
Saat pak Nariman sedang sendirin di teras rumahnya, Aji menghampirinya. Aji duduk di samping pak Nariman.
Ada rasa putus asa di raut wajahnya, karena Ara tak kunjung bisa berjalan seperti sedia kala.
Aji tau pasti hal itu yang sering membuat bapaknya melamun akhir - akhir ini.
" Bapak sudah makan?"tanya Aji.
" Sudah le."
" Jangan terlalu dipikirkan pak, nanti bapak malah sakit. Aku tau bapak khawatir."
" Bapak bingung le, harus bagaimana lagi. Dukun banyak disekitar sini tapi setau bapak cuma mbah Weryo dan mbah Rijan yang terkenal banyak menyembuhkan orang, tapi tetap saja tidak mampu menangani mbak mu."
" Ini juga yang mau aku bicarakan sama bapak. Mas nya Andi temen ku, punya kenalan paranormal pak namanya mas Danang, katanya beliau juga sudah banyak menyembuhkan kasus kaya yang di alami mbak Ara. Bagaimana kalau kita coba pak?"
" Ya bapak setuju, apa pun itu untuk kesembuhan mbak mu bapak akan usahakan."
" Nanti aku akan bicara sama Andi dulu pak. Semoga mas Danang berkenan membantu."
" Iya le, terimakasih kamu ikut mengupayakan untuk kesembuhan mbak mu."
" Aku juga ingin mbak Ara bisa sembuh pak. Tidak tega melihatnya seperti ini."
" Iya le, bapak juga berharap begitu."
" Ydah aku kedalam dulu mau mau nelpon Andi. Ini udah malam juga bapak istirahat ya, jangan banyak pikiran. Bapak juga harus jaga kesehatan."
" Iya le."
Aji kemudian menelpon Andi memberitahukan bahwa bapaknya setuju.
***
Bapak masuk ke kamar untuk istirahat. Dilihatnya, rupanya sang istri tercintanya masih duduk bersandar di tempat tidur. Wajahnya
diliputi kecemasan dan kesedihan, itu sudah pasti. Bagaimana tidak, sang putri yang dicintainya belum juga mendapat kesembuhan. Tentu saja, melihat anaknya lemah tak berdaya, ibu mana yang tak ikut sakit hatinya.
Bersama bapak lah ibuk menumpahkan air matanya, segala keluh kesah berserta dengan apa yang dirasakannya.
Dan bapak pun juga selalu bisa menenangkan kegundahan sang ratu hatinya itu.
" Ibuk, kita harus kuat, untuk menguatkan Ara. Kita juga harus sabar. Kita tidak boleh sakit, kalau kita sakit siapa yang akan mengurus anak - anak kita? bapak tau apa yang ibuk rasakan, bapak pun juga merasakan hal sama walaupun bapak tidak melahirkannya." Dengan lembut pak Nariman menenangkan bu Lani.
" Iya pak, tapi ibuk tidak tega."
" Iya, bapak pun begitu. Tadi Aji bilang bahwa temanya mempunya kenalan paranormal namanya Danang, bapak sudah setuju kita akan meminta tolong padanya, semoga dia bisa membantu putri kita, ibuk selalu doakan kesembuhan untuk Ara ya."
" Itu pasti pak, ibuk selalu berdoa untuk kesembuhannya."
" Sekarang kita istirahat ya buk, jangan banyak pikiran."
" Iya pak."
Meskipun pak Nariman sendiri sedang banyak pikiran, pak Nariman selalu bisa menyembunyikan nya dan tidak membuat istrinya khawatir. Biar pun dia sendiri juga dalam kesedihan, tapi pak Nariman selalu bisa menenangkan istri tercintanya.
Memang usia pak Nariman dan ibu Lani sudah tidak muda lagi, namun mereka masih saling mencintai seperti dulu, rumah tangga yang di bina nya pun adem ayem.Ya wajar kalau sering berselisih paham, tapi itu tidak membuat keduanya bertengkar. Pak Nariman selalu bisa mengalah, ia sudah hafal betul bagaiman harus menyikapi istrinya dan menempatkan dirinya sendiri saat keadaan sedang memanas.
Itulah mengapa pernikahan mereka bertahan hingga saat ini dan masih saling mencintai.
***
Di kamar Aji.
Aji sedang menelpon Andi.
" Jadi gimana Ndi?"
" Nanti aku tanyain ke mas ku dulu ya Jik."
" Oke, secepatnya kabarin lho ya."
" Iya bro tenang saja."
Setelah selesai dengan panggilan telponnya,
seperti biasa Aji menemani Ara tidur di kamarnya.
" Dek kalau mbak nggak sembuh, kamu harus bisa bantuin ibuk sama bapak ya. Kia juga harus bantuin ibuk, jangan main terus, sekolah yang bener agar bisa membanggakan orang tua. Kalian harus sukses supaya bisa nyenengin ibuk sama bapak." Ara menasehati adiknya.
" Ngomong apa sih mbak, sebentar lagi mbak pasti sembuh, kita akan sama - sama nyenengin ibuk sama bapak." Kata Kia.
" Iya mbak. Aku sudah mencarikan orang pintar lagi untuk menyembuhkan mbak. Pasti mbak sembuh." Imbuh Aji
" Mbak juga pengen nya sembuh, mbak sudah lelah begini, jadi ngerepotin ibuk, bapak sama kalian."
" Mbak Ara, kalau misalnya Kia yang sakit kaya mbak Ara gimana?" tanya Kia.
" Ya mbak urusin lah Ya."
" Mbak merasa direpotkan atau terbebani nggak?" tanya Aji.
" Ya nggak lah, kan kalian adek nya mbak, mau gimanapun dengan senang hati mbak akan lakukan, mbak akan merawat kamu hingga kamu sembuh." Jawab Ara mantab.
" Begitupun kita mbak, kita juga nggak merasa terbebani atau pun direpotkan kok, kita malah seneng bisa berguna buat mbak." Kata Kia.
" Aku tau apa yang mbak Ara rasakan. Mungkin kalau aku di posisi mbak, aku juga akan merasakan hal yang sama, tapi kita juga sudah berulang kali bilang kan, kita ini keluarga saling membutuhkan, saling melengkapi, saling menolong, tidak ada yang namanya merepotkan apa lagi kita saudara kandung mbak, kita sedarah. Mbak jangan mikir yang aneh - aneh." Aji menasehati.
" Iya mbak, melihat mbak sakit begini Kia juga ikut sakit, Kia sedih. Mbak Ara nggak boleh banyak pikiran, nanti mbak malah tambah stres, itu bisa menghambat kesembuhan mbak. Mbak harus yakin, harus semangat pasti sembuh. Pokoknya mbak harus mikirnya yang baik - baik, aku tau mbak pasti lelah, bersabarlah sebentar lagi ya mbak. Coba aja itu sakitnya bisa dibagi, Kia mau kok di bagi setengahnya agar mbak Ara nggak kesakitan." Imbuh Kia.
" Ya jangan dong, andai bisa juga mbak nggak mau bagi ke kamu, biar mbak yang rasain sendiri, nanti kalau kita sakit bareng kasian ibuk yang ngerawat dong." Kata Ara.
" Iya juga ya, Aji nanti yang masak mbak. Pasti hancur tuh dapur hahahaha."
Kata - kata Kia mengundang gelak tawa ketiganya.
__ADS_1
Bagi Kia dan Aji bisa menghibur kakaknya adalah hal yang membahagiakan.
Mereka tidak bisa banyak membantu atau meringankan sakitnya, tapi melihat Ara tertawa karena mereka, itu merupakan kebahagiaan tersendiri untuk mereka.
***
Pagi harinya.
Aji mendapat telpon dari Andi bahwa mas Danang bisa membantunya.
" Nanti mas Danang akan kesitu sama mas Anto Jik." Kata Andi.
Anto adalah nama kakak nya Andi, yang juga merupakan teman Danang.
" Syukurlah kalau mas Danang bersedia membantu. Jam berapa kira - kira mereka datang Ndi?"
" Sebentar lagi pasti nyampe situ."
" Oke, terimakasih ya Ndi."
" Iya sama - sama bro, semoga mas Danang bisa menangani masalah mbak mu dan lekas sembuh."
" Amin. Terimakasih sekali lagi atas bantuannya."
" Sama - sama bro, aku juga senang bisa membantu."
Aji lantas memberitahukan kabar ini kepada bapak dan ibunya.
****
Mas Danang pun sampai dirumah Ara bersama mas Anto.
Pak Nariman dengan ramah menyambut kedatangan mereka, bu Lani pun sibuk menyiapkan minuman dan kue kering untuk disuguhkan.
Sambil menunggu bu Lani membawakan minuman, mas Danang bertanya - tanya tentang keadaan Ara, dan pak Nariman pun menjelaskan semuanya.
" Bagaimana nak? apa kira - kira nak Danang bisa membantu anak saya?"
" Saya juga belum bisa memastikannya pak, saya perlu melihat langsung keadaan putri bapak dulu."
" Baiklah, sebaiknya minum dulu baru nanti akan bapak antar menemui putri saya."
Setelah menikmati secangkir teh, dan berbincang - bincang, Danang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Ara, ia begitu penasaran dengan apa yang terjadi dengan Ara.
" Mari nak Danang saya antar."
" Baik pak, maaf merepotkan."
" Tidak perlu sungkan nak, anggap saja rumah sendiri."
Dikamar Ara, ada Aji dan Kia sedang berbincang dan bersenda gurau dengan Ara.
" Silahkan masuk nak, itu anak saya Kia, yang ditempat tidur itu Ara, dan yang laki - laki itu Aji."
Nampak nya kali ini kasusnya lumayan sulit. Gadis ini memang cantik sekali. Badan mungilnya benar - benar mengemaskan. Batin Danang.
Hanya dengan melihat Ara, dia sudah tau kondisinya. Dia juga tertarik karena kecantikan Ara.
Danang, meskipun berprofesi sebagai paranormal, ia terbilang masih muda, umurnya baru 30 tahun. Penampilannya kekinian, tidak terlihat seperti dukun pada umumnya.
Saat Danang masuk ke kamar, pak Nariman memberi isyarat agar Kia dan Aji untuk keluar. Supaya Danang bisa leluasa berbicara dengan Ara.
" Hay, kenalan dulu dong. Aku Danang."
" Hay, aku Ara. Kamu pasti dukun yang dibilang adik ku ya?"
" Hehehe, sepertinya begitu, tapi aku nggak suka dipanggil dukun, panggil saja aku mas."
" Hehehe, iya sih nggak kelihatan kaya dukun kok."
" Bagaimana keadaan mu sekarang? dimana yang sakit atau yang membuatmu nggak nyaman?"
" Semuanya nggak nyaman, tapi yang suka sakit sih kakinya."
" Yah sama seperti dugaan ku."
" Mas bisa nggak mencari tau siapa yang bikin aku kaya begini?"
" Nanti aku coba dulu ya Ra, soalnya ini kasusnya agak lumayan berat. Kamu mau balas dia?"
" Nggak lah mas, Ara cuma pengen tau aja."
" Tapi menurutku ini sudah keterlaluan sih Ra, ini nyawamu loh yang di incar."
" Ah biarkan saja hehehe, tapi mas bisa menolong Ara kan?"
" Aku nggak bisa janji Ra, tapi akan ku usahakan semampuku."
" Aku percayakan padamu ya mas. Hehehe."
" Dengan senang hati. Ya udah kamu istirahat dulu Ra."
" Nanti habis magrib kita ketemu lagi. Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan dulu sama bapak mu."
" Iya mas."
Danang segera keluar dan bergabung dengan pak Nariman yang sedang menemani Anto berbincang.
" Gimana bro?" tanya Anto.
" Kasusnya rada berat ini. Mungkin aku akan menginap disini beberapa waktu."
" Baiklah kalau begitu, aku pulang duluan."
" Iya, makasih sudah mengantar."
__ADS_1
" Hati - hati dijalan nak, terimakasih sudah mampir." Kata pak Nariman.
" Iya sama - sama pak, semoga Ara lekas sembuh ya."
" Amin."
Tinggal lah pak Nariman dan mas Danang yang sedang berbincang.
" Bagaimana pak, kalau saya disini untuk beberapa waktu, apakah bapak mengizinkan?"
" Boleh saja nak, biar nanti bapak izin sama pak Rt."
" Maaf ya pak merepotkan lagi."
" Tidak apa - apa nak."
" Silahkan nak Danang istirahat dulu dikamar Aji. Sudah ibu bersihkan, sejak Ara sakit, adik - adiknya tidur di kamar Ara. Jadi beberapa hari ini kamarnya kosong. Semoga nak Danang betah, maaf ya nak seadanya begini." Kata bu Lani yang baru saja datang.
" Tidak apa - apa buk. Ini sudah sangat cukup, bapak sama ibuk juga jangan sungkan, anggap saja Danang ini anak sendiri ya buk."
" Iya nak, Silahkan istirahat dulu, ibuk mau masak dulu, nanti kalau sudah matang kita makan bersama."
" Baik buk, terimakasih."
***
Di kamar Ara.
Setelah Danang keluar dari kamar Ara, Aji dan Kia berbondong - bondong masuk kembali ke kamar Ara.
Mereka penasaran dengan apa yang Danang dan Ara bicarakan.
" Mbak kepo dong hehehe."
" Apaan si Ya?"
" Tadi mbak Ara bicara apa saja dengan om ganteng?"
" Om ganteng siapa? oh maksud mu mas Danang?"
" Iya, tadi agak lama kan bicara berdua nya. Mbak sudah tau siapa yang bikin mbak kaya gini?"
" Belum Ya, tadi mas Danang cuma tanya - tanya mana yang sakit gitu."
" Oh kirain udah mulai pengobatannya."
" Belum, mungkin habis magrib nanti."
" Tapi kenapa aku merasa nggak suka ya mbak sama mas Danang." Aji ikut bicara.
" Nggak suka kenapa dek?" Tanya Ara penasaran.
" Ya nggak tau mbak, pokoknya nggak suka aja rasanya."
" Kelihatannya dia orang baik, ramah juga, ibuk sama bapak pun kelihatan menyukainya." Kata Kia.
Kenapa firasat ku mengatakan dia bukan orang baik ya, sepertinya ada yang nggak beres dengan dia. Ah semoga ini hanya firasat ku saja.
" Ya mbak, kelihatanya memang begitu." Imbuh Aji.
" Mungkin karena dia orang yang baru kamu kenal, jadi kamu masih asing dek, mungkin kalau nanti sudah kenal perasaan mu akan berubah." Kata Ara.
" Yah semoga mbak."
Sambil menunggu makan siang Aji menemani Ara ngobrol banyak hal, sementara Kia membantu bu Lani di dapur memasak dan menyiapkan makanan.
" Mbak Aji mau jujur tapi mbak jangan takut ya."
" Iya, mau cerita apa?"
" Semenjak mbak sakit, aku sering melihat penampakan."
" Oh ya? dimana?"
" Di kamar mbak."
" Serius dek?"
" Iya."
" Apa yang kamu lihat?"
" Banyak mbak, tapi yang sering mahkluk hitam besar, dia seperti menempel dengan mbak Ara."
" Hitam besar, em aku sering melihatnya di mimpi, dia yang suka mengejar aku dek, apa mungkin itu mahkluk yang sama ya?"
" Mungkin, sebelum mbak sakit juga Aji mimpi aneh mbak."
" Mimpi apa?"
" Serem deh pokoknya, intinya kaki mbak ada ularnya, ada sosok hitam besar juga dan ada laki - laki di depan mbak, yang tertawa melihat mbak tersiksa, dia juga menusuk mbak pake belati."
" Kok serem banget sih dek mimpi mu."
" Iya mbak, habis mimpi itu, aku jadi sering lihat setan. Tapi yang bikin aku penasaran, siapa laki - laki itu? apa yang membuat mbak begini?"
" Memang nggak kelihatan wajahnya?"
" Nggak mbak, aku melihatnya dari belakang, jadi wajahnya nggak kelihatan."
" Mungkin itu hanya mimpi saja dek, bunga tidur, nggak ada hubungannya dengan laki - laki itu."
" Ya siapa tau mbak. Makanya aku juga penasaran siapa yang membuat mbak begini."
" Sama dek mbak juga begitu. Meskipun dia ingin nyawa mbak, tapi mbak juga nggak ingin membalasnya, mbak cuma mau tau saja siapa dia, dan apa salah mbak ke dia, mbak akan minta maaf."
__ADS_1