Pemuja Pembawa Petaka

Pemuja Pembawa Petaka
Baju


__ADS_3

" Bunda!"


" Alhamdulillah sayang kamu sudah datang." Bunda Raina memeluk Rafael sambil menangis.


" Bunda tenang ya, pasti pasti Ara masih disekitar sini."


" Sebenarnya ada apa sih El?"


Rafael lalu menceritakan tentang Frans yang mengintai rumahnya dan kemungkinan besar Frans mengincar Ara.


" Astagfirullah El, kamu harus cepat cari Ara, bunda takut Ara di culik laki - laki itu. Bunda khawatir El."


" Ya bunda, El akan mencari Ara sampai ketemu, bunda tenang ya."


" Hiks, hiks bunda takut El, kenapa kamu nggak kasih tau bunda dari awal."


" Aku juga baru tau tadi bun. Bunda tunggu di sini, aku mau periksa cctv dulu."


" Bunda ikut El,"


" Bunda tunggu disini saja, nanti bunda malah capek."


" Bunda nggak tenang El, nggak bisa hanya duduk saja. Bunda khawatir sama Ara."


" Ya udah, ayok bunda ikut."


" Bunda! bunda." Panggil Ara.


" Ara!" bunda Raina menoleh ke belakang, berjalan cepat menghampiri Ara lalu memeluknya dengan cepat.


" Syukurlah nak kamu nggak kenapa - kenapa, kamu dari mana saja?"


" Maaf bunda, tadi waktu Ara ke kamar mandi, ternyata Ara datang bulan, dan Ara buru - buru membeli pembalut, karena takut nanti keburu kena rok noda merahnya. Maaf Ara tadi nggak kesini dulu pamit sama bunda, Ara buru - buru. Bunda maaf ya?"


Ini kenapa bunda menangis, dan kenapa pak El ada disini? dari raut wajahnya seperti mencemaskan sesuatu. Apa ada sesuatu yang terjadi tadi saat aku pergi ya?


" Nggak papa sayang."


" Terus kenapa bunda menangis?"


" Ya bunda khawatir sama kamu, bunda telpon nggak di angkat, bunda cari di kamar mandi nggak ada, bunda juga takut kamu dibawa,"


" Bunda takut kamu nggak tau jalan." Rafael memotong pembicaraan bunda Raina. Rafael memberi isyarat kepada bunda Raina untuk tidak melanjutkan kata - kata nya.


" Ah iya bunda takut, kamu nyasar, kan kamu baru di tempat ini sayang."


" Lagian punya hp tuh jangan cuma buat isi tas saja. Dipakai biar kalau ada apa - apa nggak bikin khawatir." Celetuk Rafael.


" Hp nya ketinggalan pak, tadi lupa nggak Ara masukin di tas."


Sepertinya ada hal yang disembunyikan bunda dan pak El. Ya sudah lah mungkin itu urusan penting. Nggak ada gunanya juga aku mengetahuinya.


" Karena Ara sudah ketemu, kita pulang sayang." Ajak bunda Raina.


" Ya sudah, biar aku yang atar, naik mobil ku saja bun, belanjaannya biar dibawa sopir mobil bunda."


" Tapi kerjaan kamu gimana?"


" Nggak ada yang penting kok bun, dilanjut besok masih bisa."


" Ya sudah bunda ikut kamu saja."


Rafael mengantar bunda Raina dan Ara pulang. Rafael ingin memastikan mereka selamat dan aman sampai dirumah.


" Besok kalau mau pergi kabarin aku dulu ya bun? kalau aku bisa aku yang akan mengantarkan kemanapun bunda pergi, kalau aku nggak bisa usahakan minta tolong yang lain aja untuk mengantikan bunda pergi, dan kamu Ara, jangan pernah keluar rumah sendirian tanpa seijin bunda. Ngerti?!"


" Baik pak."


Ini pak El kenapa sih, kalau lagi marah mukanya serem, lagian kenapa juga dia marah sama aku?


" Bunda, aku mau istirahat ke kamar dulu."


" Iya sayang, terimakasih."


" Bunda pak El marah ya sama Ara? maaf ya bun gara - gara Ara bunda jadi ikut dimarahin pak El."


" El nggak marah sayang, mungkin dia lagi capek makanya dia begitu."


Dia marah karena kamu sudah membuatnya khawatir Ra, dia takut kamu kenapa - kenapa, cuma memang cara mengungkapnya berbeda dari orang lain.


" Tapi pak El seram kalau lagi begitu bun."


" Itu karena kamu belum terbiasa Ra, oh iya bunda ke kamar dulu ya, kamu juga istirahat sayang."


" Iya bunda. Bunda?"


" Iya sayang ada apa?"


" Em, kalau sebagin baju yang bunda belikan ini aku berikan untuk adik ku gimana bun? boleh nggak?"


" Ya boleh sayang, itu kan bunda kasih buat kamu, ya terserah kamu mau kamu apakan. Bunda malah seneng, besok kan bunda bisa belikan kamu lagi yang model terbaru."


" Makasih ya bun. Terimakasih banyak."


" Sama - sama sayang."


" Bunda selamat beristirahat."


" Kamu juga sayang."


Ara berlari kemar, dia sudah tidak sabar ingin menelpon Kia.


" Hallo, assalamualaikum."


" Waalaikum salam mbak,"


" Kamu apa kabar Ya?"


" Alhamdulillah kabar Kia baik mbak, mbak Ara sendiri gimana? sehat kan?"


" Sehat juga Ya, oh iya mbak mau minta alamat kosan kamu, mbak mau kirim baju buat kamu."


" Hah? baju apa mbak?"


" Tadi bunda Raina membelikan mbak baju banyak banget, dan nggak mungkin kan mbak pakai semuanya, jadi yang sebagian buat kamu."


" Bunda Raina itu siapa mbak?"


" Bos aku Ya, tapi dia menganggap ku sudah seperti putrinya."


Ara menceritakan semuanya kepada Kia.


" Bos nya mbak Ara baik banget ya?"


" Baik banget Ya, katanya dia juga pengen main ke rumah kita."

__ADS_1


" Wah bagus dong, Kia juga jadi penasaran pengen ketemu."


" Besok kalau bunda jadi ke sana, mbak kabarin kamu."


" Oke mbak."


" Nanti kirim alamatnya ya Ya, secepatnya mbak akan kirim ke kamu, baju mahal loh ini, jarang - jarang kan kita pakai baju bagus, hehehe."


" Iya ya mbak, Kia seneng banget, nggak sabar pengen terima paket bajunya. Hehehe."


Sementara di kamar Rafael, bunda Raina sudah di sana untuk mengantarkan baju yang Ara pilihkan.


" El nih baju buat kamu."


" Ya bunda, baju ku sudah banyak, masak di beliin lagi, itu aja yang baru masih banyak yang belum aku pakai."


" Tapi ini sepesial loh, beneran nggak mau?"


" Baju ku sudah banyak bun."


" Ya sudah buat ustad Agus saja besok kalau kesini, padahal ini Ara yang pilih sendiri loh."


" Apa bun? coba bilang lagi,"


" Ini baju, Ara yang pilih, buat kamu, kalau kamu nggak suka, ya udah buat,,,"


" Aku mau bun, sini."


" Huh, dasar giliran ada nama Ara aja cepat."


" Katanya bunda suruh mempertimbangkan, ya ini kan sudah aku pertimbangkan."


" Bukan lagi, tapi sepertinya kamu sudah tertarik sama dia, iya kan?"


" Apaan sih bunda."


" Halah, tinggal bilang iya saja kok susah."


" Bunda aku lapar, bunda masakin buat aku ya?"


" Iya. Ya sudah bunda tinggal dulu."


Dasar Rafael bilang saja mau buka dan lihat bajunya, pakai acara lapar segala buat usir bunda. Anak itu lucu rupanya kalau lagi jatuh cinta. Hehehe.


Rafael memandang baju yang Ara pilihkan untuknya dengan senyuman secerah mentari.


Bibirnya tersenyum sangat lebar. Hatinya juga berdegup kencang. Tak dipungkiri, Ara yang memilihkan baju itu sendiri untuknya, itu membuat Rafael sangat bahagia. Sepertinya memang dia benar - benar jatuh cinta dengan Ara.


Tidak buruk juga seleranya gadis itu. Aku akan memakainya untuk bekerja besok, sepertinya aku harus menyuruh mbok Yem mencucinya sekarang, agar besok bisa dipakai.


*****


Di tempat lain.


" Ah sial aku gagal menemui Ara!! Lelaki itu ternyata sangat melindungi Ara."


Frans sangat marah dan kesal karena tidak berhasil menemui Ara.


" Sedikit lagi aku pasti bisa bertemu dengannya kalau saja si pria itu tidak datang terlalu cepat. Ra aku rindu dengan mu, secepatnya aku pasti akan menemui mu, kali ini aku harus berhasil, aku pasti bisa bertemu dengan mu, dan membawamu pergi."


Frans belum menyerah, ia masih mengusahakan segala cara agar bisa bertemu dengan Ara.


***


Di rumah Rafael.


" Ehm, ganteng banget sih anak bunda, kemeja sama dasi baru ya El?" goda bunda.


" Iya, tuh bunda sudah tau, pasti mau ngeledek ya?"


" Hehehe, iya nggak lah."


" Ara dimana bun? nggak ikut sarapan bareng?"


" Ara lagi bantuin simbok masak, kan nanti abah sama ustad Agus mau kesini."


" Kok kesini lagi sih bun?"


" Ya mungkin penyembuhan Ara belum tuntas El."


" Aku nggak bisa bantu ya bun, soalnya nanti aku ada meeting."


" Iya nggak papa El."


" Bunda." Panggil Ara.


Ara mendatangi bunda dengan membawa sepiring kecil makanan untuk bunda Raina cicipi.


" Iya sayang. Ada apa?"


" Bunda cicipi ini deh, ada yang kurang nggak?"


" Coba sini. Emmm sudah enak, apa pun yang kamu masak pasti enak."


" Ehm apaan tuh?" tanya Rafael kepo.


Ara langsung menatap ke arah Rafael.


Eh aku nggak salah liat kan? itu kemeja sama dasi yang aku pilihkan beneran di pakai pak El?


Ternyata aku nggak salah pilih, pak El tambah ganteng pakai kemeja itu. Aku kira karena yang memilih aku, dia nggak mau pakai.


" Mau tau aja, apa mau tau banget pak?" goda Ara.


" Berisik, aku mau itu, cepat bungkus sekarang.'' Perintah Rafael.


" Kamu mau bawa bekal El? tumben. Ya udah Ra tolong buatkan bekal buat El ya?"


" Iya bunda tunggu sebentar ya, Ara siapkan dulu."


" Jangan lama - lama." Imbuh Rafael.


" Kamu nanti pulangnya jam berapa El?" tanya bunda Raina.


" Belum tau bun, oh ya bun nanti tolong di awasi si Agus itu jangan biarkan dia dekat - dekat dengan Ara."


" Lah, kenapa begitu?"


" Ya kalau Ara dekat dengan Agus, berarti Ara nggak bisa jadi menantu bunda loh, katanya bunda pengen Ara jadi menantunya bunda?"


" Oh iya juga ya, ya deh nanti bunda awasi buat kamu."


" Awasi terus ya bun, jangan biarkan mereka ngobrol hanya berdua saja."


Kalau saja nggak ada meeting penting, pasti aku pilih libur ngantor buat awasi tuh Agus agar nggak godain Ara, yah semoga saja deh bunda beneran mau bantu awasi Agus.

__ADS_1


" Bunda nih bekal nya sudah siap." Ara memberikan kotak makan segi empat yang terdiri dari tiga susun itu.


" Berikan ke El dong sayang, kan yang mau bawa bekal dia."


" Em nih pak!"


" Ya udah bun, aku berangkat ya, assalamualaikum."


" Waalaikumsalam nak, hati - hati bawa mobilnya, dan jangan telat makan ya?"


" Iya bunda."


Rafael berjalan keluar meninggalkan bunda Raina dan Ara.


" Huh dasar bos pelit, bilang terimakasih kek atau apa. Langsung pergi gitu aja." Gerutu Ara yang di dengar bunda Raina. Bunda Raina tersenyum mendengar Ara yang menggerutu.


" Ya begitulah anak bunda Ra, tapi sebenarnya dia baik loh."


" Tapi kok beda jauh ya sama bunda sifatnya?"


" Hahaha, bunda sendiri juga heran Ra."


" Bisa gitu ya bun?"


" Hahaha nyatanya bisa kan, hahaha, oh iya Ra apa sudah beres semuanya? ada yang bisa bunda bantu nggak?"


" Sudah beres semuanya kok bun. Ara mandi dulu ya bun?"


" Iya sayang."


***


Abah Ismail dan ustad Agus pun sudah datang.


Seperti biasa setelah mengobrol ringan, lanjut dengan pengobatan Ara, masih dengan metode ruqyah yang ternyata itu bisa menyembuhkan Ara.


Seperti ruqyah sebelumnya, Ara merasakan sakit yang luar biasa, namun kali ini Ara tidak muntah darah. Selesai di ruqyah Ara merasa badan Ara sangat nyaman, seperti ada sesuatu yang lepas dari tubuh Ara. Sekilas Ara melihat ada bayangan yang lepas dari tubuh Ara, itu membuat Ara bisa bernafas lega, seolah ada tali yang lepas, tali yang selama ini mengikat dada nya.


" Bagaimana keadaan mu sekarang nak?" tanya abah Ismail.


" Sudah lebih baik bah, abah, ustad terimakasih."


" Sama - sama nak Ara, walaupun sudah ada lepas, tapi ingat untuk selalu meruqyah dirimu sendiri ya, dan teruskan minum ketan hitamnya sampai minggu depan."


" Baik bah."


" Karena urusan kami sudah selesai, kami pamit ya buk, terimakasih untuk jamuan nya."


" Saya yang harusnya berterimakasih bah, karena abah bersedia mengobati Ara."


" Itu sudah jadi kewajiban kita untuk saling menolong buk."


" Oh ya Ra, kalau ada waktu main lah ke pesantren ya." Kata ustad Agus kepada Ara.


" Insyaallah ustad, kapan - kapan ya." Jawab Ara.


" Iya ustad Agus, kapan ada waktu saya akan mengajak Ara main ke pesantren." Imbuh bunda Raina.


" Baik lah buk, kita pamit, assalamualaikum."


" Waalaikumsalam." Jawab Ara dan bunda Raina serentak.


" Apa benar nak kamu sudah baikan?" tanya bunda Raina.


" Sudah bunda, Ara sudah jauh lebih baik."


" Syukurlah kalau begitu."


" Ya udah bunda istirahat gih, Ara mau bantu mbok Yem beres - beres dulu."


" Iya sayang, kamu kalau udah selesai istirahat juga, pasti capek ya sibuk dari pagi. Bunda duluan ya."


" Iya bunda."


Ara membantu mbok Yem beres - beres hingga selesai.


" Terimakasih ya nduk cah ayu, sudah bantu - bantu simbok."


" Lah ini kan juga kerjaan Ara mbok."


" Tapi tugas kamu harusnya cuma menemani buk Raina."


" Ara mah apa aja mau mbok, apa yang bisa Ara kerjain juga pasti Ara kerjain. Oh iya mbok, ada yang jual rujak nggak ya, kayak nya seger nih panas - panas gini makan rujak."


" Ada nduk, di depan gang sebelah rumah ini, nggak jauh dari sini. Kalau mau biar simbok yang belikan ya?"


" Simbok istirahat saja, Ara bisa beli sendiri kok, kan nggak jauh, sambil jalan - jalan juga mbok, biar nggak jenuh."


" Simbok temenin ya nduk?"


" Nggak usah, simbok pasti capek, simbok istirahat saja ya, Ara cuma sebentar kok."


" Ya sudah kalau begitu, hati - hati ya nduk."


" Iya mbok, nanti kalau bunda tanya bilang Ara beli rujak sebentar ya mbok."


" Iya nduk."


***


Diluar rumah Rafael


Dari jarak yang agak jauh Frans masih mengintai Rumah Rafael.


Dia belum menyerah agar bisa menemui Ara.


Setiap ada yang keluar dari pintu gerbang Frans selalu berharap bahwa itu Ara.


Dan benar saja, kali ini memang Ara keluar sendiri, bahkan jalan kaki.


" Itu seperti Ara? yah benar itu memang Ara, Akhirnya Ra, aku bisa bertemu dengan mu."


Frans lalu melajukan mobil nya untuk mengejar Ara.


***


Ara keluar rumah, dan melewati pos satpam.


Pak Joko sedang dikamar mandi, jadi pak Joko tidak mengetahui bahwa Ara keluar rumah.


Saat pak Joko kembali ke pos, pak joko melihat pintu gerbangnya terbuka sedikit.


Pak joko segera berlari dan menutup pintu gerbangnya, sebelum menutup pintu gerbang nya pak Joko keluar dan mengecek sambil menengok ke kanan dan ke kiri.


Saat menoleh ke kiri, pak Joko melihat perempuan yang dipaksa naik ke mobil.

__ADS_1


" Loh itu kan mobil yang selalu mengintai rumah ini. Dan perempuan tadi kok dari belakang mirip mbak Ara ya? wah gawat aku harus tanya mbok Yem nih mbak Ara dirumah atau tidak."


Dengan buru - buru pak Joko menutup pintu gerbangnya dan langsung berlari ke rumah besar untuk mencari mbok Yem.


__ADS_2