
Pagi - pagi sekali bu Lani bersama dengan Ara sudah sibuk dapur, membuat beberapa lauk serta kue. Aji yang sedang libur sekolah diminta Ara untuk membantunya.
Pak Nariman tidak ke sawah karena hari ini putri nya akan berangkat bekerja. Sementara para wanitanya sedang sibuk di dapur, pak Nariman menyapu dan membersihkan halaman.
" Dek ini tolong aduk dulu, aku mau bikin bumbu." Perintah Ara untuk Aji.
" Mbak Ara ini, aku masih ngantuk. Masak pagi buta sudah di bangunin." Protes Aji.
" Iya hitung - hitung belajar bantuin ibuk. Kalau mbak sudah kerja ya kira - kira begini cara nya bantuin ibuk, jadi cowok jangan males, jangan tidurnya ngebo bangunnya kesiangan. Walaupun anak cowok juga kalau serba bisa malah lebih baik."
Ibu Lani hanya tersenyum mendengar putranya diomeli kakaknya.
Ibuk pasti akan sangat merindukan kalian nak, akan merindukan saat - saat seperti ini. Ibuk sebenarnya berat banget jauh dari kalian, tapi ibuk sadar kalian juga harus meraih mimpi kalian, ibuk hanya bisa mendoakan semoga kalian bisa mewujudkan apa yang kalian impikan, semoga juga kalian sehat selalu. Batin ibuk.
Ya bukan hal yang mudah untuk melepas putrinya untuk pergi jauh darinya. Rasa kehilangan itu pasti ada, kerinduan yang akan selalu menemani hari - harinya.
Walaupun berat, ibu Lani tetap dengan ikhlas membiarkan putrinya pergi, karena dia tidak mau menjadi hambatan dalam putra dan putrinya mengejar impiannya. Ia juga ingin putrinya sukses dan bisa menggapai cita - citanya.
" Ra ibuk tinggal sebentar ya, mau bikin minum untuk bapak." Pamit ibuk.
" Iya buk, sekalian bapak bawakan roti yang Ara buat tadi, semoga bapak suka."
" Suka, semua orang dirumah mana ada yang nggak suka sama masakan buatan mu." Puji ibuk.
" Iya, betul buk. Aku pasti akan sangat merindukan masakan mu mbak." Imbuh Aji.
" Jadi cuma kangen masakannya nih, nggak kangen sama orang nya?"
" Hehehe ya kangen dua duanya sih. Eh mbak nggak telpon mbak Linda dulu nih, sudah sampai mana? nanti biar aku jemput di jalan Raya kalau dia bingung."
" Oh iya mbak lupa. Ya bentar mbak ambil ponsel mbak dulu."
Ara lalu menelpon mbak Linda untuk menanyakan keberadaan nya.
Sekalian memberitahunya bahwa akan di jemput adiknya di jalan raya.
" Dek kamu berangkat sekarang aja, mbak Linda sebentar lagi sampai. Dari pada dia menunggu kamu, kan mending kamu yang nunggu."
" Ya udah aku ganti baju sebentar."
" Jangan lama - lama."
" Iya mbak."
Ara dengan cepat menyelesaikan acara masaknya yang memang tinggal sedikit itu. Selesai memasak Ara langsung membersihkan diri.
Setelah keluar dari kamar mandi,
Ara sangat terkejut karena melihat Kia sudah di kamarnya.
" Eh Kia kapan pulang? kok nggak bilang sama mbak kalau mau pulang." Kata Ara sambil berlari dan langsung memeluk Kia.
" Kejutan buat mbak Ara."
" Mbak kangen banget sama kamu. Gimana, kamu sehat kan, kamu betah nggak di sana? kamu makan dengan baik kan?"
" Ya ampun mbak Ara, baru juga beberapa hari nggak ketemu, sudah heboh banget begitu. Kia sehat kok, Kia baik - baik aja."
" Kan mbak khawatir sama kamu, kamu masih manja banget sama ibuk, mbak jadi kepikiran pasti berat ya kamu di sana?"
" Iya mbak berat banget, tapi demi ibuk bapak, demi mbak juga demi adek, Kia pasti bisa, Kia mau jadi orang sukses agar bisa membahagiakan kalian."
" Amin, yang penting kuliah yang bener nggak neko - neko, nggak usah cari kerja sambilan, Kia fokus sekolah aja, masalah uang biar mbak yang usahain, tugas kamu kuliah yang bener."
" Iya mbak, Kia pasti ingat pesan mbak. Mbak kok nggak bilang kalau mau kerja, kalau ibuk nggak bilang pasti Kai nggak tau."
" Mbak nggak mau ganggu belajar mu."
" Kan mbak berangkatnya minggu, kalau minggu Kia bisa pulang."
Sembari melepas rindu, mereka pun mengobrol di kamar.
***
Yang ditunggu - tunggu pun tiba.
Mbak Linda disambut dengan hangat oleh keluarga Ara.
" Selamat datang di keluarga Ara, dirumah Ara yang sederhana ini, hehehe." Kata Ara sambil memeluk Linda dengan erat.
" Mari masuk nak, beginilah rumah Ara jelek."
Kata pak Nariman.
" Ah bapak bisa aja, rumah Linda aja nggak sebagus ini pak, ini bersih, rapi, bagus lagi, aku bakalan betah kalau tinggal disini." Jawab Linda.
" Ibuk bakalan seneng banget kalau nak Linda mau tinggal disini." Kata bu Lani.
" Sayangnya Linda kerja buk, kalau Linda nggak kerja pasti mau banget tinggal disini. Ibuk cantik banget, makanya anak nya cantik dan ganteng." Kata Linda.
" Kamu bisa ini bisa aja, kamu juga cantik apa lagi kalau mau jadi anak ibuk." Kata bu Lani.
" Mau banget lah buk, Linda mau jadi anak ibuk."
" Mbak ini diminum dulu ya, pasti capek ya jalan jauh." Kata Kia sambil membawa minuman.
" Terimakasih ini pasti Kia ya? kamu cantik banget sih. Sini - sini duduk di samping mbak."
" Iya, mbak Linda juga cantik banget."
" Ini aku bawa kue buat mbak, di cicipi ya mbak, ini yang buat kita khusus mbak Linda." Aji datang membawa beberapa piring kue.
" Aduh makasih banget ganteng, udah ganteng baik lagi. Sayang nya mbak nggak punya adik cewek kalau punya pasti kalian tak jodohin."
__ADS_1
" Kalau mbak saja yang jadi pacar Aji mau nggak?" tanya Aji.
" Ahhh dengan senang hati, mau banget."
Semuanya lalu tertawa dengan candaan yang Aji dan Linda buat.
" Ngobrol nya nanti lagi, yuk sarapan dulu, pasti nak Linda tadi belum sarapan kan?" tanya bapak.
" Wah pak jadi merepotkan ini jadinya."
" Nggak repot, dari pagi ibuk sama Ara sudah sibuk lho masakin buat kamu."
" Benarkah buk?" tanya Linda kepada ibu Lani.
" Ya khusus buat tamu ibuk yang cantik ini."
" Makasih banget buk, Linda seneng banget maaf ya jadi merepotkan."
" Nggak repot nak, semoga kamu suka ya."
" Masakan Ara aja enak banget apa lagi masakan ibuk, pasti juga enak banget."
" Ya udah nih piring mbak, yuk makan." Ajak Ara.
Mereka pun sarapan dengan lahap.
Selesai sarapan mereka berbincang lagi, sebelum Ara dan Linda berangkat.
" Itu mobil mbak Linda?" tanya Ara.
" Ya bukan lah Ra, itu mobilnya pak bos, hahaha."
" Sejak kapan mbak Linda bisa nyetir?"
" Sejak dulu, tapi kan mbak punya nya motor ya pakai motor."
" Kok mobilnya pak bos boleh di pinjam?"
" Boleh dong, bos kita yang sekarang tuh tajir melintir dan baik banget lagi."
" Sudah punya istri belum mbak?" Tanya Kia.
" Sayang nya sudah, hahaha." Jawab Linda.
" Kalau belum pasti mbak Kia minta di kenalin ya?" tanya Aji.
" Ya nggak juga sih, cuma tanya aja. Hehehe."Jawab Kia.
Mereka pun ngobrol sambil bercanda, tawa mereka membuat rumah pak Nariman menjadi sangat ramai.
****
Saat nya Linda pamit dan membawa Ara ikut serta.
" Sudah dong mbak."
" Coba cek lagi, kali aja ada yang kelupaan."
" Kayaknya nggak deh mbak, ya nanti kalau ada yang lupa bisa beli dijalan."
" Oke lah kalau begitu."
" Kita pamit sama bapak ibuk dulu ya mbak."
" Ya harus dong."
Sudah pasti keluarga pak Nariman sedih karena ditinggal Ara, sebaliknya Ara pun begitu, ia juga sedih meninggalkan orang - orang tercintanya. Namun demi untuk membantu keluarganya Ara harus mengesampingkan hal itu.
" Pak, buk aku pamit ya, mau bawa Ara juga, terimakasih atas jamuan nya yang sangat enak banget. Aku seneng banget di sambut dengan sangat baik di kelurga ini. Sebenarnya masih pengen berlama - lama tapi aku harus balik karena pak bos sudah menunggu."
" Iya nak Linda, bapak juga berterimakasih karena nak Linda sudah berkenan berkunjung ke gubuk bapak ini. Tolong jaga putri bapak ini di sana, kalau bandel marahin saja dan juga sering - sering main kesini ya."
" Apaan sih bapak, Ara udah gede, nggak perlu dimarahin, dibilangin juga pasti nurut, kan Ara nggak bandel. Ara pamit ya pak, buk jaga diri kalian baik - baik, jaga kesehatan juga, buat Aji ingat pesan mbak ya, sama Kia juga sering - sering pulang ya kalau libur, kuliah yang bener belajar yang bener."
" Iya mbak," Jawab Kia sama Aji serentak.
" Mbak Ara juga jaga kesehatan ya mbak di sana, kalau lagi senggang juga jangan lupa telpon Kia, kalau ada apa - apa juga kabarin Kia." Imbuh Kia.
" Mbak juga ingat pesan ku ya, jangan lupa, nanti aku akan sering nelpon mbak dan jangan lupa kabarin kalau ada apa - apa." Imbuh Aji.
" Kamu juga hati - hati ya Ra, jaga kesehatan juga, jangan telat makan ya Ra, jangan keluyuran kemana - kemana. Nak Linda ibuk titip Ara ya, dia anaknya memang agak manja, semoga nak Linda tidak keberatan dengan sikap anak ibuk ini, dan betul kata bapak sering - sering kesini ya, ibuk akan senang sekali jika nak Linda mau berkunjung kemari lagi." Kata ibu Lani.
" Iya pasti buk, dengan senang hati. Pasti aku juga akan menjaga Ara dengan baik, Ara sudah aku anggap sebagai adik ku sendiri. Kalau libur aku usahakan akan mengunjungi bapak sama ibuk lagi ya." Kata Linda.
" Kalau libur sesekali pulang ya Ra. Sering - sering juga telpon kalau lagi nggak sibuk." Kata bapak.
" Iya pak, buk, ya udah Ara berangkat ya pak, buk."
" Kami berangkat dulu ya pak buk, Assalamualaikum." Pamit Linda.
" Waalaikumsalam, kalian hati - hati dijalan."
Mereka lalu berangkat, menuju kota S.
Keluarga Ara menyaksikan Ara pergi dengan hati yang sedih.
" Mobil nya sudah nggak kelihatan, masuk yuk buk." Ajak pak Nariman.
" Iya pak."
" Sudah ibuk jangan sedih, nanti Ara malah jadi nggak betah kerja."
" Ibuk cuma khawatir pak, takut Ara nanti di sana sakit lagi."
__ADS_1
" Kan sudah ada mbak Linda buk, nanti kalau mbak Ara kenapa - napa pasti mbak Linda akan ngabarin kita." Kata Kia.
" Iya, ibuk tenang saja ya, nanti ibuk malah sakit loh kalau banyak pikiran, tenang buk masih ada kita disini." Imbuh Aji.
" Iya dek, ya udah kita masuk yuk."
" Ibuk istirahat saja, biar Kia sama Aji yang beres - beres." Kata Kia.
" Iya nak, terimakasih."
***
Sesampainya di kota S, Linda dan Ara singgah dulu ke kosan Linda untuk menaruh barang bawaan Ara.
" Ini kosan mbak Linda?"
" Iya Ra."
" Luas banget ya mbak, pasti sewanya mahal ya?"
" Nggak kok Ra, ya nggak mahal - mahal banget. Mau makan dulu nggak?"
" Nggak mbak Ara masih kenyang."
" Ya sudah aku buatin minum dulu ya."
" Duh mbak, kok Ara jadi deg - deg an gini ya?"
" Udah tenang Aja pak bos baik banget."
" Tapi Ara gugup, Ara takut mbak."
" Nih diminum dulu tehnya, biar nggak gugup lagi, biar lebih tenang."
" Terimakasih mbak."
" Iya. Aku bakal temenin kamu. Tenang saja Ra nggak usah takut, yuk berangkat pak bos pasti sudah nungguin."
" Iya mbak."
Sesampainya di cafe tempat Linda bekerja, Linda langsung membawa Ara menemui pak bosnya.
" Assalamualaikum pak."
" Waalaikumsalam, masuk Lin."
" Iya pak,"
" Mari silahkan duduk."
" Terimakasih bos, oh iya kenalin ini Ara temenku yang mau kerja disini bos."
" Ini yang mau saya bahas dengan kalian. Sebelum itu, halo Ara kenalin saya Rio bos nya Linda."
" Saya Ara pak."
" Begini Ra, saya benar - benar minta maaf, karena saya tidak jadi mempekerjakan kamu di cafe ini."
" Lah kenapa gitu sih bos, katanya suruh cari orang, kok sekarang malah nggak jadi." Kata Linda dengan kesal.
" Saya minta maaf sebelum nya, jadi begini saya mau mencari orang untuk menemani ibu saya, karena saya dan istri saya sering kerja keluar kota dan jarang pulang ke rumah, jadi ibu saya tidak punya teman dirumah, kalau misalnya Ara saya suruh menemani ibuk saya bagaimana? apa kira - kira Ara bersedia?"
" Iya pak, saya mau." Jawab Ara dengan mantab.
Entah kenapa Ara sangat mantab untuk mengambil pekerjaan ini, tanpa pikir panjang dan tanpa keraguan sedikitpun Ara langsung mengiyakan tawaran dari pak Rio.
" Benarkah apa kamu tidak mau pikir - pikir dulu? saya tidak keberatan kalau kamu mau pikir - pikir dulu." Tanya pak Rio.
" Tidak pak. Saya sudah yakin, saya bersedia menerima pekerjaan yang bapak tawarkan."
" Terimakasih Ra, kamu bersedia menemani ibu saya."
" Iya pak, sama - sama."
" Baiklah, nanti biar Linda yang akan mengantar kamu ke sana."
" Baik bos." Jawab Linda.
" Oh iya Lin, aku sudah transfer uang ke rekening mu, bonus buat kamu, sama sekalian bawa Ara untuk membeli keperluannya."
" Wah terimakasih ya bos, sering - sering ya begini, hehehe." Kata Linda.
" Makanya kerja yang bener."
" Siap bos, aku mana pernah sih bos kerja nggak benar."
" Oh iya, Ara nggak perlu di antar sekarang Lin, diantar besok pagi aja nggak papa, bawa Ara jalan - jalan dulu."
" Siap bos. Bos kamu memang yang terbaik."
" Imbalannya kamu harus memberi ide yang lebih bagus lagi untuk menaikan omset cafe."
" Siap bos, ya udah kita pamit bos Assalamualaikum."
" Iya waalaikumsalam. Hati - hati bawa mobilnya, awas jangan sampai nabrak."
" Iya bos tenang aja, perhatian banget sih bos."
" Jangan gr, aku nggak mau aja mobilnya rusak, biaya perbaikan kan mahal."
" Ih jahat banget sih bos, masa yang dikhawatirkan malah mobilnya."
" Ya sudah sana berangkat, sebelum aku berubah pikiran lagi."
__ADS_1
" Iya, iya bos."