Pemuja Pembawa Petaka

Pemuja Pembawa Petaka
Di bawa pergi


__ADS_3

" Mbok Yem, mbok!" pak Joko memanggil dan mencari keberadaan mbok Yem.


" Ada apa le, jangan teriak - teriak, nanti menganggu buk Raina yang sedang istirahat."


" Maaf mbok."


" Ada apa?"


" Itu, mbak Ara kemana ya mbok?"


" Oh, nduk ayu lagi keluar mau beli rujak le, ada apa mencari nduk ayu."


" Haduh gawat! ya udah mbok aku mau telpon pak El dulu."


" Ada apa to le?"


" Nanti saja ceritanya, aku mau kabarin pak El dulu."


***


Di kantor.


Setelah meeting selesai, Rafael langsung buru - buru kembali ke ruangannya, ia tidak sabar ingin segera menyantap bekal yang ia bawa.


Rapi banget yang bikin bekal, lengkap ada potongan buah nya juga. Memang gadis itu selalu membuat ku kagum.


Emm kenapa apa pun yang dimasak dia selalu enak ya, benar kata bunda. Kalau begini lebih baik setiap hari bawa bekal saja. Ini enak banget.


Rafael menikmati makanannya sambil membayangkan Ara, tanpa sadar membuatnya tersenyum.


Dari ruangan Tomy, Tomy berhasil di buat heran karena tingkah bosnya yang tidak seperti biasanya.


Tadi kan waktu meeting di restoran pak bos sudah makan, kenapa sekarang makan lagi? dan tumben - tumbennya bawa bekal, makannya sambil senyum - senyum lagi. Kesambet dimana ya pak bos, kok aku jadi takut.


Rafael tengah menikmati makanan yang Ara buat, saat tengah asik makan, ponsel nya berdering.


" Assalamualaikum tuan, tuan gawat tuan."


" Waalaikumsalam, tenang dulu pak Joko, pelan - pelan bicaranya, ada apa?"


" Itu tuan, anu, itu ahh mbak Ara."


" Ada apa dengan Ara?"


" Mbak Ara dibawa pergi sama mobil yang kemarin itu tuan."


" Ha!!!! apa? kok bisa?" Suara keras Rafael berhasil membuat Tomy terkejut.


Astaga pak bos, bikin jantungan aja, pak bos ditelpon siapa sih kenapa langsung teriak begitu?


" Saya juga tidak tau tuan, tadi saya lagi di kamar mandi terus saya balik pintu gerbangnya terbuka sedikit, dan waktu saya liat keluar mbak Ara masuk ke dalam mobil itu tuan."


" Bunda kemana?"


" Buk Raina sedang istirahat tuan, mbok Yem bilang mbak Ara keluar mau beli Rujak."


" Oke, oke ya sudah, kirim rekaman cctv sekarang ya pak?"


" Iya tuan."


Ah sial sepertinya aku kecolongan, kemana dia pergi membawa Ara? semoga saja dia nggak berbuat jahat atau melukai Ara, kalau bunda tau pasti panik banget. Aku harus segera mencari Ara. Tapi mencari kemana? oh iya Linda, aku harus ketempat linda sekarang. Coba sambil aku telpon Ara dulu.


" Tomy!"


" Iya pak,"


" Ikut saya dan, bawa laptop nya, sambil kamu cek rekaman cctv yang pak Joko kirimkan tadi, cek di mobil saja."


" Baik pak."


Pak bos kenapa ya, kok cemas banget mukanya?


Tomy segera bergegas mengikuti Rafael.


Di dalam mobil Rafael menghubungi bunda Raina, karena Rafael dari tadi menelpon Ara namun tidak di angkat.


" Assalamualaikum El, ada apa nak?"


" Bunda lagi dimana?"


" Lagi dikamar El, bunda baru bangun tidur."


" Bunda tolong cek ke kamar Ara, dia bawa ponsel nggak?"


" Memang Ara kemana?"


" Ara di bawa pergi sama mantannya bun."


" Astagfirullah kok bisa El, tadi aja Ara masih dirumah El."


" Nanti saja ceritanya bunda, ini aku lagi mau ketempat Linda, siapa tau dia punya informasi tetang lelaki itu, dan tau Ara dibawa kemana."


" Iya El, bunda sudah dikamar Ara, dan ponselnya ada di kamar El, Ara nggak bawa ponsel."


" Oke bunda, terimakasih."


" Cepat cari Ara ya El, bunda takut dia kenapa - napa, bawa Ara pulang."


" Iya bunda, aku akan berusaha secepat mungkin mencari Ara. Bunda tenang ya."


" Iya El, kamu hati - hati."


" Iya bunda, assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."


Bunda Raina cemas dan juga panik, ia juga takut laki - laki itu akan berbuat jahat sama Ara.


Kamu dimana sayang, semoga kamu baik - baik saja, maafin bunda tidak bisa menjaga kamu dengan baik.


Ya allah jaga putri ku Ara di manapun dia berada, dan juga berilah petunjuk kepada putraku dimana keberadaan Ara. Lindungilah mereka ya Allah. Amin.

__ADS_1


Tak henti - hentinya bunda Raina mendoakan mereka, agar Ara dan El baik - baik saja.


***


Di dalam mobil.


" Mas Frans mau bawa Ara kemana?"


" Kita pulang ke rumah dulu ya sayang."


Frans melajukan mobilnya dengan cepat, Frans membawa Ara kerumahnya, ke rumah yang penuh dengan kenangan indah, kenangannya dulu dengan Ara. Sepanjang perjalanan Ara hanya diam, dia senang karena rindunya terobati bisa bertemu dengan Frans, tapi disisi lain dia juga kecewa karena Frans membohonginya, soal Ara yang dibuat sakit itu malah Ara tidak terlalu mempersalahkannya.


Bunda pasti khawatir mencari Ara, nanti aku akan pinjam ponsel mas Frans untuk memberitahu bunda.


" Yap sudah sampai, masih ingat kah dengan rumah kita ini sayang?" tanya Frans, sambil membukakan pintu mobil dan mengajak Ara keluar.


Melihat rumah itu, kenangan indah yang dulu kembali berputar di ingatan Ara, Ara tak kuasa menahan Air matanya.


Frans memeluk Ara, Ara menangis dalam pelukan Frans menumpahkan segala rindu dan juga sakit yang ia rasakan.


Frans membopong Ara masuk ke rumah.


" Kenapa kamu makin kurus Ra? kamu nggak makan dengan baik?"


" Itu hanya perasaan mu saja mas."


Ara duduk di sofa, dan Frans duduk dibawah lalu kepalanya ia sandar di paha Ara.


" Aku mau membawamu pergi Ra, biar kita bisa hidup berdua tanpa ada yang menganggu."


" Kemana?"


" Ketempat yang jauh."


" Maaf mas Ara tidak bisa."


" Kenapa? apa kamu sudah tidak mencintai ku?"


" Entah lah mas, karena kamu sudah membuat ku kecewa. Kamu bohong mas. Katanya kamu ingin menikah dengan ku, sangat lama aku menunggumu, tapi kamu tidak datang."


" Maaf Ra, kali ini aku benar - benar ingin menikah dengan mu. Aku ingin menebus kesalahan ku."


" Maaf mas Ara nggak bisa."


Mendengar tolakan dari Ara, Frans langsung bangkit dari duduk nya, mencengkram, menarik lengan Ara dengan kencang hingga Ara kesakitan. Frans membawa Ara ke kamarnya, menariknya dengan paksa.


" Aw mas sakit, lepaskan!" teriak Ara.


" Kali ini jangan harap aku akan melepaskan mu, aku tidak mau kehilangan mu lagi Ra."


" Mas kamu kenapa sih?"


Ara terkejut dan juga takut melihat tingkah Frans saat marah, baru kali ini Ara melihat Frans yang seperti ini, Ara sangat takut.


Kenapa mas Frans jadi menakutkan seperti ini.


Sikap nya ini benar - benar membuatku takut.


" Aku hanya nggak ingin kehilangan mu lagi Ara, kali ini kamu harus menjadi milikku."


Ara semakin terkejut di buatnya.


Siapa wanita itu? kenapa dekat sekali dengan mas Frans.


" Ada apa?" tanya Frans kepada wanita itu.


" Papa ingin bertemu dengan mu mas, untuk menanyakan persiapan pernikahan kita sudah sejauh mana."


Apa pernikahan? jadi benar selama ini ternyata mas Frans sudah bersama perempuan lain, dan malah sekarang minta balikan padahal sebentar lagi dia akan menikahi wanita ini? kamu benar - benar keterlaluan mas. Batin Ara.


" Baiklah nanti aku akan ke sana."


" Wah, kamu bawa perempuan pulang, siapa dia mas?"


" Dia perempuan yang akan jadi milik ku."


" Owh, mainan baru mu ternyata." Kata wanita itu dengan santai. Tidak ada kecemburuan atau kemarahan dari wanita itu. Mengetahui calon suaminya membawa perempuan lain, wanita itu bersikap biasa saja.


Frans mengikat tangan dan kaki Ara di ranjang,


membuat Ara tidak bisa beranjak dari kamar itu.


" Mas apa yang kamu lakukan, lepaskan!!"


" Menurut lah, jangan memberontak, jangan membuat ku marah, atau aku akan membuat mu diam dengan paksa."


" Sakit mas, lepaskan!! apa sebenarnya yang kamu mau?"


" Aku mau kamu sayang."


" Kamu benar - benar keterlaluan mas, sebentar lagi kamu akan menikah dengan perempuan itu, lalu aku? kamu ingin aku jadi yang ke dua? jangan mimpi mas!"


Plak!! Frans menampar pipi Ara dengan keras, hinga darah segar keluar dari mulutnya, mungkin pipi dalamnya robek, Ara pun pingsan karena tamparan yang Frans lakukan.


***


Di cafe.


Rafael dan Tomy sudah sampai di cafe tempat Linda bekerja.


" Ada apa pak? tumben kesini?" Tanya Linda.


" Ada hal penting yang mau saya tanyakan, ini soal Ara."


" Ada apa dengan sahabat saya pak? bapak nggak ngapa - ngapa in dia kan?"


" Ara berhasil dibawa pergi pria itu."


Brak!! Linda langsung berdiri dan mengebrak meja.


" Apa pak? Ara di bawa pria gila itu? bapak ini bagaimana? saya sudah bilang kan pak, saya sudah mempercayakan Ara untuk bapak jaga, kenapa untuk menjaga Ara saja bapak tidak bisa? Saya benar - benar bingung, sebenarnya bapak ini kaya beneran atau pura - pura kaya? apa bapak nggak bisa sewa bodyguard untuk mengawasi Ara atau menjaga rumah bapak? tau begini saya sendiri yang akan menjaganya dan tidak aku biarkan dia kerja dirumah bapak."

__ADS_1


Bagai induk yang kehilangan anaknya, linda sangat marah dengan Rafael, sudah tak ia pedulikan lagi siapa Rafael itu, yang ia tau ia marah dan khawatir dengan keselamatan Ara.


Baru kali ini aku melihat ada orang yang berani marah - marah dengan pak bos, wanita ini benar - benar luar biasa, aku saja tidak berani, dan sebenarnya siapa Ara itu, berita hilangnya juga membuat wanita ini sampai marah seperti ini, dan pak bos sepertinya juga sangat mengkhawatirkannya. Batin Tomy


" Maaf, ini semua memang kelalaian saya." Jawab Rafael.


" Apa bapak tau pria itu segila apa pak? dia menginginkan nyawa Ara dengan segala cara, baru saja ia lolos dari santetnya dan sekarang Ara berada ditangannya, sangat mudah baginya untuk menyakiti Ara pak."


Karena begitu sayangnya Linda terhadap Ara, bagi Linda Ara adalah adiknya, mendapat kabar Ara di culik itu membuat Linda takut apa lagi Frans yang menculiknya, Frans yang sangat terobsesi dengan Ara, Linda takut Frans akan menyakiti Ara. Linda tak kuasa menahan tangisnya.


" Maaf kan saya, saya kesini untuk mencari mu karena saya ingin tanya, kira - kira kamu tau nggak kemana dia membawa Ara pergi?"


Linda terdiam sebentar.


" Yang ada dipikiran saya sekarang rumah pria gila itu, ada kemungkinan dia membawa Ara pulang. Karena dirumah itu Ara sering menghabiskan waktu bersamanya."


Deg!! hati Rafael sakit mendengar perkataan Linda, yah dia cemburu dengan masa lalu yang Ara lalui dengan pria itu.


" Kamu tau dimana rumahnya?"


" Tau pak, tapi jauh dari sini, di kota J dekat dengan tempat kerja saya dan Ara dulu."


" Kita ke sana sekarang!!"


Ra tunggu aku, aku pasti akan menyelamatkan mu, aku berharap ini belum terlambat. Bertahanlah sebentar ya Ra.


***


Di kamar Frans.


" Emh mas, ahhhh."


" Bagaimana sayang? enak?"


" Enak, ahhh, mas lebih cepat aku sudah mau sampai."


" Ahhh."


" Mas ahhhhh, kamu memang yang terbaik selalu bisa membuat ku puas."


" Tapi aku belum."


" Sekarang giliran ku, yang akan memuaskan mu."


Suara berisik Frans dan perempuan itu, membuat Ara tersadar dari pingsannya.


Aduh pipi ku sakit sekali, sudah berapa lama aku pingsan yah?


" Ohhh ahh teruskan sayang, Eh kamu sudah bangun sayang emh." Frans menyapa Ara dengan tidak ada rasa malunya.


Ara baru sadar ternyata Frans dan wanita itu tengah asik bercumbu di depannya.


Hati Ara sangat sakit di buatnya, air matanya tidak bisa di bendung lagi, bahkan rasa sakit akibat tamparan tadi tidak seberapa dibandingkan dengan sakit hati yang dirasakannya.


" Kamu benar - benar keterlaluan mas."


" Nikmatilah ini pertunjukan gratis untukmu, perhatikan baik - baik, dan ingatlah begini nantinya kita akan memuaskan mas Frans bersama." Kata perempuan itu.


" Jangan mimpi, aku tidak sudi. Melihat tingkah kalian ini membuat ku merasa jijik!!"


Plak!! Frans menampar Ara lagi.


" Jaga mulutmu!! mau tidak mau kamu memang akan jadi milik ku, tunggu lah selesai bermain dan akan menjadi giliran mu."


Ara berusaha melepaskan tali yang mengikat nya. Frans asik bermain dengan wanita itu hingga tidak menyadari bahwa Ara sudah berhasil melepas tali yang mengikatnya.


Ara turun perlahan dari ranjang, dan langsung berlari menuju ke arah pintu.


Sebelum sampai ke pintu, Frans sudah menyadarinya, Fans mengambil vas bunga di meja yang ada di dekat nya, dan langsung melemparnya ke Ara.


Brak!!! sebelum vas itu pecah dilantai, vas itu mengenai kaki Ara, membuat Ara jatuh tersungkur, vas yang berukuran lumayan besar itu menghantam kaki Ara.


" Aw sakit." Kaki Ara menjadi sakit untuk di gerakkan.


" Berhenti disitu atau aku tidak akan sungkan lagi dengan mu!!" teriak Frans.


Dengan cepat Frans mengenakan celana nya dan berjalan menghampiri Ara.


" Mas kenapa kamu berubah seperti ini, kenapa kamu tega, apa salah ku mas?"


" Menurut lah sayang, jika dari awal kamu menurut semua ini tidak akan terjadi."


" Aku mohon lepaskan aku mas,"


" Jangan harap! kamu hanya boleh menjadi milik ku."


" Aku tidak sudi bersama dengan lelaki seperti mu!"


Frans dibuat marah lagi karena perkataan Ara, Frans menjambak rambut Ara, menyeret Ara, membenturkan kepala Ara ke tembok, hingga pelipis Ara berdarah.


" Ahhh!! Sakit mas. Lepaskan aku aku mohon."


Brakk!!!! pintu kamar Frans di dobrak dengan paksa.


Yah Rafael sudah datang. Mendengar jeritan Ara, dengan emosi yang sudah memuncak Rafael mendobrak pintu itu.


Melihat kondisi Ara, kemarahan Linda juga memuncak.


" Lepaskan Ara!!" teriak Linda.


Rafael langsung berlari, dan menghantam Frans hingga tersungkur.


" Berani - beraninya kamu menyentuh wanita ku, rupanya kamu sudah tidak menginginkan ke dua tangan mu itu!!"


" Ara, Linda berlari dan memeluk Ara." Linda menangis melihat kondisi Ara yang memprihatinkan. Luka lebam di lengan dan wajahnya, darah segar yang masih mengalir di pelipisnya, wajahnya pucat, rambutnya acak - acak kan.


" Pak El sudah berhenti!! bawa Ara ke rumah sakit sekarang. Disini biar saya dan asisten bapak yang urus. Saya tadi juga sudah lapor polisi."


" Tomy, jangan membuatku kecewa, patahkan kedua tangan laki - laki itu!!" seru Rafael.


" Baik pak, serahkan kepada saya."

__ADS_1


Dengan cepat Rafael membopong Ara.


" Mau kamu bawa pergi kemana Ara, lepaskan! dia milik ku!!" Teriak Frans yang tangan nya sudah di kunci oleh Tomy.


__ADS_2