
Tok tok tok
Ara mengetuk pintu kamar Rafael.
" Masuk saja bun,"
Rafael mengira itu bundanya. Karena yang sering keluar masuk kamar Rafael adalah bunda Raina.
" Ini Ara pak, bisa tolong bapak buka kan pintunya?"
" Oh, oke."
Tumben Ara kesini ada apa ya? di dalam hati Rafael bertanya - tanya.
" Ini Ara pak, mau mengantar makanan buat bapak."
" Oh, silahkan masuk dan letak kan saja dimeja."
" Baik pak, Ara juga mau berterimakasih karena bapak sudah membantu Ara, dan mau minta maaf Ara sering merepotkan."
" Em, oh iya jangan terlalu dekat dengan Agus."
" Maksud bapak ustad Agus? kenapa memang nya pak, ustad Agus orang yang baik, bukan seperti orang yang pantas dijauhi?"
" Jangan banyak nanya. Dan ini waktu kemarin kamu belanja masih ada barang yang tertinggal."
Pak Rafael memberikan dua paper bag besar kepada Ara.
" Tapi sepertinya barang yang Ara beli sudah Ara ambil semuanya pak."
" Kalau saya bilang barang kamu ketinggalan ya berarti ketinggalan."
" Baik pak, terimakasih, kalau begitu Ara pergi dulu pak, dan jangan lupa makanannya di habiskan."
" Ya, terimakasih."
Ini isinya apa ya? perasaan barang ku sudah aku ambil semuanya, dan seingat ku juga nggak ada yang pakai paper bag segede ini. Apa mungkin aku lupa? ah ya sudah lah bawa saja, dibuka di kamar saja.
Sambil berjalan keluar dari kamar pak Rafael Ara bertanya - tanya, dan isi dari paper bag itu membuatnya penasaran.
Setelah mengantar makanan, Ara kembali ke dapur dan semuanya ternyata sudah beres, sudah bersih dan rapi, mbok Yem menyuruh Ara untuk istirahat.
" Eh sudah selesai mbok?"
" Sudah nduk, sudah selesai semua, sekarang kamu istirahat saja,"
" Simbok juga ya, terimakasih mbok."
" Sama - sama nduk ayu."
***
Malam sebelum tidur, bunda Raina mengantar kan segelas seduhan ketan hitam yang sudah dibuatnya, bunda Raina mengantarkan sendiri ke kamar Ara.
Tok tok tok.
" Ra ini bunda."
" Ya bunda, masuk saja."
" Kamu lagi ngapain sayang?"
" Lagi bingung bunda."
" Loh bingung kenapa?"
" Tadi Ara di kasih pak El paper bag katanya barang Ara yang ketinggalan di mobilnya, tapi pas Ara buka isinya baju, rok, ada pasmina juga, Ara merasa tidak pernah beli ini bunda. Apa tertukar saat di kasir atau bagaimana ya bun?"
Bunda Raina tersenyum.
Rupanya anak itu sudah mulai maju satu langkah. Bagus lah, meskipun caranya memang tidak biasa.
" Ya berarti itu buat kamu, El yang kasih kan?"
" Iya bunda, tapi Ara nggak merasa beli ini loh."
" Ya mungkin itu hanya alasan dia saja, dia malu kalau mau terus terang dia memberikan itu pada mu. Kamu pakai saja ya?"
" Iya bunda. Tapi kenapa harus malu bun?"
" Ya begitu lah anak bunda Ra, makanya betah melajang hingga saat ini."
" Oh gitu ya bun. Pak El memang beda dari yang lain."
" Hahaha, nanti juga kamu lama - lama akan terbiasa dengan sikap nya itu. Oh iya, ini nanti diminum ya?"
" Apaan tuh bun?"
" Ini obat dari abah, ketan hitam yang di sangrai terus di seduh. Nanti dihabiskan ya?"
" Iya bunda, terimakasih banyak."
" Sama - sama sayang,"
" Kenapa harus bunda sendiri yang antar ke kamar Ara sih? kan bunda bisa panggil Ara nanti Ara ambil sendiri, kalau kaya gini kan jadi merepotkan bunda. Ada nya Ara disini kan buat membantu bunda, tapi Ara malah merepotkan."
" Bunda nggak merasa begitu loh, bunda malah seneng banget, akhirnya bunda punya anak perempuan."
" Tapi kan bun,"
" Sudah nggak ada tapi - tapian, kamu disini nggak kerja, tapi kamu disini jadi anaknya bunda, ingat itu baik - baik." Bunda Raina memeluk Ara.
" Sekali lagi terimakasih bunda, em ya udah yuk bun Ara antar bunda sampai kamar."
" Nggak usah sayang, kamu istirahat saja."
" Ara mau memastikan bunda beneran istirahat."
" Baiklah."
Ara mengantar bunda Raina sampai ke kamar, dan membetulkan selimut bunda Raina.
Rafael memperhatikan dari balik pintu kamar mandi di dalam kamar bunda Raina.
Mendengar bunda datang bersama Ara, reflek Rafael langsung bersembunyi.
" Selamat beristirahat ya bunda, besok Ara pengen belajar banyak hal sama bunda, salah satunya mengaji. Ara belum fasih mengaji."
" Dengan senang hati sayang, kamu juga istirahat ya, itu obatnya jangan lupa diminum dan di habiskan."
" Iya bunda, terimakasih. Ara pamit ke kamar dulu."
" Iya sayang."
Melihat kedekatan bundanya dengan Ara membuat Rafael menyunggingkan senyuman di wajah tampannya. Rafael bahagia jika melihat bundanya tersenyum bahagia.
Setelah Ara keluar dari kamar bunda Raina.
" El mau sampai kapan kamu disitu?"
" Ehem, bunda tau aku di dalam?"
" Tau lah, parfum kamu baunya sudah memenuhi ruangan kamar bunda. Ngapain kamu sembunyi?"
" Nggak, tadi aku mencari bunda, tapi bunda nggak ada di kamar, jadi sekalian numpang kamar mandi bunda, tadi kebelet bun."
" Pinter banget cari alasan. Ada apa mencari bunda?"
__ADS_1
" Bunda kenapa diem saja tadi waktu Agus bilang mau menikah dengan Ara?"
" Lah, memang kenapa El, bunda harus ngapain? harus melarang gitu? ya nggak sopan lah El, lagian kalau Ara nya mau kan nggak papa, bunda setuju. Ustad Agus baik, ganteng."
" Baikan mana sama anak bunda?"
" Em, kenapa memangnya El?"
" Nggak papa, ya udah bunda istirahat ya."
Cup! Rafael mencium kening bunda Raina.
" Kamu juga ya sayang."
Sepertinya El mulai tertarik sama Ara, bagus lah kalau begitu.
***
Sesampainya dikamar Ara membuat lingkaran yang cukup besar dari garam yang ustad Agus berikan.
Ara menaruh karpet bulu ditengahnya untuk alas tidur. Ara mengikuti Arahan dari ustad Agus.
Saat Ara sudah setengah tidur, ia benar - benar melihat ada tujuh ekor harimau yang besar di sekitarnya.
Karena sebelumnya sudah di peringatkan oleh ustad Agus, itu membuat Ara tidak terkejut atau bahkan takut.
Ara justru merasa tenang dan bisa tidur dengan nyenyak.
Pelan - pelan Rafael membuka pintu kamar Ara.
Bukan bermaksud jahat atau apa, melainkan ingin memastikan keadaan Ara.
Melihat Ara yang tidur dilantai, ia merasa kasihan.
Rafael masuk kedalam lingkaran dan membenarkan selimut Ara.
Dengan sangat hati - hati Rafael menyelimuti Ara. Ia takut Ara akan terbangun karenanya.
Pasti dingin ya tidur dibawah, bertahanlah sebentar lagi, semua ini akan berakhir. Terimakasih Ra, sejak kedatangan mu, bunda terlihat sangat bahagia. Semoga kebaikan mu dan perhatian mu ke bunda itu tulus bukan semata - mata karena bagian dari pekerjaanmu. Bunda sangat menyayangimu, padahal dia baru mengenal mu.
Ternyata lumayan juga perlindungan yang Agus berikan ke padamu.
Sepertinya dia memang benar - benar tertarik padamu, dan aku akui aku juga mulai tertarik dengan mu.
" Hey kalian, jaga dia baik - baik. Jangan sampai ada kiriman gaib yang menyentuhnya, bahkan halau saja makhluk gaib lainnya jika ada yang ingin mendekatinya."
Dengan pelan Rafael berbicara dengan para harimau itu.
Para harimau itu menjawabnya dengan sebuah anggukan.
" Bagus, jangan sampai kalian mengecewakan aku."
Lalu dengan langkah pelan dan hati - hati Rafael meninggalkan kamar Ara.
****
" Berangkat dulu ya bun."
" Iya sayang, hati - hati dijalan, jangan ngebut bawa mobilnya."
" Iya bunda, assalamualaikum."
" Waalaikumsalam."
Rafael berjalan menuju mobil yang sudah pak Joko siapkan.
Pak Joko adalah satpam di rumah bunda Raina.
" Terimakasih pak."
" Sama - sama tuan. Oh ya tuan, beberapa hari ini ada mobil yang mencurigakan yang selalu datang."
" Itu tuan, kalau tuan sudah berangkat bekerja selalu ada mobil parkir di dekat rumah ini, dan selalu pergi sebelum tuan pulang kantor, saya kira itu hanya mobil orang di dekat sini, tapi bukan, mobil nya selalu sama, dan saya amati dari cctv orang nya nggak pernah keluar dari mobil, sangat mencurigakan."
" Sejak kapan itu pak?"
" Beberapa hari ini tuan, dan itu setiap hari, seperti dia sedang memantau rumah ini."
" Baik pak, perketat pengawasan dan keamanan ya pak, jangan biarkan ada orang yang tidak di kenal masuk. Kalau ada orang yang mencurigakan datang atau orang itu belum pernah datang kesini, bapak segera hubungi saya dulu."
" Baik tuan, hati - hati dijalan tuan."
" Terimakasih pak."
Di sepanjang jalan Rafael bertanya - tanya, dan sangat penasaran dengan mobil itu. Rafael takut orang itu merupakan ancaman untuk keluarganya.
Sepertinya aku harus menyuruh Tomy untuk menyelediki mobil itu, aku takut mobil itu ancaman untuk kelurga ku, aku takut dia saingan bisnisku yang mempunyai niat jahat.
Sesampainya di kantor, Rafael menuju ruangannya dengan langkah yang cepat.
Rafael langsung meminta tomy untuk segera menemuinya.
Tomy adalah sekertaris, serta orang kepercayaan Rafael.
" Assalamualaikum pak."
" Waalaikumsalam masuk Tom."
" Ada perlu apa bapak memanggil saya?"
" Saya ingin kamu membantu saya menyelidiki sesuatu."
" Apa itu pak."
" Tolong kamu telpon pak Joko, minta nomor plat mobil mobil yang mencurigakan, dan segera selidiki siapa pemilik mobil itu."
" Baik pak,"
" Terimakasih Tom. Segera kabari saya secepatnya kalau sudah ada hasilnya."
" Baik pak."
Rafael menunggu kabar dari Tomy dengan rasa gelisah, ia begitu tidak sabar ingin mengetahui siapa pemilik mobil itu.
" Pak saya sudah mengetahui siapa pemilik mobil itu."
" Bagus, siapa dia?"
" Frans Afandi."
" Ah sial, ternyata dia mengikuti ku sampai rumah. Oke Tom terimakasih, kembalilah bekerja."
" Baik pak."
" Terimakasih."
" Sama - sama pak."
Mungkin dia mengintai rumah ku karena tau Ara ada di sana dan menunggu Ara keluar rumah. Kenapa dia sampai bertindak sejauh ini, apa tujuannya? bukakan kah dia yang membuat Ara sakit dan menginginkan kematian nya? lalu untuk apa dia bersikeras sampai seperti ini hanya untuk menemui Ara.
***
Dirumah bunda Raina.
" Ra kamu ganti baju ya, kita akan jalan - jalan hari ini."
" Mau kemana bun?"
__ADS_1
" Belanja mungkin atau makan diluar, bunda pengen ngajak kamu jalan."
" Yey, ya sudah bunda, Ara ganti baju dulu, nggak lama kok." Pamit Ara yang kegirangan.
" Iya sayang, sesenang itu ya kamu bunda ajak keluar."
Bunda senang Ra ada kamu, bunda serasa punya anak perempuan.
" Bunda,,,,"
" Iya sayang, subhanallah anak bunda cantik banget."
" Beneran bun? "
" Iya sayang, Ara tambah cantik banget kalau berhijab begitu."
" Berarti Ara harus berterimakasih sama pak El bun, kan pak El yang membelikan ini."
" Oh jadi baju ini El yang belikan?"
" iya bun, rok sama pasmina nya juga."
" Oh iya? kamu cantik sekali memakai ini."
El bunda nggak menyangka ternyata selera kamu bagus juga, baju dan pasmina yang kamu belikan untuk Ara, sangat cantik. Dan sangat anggun jika di pakai Ara, Ara juga kelihatan cantik. Sepertinya kamu memang tertarik dengan Ara.
" Ya sudah yuk bun, kita berangkat."
" Ayok sayang."
Bunda Raina mengajak Ara ke salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota S.
Bunda Raina ingin sekali membelikan Ara berbagai macam baju. Dia sangat antusias ingin memilihkan baju buat Ara, memilihkan baju perempuan yang selama ini ia inginkan.
Seperti seorang ibu yang memilihkan baju untuk putrinya, baju yang menurutnya cantik jika di kenakan sang putri.
" Bunda sudah ya, ini bajunya sudah banyak, nanti malah tidak terpakai."
" Tapi Ra, bunda masih ingin membelikan mu yang itu sama yang itu, kayaknya kamu cantik deh kalau memakai gamis yang itu."
" Bunda tapi ini sudah banyak, em gimana kalau kita gantian belikan buat pak El?"
" Bunda sudah sering beli buat dia,"
" Yah dibelikan lagi buat oleh - oleh bun."
" Oke, tapi kamu yang pilih ya,"
" Loh kok jadi Ara yang pilih?"
" Ya bunda udah bosan pilih baju buat anak laki - laki Ra, anak bunda 2 kan cowok semua. Makanya bunda seneng bisa memilihkan baju buat kamu, dari dulu bunda ingin membeli baju buat perempuan."
" Oke bunda, untuk saat ini kan ini udah banyak, gimana kalau lain kali lagi? sekarang kita beli baju buat pak El ya."
" Iya sayang."
Ara pun memilih satu kemeja dan dasi yang cocok, serta kaos lalu ada baju koko untuk Rafael.
" Kira - kira pak El suka nggak ya bun sama baju yang aku pilihkan?"
" Pasti suka Ra. Bunda lapar kita cari tempat makan dulu ya?"
" Iya bunda."
Bunda Raina mengajak Ara untuk makan serta beristirahat sejenak untuk melepas lelah.
Bunda Raina diam - diam mengambil foto Ara, dan mengirimnya ke Rafael.
" Bunda Ara ke toilet sebentar ya."
" Iya sayang."
Dari jauh Frans telah memantau Ara, melihat Ara yang pergi sendiri, itu kesempatan dia untuk menemui Ara. Dia segera bergegas mengikuti Ara.
***
Di kantor.
Rafael sedang sibuk dengan setumpuk berkas yang berada di depannya.
Rafael terkejut saat ponsel nya berbunyi, ada pesan masuk.
" Bunda? tumben bunda kirim gambar?"
Rafael terkejut saat melihat gambar yang bunda kirimkan, bibirnya tersenyum lebar.
Ara kamu cantik, tidak salah aku memilihkan itu untuk kamu.
Eh foto ini sepertinya bunda sedang diluar.
Astagfirullah aku lupa memberi tahu bunda tentang Frans.
Pasti Frans juga berada di sana, ah gawat, Frans pasti berusaha menemui Ara.
Aku harus menelpon bunda.
" Assalamualaikum bunda."
" Waalaikumsalam El, ada apa?"
" Bunda, bunda sekarang dimana?"
" Bunda lagi jalan - jalan sama Ara ke mall."
" Ara ada di dekat bunda kan?"
" Ara lagi ke toilet El."
" Ah sial!! bunda, bunda tunggu disitu El akan ke sana, bunda tolong telpon Ara, suruh Ara segera menemui bunda, jangan biarkan Ara sendiri, usahakan bunda berada di keramaian."
" Ada apa El, kenapa kamu panik seperti itu, bunda jadi takut."
" Nanti El jelaskan, sekarang bunda tolong telpon Ara, El akan jemput bunda, bunda jangan kemana - kemana. Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam."
Mendengar suara El yang panik, bunda Raina tau pasti ada yang buruk yang akan terjadi. Bunda Raina juga tiba - tiba mengkhawatirkan Ara.
Bunda Raina berkali - kali mencoba menghubungi Ara, namun Ara tidak mengangkatnya.
Bunda Raina bertambah khawatir.
Bunda Raina memutuskan untuk menyusul Ara ke toilet.
Ternyata Ara juga tidak ada di toilet.
Bunda Raina menjadi panik, ia segera menelpon Rafael.
" El Ara nggak ada, Ara nggak ada di toilet." Suara bunda bergetar, terdengar jelas bahwa ia sedang menangis.
" Bunda tenang ya, bunda sudah mencoba menelpon Ara."
" Sudah, tapi tidak di angkat. Gimana ini El?"
" Tenang bunda, ini El sebentar lagi sampai."
" Cepetan ya El, bunda takut Ara kenapa - kenapa."
__ADS_1
" Iya bunda, bunda tenang ya, nanti El akan mencari Ara."