Pemuja Pembawa Petaka

Pemuja Pembawa Petaka
Mengobati Ara 2


__ADS_3

Aji menghampiri Danang yang sedang ngobrol santai dengan pak Nariman.


" Mas dipanggil mbak Ara." Katanya dengan ketus.


" Ada apa?"


" Nggak tau, tanya sendiri aja ke sana."


" Aku kemar Ara dulu ya pak." Pamit Danang kepada pak Nariman.


" Iya nak."


Danang pun berjalan menuju kamar Ara. Tinggal lah Aji dan pak Nariman di ruang tamu.


" Kok nggak sopan banget sih dek sama mas Danang, bicaranya kok ketus banget." Pak Nariman menegur Aji.


" Aji nggak suka pak sama dia."


" Bapak malah ingin kamu mencontoh nak Danang. Sholatnya rajin, sama orang tua juga sopan banget."


" Nggak bapak, nggak ibuk, nggak Kia sama saja, memuji dia setinggi langit, sepertinya guna - guna yang mas itu berikan agar kalian menyukainya benar - benar manjur." Ceplos Aji.


" Hus, kamu itu kalau ngomong jangan ngawur dek, emang kamu tau dia pake guna - guna?"


" Ya nggak tau, kan aku cuma asal nebak."


" Itu fitnah namanya dek, nggak baik. Kalau kamu nggak suka, ya jangan ketus begitu bicaranya, kamu harus menghormatinya, dia lebih tua dari kamu." Nasehat pak Nariman.


" Iya pak."


***


Dikamar Ara.


Danang sudah berdiri di depan pintu kamar Ara.


" Aku masuk ya Ra?"


" Silahkan mas, maaf menganggu mas Danang."


" Nggak kok Ra, ada apa? apa ada yang sakit?"


" Nggak kok mas. Ada yang mau Ara tanyakan."


" Pasti mau tanya siapa orang dibalik sakit mu ya?"


" Hehehe, iya mas. Mas sudah tau kan?"


" Tau, tapi mungkin nggak detail."


" Ya mas kasih tau Ara saja, apa yang mas tau."


" Intinya yang mengirim sakit mu ini adalah orang yang mencintaimu. Dari yang aku simpulkan, kemungkinan dia pria yang tergila - gila padamu."


" Ha? siapa mas?"


" Mana aku tahu." Jawab Danang sambil menaik turun kan bahunya.


" Yang mencintai aku?" tanya nya bingung.


Siapa? pria? selama ini aku berhubungan dengan pria hanya dengan mas Frans.


Eh tunggu, kata bapak dukun dari kota J,,


mas Frans di kota J.

__ADS_1


Apa mungkin itu dia? apa mungkin dia tega? dan apa alasannya?


" Ra, Ara?"


" Eh iya mas."


" Malah melamun."


" Lagi mikir mas."


" Jangan di pikirkan lagi Ra, kalau memang dia sayang dia nggak akan tega nyakitin kamu."


" Ara masih mengingat - ingat mas, kira - kira siapa dan Ara pernah berbuat salah apa padanya."


" Sudah lah, jangan banyak pikiran itu bisa menghambat kesembuhan mu."


" Iya mas."


" Ya sudah, kamu istirahat ya."


" Iya mas, terimakasih."


" Iya."


Ibu Lani menyiapkan makan malam, setelah siap lalu memanggil semua nya untuk makan malam, kecuali Ara. Aji juga lebih memilih makan bersama di kamar Ara.


***


Pagi ini Aji dibuat dilema, Aji harus pergi ke sekolah, disisi lain dia berat banget meninggalkan Ara.


Semenjak kedatangan Danang, Aji memang tidak tenang meninggalkan Ara. Dia merasakan Ara akan berada dalam bahaya lagi jika membiarkan Ara bersamanya.


" Mbak aku pamit mau ke sekolah, ingat mbak jangan dekat - dekat dengan mas Danang ya. Harus jaga jarak."


" Iya dek, ya sudah gih berangkat keburu siang."


" Nggak usah lebay deh, ada Kia sama ibuk sama bapak. Sana berangkat, sekolah yang benar."


" Iya mbak."


Aji mencium tangan Ara lalu berpamitan dengan yang lain dan berangkat.


Setelah Aji keluar dari kamar Ara, Kia lalu masuk ke kamar Ara, dengan wajah yang muram."


" Duh kenapa kok wajah cantiknya itu di tekuk gitu?"


" Mbak, Kia bingung." jawabnya dengan nada manja.


" Kenapa lagi?"


" Kia mau kuliah, tapi,,"


" Tapi kenapa?"


" Kia bingung harus, ngekos atau pulang pergi. Kalau kos, berarti aku jauh dari kalian."


" Tapi kalau mau pulang pergi dari rumah jauh dek, kasian badan mu juga, belum lagi sudah capek, masih harus berkendara jarak jauh. Mbak takut kamu kenapa - kenapa dijalan."


" Tapi aku nggak bisa jauh dari kalian mbak, hiks." Tangis Kia pecah.


Selama ini Kia memang tidak pernah pisah dari keluarganya.


Apa lagi Kia anak yang manja, dan kalau memilih tinggal di kos an dia harus mandiri, pisah jauh dari orang tua.


Ara tau apa yang membuat adiknya itu bimbang. Ara pun demikian, sebenarnya ia juga tidak rela kalau Kia jauh dari dirinya, dan lepas pengawasan dari kedua orang tuanya. Tapi disisi lain, dia ingin adiknya menggapai mimpinya.

__ADS_1


" Coba nanti kamu bicarakan sama ibuk bapak Ya gimana baiknya."


" Iya deh mbak nanti aku bicarakan sama ibuk bapak."


Pembicaraan keduanya terhenti saat mas Danang datang.


" Maaf ganggu ya cantik. Aku mau mengajak Ara belajar berjalan."


" Oh silahkan mas," Kia mempersilahkan.


" Tapi Ara belum mandi mas," protes Ara.


" Nggak papa Ra, yuk aku bantu pelan - pelan."


" Iya mas, maaf jadi merepotkan."


" Ini juga merupakan tugas ku Ra, jangan sungkan."


Kia izin kebelakang untuk mencari ibunya serta membahas hal yang tadi membuatnya kebingungan.


Sementara Kia dipapah Danang, dengan telaten dan sabar Danang membantu Ara berjalan di halaman belakang. Halaman belakang rumah Ara memang cukup lebar.


" Kalau sakit nggak usah di paksa Ra, semampumu saja ya."


" Iya mas, sudah nggak terlalu sakit kok. Sudah agak mendingan."


" Ya syukurlah kalau memang sudah ada kemajuan, semoga lekas sembuh ya Ra."


" Iya mas semoga."


Tapi aku berharap sebaliknya Ra. Aku ingin lebih lama dekat dengan mu. Paras mu yang memikat, sikap manja mu yang membuatmu terlihat semakin manis. Kebaikanmu membuatmu terlihat begitu indah. Aku telah jatuh cinta padamu Ra.


Bisa menyentuhmu, dan melihatmu sedekat ini, aku ingin begini lebih lama lagi. Batin Danang.


Yah rupanya Danang sudah jatuh hati dengan Ara. Namun Ara tidak menyadarinya.


Ara menganggap Danang hanya seperti kakaknya saja.


" Sudah cukup, istirahat dulu Ra, dilanjut besok lagi."


" Sejauh ini sudah bagus, kamu benar - benar semangat latihannya. Pengen banget sembuh ya?"


" Iya mas, capek berminggu-minggu hanya duduk dan tidur hehehe."


" Sebentar lagi pasti sembuh."


" Iya. Mas bisa tolong panggilkan ibuk."


" Emang mau perlu apa sama ibuk?"


" Ara keringetan mau mandi."


" Yuk aku papah sampai kamar mandi, terus nanti aku panggilkan ibuk."


" Maaf ya mas merepotkan."


" Nggak kok Ra."


Aku malah senang Ra, bisa sedekat ini dengan mu, aku ingin lebih lama lagi seperti ini.


Bu Lani membantu Ara mandi dan menyiapkan baju gantinya.


Mandi membuat Ara lebih segar, apa lagi kini badannya sudah membaik. Kakinya juga sudah tidak sesakit dulu lagi, sudah bisa berdiri walaupun cuma sebentar.


Ara tengah menyisir rambutnya, sambil melamun. Ara masih sangat penasaran dengan apa yang di katakan Danang semalam.

__ADS_1


Siapa dia? apa mungkin mas Frans? kalau memang iya, apa alasannya. Aku disini menunggunya untuk melamar ku, tapi kenapa dia tidak datang, dan malah kiriman penyakitnya yang datang.


__ADS_2