saja Ra, tapi ke semua orang. Bunda hanya menegurnya agar dia memperbaiki sikap nya itu. Maaf kan anak bunda ya Ra."
" Iya bunda, Ara nggak papa kok."
" Terimakasih sayang, ya udah kamu istirahat ya, bunda bantu pindah ke kasur yuk?"
" Nggak usah bunda, Ara masih pengen duduk disini."
" Tapi nak, apa di kursi roda nyaman?"
__ADS_1
" Nyaman bunda, berbaring terus malah badan Ara pegal, lagian nanti Ara bisa kok pindah ke kasur sendiri."
" Nggak sayang, kaki kamu belum boleh banyak gerak."
" Ya nanti Ara minta bantu simbok, kalau nggak nanti Ara panggi bunda."
" Benar ya sayang, nanti panggil bunda, bunda mau mandi dulu."
" Iya bunda, makasih ya bunda sudah mau direpotkan Ara."
" Bunda tidak merasa seperti itu sayang, jangan banyak pikiran, biar cepat sembuh, bunda pengen ajak kamu jalan - jalan lagi." Kata bunda dengan lembut sambil membelai Ara.
" Iya bunda, terimakasih."
" Sama - sama sayang."
***
Di dapur, ada mbok Yem yang sedang menyiapkan makanan.
" Eh den El? tumben ke dapur? aden lapar ya? itu makanan nya sudah simbok siapkan di meja."
" Nggak mbok,aku mau minta tolong, siapkan makanan untuk Ara."
" Udah kok den, sudah simbok taruh di nampan, ini baru saja mau simbok antar ke sana."
" Biar aku saja mbok,"
" Tapi den?"
" Iya nggak papa mbok, biar aku saja."
" Baik den."
Mbok yem menyerahkan nampan berisi makanan itu kepada El.
El sengaja menunggu bunda Raina keluar dari kamar Ara.
Agar El bisa bertemu dengan Ara, jika bunda Raina masih di sana pasti bunda tidak mengizinkan El untuk bertemu dengan Ara.
Tok , tok, tok. Rafael mengetuk pintu kamar Ara.
"Ra boleh saya masuk?"
" Eh bapak, silahkan masuk pak,"
Rafael terkejut melihat Ara yang masih duduk di kursi roda."
" Ra kenapa masih duduk disitu? kenapa nggak pindah ke ranjang."
" Em anu pak."
" Pasti mau keluyuran kan pakai kursi roda."
Tau aja si bapak, tadinya mau ke dapur bantuin simbok. Kan nggak enak masak iya kerja di rumah orang, malah jadi merepotkan begini, kan nggak enak hati.
" Nggak kok pak."
" Nggak usah bohong, aku tau apa yang sedang kamu pikirkan si dalam kepala kecilmu itu."
Rafael menaruh makanan yang ia bawa di meja yang ada di dekatnya.
Rafael langsung mengangkat Ara dan meletakkannya di ranjang.
" Nurut, jangan ngeyel, awas aja kalau ngeyel, apa mau dirawat lagi dirawat lagi di rumah sakit, biar bisa istirahat sampai sembuh?"
" Nggak mau pak."
" Makanya nurut."
" Iya pak, iya."
" Sampai kapan kamu mau memanggilku bapak Ra, aku bukan bapak mu."
" Ya nggak tau pak, kan sudah terbiasa."
" Nggak bisa pak."
" Kamu ini. Aku nggak mau tau mulai sekarang kamu harus belajar panggil mas."
" Tapi gimana ya pak, jadi aneh kalau panggil mas."
" Ih sumpah ya kamu ini, lama - lama seperti Linda, sukanya ngebantah terus."
" Ya maaf pak, Ara nggak bermaksud begitu."
" Terus?"
" Iya deh iya pak, nanti Ara biasakan panggil mas, tapi kata bapak mau menunggu di pertimbangkan Ara dulu, baru Ara mau panggil masnya."
" Kelamaan Ra. Terus itu kapan?"
" Ya Ara juga nggak tau."
" Ya udah ini dimakan dulu, terus minun obat. Aku juga mau minta maaf sama kamu, maaf kalau selama ini kata - kata ku menyinggung mu."
" Iya pak, nggak papa kok. Oh iya pak, Ara mau minta tolong bisa?"
" Apa?"
" Pak jangan judes - judes kenapa sih?"
" Heh, iya mau minta tolong apa?"
" Bisa tolong panggilkan simbok nggak? suruh ke kamar Ara."
" Suruh ngapain?"
" Yah bapak, Ara harus jawab ya?"
" Ya iya, kan saya tanya."
" Harus ya?"
" Iya Araaa."
" Anu pak, Ara mau mandi mau minta tolong simbok."
" Oh, yah nanti saya panggilkan."
" Ada lagi yang saya bisa bantu?"
" Nggak pak, terimakasih."
" Iya."
Kadang memang kelewatan sih, tapi pak El baik, kadang juga perhatian, kadang juga nyebelin. Hehehe untung ganteng.
Setelah El keluar dari kamar Ara, El mencari simbok, sesuai perintah Ara.
" Mbok,"
" Iya den, ada yang bisa simbok bantu?"
" Iya mbok, tolong bantu Ara mandi mbok, tapi di lap saja, jangan biarkan Ara turun dari ranjang, kaki nya belum boleh banyak gerak. Nanti kalau dia ngeyel, bilang saja aku yang akan memandikannya."
" Iya den."
" Terimakasih mbok."
" Sama - sama den."
Sepertinya memang aden sudah jatuh hati dengan nduk ayu. Syukurlah den simbok lega, aden jatuh hati dengan gadis yang tepat, nduk ayu itu gadis yang baik.
Mbok yem segera bergegas pergi ke kamar Ara.
" Nduk simbok masuk ya?"
__ADS_1
" Iya mbok, silahkan."
" Ada yang bisa simbok bantu nduk?"
" Simbok capek nggak? lagi sibuk nggak?"
" Nggak nduk. Ada apa?"
" Ara mau minta tolong, simbok bisa nggak bantuin Ara mandi?"
" Bisa nduk."
" Maafin Ara ya mbok, Ara jadi merepotkan begini?"
" Simbok nggak merasa di repot kan kok nduk, jangan terlalu di pikirkan."
Dengan perlahan Ara berusaha menggerakkan kaki nya agar bisa turun dari ranjang dan pindak ke kursi roda yang ada di dekatnya.
Kaki Ara masih terasa sakit, apa lagi saat digerakkan, tapi tetap Ara paksakan karena dia tidak mau lebih lama lagi merepotkan orang rumah.
Tergambar jelas di wajah Ara bagaimana dia menahan rasa sakitnya saat kaki nya di gerakan.
" Eh, nduk ayu mau ngapain?"
" Mau pindah ke kursi roda mbok. Simbok tolong ambilkan handuknya dan bawakan ke kamar mandi ya."
" Nduk ayu nggak boleh banyak gerak dulu, tadi simbok sudah di pesan si aden, nduk ayu nggak boleh turun dari kasur, kalau nduk ayu ngeyel nanti aden sendiri yang mau memandikan nduk ayu."
" Yah simbok, ya simbok jangan bilang sama pak El ya? Ara nggak betah mbok, badan Ara lengket."
" Sesuai dugaan ku, kamu itu memang keras kepala ya Ra." Kata Rafael yang sendang bersandar di pintu kamar Ara.
Rupanya Rafael dari tadi mendengar pembicaraan Ara, Rafael memang sengaja, karena tau pasti Ara tidak akan menurut.
" Bapak kenapa disitu?" tanya Ara.
" Mau mandiin kamu, cepat turun dari ranjang kalau mau saya mandikan."
Ara hanya tertunduk, tidak berani menatap Rafael, dia tau pasti saat ini Rafael sangat marah.
Bunda Rainda yang telah selesai mandi, ingin mengecek Ara di kamarnya.
Dia terkejut karena Rafael sudah ada di depan pintu kamar Ara.
" El ngapain kamu disini? tadi bunda bilang kan jangan ketemu Ara dulu, dan tuh kenapa Ara mukanya begitu?"
" Bunda tanya aja sama dia, aku mau istirahat dulu."
Bunda Raina bingung dibuatnya.
Simbok lalu menjelaskan kepada bunda Raiana apa yang terjadi.
Bunda Raina tersenyum.
" Sayang, kali ini bunda setuju sama El. Dia marah karena dia menghawatirkan mu. Dia hanya mau kamu lekas sembuh nak."
" Iya bunda."
" Bunda bantu lap badannya ya?"
" Nggak lah bunda Ara malu."
" Hahaha, kita kan sama perempuan nak."
" Tapi Ara malu."
" Ya sudah, begini saja, bagian bawah Ara lap sendiri, bunda tunggu di luar, nanti punggung sama tangan biar bunda yang lap."
" Tapi bunda,"
" Bunda nggak terima penolakan. Nurut ya sayang."
" Iya bunda."
Bukanya Ara nggak mau nurut bunda, tapi Ara nggak enak hati terus - terusan merepotkan bunda.
" Ya sudah bunda tunggu diluar, kalau sudah nanti panggil bunda ya."
" Iya bunda."
" Simbok siapkan air hangatnya dulu ya nduk."
" Iya mbok, terimakasih."
" Sama - sama nduk."
Ara beruntung bertemu dengan orang yang baik, tapi kalau begini kan Ara jadi nggak enak hati, mereka terlalu baik sama Ara, terus bagaimana cara Ara membalas kebaikan mereka ini?
Ara memanggil bundanya untuk masuk.
" Bunda."
" Iya sayang."
Bunda masuk ke kamar Ara.
Dengan telaten bunda mengelap tubuh Ara.
Bunda tidak tega melihat luka lebam yang ada di tubuh Ara.
" Pasti sakit ya nak? sampai membiru begini."
" Sudah nggak sakit kok bunda,"
" Tubuh sekurus ini, semunggil ini harus menerima pukulan, kasihan banget kamu nak."
" Ara nggak papa bunda."
" Allah pasti akan membalasnya dengan setimpal, Ara harus kuat ya, Allah sayang sama Ara, Ara sedang di uji."
" Ara kuat kok bunda." Jawaban Ara bergetar, dan air mata mengalir dari mata bulatnya.
" Bunda tau pasti nggak mudah ya nak, baru bisa berjalan sekarang untuk sementara nggak bisa jalan lagi."
" Iya bunda, maafin Ara ya bunda, nggak tau kenapa Ara jadi sering menyusahkan orang - orang, dulu ibuk sama bapak, sekarang bunda dan seisi rumah ini. Padahal Ara disini bekerja, tapi sekarang malah merepotkan bunda, Ara malah bikin bunda capek, Ara malah nggak sopan, masak bunda malah mengelap tubuh Ara yang bukan siapa - siapa bunda ini. Ara nggak tau lagi bagaimana membalas kebaikan bunda." Kata Ara sambil menangis.
" Sayang dengarkan bunda ya nak, bunda tulus sayang sama kamu, bunda nggak minta balasan, bunda ikhlas. Bunda sudah bilang kan, jangan anggap Ara disini itu bekerja, sekarang Ara itu anak bunda, bagian dari hidup bunda, meskipun kita baru bertemu, tetapi bunda sayang sama kamu seperti bunda sayang sama Rio dan El. Nak, kamu jangan terbebani dengan kebaikan bunda, bunda nggak meminta balasan. Bunda ikhlas dan tulus sama kamu. Bunda nggak suka Ara bilang seperti itu lagi, apa Ara nggak sayang sama bunda, Ara nggak suka sama bunda?"
" Ara sayang kok sama bunda, sayang banget, bunda itu sudah seperti ibuk Ara sendiri."
Bunda langsung memeluk Ara yang sedang menangis dan menenangkannya.
" Bunda sayang sama Ara, sejak Ara masuk ke rumah bunda Ara itu sudah menjadi putri bunda."
" Bunda juga sudah menyiapkan atm pribadi buat Ara kalau Ara mau belanja, bunda juga sedang pilihkan mobil buat Ara, tapi bunda masih bingung, mau pilih yang mana, bunda nggak tau selera Ara suka yang seperti apa."
" Ara bunda nggak mau itu semua,"
" Tapi Ara harus terima, ini kan pemberian dari bunda sayang."
Bunda ini apa lagi sih? mana bisa Ara menerimanya, ini sudah sangat berlebihan. Tapi bagaimana cara ku menolaknya ya? Ah begini saja,
" Bunda Ara kan belum bisa nyetir, bagaiman beli mobilnya kalau Ara sudah bisa nyetir?"
" Iya juga ya, ya udah bunda setuju."
" Bunda bisa nggak bunda ajarin Ara ngaji?" tanya Ara untuk mengalihkan pembicaraan soal mobil dan ATM.
" Bisa sayang, habis sholat magrib bunda akan ke kamar Ara buat ngajarin Ara."
" Terimakasih bunda."
" Sama - sama sayang, karena sudah selesai kamu istirahat ya, bunda tinggal dulu, kalau bunda disini nanti kamu malah nggak bisa istirahat."
" Iya bunda, sekali lagi terimakasih ya bunda, bunda juga istirahat ya?"
" Iya sayang."
__ADS_1