
Ara kembali pingsan saat di papah Aji dari kamar mandi.
Seisi rumah pun panik dibuatnya.
" Buk tungguin Ara, bapak mau ke rumahnya mbah Weryo dulu, semoga mbah Weryo sudah ada dirumah buk."
" Iya pak, hati - hati. Cepat pulang ya pak, semoga mendapat obat buat Ara."
" Iya buk semoga, doakan saja."
Bapak pun bergegas menuju rumah mbah Weryo.
Untunglah mbah Weryo sudah berada dirumah.
Setelah pak Nariman menemui mbah Weryo dan menjelaskan keadaan Ara sekarang.
" Ini memang berat le, aku pun tidak bisa menjanjikan kesembuhan untuk putrimu. Tapi aku akan berusaha semoga bisa menyembuhkan putrimu. Air ini campurkan di air mandi dan air minum putrimu. Semoga bisa membantu."
Mbah Weryo memberikan sebotol air putih kepada pak Nariman.
" Terimakasih mbah, kalau begitu saya pamit, karena tadi anak saya kondisinya memburuk."
" Iya le, semoga itu bisa membantu putrimu."
Tentu saja perasaan lega sudah dirasakan pak Nariman sekarang, dia berharap ini bisa membawa kesembuhan untuk putrinya.
Sesampainya dirumah, ia langsung memberikan minuman yang sudah dicampur dengan air dari mbah Weryo kepada Ara.
" Sekarang tidur ya Ra, semoga besok pagi badan mu membaik." Kata ibu Lani.
" Iya buk, ibuk sama bapak juga istirahat ya."
" Iya Nak." Jawab bapak.
Seperti biasa malam ini Ara juga masih ditemani kedua adiknya.
" Mbak Ara mana yang sakit biar Kia pijitin."
" Nggak ada Ya, tidur gih ini sudah malem, besok sekolah kan?"
" Iya mbak, nanti kalau ada apa - apa bangunin Kia ya. Tumben tuh si Aji udah ngorok duluan."
" Biarin Ya, mungkin dia lelah. Tidur yuk."
" Iya mbak, selamat istirahat mbak."
" Iya kamu juga."
Saat semuanya sudah terlelap tidur, Aji malah terbangun karena mendengar suara dari berisik di sekitarnya.
__ADS_1
Hawa dingin yang mencekam, membuatnya terbangun untuk membenarkan selimutnya.
Aji terkejut saat membuka mata, melihat ada banyak sekali makhluk halus yang mengelilingi kakaknya, berbagai bentuk dengan wajah yang menyeramkan.
Namun sosok hitam itu tidak didekat Ara lagi. Melainkan di pojok kamar Ara.
Aji semakin bingung dibuatnya. Aji takut, ingin teriak namun takut membangunkan kakaknya, gengsi juga masak cowok takut pikirnya. Ia menahan rasa takut sampai keringatnya bercucuran. Aji memejamkan mata,
kemudian dia menarik napas panjang, ia mencoba menenangkan dirinya sendiri. Saat dirinya merasa sudah cukup tenang, ia membuka mata.
Syukurlah mereka sudah pergi. Untung bukan mbak Kia yang lihat, kalau mbak Kia yang lihat bisa langsung pingsan. Kenapa makin hari makin serem aja nih kamar mbak Ara. Tuh makhluknya juga makin banyak, bentuknya aneh - aneh, seram lagi.
Aji pun kembali tidur dengan pulasannya.
***
Pagi harinya mereka beraktifitas seperti biasa, keadaan Ara juga sudah membaik.
Melihat putrinya yang sudah membaik membuat pak Nariman dan ibu Lani merasa senang, meskipun masih tetap belum bisa berjalan.
***
Beberapa hari telah berlalu, Aji dan Kia pun sudah lulus dan akan mendaftarkan ke jenjang selanjutnya.
Ara masih saja, masih terduduk di ranjangnya, karena kakinya belum ada perubahan.
Aji sangat sedih melihat kondisi kakaknya yang tak kunjung bisa berjalan.
Mereka lagi nongkrong bareng sepulang daftar ulang dari sekolahan baru mereka. Sebelum pulang mereka menyempatkan diri untuk nongkrong dulu di warung sambil membeli minuman untuk melepas dahaga.
" Iya kamu kenapa sih Ji, muka mu itu lho kaya lagi ada masalah." Imbuh Andi.
" Aku bingung, harus kemana lagi cari cara untuk menyembuhkan kakak ku." Jawab Aji.
" Kakak mu belum sembuh juga Ji?" tanya Hendra lagi.
" Belum Ndra, makanya aku bingung banget, kasihan juga sama dia." Jawab Aji.
" Oh iya mas ku punya kenalan seperti paranormal gitu. Katanya juga bisa menyembuhkan kasus kaya kakak mu itu." Andi memberi tahu.
" Seriusan Ndi?" tanya Aji penasaran.
" Iya serius, beberapa kali dia diajak mas ku main ke rumah, namanya mas Danang, dia belum terlalu tua, mungkin seumuran dengan mas ku." Jawab Andi.
" Kalau menurutku, coba aja Ji siapa tau dia bisa menyembuhkan mbak mu." Saran Hendra.
" Em kalau aku sih iya iya saja, tapi kan semua tergantung keputusan bapak. Coba deh nanti aku bilang dulu sama bapak, dia setuju apa nggak. Nanti aku kabarin ya Ndi kalau bapak setuju." Kata Aji.
" Iya Ji. Semoga mbak mu bisa cepat sembuh ya, kasian dia, padahal dia cantik banget, aku mau banget jadi pacarnya." Kata Andi.
__ADS_1
" Ya jelas dia yang nggak mau punya pacar kaya kamu Ndi." Hendra meledek.
" Aku juga tidak setuju kali," imbuh Aji.
Mereka ngobrol hingga siang hari.
Waduh, keasikan ngobrol sampai lupa waktu, udah siang banget, pasti mbak Ara belum makan nungguin aku. Harus buru - buru pulang nih.
" Oh ya kalian sudah mau pulang belum? aku pulang duluan ya." Pamit Aji.
" Iya pulang saja duluan, kita sebentar lagi pulangnya, masih betah disini" kata Hendra.
" Oh, ya udah aku duluan ya?"
" Yoi, jangan lupa kabarin." Kata Andi.
" Iya, iya tenang aja."
Aji melajukan sepeda motornya dengan laju yang lumayan cepat, takut kakaknya kelamaan menunggu dirinya.
Sesampainya dirumah, Aji berganti pakaian terlebih dahulu, sebelum ke kamar Ara.
Di kamar Ara sudah ada Kia yang menemaninya.
" Nih orangnya baru dateng, kemana saja sih dek? liat nih mbak Ara belum makan karena nungguin kamu." Omel Kia.
" Maaf ya mbak, tadi aku nongkrong dulu sama temen, nggak kerasa kalau sudah siang." Aji merasa bersalah karena membuat kakaknya menunggu lama.
" Nggak papa dek, lagian mbak juga belum lapar. Kia juga nungguin kamu, dia belum makan juga. Dia khawatir karena kamu nggak pulang - pulang." Kata Ara.
" Masa sih mbak?" Tanya Aji kepada Kia.
" Ya nggak lah, males banget nungguin kamu. Aku nungguin mbak Ara, mbak Ara nya malah nungguin kamu." Elak Kia.
Ara hanya tersenyum melihat Kia yang tidak mau mengakui ke khawatirannya kepada adiknya. Ara tau kalau sebenarnya Kia juga sangat menyayangi adiknya meski mereka kerap kali berdebat.
" Karena Aji sudah pulang, makan yuk, Aji sepertinya juga sudah lapar kan?" tanya Ara.
" Ya udah dek, kamu tungguin mbak Ara biar aku yang ngambil makanan untuk mu." Perintah Kia
Kia lalu pergi ke dapur dan mengambilkan nasi untuk adiknya.
" Tuh dek, mbak Kia tuh sayang banget sama kamu. Kamu sih suka banget bikin mbak Kia kesal." Kata Ara.
" Habis asik tau mbak, bikin mbak Kia kesal. Kalau belum bikin mbak Kia kesal itu rasanya ada yang kurang."
" Kamu ini, jangan gitu ah. Kasian mbak Kia."
" Kadang kalau lihat dia pulang sekolah manyun tuh pengen nanya kenapa, tapi mbak Kia nya selalu ngelak, jadi ya udah deh aku bikin kesel aja sekalian. Aku juga sayang banget sama mbak Kia, sama seperti aku sayang sama mbak Ara."
__ADS_1
" Iya mbak tau kok.