
Di tempat Frans
" Halo pakde, bagaimana tugas yang sudah aku berikan, apakah sudah beres?"
" Sudah Frans. Tapi ya harus pelan - pelan nggak bisa langsung."
" Itu yang aku mau pakde, pelan - pelan tapi pasti."
" Sayang sekali Frans anak itu cantik dan gadis baik - baik. Coba ajak dia bicara baik - baik dulu. Siapa tau hanya salah faham, pakde tau benar sifat kamu itu."
" Semua akan aku akhiri jika dia kembali kesini pakde, aku benar - benar tidak rela jika dia jadi milik pria lain."
" Ya sudah terserah kamu saja, tapi pakde cuma mau mengingatkan saja, dia bisa pergi selamanya dari mu."
Lelaki yang sedang berbicara dalam panggilan telepon bersama Frans adalah Aryo. Dia masih kerabat dekat Frans, Frans biasa memanggilnya pakde.
Aryo memiliki kemampuan supranatural, karena kemampuan yang ia miliki, ia berprofesi sebagai dukun, maka dari itu Frans meminta bantuan Aryo untuk mengerjai Ara.
Dengan dia mengerjai Ara, dia berharap Ara akan kembali ke sisinya dan meminta maaf padanya.
Padahal Ara sendiri bahkan tidak tau kalau Frans marah dan salah faham padanya hingga mengirim hal gaib yang sangat mengerikan untuk dirinya.
***
Di tempat Ara.
Ara mencari ibunya ke sana kemari.
Ara ingin mengantarkan bubur untuk sarapan ibunya, tapi saat Ara sampai di kamar ibunya, ibu Lani sudah tidak berada di kamarnya, bahkan bapak pun juga sudah tidak ada.
Ini ibuk kemana sih? oh apa ibuk sedang di depan ya? cek dulu lah, pasti ibuk lagi menyapu dihalaman.
Ara pergi ke halaman untuk menemui sang ibunda kesayangan nya.
" Nah kan benar ibuk disini, Ara cari ibuk kemana - mana, apa sudah baikan sih buk kok nggak di pake istirahat dulu."
" Ibuk sudah nggak papa Ra, sudah sehat. Malahan badan ibuk kaku kalau hanya di pakai tidur terus, lagian begini kan itung - itung olah raga ringan."
" Syukurlah kalau gitu, tapi jangan capek - capek ya buk, jangan dipaksa buat banyak beraktifitas dulu.Oh ya sarapan dulu buk, tadi Ara sudah bikinin bubur untuk ibuk."
" Makasih Ara, kebetulan ibuk juga rindu bubur buatan kamu."
" Buburnya Ara taruh di kamar ibuk tadi, apa mau Ara bawakan kesini saja?"
" Nggak usah Ra, biar ibuk makan di sana saja."
" Oh iya bapak mana buk?"
" Bapak sudah berangkat ke sawah tadi pagi - pagi sekali."
__ADS_1
" Ini kan masih pagi buk, bapak pasti belum sarapan juga ya buk."
" Belum Ra.Ya begitulah bapak mu, bikinin bekal saja Ra, nanti biar dianterin Aji ke sawah, sekalian dia berangkat sekolah."
" Iya buk, Ara bikinkan bekal dulu buat bapak, ibuk segera sarapan ya?"
" Iya Ra."
Selesai membuat bekal, Ara pun memberikan bekalnya ke Aji.
" Nih dek titip bekal buat bapak, nanti anterin ke bapak ya, kasian bapak belum sarapan."
" Iya mbak. Mbak jangan capek - capek ya, cepetan istirahat. Itu mukanya mbak masih pucat banget. Kalau badannya nggak enak buruan minum obat ya mbak, aku khawatir mbak sakit."
" Iya dek, makasih udah di ingetin."
" Tumben dek, kamu perhatian banget sama mbak Ara pasti ada maunya ya?" Kata Kia yang tiba - tiba datang.
" Apaan sih mbak, emang nggak boleh perhatian sama kakak sendiri. Namanya juga sayang."
" Sudah sana berangkat, pagi - pagi nggak usah debat." Kata Ara melerai mereka.
" Ya udah kita sekolah dulu ya mbak, Assalamualaikum." Pamit Kia sambil mencium tangan Ara bergantian dengan Aji.
" Waalaikum salam,udah pamit ibuk kan?"
" Sudah mbak," jawab Aji.
" Iya mbak." Jawab Aji dan Kia serentak.
" Tapi Kia nanti mau mampir apotik dulu beli vitamin buat mbak. Kayaknya bakal telat pulang."
" Duh makasih, adik - adik ku tercinta atas perhatiannya, cepat pulang ya, rumah sepi kalau nggak ada kalian."
" Iya mbak."
Kepergian mereka membuat suasana rumah menjadi sepi.
Walaupun sering berdebat, tapi keberadaanya mereka membuat rumah menjadi rame.
Bakalan sepi nih rumah nggak ada Kia sama Aji.
Ara bergegas akan mengambil mangkok kotor di kamar ibuk, tetapi ibuk tidak ada. Ara pun mencari ibunya di dapur, benar saja ibunya sedang mencuci piring.
" Buk biarin Ara saja yang nyuci piringnya. Ibuk istirahat saja, kan ibuk baru sembuh, ibuk harus banyak istirahat."
" Kamu yang istirahat saja Ra, ibuk perhatiin dari tadi kok wajah kamu pucat."
" Masak sih buk, Aji juga tadi bilang begitu."
__ADS_1
" Iya, pasti kamu kecapekan."
" Cuma masuk angin aja kok buk, nanti Ara mau minta tolong ibuk buat kerik in Ara."
" Ya sudah ayo ibu kerikin, ini ibuk juga sudah selesai cuci piringnya."
Setelah di kerik in, Ara istirahat di kamarnya.
Selain tubuhnya yang lemas, Ara juga merasakan kaki nya seperti kram, dan kesemutan. Tapi Ara tidak menganggapnya serius, dia mengira itu hanyalah kesemutan biasa.
Sejak pertengkaran di rumah sakit waktu itu, kok sampai sekarang mas Frans nggak nelpon atau pun kirim pesan ke Ara lagi ya?
Mas Ara kangen, Ara kangen banget, katanya mau nikahin Ara, kok sampai sekarang Ara tunggu mas nggak dateng? Apa mas nggak serius dengan Ara?
Apa mas sudah punya pengganti Ara?
Katanya nggak bisa jauh dari Ara, tapi Ara suruh kesini kok nggak dateng.
Ara kangen kamu mas, kamu bagaimana kabarnya, baik - baik saja kan?
Ara mencoba menghubungi Frans tapi tidak bisa, beberapa kali dia mencoba tapi hasilnya tetap sama.
Apa mas Frans sudah beneran lupain aku ya?
Dari apa yang telah kita lalui bersama selama ini, Ara kira mas beneran sayang sama Ara. Tapi ternyata cinta mas cuma segini. Cinta mas berhenti cuma karena jarak yang memisahkan.
Ara kecewa sama mas, Ara harus menunggu berama lama lagi disini, kalau mas kesini Ara bakalan seneng banget, Ara nggak sabar pengen jadi istrinya mas.
Kalau mas nggak kesini berarti mas sudah tidak lagi mencintai Ara ya.
Ara tak kuasa menahan tangisnya, dia sangat berharap sang pujaan hati datang melamarnya. Tetapi Ara tidak tahu, bahwa itu hanyalah harapan yang sia - sia bagi Ara.
Dia bisa berharap seperti itu, karena selama bersama Frans, Ara merasa Frans sangat mencintainya. Itu membuatnya yakin bahwa Ara adalah salah satu kebahagiaan terpenting dalam hidup Frans. Apa lagi Frans selalu bilang tentang menjadikanya sebagai istri.
Ara pun sangat mempercayainya.
Ara sangat kecewa.
Dia selalu menanti kedatangan Frans untuk meminta restu kepada orang tuanya.
Tapi yang dinanti tidak datang, bahkan sudah tidak menghubungi untuk sekedar menanyakan kabar.
Ara juga sangat terluka.
Apa mungkin memang kita tidak berjodoh mas.
Semoga mas sehat selalu, dan menemukan kebahagiaan yang selama ini mas selalu idamkan.
Ara sebenarnya ingin kembali ke sana, tapi untuk apa kalau sekarang saja mas sudah tidak peduli lagi dengan Ara.
__ADS_1
Mas sudah membuang Ara.