Pemuja Pembawa Petaka

Pemuja Pembawa Petaka
Teror 2


__ADS_3

Saat Ara sudah memasuki dapur, ara merasa aneh, seperti ada sekelebat bayangan di belakang Ara.


Eh, kok seperti ada yang lewat ya?


*Ah, i*ni mungkin cuma perasaan aku saja, karena mimpi buruk tadi.


Ara melanjutkan memasaknya, sebenarnya perasaan takut sudah menyelimuti Ara. Tapi Ara memberanikan diri dan tetap berfikir positif.


Saat Ara tengah asik memasak, pundak Ara ada yang menepuk. Ara mengira itu adalah adiknya Kia. Karena biasanya Kia lah yang sering menganggu Ara saat tengah memasak.


" Apaan sih Ya, jangan ganggu deh, sabar ya? sebentar lagi selesai nih. Oh iya ambilkan garam dong, kurang garam sedikit nih."


Kemudian tempat garam pun sudah ada di meja samping tempat Ara memasak, Ara masih mengira bahwa itu Kia yang mengambilkan untuknya.


" Makasih dek, Oh iya tolong ambilkan piring sekalian."


Tapi tidak ada jawaban sama sekali, tapi Ara belum menyadarinya.


Dan Braakkkkk, suara benda terjatuh. Suara iti membuat Ara terkejut. Ara masih mengira itu Kia.


" Astaga Kia, pelan - pelan dong ngambil piringnya. Apa itu yang kamu jatuhkan?"


Masih tidak ada jawaban.


" Dek, apaan itu yang jatuh?" tanya Ara lagi dengan nada yang sedikit kesal karena dari tadi tidak ada jawaban.


Ara mematikan kompornya lalu ia pun menoleh kebelakang, dan ya tidak ada siapa - siapa di sana.


Ini Kia iseng banget sih, pasti mau nakut - nakutin aku, awas aja ya!


" Kia! kia!!"


Ara berteriak memanggil Kia. Dia masih mengira bahwa tadi Kia lah yang berada di sana.


" Apaan sih mbak, nggak usah teriak - teriak, berisik tau."


" Tadi kamu kan yang ngerjain mbak, kamu mau nakut - nakutin mbak ya?"


" Mbak jangan ngigau deh, orang dari tadi Kia di kamar ibuk."


" Bohong."


" Tanya aja sama bapak sama ibuk, Aji juga di sana, Ada apaan sih mbak, mbak aneh banget?"


" Nggak ada apa - apa, ya udah bantuin siapin piringnya."


" Nanti, Kia mau ke kamar mandi dulu."

__ADS_1


Ara pun bergegas ke kamar ibunya.


" Buk, tadi Kia ke dapur nggak?"


" Nggak Ra, Kia dari tadi disini tiduran di pangkuan ibuk, kan kamu yang di dapur Ra, masak nggak tau kalau Kia ke dapur."


Jawaban dari ibunya membuatnya semakin merasa takut.


Ini memang kebetulan, atau memang dirumah ini ada yang aneh, selama tinggal disini baru kali ini aku mengalami hal aneh begini. Batin Ara.


" Oh, ya udah."


" Ada apaan sih mbak?" tanya Aji.


" Nggak, nggak ada papa."


Sepertinya mbak Ara mengalami hal yang aneh lagi. Hal aneh apa ya yang di alami mbak Ara, sampai mukanya sepanik itu. Batin Aji.


" Yakin nggak ada apa - apa?"


" Nggak. Ya udah yuk bantuin mbak nyiapin piring, nasi goreng nya udah mateng."


" Kan ada mbak Kia?"


" Mbak Kia lagi di kamar mandi, kelamaan nungguin dia."


Kalau tadi bukan Kia bukan Aji juga, berarti tadi siapa? yang nepuk pundak, yang ambilin garam. Duh kok jadi horor gini sih rumah ku.


" Mbak, kok nasi gorengnya cuma di aduk - aduk sih, nggak di makan?" tanya Kia yang bingung melihat kakak nya melamun dan tidak melahap nasi di depannya.


" Kamu kenapa Ra? kamu sakit?" tanya ibuk Lani khawatir.


" Nggak papa kok buk, mungkin karena tadi Ara tidurnya kelamaan jadi badan Ara malah lemes."


Ara tidak menceritakan kejadian yang di alaminya, Ara takut ibunya khawatir, karena ibunya baru sembuh, dan juga tidak ingin membuat semua orang dirumah jadi takut.


" Ya sudah habis makan nanti kamu minum vitamin terus istirahat, pasti itu juga karena kamu kecapean." Kata bapak mengingatkan Ara.


" Iya pak. Oh iya nanti kita tidur bareng aja yuk Ya, sama kamu juga dek."


" Mbak, kan kita udah besar udah punya kamar sendiri - sendiri masak tidur bareng." Jawab Aji.


" Kan lama kita nggak tidur bareng dek, mbak kangen masa - masa itu, mumpung mbak masih dirumah lho."


" Ya deh iya, tapi dikamar aku aja ya, kalau dikamar kalian males."


" Gimana Ya mau nggak?"

__ADS_1


" Aku ngikut aja apa mau nya mbak Ara." Jawab Kia.


Selain Ara merindukan kebersamaan itu, sebenarnya karena kejadian tadi, Ara masih takut. Apa lagi kalau tidur sendiri.


" Mbak, tadi mbak Ara ngalami hal aneh ya?" tanya Kia penasaran.


" Nggak kok." Elak Ara.


Ara tidak mau menceritakannya karena takut membuat adiknya takut.


" Terus tadi kenapa teriak - teriak panggil Kia, dan nuduh Kia kalau Kia nakut - nakutin mbak?"


" Mbak minta kita tidur bertiga karena mbak takut kan?" selidik Aji.


" Ayo lah mbak cerita, Kia juga memang ingin tidur sama mbak tadinya, sebelum mbak bilang mau tidur bertiga. Karena tadi Kia sama Aji juga ngalamin hal yang aneh ya dek ya." Kia bercerita."


" Iya," jawab Aji singkat.


" Hah masak sih? kapan?" tanya Ara penasaran.


" Tadi pas mbak masih tidur, mungkin sekitar mau magrib tadi." Jawab Aji.


" Kejadian apa memang nya?"


" Ada yang ngetok pintu mbak, padahal pintunya terbuka loh, kalau emang ada orang kan kenapa nggak salam aja? iya kan? terus di dapur ada suara barang jatuh, ibuk menyuruh Aji mengecek, dan nggak ada apa - apa." Jawab Kia.


" Dan itu sampai 2 kali loh mbak." Imbuh Aji.


" Nah sekarang gantian mbak yang cerita, tadi ada apa?" tanya Kia penasaran.


" Tadi waktu mbak masak, ada yang nepuk pundak mbak, mbak kirain itu Kia, kan biasanya Kia yang iseng kalau lagi masak kan? ya udah mbak kira itu Kia, mbak suruh ambil garam, dan di ambilin di taruh di samping mbak. Mbak suruh lagi ambil piring, dan ada suara barang jatuh, mbak kira Kia menjatuhkan sesuatu saat ambil piring. Mbak sampai tanya 2 kali loh barang apa yang jatuh, tapi nggak ada jawaban. Karena mbak kesal mbak matikan kompor dan mbak toleh ke belakang nggak ada siapa - siapa. Makanya mbak kira itu Kia yang sengaja nakut - nakutin."


" Wah sepertinya yang dialami mbak Ara lebih serem deh, lebih horor. Mungkin kalau Kia yang alami Kia udah heboh teriak - teriak."


" Aku juga mau konfirmasi soal jendela tadi deh mbak. Jendelanya memang Aji nggak buka, tadi pagi aku langsung berangkat sekolah karena buru - buru, terus siang pulang sekolah juga cuma masukin tas sama ganti pakaian, karena ada mbak dan aku nggak mau ganggu tidur nya mbak, aku sama mbak Kia langsung ke kamar ibuk. Kita dikamar ibuk juga sampai sore. Harusnya walaupun ada angin kencang juga nggak akan terbuka sendiri jendelanya."


" Perasaan nggak ada angin kencang juga tadi mbak." Imbuh Kia.


" Em, kok bisa ya. Kenapa hari ini banyak sekali kejadian aneh?" Tanya Ara heran.


" Kan Kia jadi takut mbak nggak bisa tidur sendiri mah kalau kaya gini."


" Ya udah yuk tidur kan sekarang udah bertiga. Dipikirkan besok lagi, sekarang saat nya istirahat udah malem." Ajak Ara untuk menenangkan adiknya serta menyembunyikan rasa takutnya.


" Iya mbak." Jawab Kia sama Aji.


Semoga besok nggak ada kejadian aneh lagi, rasanya seperti diteror. Batin Aji.

__ADS_1


__ADS_2