Pemuja Pembawa Petaka

Pemuja Pembawa Petaka
Menjenguk Ara


__ADS_3

Semenjak Linda dipercaya Rio untuk mengurus cafe nya, Linda menjadi sangat sibuk.


Karena belum menjenguk Ara sejak Ara keluar dari rumah sakit, Linda menyempatkan waktu untuk menjenguk Ara.


Linda sengaja datang pagi karena ingin sarapan dengan Ara, ia rindu sarapan berdua seperti dulu saat masih tinggal di kosan.


Sebelum pergi ke rumah Ara, Linda menyempatkan untuk membeli makanan kesukaan Ara.


" Assalamualaikum," Salam Linda saat mbok Yem membukakan pintu untuk nya.


" Waalaikumsalam mbak Linda. Silahkan masuk."


" Terimakasih mbok Yem. Boleh saya izin ke dapur mbok. Saya membawakan makanan untuk Ara."


" Boleh mbak, mari ikut simbok."


Di meja makan ada bunda Raina dan Rafael yang sedang menyantap makanannya.


" Eh ada Linda, mari gabung yuk ikut kita sarapan." Ajak bunda Raina saat Linda lewat ingin ke dapur.


" Terimakasih bunda, oh iya bunda Ara sudah sarapan belum ya?"


" Belum nak,"


" Syukurlah bun, Linda mau minta izin sarapan di kamar Ara bun, nih Linda sudah membawa makanan kesukaannya."


" Silahkan sayang, Ara pasti senang ada temannya datang."


" Terimakasih bunda, kalau begitu Linda ke dapur dulu."


" Iya sayang."


Di dapur.


" Mbok ini mangkuk sama piringnya di mana ya?" Tanya Linda bingung.


" Sebentar simbok Ambilkan dulu."


" Terimakasih mbok, maaf ya pagi - pagi jadi merepotkan."


" Tidak lah mbak, simbok senang kalau bisa membantu. Mbak Linda tunggu saja di kamar nduk ayu, nanti simbok antar kan ke sana."


" Nggak usah mbok, biar Linda saja yang membawanya sendiri ke sana. Linda tidak mau merepotkan simbok, simbok silahkan mengerjakan yang lain saja."


" Mbak Linda ini udah cantik baik lagi."


" Ah simbok bisa aja memujinya. Ya udah mbok Linda ke kamar dulu ya, ah iya Linda lupa, kamar Ara dimana ya? hehehe."


" Mari simbok antar."


" Yah merepotkan simbok jadinya."


" Simbok tidak merasa begitu."


Simbok mengantarkan Linda sampai di depan pintu kamarnya. Linda sengaja tidak mengetuk pintu, dan langsung masuk untuk memberinya kejutan.


" Assalamualaikum, "


" Waaikumsalam ah mbak Linda, Ara kangen." Teriaknya. Terlihat jelas bahwa Ara sangat senang dengan kedatangannya.


Linda meletakan nampan yang ia bawa, dan langsung memeluk sahabatnya.


" Mbak juga kangen banget sama kamu Ra. Maaf ya mbak baru sempat kesini."


" Tidak papa mbak, Ara tau kok mbak Linda pasti sibuk."


" Bagaimana keadaan mu? sudah baikan?"


" Alhamdulillah sudah lebih baik mbak, tapi ya masih belum bisa jalan mbak."


" Pasti bosan ya?"


" Nggak terlalu kok mbak ada bunda sama simbok yang nanti bergantian menemani Ara."


" Syukurlah, kita sarapan yuk, mbak bawa makanan kesukaan mu loh."


" Bakso?"


" Iya, mbak beli yang besar, pasti kamu suka."


" Makasih mbak, Ara kangen banget makan bakso, Sudah lama banget Ara nggak makan bakso."


" Kita sarapan bareng ya?"


" Iya."


***


Di meja makan.


" Bun aku duluan ya?"


" Makanan mu sudah kamu habiskan El?"


" Sudah bunda."


Mendengar Linda membawakan makanan untuk Ara, Rafael menjadi penasaran. Ia menjadi ingin tau apa makanan kesukaannya Ara.


Selama ini memang Rafael tidak tahu banyak mengenai Ara.


Sebelum ia lebih dekat lagi dengan Ara, Rafael ingin mengetahui segala hal tentang Ara, salah satunya adalah makanan kesukaannya.


Rafael bergegas ke dapur dan bertemu dengan simbok.


" Ada apa den?"


" Mbok aku mau tanya, yang tadi Linda bawa apa ya?"


" Oh, yang mbak Linda bawa tadi untuk den ayu ya?"

__ADS_1


" Iya mbok."


" Bakso den."


Ara suka bakso? aku pikir tadi apa, ternyata bakso. Sungguh gadis yang sederhana. Aku semakin kagum pada mu Ra.


" Owh, "


" Kenapa den? den El mau juga, itu masih ada, tadi mbak Linda bawa banyak."


Ah jadi penasaran sama makanan kesukaan nya Ara, boleh lah nanti mencoba.


" Sisain satu ya mbok, aku makan nanti kalau pulang kerja."


" Baik den."


" Ya sudah mbok, aku pamit mau berangkat kerja dulu." Pamitnya sambil mencium tangan nya mbok Yem.


El memang sangat dekan dengan mbok Yem, Karena dari kecil Mbok Yem yang membantu mengasuh Rafael. Rafael sudah menganggap mbok Yem seperti ibunya sendiri.


" Iya den, hati - hati dijalan, dan jangan lupa makan ya?"


" Iya mbok."


Setelah berpamitan dengan bunda Raina, El langsung berangkat ke kantor.


Bunda Raina yang masih penasaran dengan apa yang El bicarakan tadi dengan mbok Yem, langsung mencari mbok Yem.


" Mbok?"


" Iya duk, ada yang bisa simbok bantu?"


" Tadi El ngapain ya? tumben banget habis sarapan langsung ke dapur."


" Tadi den El tanya apa yang Linda bawa tadi nduk."


" Memang apa yang Linda bawa mbok?"


" Bakso nduk, itu masih ada banyak, kalau mau nanti simbok angetin. Tadi den El juga pesan suruh di sisain satu."


" Tumben, oh pasti karena tadi Linda bilang itu makanan kesukaan Ara. Mbok rupanya putra kita benar - benar sudah jatuh cinta dengan Ara."


" Iya nduk, simbok juga senang, den El jatuh cinta dengan gadis yang baik."


" Semoga Ara mau ya mbok, aku sudah nggak sabar pengen mengendong cucu."


" Kita serahkan semuanya sama Allah ya nduk, mudah - mudahan mereka berjodoh."


" Amin."


***


Dikamar Ara.


" Ra mbak mau ngomong,,"


" Ngomong apa sih mbak, kok mukanya jadi serius begitu?"


Ara kemudian terdiam sebentar.


" Mbak, aku kecewa karena mbak nggak cerita dari awal sama Ara.


Tapi Ara nggak marah kok sama mbak, Ara tau mbak begitu pasti karena ingin menjaga perasaan Ara kan? mungkin kalau mbak yang ada di posisi Ara sekarang, Ara pun akan melakukan hal yang sama. Terimakasih ya mbak, mbak sudah sayang sama Ara, sudah jagain Ara, Ara beruntung banget di kelilingi orang - orang yang sayang sama Ara. Ini semua terjadi juga bukan karena mbak, mungkin begini cara Allah untuk menunjukan sama Ara mas Frans itu orang seperti apa."


" Tapi mbak merasa bersalah, kamu itu sudah mbak anggap seperti adik mbak sendiri Ra, mbak sayang sama kamu, mbak nggak mau terjadi apa - apa sama kamu. Terimakasih karena kamu nggak marah dan mau maafin mbak."


" Mbak Linda juga sudah Ara anggap sebagai keluarga Ara."


Saat tengah berbicara serius dengan Ara, ponsel Linda berdering.


Telepon dari cafe, yang mengharuskan Linda segera kembali.


" Ra maaf ya, tidak bisa menemani mu lebih lama, mbak harus segera kembali ke cafe. Tadinya mbak pengen disini menemanimu lebih lama, tapi mbak nggak bisa, maaf ya, kapan - kapan mbak kesini lagi, mbak akan meluangkan banyak waktu untuk menemani mu."


" Iya mbak Ara ngerti kok, makasih mbak Linda sudah menyempatkan waktu untuk menjenguk Ara, dan membawakan makanan kesukaan Ara."


" Ya udah mbak pergi dulu ya, lain kali mbak akan kesini membawa semua makanan kesukaan mu. Mbak pamit ya." Pamit Linda sambil memeluk Ara.


" Iya mbak hati - hati dijalan, maaf Ara nggak bisa antar sampai depan."


" Nggak papa Ara harus banyak istirahat ya, biar cepat sembuh. dah cantik Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam mbak."


Linda kemudian pamit dengan bunda Raina, dan dengan buru - buru melangkah menunju pintu.


Saat di parkiran Linda melihat Tomy yang baru saja masuk ke mobil.


Linda pun langsung menghampirinya, dan tampa permisi masuk ke dalam mobil Tommy.


" Eh kamu ngapain?" tanya tommy yang sedang kebingungan dan terkejut.


" Pak bisa saya minta tolong, tolong dong pak antar saya ke kafe dulu, saya buru - buru ini."


Nih cewek main masuk mobil aja, mana malah ngelunjak lagi. Hadeh, cewek itu memang suka seenaknya sendiri.


" Saya juga buru - buru, nih berkas nya sudah ditungguin pak El."


" Plis pak sebentar saja ya, kelamaan kalau saya harus pesan taksi. Kan nggak jauh juga pak."


Tommy melihat sepertinya memang Linda sedang terburu - buru.


" Oke, tapi ingat ya sekali ini saja. Kamu ini sudah nggak sopan main masuk mobil ngelunjak lagi."


" Ya maaf pak, mau bagaiman lagi, ngebut ya pak, saya buru - buru banget ini."


Dasar cewek aneh biasanya mah cewek bilang nya jangan ngebut - ngebut, lah ini malah minta ngebut, nggak takut apa nanti kalau kenapa - kenapa dijalan.


***

__ADS_1


Dirumah Ara.


Setiap akhir pekan memang Kia selalu pulang ke rumah, berkumpul dengan orang tua dan adik nya.


Kia pun menceritakan bahwa dia mendapat kiriman baju dari Ara, dan juga membawa pulang beberapa untuk diberikan kepada ibunya.


" Buk, kemarin Kia di kirimin baju mbak Ara banyak loh, dan ini Kia bawa beberapa untuk ibuk juga."


" Wah bajunya bagus sekali," puji bu Lani.


" Iya buk, kainnya juga bagus."


" Pasti mahal,"


" Iya buk, katanya mbak Ara di belikan banyak banget sama bosnya, dan dia bagi ke aku, bosnya baik banget ya buk."


" Ya syukurlah Ya kalau mbak mu mendapat bos yang baik. Ibuk jadi lega."


" Kia juga buk, jadi tenang kalau mbak Ara bertemu dengan orang yang baik."


" Dek coba kamu vidio call mbak mu, ibuk kangen, sudah lama ibuk nggak melihat mbak mu." Ibu Lani meminta Aji untuk melakukan panggilan vidio dengan Ara.


" Iya buk, sebentar aku telpon dulu ya buk, mudah - mudahan mbak Ara nggak lagi sibuk."


Aku juga sudah lama sih nggak vidio call an sama mbak Ara, mudah - mudahan bekas luka di wajahnya sudah memudar, agar ibuk tidak curiga.


" Halo mbak Assalamualaikum."


" Waalaikum salam dek."


" Mbak lagi sibuk nggak? ini ibuk mau bicara sama mbak Ara, katanya kangen."


" Halo nduk, gimana kabarnya?" Tanya bu Lani.


" Alhamdulillah baik buk, ibuk sama bapak sehat juga kan?"


" Sehat nduk alhamdulillah, kamu lagi ngapain?"


" Ini lagi bersih - bersih kamar buk, ibuk sudah makan?"


" Sudah, maaf ya Ra ibuk jadi menggangu mu yang lagi kerja,"


" Nggak papa kok buk,"


" Ibuk hanya mau memastikan kamu baik - baik saja, alhamdulillah anak ibuk makin cantik, dan sepertinya sekarang sudah nggak kurusan lagi ya, tuh pipinya sudah berisi."


" Hehehe iya buk."


Gimana nggak gemuk buk, tiap hari makan tidur, makan tidur.


" Syukur lah nak, ibuk senang. Oh iya giman kakinya kambuh nggak Ra sakitnya?"


" Nggak kok buk, ini sudah sembuh."


Maaf buk Ara harus bohong sama ibuk, Ara nggak mau ibuk jadi khawatir.


" Ibuk senang kalau kamu memang sudah sembuh, kapan kamu pulang Ra?"


" Belum bisa sekarang buk, nanti kalau Ara sudah bisa pulang Ara pasti pulang, uang Ara belum banyak buk, hehehe."


" Ya udah nggak papa, kamu hati - hati di sana ya Ra, jaga kesehatan. Sering - sering telpon ibuk ya, tapi ya kalau nggak pakai hp Aji atau Kia nggak bisa lihat kamu."


" Ibuk mau Ara belikan yang sama seperti punya Aji atau Kia? biar ibuk kalau kangen bisa kapan saja menelpon Ara, nggak perlu nungguin Aji atau Kia."


" Nggak usah lah nduk, ibuk nggak bisa makainya, biar nanti Aji sama Kia aja yang menelpon kamu kalau ibuk kangen ya."


" Iya buk, ibuk jaga kesehatan ya,"


" Kamu juga ya Ra, ya udah dilanjut lagi kerjanya maaf ibuk mengganggu, Assalamualaikum."


" Iya buk, Waalaikumsalam."


Ibu Lani menyerahkan ponselnya kepada Aji.


Aji langsung pamit ke kamar, dia ingin menanyakan kondisi Ara, agar ibu Lani tidak mendengarnya.


" Mbak gimana kakinya? tenang aja, aku sudah dikamar, nggak ada ibuk."


" Ya sudah lebih baik dek, mungkin sebentar lagi sudah bisa dipakai untuk latihan jalan."


" Syukurlah mbak, sepertinya juga mbak diurus dengan baik di sana, mbak juga sudah nggak sekurus dulu lagi."


" Iya dek, bunda Raina baik banget sama mbak, mbak jadi merasa bersalah karena bohong terus sama ibuk."


" Apa mbak mau bilang saja sama ibuk?"


" Nggak lah dek, mbak takut ibuk jadi kepikiran dan drop lagi, mbak takut ibuk jadi sakit lagi. Semoga mbak bisa cepat pulih, dan bisa segera bekerja."


" Amin mbak, oh iya mbak sudah nggak di ganggu lagi sama makhluk - makhluk itu kan?"


" Sudah nggak kok dek, mbak tiap hari belajar mengaji disini, dan belajar lebih dalam lagi soal agama dan sholat."


" Bagus dong mbak kalau begitu."


" Iya dek, dan disini pun pak El bisa mengobati mbak, sepertinya dia juga punya kemampuan spiritual, sesampainya disini kaki mbak kambuh, dan alhamdulillah sembuh di ruqyah pak kiai dan pak ustad, dibantu juga sama pak El."


" Akhirnya mbak ada yang bisa menolong mbak, aku lega mbak berada di tempat yang tepat, berada di sekitar orang - orang yang baik."


Pantas saja Sukma selalu bilang kalau mbak Ara berada di tempat yang tepat, ternyata ini maksudnya.


" Iya dek."


" Ya udah, mbak istirahat ya, kapan - kapan lagi aku telpon, jangan lupa kabarin kalau ada apa - apa mbak."


" Iya dek, kamu juga, jaga bapak sama ibuk ya? sekolah yang benar."


" Iya mbak, aku selalu ingat kok pesan mbak."


" Syukurlah kalau begitu."

__ADS_1


" Assalamualaikum mbak."


" Waalaikumsalam dek."


__ADS_2