
" Bun kok belanjanya banyak banget emang mau ada acara ya?"
" Nggak ada Ra, cuma nanti akan ada abah Ismail sama ustad Agus. Mereka itu gurunya Rafael dulu waktu Rafael di pesantren. Mereka sudah seperti keluarga kami."
" Jadi pak Rafael dulu pernah di pesantren ya bun?"
" Pernah, dia malah lumayan lama tinggal di pesantren. Ara bantuin bunda masak sama bikin kue juga ya?"
" Aduh bunda Ara kalau bikin kue, nggak terlalu bisa."
" Oh ya? padahal kamu pinter masak loh."
" Tapi Ara jarang bikin kue bun, bikin kue cuma kalau bantuin ibuk saja. Makanya Ara nggak terlalu paham dengan kue. Hehehe."
" Gampang kok tenang saja nanti bunda ajarin."
" Makasih bunda."
" Sama - sama sayang."
Bunda Raina memasak bersama Ara, mereka memasak sambil asik bercerita. Bunda Raina juga banyak bertanya mengenai kehidupan dan keluarga Ara dan dengan senang hati Ara menceritakan nya.
" Bunda jadi penasaran pengen berkunjung ketempat Ara dan bertemu keluarga Ara."
" Boleh saja, nanti Ara ajak bunda ke sana, pasti ibuk juga seneng banget ketemu sama bunda, tapi rumah Ara nggak sebagus rumah bunda, nggak sebesar rumah bunda."
" Apalah artinya semua itu Ra, walaupun sederhana bukankah yang penting itu kerukunan nya, kebersamaan nya, kenyamanannya, kita bahagia di dalamnya. Percuma kan besar, bagus, mewah tapi kita nggak bahagia."
" Iya bunda."
" Alhamdulillah akhirnya selesai, nih cicipi dulu kue buatan bunda."
" Makasih bunda. Em,, ini enak banget bunda."
" Masak sih?"
" Iya, kalau bunda buka toko kue, pasti Ara setiap hari beli, hehehe."
" Bisa aja kamu, ya udah yuk, kalau sudah selesai kita bawa semua ke meja."
" Bunda istirahat saja ya, ini kan sudah selesai tinggal di pindahin saja ke meja makan, pasti bunda capek kan?"
" Ya udah bunda mau mandi dulu ya, nanti Ara biar di bantu sama mbok Yem."
" Iya bunda."
" Nduk ayu istirahat saja biar simbok yang menyelesaikan nya." Kata mbok Yem.
Mbok Yem adalah pembantu yang membantu membersihkan rumah bunda Raina.
" Nggak lah mbok, Ara disini kan juga kerja sama seperti simbok."
" Tapi buk Raina sudah menganggap nduk ayu ini seperti putrinya sendiri loh."
" Iya tapi itu bukan berarti aku harus diem aja dan nggak ngapa - ngapain kan mbok?"
" Haduh nduk ayu ini, sudah cantik, pinter masak, baik hati, pasti besok yang jadi suaminya akan beruntung."
" Apaan sih mbok, oh iya kenapa simbok nggak memanggil aku Ara saja?"
" Simbok lebih nyaman memanggil mu nduk ayu. ayu itu kan cantik, sama seperti mu yang cantik."
" Ya senyaman nya simbok saja mau panggil Ara siapa. Oh iya kalau simbok lelah, simbok istirahat dulu ya, biar Ara yang beresin dapur."
" Simbok belum setua itu nduk, simbok masih kuat kalau cuma beres - beres saja."
" Ya udah yuk Ara bantuin."
***
Ting tong, ting tong.
Bel rumah pun berbunyi.
" Simbok buka pintunya dulu ya nduk, mungkin itu tamu ibuk sudah datang."
" Iya mbok, ini juga sebentar lagi beres."
Benar saja, abah Ismail dengan ustad Agus yang datang. Mbok Yem segera mempersilahkan mereka masuk, dan mempersilahkan mereka untuk duduk dulu sembari menunggu bu Raina.
" Nduk biar simbok yang selesaikan sisanya, kamu panggil ibuk saja, tamunya sudah datang."
" Iya mbok, terimakasih."
Ara bergegas memanggil bunda Raina.
Tok tok tok
Ara mengetuk pintu kamar bunda Raina.
" Bunda, tamunya sudah datang."
" Iya sayang, ini bunda juga sudah selesai dan mau ke sana." Kata bunda Raina yang sudah membuka pintunya.
" Ya udah Ara buatkan minumnya dulu ya bun?"
" Iya sayang."
Ara membuat minuman serta membawa kue yang sudah bunda buat tadi.
Ara menyajikannya dengan sopan.
" Ara duduk disini saja sayang, sini bunda kenalin sama abah dan ustad."
" Iya bunda."
" Ini pasti gadis yang diceritakan Rafael ya buk?" tanya ustad Agus.
" Iya, ustad namanya Ara, Ara ini sudah seperti putri saya."
" Nak Ara, siapa yang tega membuat mu seperti ini, kesalahan apa yang sudah kamu perbuat padanya?" tanya abah Ismail tiba - tiba.
" Ara juga tidak tau bah," jawab Ara.
" Sayang pasti kamu bingung ya, jadi gini, abah Ismail sama ustad Agus ini yang akan membantu kamu keluar dari kiriman gaib ini, Rafael yang meminta bantuan mereka." Bunda Raina menjelaskan.
" Pak Rafael? " tanya Ara tidak percaya.
Ternyata pak Rafael benar - benar ingin membantu Ara, jadi nggak enak sama pak El, Ara merasa malah menyusahkan. Ara nanti harus berterimakasih.
" Iya sayang, Rafael ingin membantumu."
Mendadak kepala Ara terasa pusing, dan berat, badannya tiba - tiba lemas, dan pingsan di pelukan bunda Raina.
" Ara sayang, bangun nak, kamu kenapa?" bunda Raina panik.
" Mas Danang, mas Danang." Ara mengigau.
__ADS_1
" Tenang buk, dia tidak papa, hanya gangguan gaib nya mulai bereaksi lagi." Kata ustad Agus.
" Tenang ya buk, sebentar lagi pasti nak Ara bangun." Imbuh abah Ismail.
" Sayang, bangun nak. Ara bangun sayang." Bunda Raina berusaha membangunkan Ara.
" Emh, bunda." Ara mulai sadar.
" Iya sayang."
" Eh bunda maafin Ara, pasti Ara berat ya?"
" Nggak kok sayang."
" Ara apa sih yang sepesial dari laki - laki itu, sampai membuatmu tergila - gila begini. Kalau dibilang ganteng, nggak terlalu ganteng, dia juga sudah punya istri loh." Kata ustad Agus.
" Apa maksud ustad itu mas Danang?" tanya Ara bingung.
" Iya, siapa lagi, nama yang selau kamu sebut."
Ternyata benar apa yang dibilang sama Aji, dan ternyata mas Danang sudah beristri. Ara nggak nyangka orang sebaik mas Danang bisa berbuat seperti ini sama Ara.
" Pak ustad Ara nggak tergila - gila loh sama mas Danang, Ara juga nggak tau kalau mas Danang sudah punya istri."
" Mending nikah sama aku saja, gimana?" celetuk ustad Agus yang membuat Ara terkejut.
" Ehem, ehem, assalamualaikum." Salam Rafael yang tiba - tiba datang.
" Waalaikumsalam," jawab semuanya.
" Tumben nak jam segini sudah pulang?" tanya bunda.
" Iya bunda, karena pengen pulang saja." Jawab Rafael asal.
" Gimana Ra, apa kamu setuju?" tanya ustad Agus lagi yang tidak menghiraukan kedatangan Rafael.
Apa - apa an sih ini Agus, pakai acara lamaran dadakan segala. Batin Rafael.
Melihat Ara yang dilamar dadakan membuat Rafael sebal. Agus tidak kalah tampan dari Rafael, ada rasa takut di hati Rafael, takut Ara menerima lamaran dadakan Agus.
" Haduh Ara jadi nggak tau mau jawab apa."
" Jawab aja nggak, kalau nggak suka." Celetuk Rafael.
" Apaan sih El datang - datang resek deh, Ara pasti mau lah, soal tampang aku nggak kalah dari kamu." Jawab Agus.
" Iya in aja kalau berani." Rafael menyindir Ara.
Ara hanya diam saja, dia masih bingung dengan apa yang terjadi.
Bunda Raina dan Abah ismail hanya tersenyum melihat tingkah dua lelaki bujang itu.
" Sudah, ini kenapa jadi pada ribut sih. Jadi gimana bah, apa Ara bisa disembuhkan?" tanya bunda Raina.
" Kalau Allah menghendaki pasti bisa buk, nak Ara bisa mengaji?"
" Bisa bah sedikit - sedikit, soalnya Ara sudah lama banget nggak ngaji, terakhir TPA waktu masih sekolah." jawab Ara.
" Iya nggak papa nak, belum terlambat kalau mau belajar lagi, sekarang Ara pakai mukena dulu, kita akan meruqyah kamu."
" Baik bah."
Abah Ismail, ustad Agus, Rafael dan bunda Raina duduk melingkari Ara. Bersama - sama mereka membacakan ayat - ayat suci Al Qur'an.
Tubuh Ara terasa panas, dan sekujur tubuhnya terasa sakit luar biasa.
" Uhuk, uhuk." Ara batuk serta memuntahkan banyak darah. Ara pingsan dan jatuh di pangkuan Rafael.
Bunda Raina menjadi panik, begitu juga Rafael namun sikapnya yang dingin mampu menutupi kepanikan dan kekhawatirannya pada Ara.
" Astagfirullah Ara, abah ini bagaimana? kenapa Ara muntah darah banyak sekali."
" Tenang buk, tidak apa - apa itu malah bagus, berarti memang kiriman ilmu gaib yang ada di badan nak Ara bisa keluar, namun ini belum sepenuhnya, nak Ara masih harus di ruqyah terus. Sihir yang dikirim ini memang sudah merasuk cukup dalam buk. Jadi wajar saja kalau membuat nak Ara sampai seperti ini."
" El bawa Ara ke kamarnya," perintah bunda Raina.
" Baik bunda."
" Terimakasih bah sudah mau menolong Ara, Ara itu sudah saya anggap sebagai putri saya." Kata bunda Raina.
" Sama - sama buk, saya senang jika bisa menolong Ara, oh iya ini saya bawa ketan hitam tolong nanti disangrai dan di tumbuk, lalu di seduh dan tolong suruh Ara meminumnya."
" Baik bah,"
" Lusa saya akan kesini lagi untuk memastikan keadaan Ara."
" Baik bah, saya sangat senang abah bisa membantu Ara, sekarang abah dan ustad mari kita makan dulu."
" Jadi merepotkan ibuk ini."
" Saya tidak merasa seperti itu bah, saya senang bisa menjamu abah, tapi ya cuma seadanya."
" Terimakasih buk, ini sudah lebih dari cukup."
Rafael tidak ikut makan bersama, ia menunggu Ara di kamarnya hingga siuman.
" Eh bapak, maaf Ara merepotkan lagi, dan terimakasih."
" Makanya cepat lah sembuh agar tidak merepotkan."
" Iya pak."
" Masih sakit?"
" Sedikit pak, cuma lemas saja, bentar lagi juga sudah sembuh."
" Bagus kalau begitu."
Mbok Yem datang membawa segelas teh hangat untuk Ara.
" Ini nduk diminum dulu."
Ara berusaha bangun untuk duduk namun agak sulit, Rafeal yang tidak tega melihatnya akhirnya membantunya.
" Terimakasih pak."
Mbok yem menyodorkan segelas teh, melihat Ara yang masih lemas, ia membantu Ara memegangi gelasnya.
" Terimakasih mbok, maaf Ara jadi merepotkan."
" Tidak nduk, simbok tidak merasa seperti itu."
Ustad Agus datang ke kamar Ara.
" Bagaimana keadaan mu Ra?" tanya nya.
" Sudah lebih baik ustad," jawabnya dengan senyuman manisnya.
__ADS_1
Kenapa aku tidak rela saat melihat Ara tersenyum seperti itu kepada laki - laki lain. Batin Rafael.
" Bagus kalau begitu, nih nanti kamu taburkan di sekeliling tempat kamu tidur, tidur dibawah lebih baik."
" Baik, terimakasih ustad, terimakasih banyak."
" Sama - sama, senang bisa membantumu, oh iya tapi nanti jangan kaget ya kalau melihat ada banyak macan di sekitar kamu tidur, mereka akan membantu menjagamu dan menangkal hal gaib jika mereka mengirimnya lagi."
" Baik ustad, terimakasih sekali lagi."
" Dan jangan lupa di pertimbangkan apa yang tadi saya katakan, saya serius ingin menikah dengan mu."
" Baik."
" Ya sudah saya sama abah mau pamit dulu, lusa kita akan ketemu lagi."
Ara ingin turun dari ranjang, namun di cegah sama Rafael.
" Mau kemana?"
" Mau antar ustad sama abah ke depan pak."
" Kamu disini saja, kamu masih lemas, biar saya yang mengantar."
" Tapi pak."
" Iya Ra, kamu pulihkan dulu tenaga kamu, kalau begitu saya pamit, assalamualaikum."
" Waalaikumsalam."
" Nampaknya kita harus bersaing El." Kata ustad Agus.
Rafael paham apa yang dikatakan ustad Agus.
" Dia akan menjadi milikku. Kamu jangan berharap."
" Hahahaha, masih belum tau hasil akhirnya, belum tentu dia mau sama kamu."
" Hem, liat saja nanti."
" Kalau dia memilihku kamu jangan sakit hati."
" kamu sebaliknya juga begitu."
" Hahaha."
Ustad Agus adalah sahabat Rafael dulu di pesantren, mereka seumuran. Mereka juga belajar bareng, namun Rafael memutuskan untuk keluar dari pesantren dan belajar bisnis untuk meneruskan perusahaan milik keluarganya.
Sedangkan Agus, memilih tetap di pesantren dan menjadi ustad membantu abah mengajar di pesantren.
***
Dikamar Ara.
" Sepertinya den El suka sama nduk Ayu."
" Simbok ini bisa aja, mana mungkin mbok. Dia tuh kalau sama Ara dingin banget, kadang kalau ngomong juga pedes banget, bikin Ara geregetan. Lagian dia seorang pengusaha sukses pasti banyak lah kenalan dia sesama pengusaha yang lebih cantik, lha Ara ini siapa? cuma gadis desa mbok."
" Simbok sudah lama ikut ibuk Raina, dari simbok masih muda, dan den El masih kecil. Simbok hafal betul sikap dan sifatnya. Nduk ayu pingsan tadi, dia sangat khawatir, nungguin nduk ayu disini hingga nduk ayu siuman, dia juga sampai tidak ikut makan loh nduk."
" Masak sih mbok?"
" Iya."
" Ya mungkin dia cuma kasihan sama Ara mbok. Ya udah biar nanti Ara saja yang mengantarkan makanannya ke kamar pak Rafael mbok, sebagai ucapan terimakasih."
" Tapi nduk ayu masih sakit kan?"
" Ara nggak sakit mbok, Ara nggak papa, cuma lemas saja tadi sekarang sudah nggak papa."
" Ya sudah simbok siapkan dulu makanannya."
" Nggak usah mbok, biar Ara saja."
Ara segera beranjak dari tempat tidur menuju ke dapur ditemani mbok Yem.
Ternyata di sana sudah ada bunda Raina.
" Eh sayang kamu nggak papa kan? ada yang sakit?"
" Nggak kok bunda, Ara baik - baik saja, badan Ara juga rasanya lebih enakan."
" Syukurlah, bunda ikut senang."
" Oh iya bunda sudah makan?"
" Sudah tadi bareng sama abah sama ustad, ini bunda menyiapkan makanan buat El."
" Bun, em,"
" Ada apa Ra?"
" Itu,,,"
" Itu buk, nduk ayu yang mau mengantarkan makanannya den El ke kamarnya."
" Benar Ra?"
" Iya bun, apa boleh?"
" Boleh, boleh sayang, nih sudah siap tinggal Ara antar ke sana."
" Terimakasih bunda. Oh iya bunda istirahat saja, biar nanti piring kotornya Ara yang beresin. Ara antar ini dulu ya bun."
" Iya sayang."
" Buk, biar piring kotornya simbok saja yang beresin. Ibuk silahkan istirahat."
" Sudah berapa kali saya bilang mbok, jangan panggil saya ibuk, panggi saya Raina saja, anggap saja saya ini anak ibuk."
" Tapi saya nggak enak buk."
" Ya sudah panggi saya nduk saja, sama seperi simbok manggil Ara."
" Baik lah."
" Oh iya, simbok tolong bereskan ini, aku mau menyangrai ketan hitam ini dulu buat obat Ara ya mbok."
" Iya nduk, nduk ayu itu orang yang baik,"
" Iya mbok, saya senang jika Rafael bisa mendapatkan istri seperti Ara."
" Simbok lihat sepertinya den El tertarik dengan nduk ayu."
" Sepertinya juga begitu mbok, aku harap Ara juga bisa membuka hatinya buat El."
" Seiring berjalanya waktu pasti bisa nduk, karena den El juga laki - laki yang baik."
__ADS_1
" Kita doakan saja mbok."