Pemuja Pembawa Petaka

Pemuja Pembawa Petaka
Kaki


__ADS_3

Sore hari, di kamar ibu Lani.


" Ada apa buk, kok mukanya gelisah begitu?" tanya pak Nariman.


" Nggak tau pak, dari kemarin perasaan ibu tuh nggak enak."


" Mungkin karena ibu habis sakit."


" Nggak pak, perasaan ibuk ini beda, ada perasaan takut juga. Semoga ini bukan firasat buruk ya pak."


" Iya buk, mudah - mudahan hanya perasaan ibuk aja yang berlebihan."


" Ibuk berharapnya juga begitu pak. Oh iya bapak mau makan sekarang apa nanti?"


" Sekarang aja juga nggak papa buk, ibuk temenin ya?"


" Iya pak."


" Panggil anak - anak juga sekalian, siapa tau mau makan bareng kita."


" Iya pak, ibu panggil mereka dulu."


Ibuk pun segera memanggil Ara, Kia dan Aji untuk makan bersama.


***


Setelah selesai makan, mereka kembali meneruskan aktifitas mereka masing - masing.


Ara yang tengah patah hati pun juga kembali masuk ke kamarnya.


" Aku harus segera cari kerja lagi nih, aku sudah kelamaan menganggur dirumah, tabunganku juga sudah menipis, aku juga harus bantu ibuk untuk bayar sekolah Kia sama Aji." Gumam Ara.


Pengen banget kembali ke pekerjaan aku dulu, tapi mungkin juga sudah mendapat pegawai baru. Apa lagi di kota itu penuh dengan kenangan ku dengan mas Frans.


Pasti nggak mudah untuk ke sana lagi.


Duh dimana ya aku harus cari info lowongan pekerjaan?


Dengan punya kesibukan baru, mungkin itu bisa membantuku melupakan rasa ku serta kenangan indah ku dengan mas Frans.


Lelah hati, lelah pikiran yang Ara rasakan, Ara membawanya tidur. Ara berharap agar besok saat hari berganti, lelah itu pun sirna, perasaannya akan membaik dan akan berganti dengan kisah dan harapan baru.


***


Ara berjalan menuju rumah Frans. Saat Ara membuka pintu, tidak ada siapa pun di sana dan rumahnya juga sangat gelap.


" Mas Frans, mas kamu dimana?" Ara memangil dan mencari keberadaan Frans.


Berulang kali, Ara memanggil namanya namun tidak ada orang yang menyahutnya.


Ara pun berjalan menuju kamar Frans. Kamar Frans pun sama gelapnya. Dengan pelan Ara berjalan masuk ke kamar Frans, perasaan takut menyelimuti Ara, ia juga takut berjalan dalam kegelapan.


Pandangan Ara terpaku dengan satu sosok yang dilihatnya.


Sosok hitam besar itu muncul lagi, dan ingin mendekati Ara. Membuat Ara semakin ketakutan.


" Tolong jangan mendekat," Ara berteriak.


Sosok itu semakin mendekat.


Ara berlari tak tentu Arah, Ara juga sudah berusaha bersembunyi tapi makhluk itu selalu bisa menemukanya.


Ara berlari secepat mungkin, tapi tetap saja sosok itu selalu bisa mengejarnya.


Bruk!!


Ara terjatuh, karena tersandung sesuatu dan Ara tidak bisa berdiri lagi, kakinya terasa sangat sakit.


Dari kejauhan Ara melihat sosok Frans berjalan mendekati dirinya.


" Mas Frans tolong Ara."Teriaknya.


Tetapi Frans hanya diam saja.


" Mas tolong Ara dari makhluk itu, makhluk itu mengajar Ara. Tolong bawa pergi Ara. Mas tolong."


Frans tertawa melihat Ara yang sudah ketakutan setengah mati.


Dan Frans justru berbalik badan dan meninggalkan Ara.


" Mas jangan tinggalin Ara!!"


" Mas Frans!!!" Teriak Ara.


Ara terbangun dari tidurnya. Setelah membuka mata, Ara mengamati sekeliling, tubuhnya keringetan, nafasnya juga tersengal.


Ah l**agi - lagi mimpi buruk. Mungkin karena aku tadi terlalu memikirkan mas Frans.


Kenapa akhir - akhir ini aku jadi sering mimpi buruk ya?


" Huh, gara - gara mimpi lari - lari membuat tenggorokan ku kering. Jam berapa sih? kayaknya masih dini hari, ibuk juga belum bangun. Duh,,


Badan ku kok makin nggak enak ya, rasanya lemes banget, kaki ku juga jadi sakit. Padahal cuma mimpi jatuh tapi kok sakitnya jadi nyata, mana sakit banget lagi." Gumamnya.


Karena haus, Ara bangun dari tidurnya dan ingin bergegas mengambil air minum.


Ara pelan - pelan menurunkan ke dua kakinya, saat kakinya menginjak lantai, BRUUK,,


Ara terjatuh.


" Aw sakit,"


Ara mencoba kembali berdiri, namun tidak bisa, kakinya sakit dan juga lemas, tidak bisa untuk menopang tubuhnya.


" Ah!! Kenapa nggak bisa? ini kenapa kaki ku sakit?" Ara bingung.

__ADS_1


Berkali - kali dia mencoba, tapi tetap tidak bisa, berkali - berkali juga dia terjatuh, hingga membuat lututnya membiru.


" Hiks, hiks ini aku kenapa, kenapa aku nggak bisa berdiri?" Ara mulai panik dan takut.


Ara bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya.


Ara menangis sambil duduk di samping ranjang karena kakinya tidak bisa untuk berdiri.


" Perasaan tadi aku nggak kenapa - napa? kenapa kakiku sakit banget, nggak bisa berdiri. Aku juga haus." Gumamnya sambil menangis.


Ara kebingungan serta ketakutan.


Karena dia mencoba berkali - kali berdiri dan terjatuh membuat lututnya cidera, kakinya menjadi semakin sakit.


Sementara kerongkongan nya sangat kering.


Aku nggak mungkin teriak panggil ibuk, nanti ibuk pasti panik, dia juga baru sembuh.


Aku telpon Kia aja kali aja dia sudah bangun.


Ara menelpon Kia, tapi ponsel Kia tidak aktif, lalu Ara menelpon Aji.


" Halo mbak ada apa?"


" Dek sini ke kamar mbak sekarang."


" Ada apa mbak. Mbak nggak kenapa - kenapa kan?" Suara Aji panik.


" Kesini cepetan ya dek."


Semenjak mimpi buruk tentang Ara, membuat perasaan Aji menjadi tidak tenang, dia selalu khawatir dengan Ara.


Semoga nggak terjadi apa - apa dengan mu mbak.


Aji segera bergegas ke kamar Ara yang berada di samping kamarnya.


" Mbak,"


" Masuk dek."


Aji terkejut saat melihat kakaknya duduk di lantai, dengan lututnya yang sudah membiru dan berdarah.


Melihat kedatangan Aji, air mata Ara mengalir semakin deras.


Melihat kakak nya menangis, Aji segera berlari menghampiri kakaknya.


Ara memeluk Aji sambil menangis.


" Dek, kaki ku, Hiks."


" Kaki mbak kenapa? kok bisa sampai berdarah gini."


" Kaki mbak sakit, nggak bisa buat berdiri, ini gimana? mbak nggak bisa berdiri. Hiks hiks."


Kenapa mbak Ara jadi nggak bisa berdiri? padahal tadi sore masih baik - baik saja. Lututnya sampai membiru dan berdarah begini pasti ini mbak Ara berulang kali mencoba berdiri dan terjatuh, kasian mbak Ara, sudah berapa kali dia mencoba untuk berdiri?. Batin Aji.


Padahal Aji sendiri takut dan juga panik, tapi melihat kakaknya menangis begitu, membuat Aji tidak ingin menunjukkan kepanikannya. Dia berusaha menenangkan kakaknya.


Baru kali ini Aji melihat Ara menangis sampai sesegukan. Biasanya memang Ara selalu terlihat riang di hadapannya.


Apa yang selama ini aku takutkan terjadi. Apakah semua ini hanya kebetulan saja?


Tapi kenapa ini terjadi setelah aku bermimpi buruk malam itu.


Nampaknya mimpi ku, adalah sebuah pertanda. Tapi aku juga masih belum yakin, ini semua hanya dugaan ku saja.


Aji memapah Ara, membantunya untuk naik ke tempat tidur.


Melihat Aji yang tenang, ketakutan dan kepanikan yang Ara rasakan tadi perlahan memudar.


Meskipun masih sesegukan, namun perasaannya sekarang sudah lebih baik.


" Dek tolong, bisa ambilkan minum?"


" Bisa mbak, mau minum apa?"


" Air putih saja."


" Ya udah, tunggu sebentar aku ambilkan dulu ke dapur."


Aji mengambil gelas lalu mengisinya dengan air putih dan membawa nya ke kamar Ara.


Saat Aji ingin memasuki kamar Ara, dia membuka sedikit pintu kamar Ara.


Aji tercengang dengan apa yang dia lihat.


Aji melihat bayangan hitam menyeramkan itu di belakang Ara, dan kedua kaki Ara membiru.


Namun saat Aji mengedipkan matanya, bayangan itu hilang, dan kaki Ara terlihat seperti biasa, normal tidak ada yang aneh, hanya lututnya yang membiru dan luka karena terjatuh tadi.


Aku melihatnya lagi, Apakah itu hanya halusinasi ku lagi? tapi itu tadi sangat menakutkan.


Perasaan Aji sebenarnya sangat takut, apa lagi setelah apa yang dilihatnya tadi, tapi Aji tidak ingin membuat kakaknya panik dan ketakutan lagi. Aji sebisa mungkin berusaha bersikap biasa saja di depan Ara.


*****


Aji dengan telaten memijat kaki Ara. Ara semakin tenang karena ada Aji yang menemaninya. Namun sesekali air matanya masih menetes.


" Mbak udah dong nangisnya, pasti kaki mbak Ara nggak papa kok. Nanti kalau ibuk denger mbak Ara nangis, ibuk malah khawatir, mbak Ara nggak mau kan ibuk khawatir, makanya mbak Ara nelpon Aji nggak manggil ibuk kan?"


Iya benar apa kata Aji, aku nggak boleh terlihat sedih di depan ibuk, aku nggak mau ibuk khawatir, nanti kalau ibuk jadi sakit lagi gimana? nggak! aku nggak boleh cengeng, aku harus kuat, aku pasti sembuh.


" Iya dek, makasih ya, udah nemenin mbak, maaf mbak jadi ganggu tidur mu, padahal jam segini kan lagi enak - enaknya buat tidur."


" Nggak papa mbak, lagian aku seneng kok bisa bantu mbak Ara. Oh iya kenapa mbak Ara nggak ngasih tau mbak Kia?"

__ADS_1


" Tadinya mbak mau nelpon Kia dek, tapi hp mbak mu Kia nggak aktif, makanya mbak terpaksa telpon kamu."


" Lain kali kalau ada apa - apa mbak Ara jangan lupa kasih tau aku juga ya mbak."


" Iya dek, ya udah gih kamu balik tidur sana."


" Nanggung mbak, bentar lagi juga udah harus mandi mau siap - siap sekolah. Oh iya dimana lagi mbak yang sakit?"


" Badan mbak sakit semua dek, rasanya lemes banget, kaki mbak juga sakit apa lagi kalau berdiri."


" Ya sudah mbak istirahat aja, nanti kalau udah pagi dibawa ke dokter. Aku temenin disini sampai pagi mbak."


" Tapi nanti kamu ngantuk kalau disekolah dek?"


" Nggak mbak tenang aja, adik mbak ini laki - laki loh, nggak selemah itu."


" Adik mbak sudah besar rupanya, hehehe."


" Iya dong, udah bisa bantuin ibuk, bapak mbak, walaupun aku anak paling kecil, tapi aku ini laki - laki, aku harus bisa melindungi mbak Ara sama mbak Kia juga."


" Duh seneng banget nih mbak, sekarang ada yang melindungi mbak loh, jadilah laki - laki baik, bertanggung jawab, jangan suka nyakitin perempuan, jangan juga suka obral janji sana sini."


" Iya mbak, aku akan berusaha. Sampai saat ini juga aku belum punya pacar."


" Lah kenapa? kan adiknya mbak gantengnya kaya gini."


" Aku mau fokus sekolah mbak, biar ngga mengecewakan kalian. Dan kalau punya pacar juga aku takut nggak bisa bahagiain dia, uang aja masih minta sama orang tua sama mbak juga. Masak ia mau kencan tapi minta duit ibuk, kan malu."


" Hahaha, bener juga tuh. Mbak bangga sama kamu dek, biasanya laki - laki seumuran kamu pada berlomba - lomba menunjukan karisma pada lawan jenisnya untuk menarik perhatiannya. Berpacaran hingga diluar batas kewajaran, banyak juga yang akhirnya hamil diluar nikah karena mereka tidak bisa menahan hawa nafsunya. Mbak takutnya kamu akan begitu juga, tapi syukurlah adik gantengnya mbak ini bisa berfikiran begitu, tetap selalu jaga diri, menahan diri dan mengendalikan diri ya dek, Mbak harap kedua adiknya mbak bisa jaga diri dan tetap baik - baik saja, tidak membuat bapak ibuk kecewa."


" Iya mbak, aku akan ingat terus pesan mbak."


Adanya Aji yang menemani dikamar Ara itu menjadi hiburan buat Ara, perasaan Ara sekarang jauh lebih tenang. Sudah bisa menerima keadaannya yang sekarang.


Karena hari sudah pagi, Aji pamit untuk mandi dan bersiap ke sekolah.


Setelah selesai mandi, Aji ke dapur untuk sarapan, ternyata di sana sudah ada ibuk yang menyiapkan sarapan, ada bapak dan juga mbak Kia.


" Dek bangunin mbak Ara sekalian untuk sarapan." Perintah ibu Lani.


" Mbak Ara sakit buk, kaki mbak Ara nggak bisa buat berdiri." Jawab Aji.


" Kok bisa dek, kemarin saja Ara masih baik - baik saja?" tanya bu Lani dengan raut wajah yang sangat panik.


" Ya udah buk, ayo kita lihat Ara." Ajak bapak.


Ibu sama bapak Ara kelihatan sangat panik, mereka langsung bergegas menuju kamar Ara.


" Ha! seriusan dek? kemarin saja mbak Ara nggak papa kan, dia nggak ada cerita kalau kakinya sakit?" tanya Kia kaget.


" Ya nggak tau mbak, namanya juga sakit. Sebenarnya dari kemarin mbak Ara sudah kelihatan pucat dan lemas. Mbak Kia aja yang nggak memperhatikan. Makanya punya hp tuh jangan cuma buat pajangan." Jawab Aji.


" Maksud kamu apa si dek, apa hubungannya dengan hp?"


" Mbak tau nggak, dini hari tadi mbak Ara mau ngambil minum, tapi jatuh kakinya nggak bisa buat berdiri, dia mencoba berdiri berulang kali sampai lututnya membiru dan berdarah, mbak Ara mau telpon mbak Kia, tapi telpon mbak Kia mati.


Untung saja Aji langsung bangun saat mbak Ara telpon. Mbak Ara nangis, baru kali ini aku liat mbak Ara nangis sampai kaya gitu. Aku kasian melihat mbak Ara."


" Iya dek, memang hp nya mbak mati, lupa ngecas. Kasian banget mbak Ara, kenapa aku ceroboh banget sih."


Kia merasa bersalah, karena sampai nggak tau kalau kakaknya sakit dan membutuhkan dirinya, namun dirinya malah nggak ada.


Maafin Kia mbak, Kia nggak tau, selama ini juga Kia nggak memperhatikan kondisi mbak. Kia kurang perhatian sama mbak.


****


Di kamar Ara.


" Kok nggak bilang sama ibuk Ra kalau kakimu sakit?" tanya ibuk Lani.


" Ara juga nggak tau buk, kemarin juga nggak sakit, cuma kesemutan aja. Baru tadi, Ara mau ambil minum, tapi saat Ara turun dari ranjang kaki Ara sakit kalau buat berdiri."


" Ya ampun nak, berapa kali kamu mencoba berdiri, kenapa sampai luka begini? kenapa nggak panggil ibuk Ra?"


" Maaf buk, cuma Ara nggak mau ganggu istirahat ibuk."


" Kita bawa ke dokter saja ya Ra?" tanya bapak.


" Iya pak."


Ara segera mengiyakan karena Ara ingin cepat sembuh, Ara nggak mau merepotkan bapak sama ibu nya, dia juga ingin segera bekerja untuk membantu ibu nya membiayai kebutuhan sekolah kedua adiknya.


" Ya sudah bapak cari orang yang bisa mengantar dulu ya buk, ibuk siapkan sarapan buat Ara."


" Iya pak, ini juga mau ibuk ambil kan."


Melihat bapak dan ibunya keluar dari kamar Ara. Kia bergantian masuk ke kamar Ara.


Dengan air mata yang sudah berderai, Kia berlari menghampiri Ara yang tengah duduk di atas tempat tidur.


" Mbak maafin Kia, Kia nggak tau, Kia nggak perhatiin mbak Ara."


" Duh Kia jangan nangis, nanti kalau ibuk dengar, malah jadi tambah khawatir."


" Hiks, hiks, maafin Kia ya mbak, Kia janji kali ini Kia pasti akan lebih perhatian sama mbak Ara, maafin Kia, semalam mati hpnya lupa ngecas."


" Iya Kia, nggak papa mbak maafin. Mbak sudah nggak papa, jangan nangis lagi."


" Pasti kakinya sakit banget ya mbak?"


" Nggak kok, cuma sakit dikit. Ya sudah sana berangkat nanti kesiangan malah telat loh."


" Ya udah Kia sekolah dulu, nanti pulang sekolah Kia bakal temenin mbak. Ya udah Kia berangkat, assalamualaikum." Kia pamit sambil mencium tangan Ara.


" Iya, hati - hati bawa motornya. Waalaikumsalam."

__ADS_1


Setelah Kia keluar dari kamar Ara, Aji bergantian masuk untuk berpamitan dengan Ara.


__ADS_2