
Dirumah pan Nariman.
Pagi - pagi sekali Kia sudah bangun membantu bu Lani menyiapkan sarapan dan beres - beres rumah.
" Kamu nanti balik jam berapa Ya?"
" Agak siang kayaknya buk. Kenapa memang?"
" Nggak, kalau mau balik kok nggak siap - siap, tapi malah bantu - bantu ibuk."
" Nggak papa buk, apa nya yang mau disiapkan, kan Kia tinggal mandi terus berangkat."
" Kamu nggak kesulitan kan di sana?"
" Nggak buk, ibuk tenang saja, Kia baik - baik saja hanya rindu ibuk saja, kangen orang rumah."
" Kita semua juga kangen sama kamu. Kamu hati - hati ya di sana, jangan sampai hal yang terjadi dengan mbak mu Ara, terjadi juga sama kamu."
" Iya buk, Kia pasti hati - hati, ingat pesan ibuk juga. Ibuk juga jaga diri, jangan banyak pikiran."
" Iya Ya. Oh iya dari kemarin mbak mu belum kasih kabar ya?"
" Belum buk, mungkin dia lagi sibuk. Coba nanti Kia kirim pesan dulu, dibalas apa nggak. Soalnya kalau langsung telpon takut ganggu mbak Ara."
" Iya, coba nanti kamu hubungin dia, ibuk khawatir soal nya dia baru sembuh."
" Iya buk, bentar Kia kirim pesan dulu ya."
" Iya, ya udah yuk kita sarapan dulu, kamu bangunin adik mu, dan ibuk bangunin bapak dulu."
" Iya buk."
***
Selesai sarapan, lalu Aji bersiap untuk berangkat ke sekolah.
Wusss, tiba - tiba angin berhembus, menyibak rambut depan Aji yang agak panjang. Diikuti bau yang sangat harum.
Cewek cantik dengan dress putih cantik, berdiri di depan Aji yang lagi jongkok sedang memakai sepatu.
Hem, aku hampir lupa kalau nih cewek bukan manusia. Datang nya tiba - tiba, pakai acara ada bau wanginya lagi, untung pagi, pasti kalau malam udah merinding banget.
" Aji !!"
" Hem."
" Kok cuma hem sih."
" Ya terus?"
" Kok diem aja lihat aku datang?"
" Ya orang kamu yang datang kesini sendiri, aku nggak manggil kan?"
" Berarti aku boleh datang nya hanya saat kamu panggil saja gitu,saat kamu butuhkan, terus kalau kamu nggak membutuhkan aku, aku nggak boleh datang gitu? dasar nggak tau terimakasih."
Nih apa makhluk halus pms juga ya? dateng - dateng langsung ngomel. Banyak sih yang bilang kalau cewek memang ribet, mau menang sendiri, tapi kan ini bukan manusia? apa memang semua wanita juga begitu? termasuk makhluk halus wanita juga?
" Aji!!" teriak Sukma.
" Apaan sih, dateng - dateng ngomel, terus teriak - teriak juga, ada apa sih? kamu mau apa? mau sesajen?"
" Habis kamu diem aja."
" Ya terus aku harus ngapain uma?"
" Siapa lagi Uma?"
" Ya kamu."
" Kan Sukma bukan Uma?"
" Mau panggil Sukma kepanjangan, mau aku panggil Suk, gitu kan nggak enak, mau panggil Ma kependekan. Kalau Uma kan lebih pas."
" Ya udah terserah kamu aja deh."
" Terus ngapain kamu datang?"
" Kenapa? nggak boleh?mau ngusir?"
Buset deh nih demit, judes nya kaya emak - emak belum di kasih uang bulanan yak. Malah lebih horor.
" Bukan gitu Uma, kan aku cuma tanya. Ya udah sekarang gini, ada apa?" tanya Aji dengan nada yang lebih lembut.
" Mau ikut kamu ke sekolah."
" Ha!! mau ngapain Uma?"
" Ya mau ikut kamu lah."
" Katanya udah tau semua tentang aku, berarti kan kamu selalu ngikutin aku, kenapa sekarang pake bilang?"
" Ya kan beda, kalau kemarin kan aku nggak muncul, kalau nggak muncul nggak bisa ngobrol. Kalau sekarang pengen ngobrol biar aku nggak kesepian."
" Tapi nggak papa kena sinar matahari? nggak hangus kan?"
" Aji!! memang kamu pikir aku ini apa? aku bisa ngapain aja,bisa muncul kapan saja dan dimana saja, asalkan ditempat itu ada kamu."
" Kok bisa gitu?"
" Bisa."
" Dek, buruan berangkat keburu siang, dari tadi ngapain aja sih." Suara bu Lani dari luar kamar Aji.
" Iya buk, ini juga udah selesai, nih mau keluar."
" Ya udah yuk berangkat." Ajak Sukma.
" Ingat ya Uma, nggak boleh jahil, nggak boleh gangguin aku belajar."
" Iya janji."
Aji pun pamit kepada bu Lani dan pak Nariman, lalu berangkat ke sekolah.
__ADS_1
" Buk, pak Aji berangkat dulu, assalamualaikum." Aji mencium tangan ibu Lani, pak Nariman bergantian.
" Iya waalaikum salam." Jawab bu Lani dan pak Nariman bersamaan.
Saat Aji mengeluarkan motornya di teras, ternyata di sana ada Kia yang menunggunya.
" Mbak aku berangkat dulu."
" Iya, belajar yang bener. Oh iya nanti langsung pulang ya, soalnya mbak Kia siang nanti sudah balik, kasian ibuk dirumah sendirian."
" Iya mbak. Mbak Kia hati - hati nanti baliknya."
" Iya, ya sudah sana berangkat gih."
" Assalamualaikum mbak." Aji mencium tangan Kia."
" Waalaikumsalam, hati - hati bawa motornya jangan kebut - kebutan dijalan."
" Iya mbak."
Di sepanjang jalan Sukma membonceng Aji layaknya manusia pada umumnya, namun selain Aji tidak ada yang bisa melihatnya, diperjalanan Sukma mengajak Aji ngobrol.
" Oh iya mbak Ara belum telpon ya?"
" Iya belum, dia belum kasih kabar, aku mau telpon tapi takut menganggu. Pulang sekolah nanti lah aku mau coba hubungin dia."
" Tenang aja dia baik - baik saja, memang semalam si dukun udik itu mencoba mengirim tuh peletnya lagi."
" Terus gimana? kok kamu nggak bilang sama aku?"
" Ya kamu nya kan sudah tidur. Lagian mbak Ara sudah nggak papa, semalem dia sudah ditolong."
" Kamu tau siapa yang nolong?"
" Nggak tau sih, itu sudah diluar kendali ku, soal nya kamu jauh dari dia, kalau jarak kamu agak dekat dengan mbak Ara mungkin aku bisa lihat, yang aku tau pokoknya mbak Ara sudah ditolong, guna - guna yang dikirim nggak berhasil masuk dan dikembalikan lagi ke si pengirim. Sepertinya mbak mu sudah berada di tempat dan di sekitar orang yang tepat deh."
" Syukurlah kalau begitu, tapi aku takut tuh dukun udik nggak bakalan menyerah, dan takutnya dia akan menyakiti mbak Ara."
" Sudah tenang aja, aku pasti bakalan tau kalau mbak Ara sedang dalam bahaya, soal nya perasaan kamu ke dia itu kuat banget, makanya aku juga bisa merasakan apa yang terjadi dengan dia."
" Makasih ya,"
" Iya sama - sama, mbak Kia juga sayang ya sama kamu. Karena rasa bersalah nya udah buat kamu marah tadi siang, dia sampai nggak bisa tidur loh, semalem dia ke kamar kamu, nangis sambil menyelimuti kamu, terus mencium kening kamu."
" Dibalik sifatnya yang manja, dia nggak jauh beda dari mbak Ara. Tapi dia nggak papa kan?"
" Iya dia nggak papa kok tenang aja, pokoknya siapapun yang kamu sayangi dan ingin kamu lindungi, kalau mereka dalam bahaya pasti aku akan merasakannya."
" Bukan kah mereka terkena guna - guna dukun udik itu juga ya, ibuk, bapak, mbak Kia juga."
" Yah cuma sedikit, selebihnya memang karena mereka orang yang baik."
***
Sesampainya di parkiran, Aji bertemu dengan Hendra dan Andi yang kebetulan juga baru datang.
" Tumben ya kita bisa barengan gini nyampenya." Kata Hendra.
" Ya malah bagus kan," Aji menyahut.
" Ngobrol dikelas aja." Usul Aji.
" Nggak - nggak, ngobrol nya di bawah pohon itu aja sambil melihat anak - anak cewek pada lewat, kan lumayan buat menyegarkan mata." Kata Hendra.
" Ya kalau mau seger siram aja tuh mata pake es buah, ribet amat." Celetuk Sukma yang hanya bisa di dengar Aji.
" Puft, hahahaha." Aji pun tertawa karena celoteh Sukma.
Andi dan Hendra keheranan di buatnya.
" Perasaan tadi kita ngomong nggak ada yang lucu deh." Kata Hendra.
" Iya ya Hen, kuping dia salah dengar mungkin, jadi bicara mu tadi lucu kalau di dengar dia." Imbuh Andi.
" Apaan sih kalian, kupingku masih normal, ya udah yuk jalan." Ajak Aji.
" Terus kamu kenapa tadi ketawa?" Tanya Andi.
" Oh tadi liat ada ibu - ibu lewat pake jilbab tapi celananya pendek." Elak Aji.
" Emang tadi ada ibu - ibu lewat?" tanya Hendra penasaran.
" Ada, ya udah yuk ke sana, nanti keburu masuk kelas."
Mereka bertiga duduk dibawah pohon yang memang dibawahnya tersedia bangku buat tempat duduk.
" Eh lihat tuh, kakak kelas kita cantik banget." Kata Hendra.
" Yang mana?" Tanya Andi.
" Itu tuh yang tengah, yang tinggi."
" Cantik apaan, susuknya aja dimana - dimana, heran deh ama anak jaman sekarang, masih sekolah udah pada pakai susuk. Cantikan juga aku, ya nggak Ji?" Tanya Sukma.
" Iya." Jawab Aji.
" Tuh, kan Aji aja bilang iya, berarti dia cantik." Kata Hendra.
Gara - gara ada si Sukma jadi nggak fokus gini sih. Batin Aji.
" Eh aku ke toilet dulu ya, kalian kalau mau ke kelas duluan aja." Pamit Aji.
" Oke, " jawab Andi.
" Pagi - pagi udah mau ke toilet aja." Kata Sukma.
" Nggak fokus ngobrol sama mereka, kamu sih ngajakin ngobrol mulu."
" Ya maaf deh. Kamu beneran mau ke toilet?"
" Iya, mau ikut juga?"
" Emang boleh?"
__ADS_1
" Ya nggak lah Uma. Kamu tunggu disini."
" Iya, jangan lama - lama."
" Em."
Setelah dari toilet, bel masuk pun berbunyi. Pelajaran pun dimulai.
" Jik, aku jalan - jalan dulu ya, bosen ih di kelas, nggak bisa ngobrol juga sama kamu."
" Mau kemana?" bisik Aji.
" Mau ke pohon belakang sekolah, kayaknya di sana lebih asik, lebih rame."
" Ya udah, nanti aku susul kalau sudah istirahat."
" Iya, da ganteng belajar yang bener ya, jangan liatin cewek - cewek disini lagi, disini nggak ada yang lebih cantik dari pada aku."
Sukma menghilang, apa yang dikatakan Sukma membuat Aji tersenyum.
Iya kamu memang lebih cantik Uma, tapi sayang nya kamu bukan manusia dan walaupun mereka tidak secantik dirimu tapi mereka nyata. apa aku salah jika aku berharap bisa bertemu dengan manusia yang mirip seperti dirimu?
Ah kenapa malah mikirin Uma sih, gara - gara Uma nih. Batin Aji.
" Pohon belakang sekolah, ada apa ya di sana? kenapa Uma tertarik pergi ke sana, aku jadi penasaran pengen ke sana juga. Jadi nggak sabar pengen cepat - cepat istirahat dan nyusul Uma ke sana."
***
Bel istirahat pun berbunyi. Para murid sudah berhamburan keluar dari kelasnya masing - masing.
" Ke kantin yok." Ajak Andi.
" Kalian duluan saja, nanti aku nyusul." Jawab Aji.
" Beneran nih, nggak mau bareng kita?" tanya Hendra.
" Iya, aku mau ke toilet dulu."
" Tumben hari ini kamu ke toilet mulu, kamu nggak papa kan Jik?" tanya Andi.
" Nggak papa kok, aman tenang saja."
" Ya udah kita duluan ya, nanti nyusul aja di tempat biasa." Kata Hendra.
" Oke,"
Setelah teman nya pergi, Aji merapikan bukunya dan menyusul Sukma kebelakang sekolah.
***
Pohon besar nan rindang, hawanya sejuk. TetapiAji merinding dibuatnya. Yah saat pertama kali menginjak kan kaki di sana ada hawa dingin yang menyeruak membuat bulu kuduk Aji berdiri.
Padahal siang bolong begini, tapi tetap aja aksen horornya sangat terasa, mana gede banget nih pohon, merinding deh akhirnya. Dimana lagi nih Uma berada.
Clingak clinguk Aji mencari keberadaan Uma.
" Hey Jik, sini di atas."
Aji mendongak ke atas melihat Uma duduk santi di salah satu ranting cabang pohonnya.
" Ngapain disitu, sini turun. Udah kaya monyet aja nangkring di pohon."
" Disini lebih rame tau, lebih enak, dari pada di kelas mu."
" Enak apanya, orang horor banget begini. Liat nih aku merinding."
" Yah itu karena kamu belum terbiasa, kalau udah terbiasa nggak akan takut lagi."
Sukma turun, dan dalam sekejap mata sudah berada di samping Aji.
" Eh mau lihat nggak, disini tuh tempatnya indah banget."
" Nggak ah takut, aku mau ke kantin, Hendra sama Andi pasti sudah nungguin."
" Sebentar aja,"
" Tapi benar ya sebentar, awas aja kalau tempatnya aneh - aneh."
" Iya, sekarang kamu merem deh, jangan dibuka kalau aku belum bilang buka ya."
" Iya."
Sesuai dengan apa yang Sukma katakan Aji pun memejamkan ke dua matanya.
" Sekarang sudah boleh buka mata."
" Beneran nih?"
" Iya."
Dengan perlahan Aji membuka matanya.
Pemandangan di depannya membuat ia terpana.
Taman yang sangat indah, dengan berbagai bunga warna warni, dan banyak sekali pohon rindang, rumput yang dipijak Aji pun sangat hijau, tempatnya bersih, ada juga air mancur di tengah taman, dan ada danau kecil yang air nya sangat jernih hingga ikan yang ada di dalamnya pun kelihatan.
Tempatnya ramai ada aktifitas juga sama seperti manusi, bahkan ada anak - anak juga yang sedang bermain.
Aji mengedipkan matanya, dan ia kembali ke tempat semula.
" Itu beneran, taman itu disini?" Tanya Aji.
" Iya, dimensi lain dari tempat ini, bagus kan?"
" Bagus banget, kira - kira aku bisa nggak ya aku melihat dimensi lain tanpa bantuan kamu?"
" Bisa saja, ini karena kamu belum mengasah kemampuan kamu sepenuhnya, nanti kamu bisa juga loh komunikasi sama mereka."
" Nanti deh kalau itu, kadang aku aja masih takut kalau mereka muncul dengan bentuk yang menyeramkan."
" Ya itu karena kamu belum terbiasa. Nanti kalau sudah terbiasa nggak akan takut lagi kok, tapi kalau misalnya nggak mau melihat ya nggak usah di asah kemampuannya."
" Tapi aku malah pengen belajar tentang hal spiritual lebih dalam lagi, aku pengen bisa mencegah hal yang seperti di alami mbak Ara, agar tidak terjadi lagi di keluarga ku, apa lagi kalau bisa membantu orang lain, itu malah lebih bagus kan."
__ADS_1
" Iya, pelan - pelan aja, pasti kamu bisa kok. Sekarang ini belajar dulu agar terbiasa, dan tidak takut dengan tampilan mereka yang seram."