Pemuja Pembawa Petaka

Pemuja Pembawa Petaka
Memburuk


__ADS_3

Pak Nariman pulang dengan membawa kabar tidak baik, wajah yang muram, hatinya penuh dengan kekecewaan.


" Lho bapak sudah pulang? ibuk nggak dengar mengucap salam."


" Tadi sudah di depan, mungkin ibuk terlalu fokus menonton tv, jadi nggak denger salam."


" Iya mungkin pak. Kok cepat banget pulang nya pak?"


Pak Nariman menghela nafas panjang,


sebelum menjawab pertanyaan bu Lani.


" Mbah Weryo nya nggak ada dirumah buk,"


" Mungkin cuma ke warung atau kemana gitu kali pak."


" pergi ketempat anaknya, nggak tau kapan pulangnya buk. Tadi bapak sudah tanya ke tetangga terdekatnya."


" Ya udah tunggu mbah Weryo nya pulang saja pak kalau gitu. Bapak nggak usah khawatir begitu."


Ibu Lani nggak tau apa yang sebenarnya terjadi, andai ibu Lani tau mungkin dia tidak akan setenang ini, mungkin dia akan lebih khawatir dari bapak.


Andai ibuk tau keadaan Ara saat ini buk, mungkin ibuk nggak akan bilang seperti itu.


" Apa Ara sudah tidur buk?"


" Sepertinya belum pak."


" Bapak ke kamar Ara dulu ya buk."


" Iya pak."


Pak Nariman menghampiri kamar Ara, namun saat di depan pintu, pak Nariman tidak jadi masuk. Pak Nariman hanya mengintip dibalik pintu kamar Ara yang sedikit terbuka.


Ara sedang tertawa, bersenda gurau dengan kedua adiknya. Pak Nariman menyaksikannya dengan mata yang berkaca - kaca.


Bapak akan usahakan yang terbaik Ra, agar kita terus bisa bersama - sama. Bapak masih ingin melihat tawa, menyaksikan kebahagiaan mu.


Melihat kalian rukun dan tertawa seperti ini, itu merupakan kebahagiaan yang tidak ada duanya buat bapak.


Pak Nariman tidak mau menganggu acara anak - anaknya itu. Pak Nariman memilih kembali menyusul ibu Lani yang sudah terlebih dahulu ke kamar.


Pikiran pak Nariman tidak bisa tenang sama sekali. Kepergian mbah Weryo mematahkan harapannya. Ia takut Ara tidak bisa bertahan hingga mbah Weryo kembali. Karena pak Nariman tidak tau kapan mbah Weryo akan berapa lama berada di sana.


Kali ini pak Nariman berharap mbah Weryo akan cepat kembali.


***


Walaupun kaki Ara belum ada perubahan, tapi setidaknya kondisinya sudah membaik, tidak lemas dan pucat seperti biasanya.


Serbuk yang digunakan mandi oleh Ara memang mampu menjauhkan mahkluk itu dari Ara.


Selama mahkluk itu tidak menempel pada Ara maka Ara akan baik - baik saja.


Tapi serbuk itu hanya berlaku sementara saja.


Mahkluk itu bisa kembali kapan saja dan menempel kembali pada Ara.


Sudah tiga hari berlalu, menurut kabar yang pak Nariman terima malam nanti mbah Weryo kembali pulang. Pak Nariman memutuskan besok yang akan mengunjungi mbah Weryo.


Sejak serbuk yang dari mbah Rijan habis dua hari yang lalu, keadaan Ara semakin memburuk, badannya lemas, wajah pucat, dan sering pingsan.


Ara membuat semua penghuni rumah itu khawatir karenanya. Teruma pak Nariman dan Aji yang mengetahui kondisi Ara sebenarnya.


" Pak ini bagaimana? kondisi mbak Ara semakin memburuk." Kata Aji yang tengah ngobrol berdua dengan bapaknya.


" Besok bapak akan ketempat nya mbah Weryo. Apa kita bawa mbak mu ke rumah sakit dulu ya le?"


" Sebaiknya begitu pak, biar mbak Ara juga mendapat vitamin."


" Baiklah, kita ke kamar mbak mu dulu untuk menyiapkan semuanya."


" Iya pak."


Sementara di kamar Ara sudah ada ibu Lani dan Kia, mereka sedang menemani Ara juga memijat tangan dan kaki Ara.


" Buk, yuk kita bawa ke rumah sakit, agar ara mendapat perawatan."


" Baik pak, biar ibu bantu Ara ganti baju dulu."


" Nggak usah pak, buk. Ara nggak mau ke rumah sakit." Kata Ara dengan suara yang lemah.


" Mbak tapi kondisi mbak Ara kaya gini, mbak Ara harus mendapat perawatan." Kia ikut membujuk kakaknya itu.


" Ara nggak mau buk, Ara nggak mau." Ara bersikeras nggak mau dan menolak di bawa ke rumah sakit.


" Ya sudah kalau mbak Ara nggak mau, kita panggil dokternya ke rumah saja pak." Aji memberi usul.


" Begitu juga nggak papa pak, yang penting Ara segera mendapat perawatan." Imbuh ibuk.


" Baiklah, bapak telpon dokternya dulu."


Bapak pun menelpon dokter dan menjelaskan keadaan anak nya, agar dokternya bisa mengira - ngira obat apa yang perlu dibawa.


Setelah dokternya datang langsung memeriksa Ara.


" Bagaimana kondisi anak saya dok?" tanya ibu Lani.


" Kondisi anak ibuk sangat lemah, tekanan darahnya juga rendah, ini saya infus buk dan ini juga ada obat tambah darah juga vitamin untuk diminum."


" Terimakasih buk."


" Nanti kalau infusnya sudah mau habis, bapak silahkan hubungi saya, sekalian saya mau periksa keadaan anak ibuk lagi."


" Baik buk, terimakasih."

__ADS_1


" Sama - sama pak. Saya permisi dulu."


Melihat anaknya terbaring lemah di tempat tidur, membuat ibu Lani sedih.


" Anak kita bagaimana pak, kenapa kondisinya begitu." Racau bu Lani, dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya.


" Ara akan baik - baik saja buk, tenanglah." Pak Nariman menenangkan istri sambil memeluknya.


" Ibuk tidak tega melihatnya, ingin sekali ibuk menukar posisinya."


" Begitu juga bapak buk. Tapi kita harus tenang, harus kuat, nggak boleh sedih. Biar Ara juga semangat, dan nggak sedih."


" Iya pak."


***


Pagi harinya, setelah mendapat perawatan, kondisi Ara sedikit membaik.


" Pagi mbak ku yang cantik, sarapan dulu yuk."


" Pagi juga dek, wah baunya enak banget, kamu yang masak ya?"


" Mana bisa mbak Kia masak baunya sewangi ini mbak." Sahut Aji yang tiba - tiba masuk ke kamar Ara.


" Terus aja begitu, liat aja besok kalau aku bikin cemilan jangan minta." Kata Kia bersungut-sungut.


" Emang bisa bikin cemilan?" tanya Aji mengejek.


" Sudah dek, kamu ini kalau sama mbak mu Kia kenapa debat mulu sih. Sini bantuin mbak bangun."


" Iya mbak."


" Ya udah, yuk mbak sarapan bareng." Ajak Kia.


" Sarapan buat aku mana?" Tanya Aji.


" Ambil aja sendiri." Jawab Kia ketus.


" Gitu aja marah."


" Biarin."


" Sudah lah dek, ambil sendiri sana, kasian mbak mu Kia pasti capek habis bantuin ibuk memasak." Kata Ara melerai mereka.


" Iya mbak, tungguin ya. Aku ambil bentar."


" Nggak usah ditungguin mbak, biarin dia makan sendiri." Kata Kia yang masih kesal.


" Sudah lah Ya, jangan mulai lagi nanti. Udah tau adik mu itu begitu, diemin aja." Kata Ara.


" Tapi Kia sebel."


" Iya udah, diemin aja. Sekali - kali ngalah."


" Iya mbak."


Setelah mereka sarapan, karena hari ini libur, seperti biasa mereka menemani Ara di kamarnya. Tidak ada kata bosan saat mereka bersama, ada saja hal yang mereka obrolkan dan mengundang gelak tawa ketiganya.


Menjelang magrib, seluruh penghuni rumah dibuat panik lagi, dengan kondisi Ara yang kembali memburuk.


*****


Ara kembali pingsan saat di papah Aji dari kamar mandi.


Seisi rumah pun panik dibuatnya.


" Buk tungguin Ara dulu ya, bapak mau ke rumahnya mbah Weryo dulu, semoga mbah Weryo sudah ada dirumah buk."


" Iya pak, hati - hati. Cepat pulang ya pak, semoga mendapat obat buat Ara."


" Iya buk semoga, doakan saja."


Bapak pun bergegas menuju rumah mbah Weryo.


Untunglah mbah Weryo sudah berada dirumah.


Setelah pak Nariman menemui mbah Weryo dan menjelaskan keadaan Ara sekarang.


" Ini memang berat le, aku pun tidak bisa menjanjikan kesembuhan untuk putrimu. Tapi aku akan berusaha semoga bisa menyembuhkan putrimu. Air ini campurkan di air mandi dan air minum putrimu. Semoga bisa membantu."


Mbah Weryo memberikan sebotol air putih kepada pak Nariman.


" Terimakasih mbah, kalau begitu saya pamit, karena tadi anak saya kondisinya memburuk."


" Iya le, semoga itu bisa membantu putrimu."


Tentu saja perasaan lega sudah dirasakan pak Nariman sekarang, dia berharap ini bisa membawa kesembuhan untuk putrinya.


Sesampainya dirumah, ia langsung memberikan minuman yang sudah dicampur dengan air dari mbah Weryo kepada Ara.


" Sekarang tidur ya Ra, semoga besok pagi badan mu membaik." Kata ibu Lani.


" Iya buk, ibuk sama bapak juga istirahat ya."


" Iya Nak." Jawab bapak.


Seperti biasa malam ini Ara juga masih ditemani kedua adiknya.


" Mbak Ara mana yang sakit biar Kia pijitin."


" Nggak ada Ya, tidur gih ini sudah malem, besok sekolah kan?"


" Iya mbak, nanti kalau ada apa - apa bangunin Kia ya. Tumben tuh si Aji udah ngorok duluan."


" Biarin Ya, mungkin dia lelah. Tidur yuk."

__ADS_1


" Iya mbak, selamat istirahat mbak."


" Iya kamu juga."


Saat semuanya sudah terlelap tidur, Aji malah terbangun karena mendengar suara dari berisik di sekitarnya.


Hawa dingin yang mencekam, membuatnya terbangun untuk membenarkan selimutnya.


Aji terkejut saat membuka mata, melihat ada banyak sekali makhluk halus yang mengelilingi kakaknya, berbagai bentuk dengan wajah yang menyeramkan.


Namun sosok hitam itu tidak didekat Ara lagi. Melainkan di pojok kamar Ara.


Aji semakin bingung dibuatnya. Aji takut, ingin teriak namun takut membangunkan kakaknya, gengsi juga masak cowok takut pikirnya. Ia menahan rasa takut sampai keringatnya bercucuran. Aji memejamkan mata,


kemudian dia menarik napas panjang, ia mencoba menenangkan dirinya sendiri. Saat dirinya merasa sudah cukup tenang, ia membuka mata.


Syukurlah mereka sudah pergi. Untung bukan mbak Kia yang lihat, kalau mbak Kia yang lihat bisa langsung pingsan. Kenapa makin hari makin serem aja nih kamar mbak Ara. Tuh makhluknya juga makin banyak, bentuknya aneh - aneh, seram lagi.


Aji pun kembali tidur dengan pulasannya.


***


Pagi harinya mereka beraktifitas seperti biasa, keadaan Ara juga sudah membaik.


Melihat putrinya yang sudah membaik membuat pak Nariman dan ibu Lani merasa senang, meskipun masih tetap belum bisa berjalan.


***


Beberapa hari telah berlalu, Aji dan Kia pun sudah lulus dan akan mendaftarkan ke jenjang selanjutnya.


Ara masih saja, masih terduduk di ranjangnya, karena kakinya belum ada perubahan.


Aji sangat sedih melihat kondisi kakaknya yang tak kunjung bisa berjalan.


" Hey bro, ngelamun aja dari tadi ada apa sih?" tanya Hendra teman Aji.


Mereka lagi nongkrong bareng sepulang daftar ulang dari sekolahan baru mereka. Sebelum pulang mereka menyempatkan diri untuk nongkrong dulu di warung sambil membeli minuman untuk melepas dahaga.


" Iya kamu kenapa sih Jik, muka mu itu lho kaya lagi ada masalah." Imbuh Andi.


" Aku bingung, harus kemana lagi cari cara untuk menyembuhkan kakak ku." Jawab Aji.


" Kakak mu belum sembuh juga Jik?" tanya Hendra lagi.


" Belum Ndra, makanya aku bingung banget, kasihan juga sama dia." Jawab Aji.


" Oh iya mas ku punya kenalan seperti paranormal gitu. Katanya juga bisa menyembuhkan kasus kaya kakak mu itu." Andi memberi tahu.


" Seriusan Ndi?" tanya Aji penasaran.


" Iya serius, beberapa kali dia diajak mas ku main ke rumah, namanya mas Danang, dia belum terlalu tua, mungkin seumuran dengan mas ku." Jawab Andi.


" Kalau menurutku, coba aja Jik siapa tau dia bisa menyembuhkan mbak mu." Saran Hendra.


" Em kalau aku sih iya iya saja, tapi kan semua tergantung keputusan bapak. Coba deh nanti aku bilang dulu sama bapak, dia setuju apa nggak. Nanti aku kabarin ya Ndi kalau bapak setuju." Kata Aji.


" Iya Jik. Semoga mbak mu bisa cepat sembuh ya, kasian dia, padahal dia cantik banget, aku mau banget jadi pacarnya." Kata Andi.


" Ya jelas dia yang nggak mau punya pacar kaya kamu Ndi." Hendra meledek.


" Aku juga tidak setuju kali," imbuh Aji.


Mereka ngobrol hingga siang hari.


Waduh, keasikan ngobrol sampai lupa waktu, udah siang banget, pasti mbak Ara belum makan nungguin aku. Harus buru - buru pulang nih.


" Oh ya kalian sudah mau pulang belum? aku pulang duluan ya." Pamit Aji.


" Iya pulang saja duluan, kita sebentar lagi pulangnya, masih betah disini" kata Hendra.


" Oh, ya udah aku duluan ya?"


" Yoi, jangan lupa kabarin." Kata Andi.


" Iya, iya tenang aja."


Aji melajukan sepeda motornya dengan laju yang lumayan cepat, takut kakaknya kelamaan menunggu dirinya.


Sesampainya dirumah, Aji berganti pakaian terlebih dahulu, sebelum ke kamar Ara.


Di kamar Ara sudah ada Kia yang menemaninya.


" Nih orangnya baru dateng, kemana saja sih dek? liat nih mbak Ara belum makan karena nungguin kamu." Omel Kia.


" Maaf ya mbak, tadi aku nongkrong dulu sama temen, nggak kerasa kalau sudah siang." Aji merasa bersalah karena membuat kakaknya menunggu lama.


" Nggak papa dek, lagian mbak juga belum lapar. Kia juga nungguin kamu, dia belum makan juga. Dia khawatir karena kamu nggak pulang - pulang." Kata Ara.


" Masa sih mbak?" Tanya Aji kepada Kia.


" Ya nggak lah, males banget nungguin kamu. Aku nungguin mbak Ara, mbak Ara nya malah nungguin kamu." Elak Kia.


Ara hanya tersenyum melihat Kia yang tidak mau mengakui ke khawatirannya kepada adiknya. Ara tau kalau sebenarnya Kia juga sangat menyayangi adiknya meski mereka kerap kali berdebat.


" Karena Aji sudah pulang, makan yuk, Aji sepertinya juga sudah lapar kan?" tanya Ara.


" Ya udah dek, kamu tungguin mbak Ara biar aku yang ngambil makanan untuk mu." Perintah Kia


Kia lalu pergi ke dapur dan mengambilkan nasi untuk adiknya.


" Tuh dek, mbak Kia tuh sayang banget sama kamu. Kamu sih suka banget bikin mbak Kia kesal." Kata Ara.


" Habis asik tau mbak, bikin mbak Kia kesal. Kalau belum bikin mbak Kia kesal itu rasanya ada yang kurang."


" Kamu ini, jangan gitu ah. Kasian mbak Kia."

__ADS_1


" Kadang kalau lihat dia pulang sekolah manyun tuh pengen nanya kenapa, tapi mbak Kia nya selalu ngelak, jadi ya udah deh aku bikin kesel aja sekalian. Aku juga sayang banget sama mbak Kia, sama seperti aku sayang sama mbak Ara."


" Iya mbak tau kok.


__ADS_2