
Syafa melangkah menatapi Rumah Sakit yang mewah serta berkelas itu.
Ya Allah mengapa aku jadi takut gini,batin Syafa
Syafa duduk menunggu antrian,selang beberapa menit,seseorang petugas kesehatan memanggil namanya " Nyonya Syafa Kirana "
Deg
Syafa masih ragu untuk melangkah,ketakutan menghiasi batinnya.
Terlihat Syafa melamun,Salma menggandengnya.Sementara Tapasya menunggu di luar.
Dokter pun melakukan pemeriksaan di perutnya,awalnya Syafa merasa malu membuka perutnya,apalagi Dokternya Pria.
Seseorang perawat cantik mengoles sesuatu di perutnya.Syafa merasakan gel itu dingin membuatnya tersenyum.Di liriknya sang mertua yang sangat antusias menunggu penjelasan Dokter.
"Gemana Dok,hasilnya baik-baik saja kan?"tanya Syafa yang tak sabar mendengar penjelasan Dokter.
"Sepertinya Rahim Nyonya bermasalah,maaf saya harus mengatakan bahwa Nyonya Mandul"jelas Dokter itu menghempas jiwa Syafa yang begitu remuk.Ucapan Dokter itu benar-benar seperti panah yang menusuk cepat pada jantungnya.
Bu Salma kaget dan menatap Syafa yang sudah menahan tangis.Cairan bening sudah menampung di kedua matanya.
Sang mertua yang begitu kecewa pergi ke luar tanpa berkata pada Syafa.Syafa menyaksikan sikap sang Mamah tentulah sedih.
"Ya Allah,berat rasanya!"ucap batin Syafa keluar dari ruangan itu.Raut wajah kecewa tampak dari bicaranya.
Syafa berjalan menuju parkiran,namun tak mendapati Salma dan Tapasya.
"Loh,mamah dan Tapasya di mana?"ujarnya mengusap air mata.Kemudian ia melangkah menuju jalan,terlihat mobil sport hitam baru saja berjalan meninggalkan dirinya.
Dia pun bergegas menuju kantor Azril meminta pengertian sebelum mamah mertuanya menemui Azril.
Syafa berjalan menuju ruangan sang suami,rupanya Azril lagi mengadakan meeting sehingga Syafa harus menunggu.
Tiga pulut menit,Syafa berada di ruangan namun Azril tak kunjung tiba.Alhasil dia memutuskan untuk kembali pulang ke rumah.
"Oh yah mbak,nanti kalo tuan Azril selesai meetingnya suruh dia menghubungi saya"ujar Syafa pulang tangan hampa.
"Baik Nona Syafa"sahut Alena jutek
Syafa yang hanya pasrah pada takdirnya,harus ikhlas merelakan Azril menikah lagi.
__ADS_1
Dia teringat pada sosok Aisyah istri Rosulullah.Tak memiliki keturunan bukan bearti kita lemah atau tak sempurna.Hanya saja Allah ingin memberi kita pahala karna sabar menerima takdir serta ada sisi kebaikan yang harus kita petik.
Aisyah tak memiliki keturunan tapi ia berusaha menjadi hamba yang bersyukur buktinya hadist yang banyak menyebar di kalangan ini dari istrinya Aisyah Khumairoh.
"Syafa harus kuat!"ujarnya memberi semangat pada dirinya yang ingin mencontoh seperti Aisyah.
Syafa keasyikan melamun sampai lupa menemui mbok Eny yang lagi sakit.
"Gemana mbok,udah mendingan?"ucap perhatian Syafa pada sang mbok yang sudah ia anggap seperti Ibu sendiri.
"Alhamdulillah Syafa,tadi juga udah minum obat"sahut si Mbok memperhatikan Syafa yang sudah gusar.
"Kamu kenapa Ndok?"
"Biasa Mbok,masalah mamah"lirih Syafa yang sudah berkaca-kaca.Syafa menghambur ke pelukan si mbok dan mengungkap kebenaran pada dirinya.
"Kamu yang sabar yah!.Mbok yakin suatu saat nanti Syafa bisa hamil.Prediksi Dokter tak sama Prediksi tuhan"ucap si mbok menguatkan Syafa yang putus asa.
Syafa menemui Mamah mertua,memohon berharap membatalkan perjanjian antara Arzil dan Mamahnya.
Namun Salma yang tak menginginkan Syafa menjadi menantunya,tentu lebih memilih menuntut janji sang anak.
"Mah,Syafa mohon!,jangan pisahkan Syafa sama kak Arzil.Syafa sayang sama kak Arzil"katanya memohon pada sang Mamah.
"Syafa mohon Mah"pintanya memegang kaki Salma yang lagi duduk di kasur.
"Buat apa Arzil mempertahankanmu?,sementara dirimu tak bisa memberikan anak padanya."
"Iya,benar tu tante"ujar Tapasya memanaskan suasana.
Arzil yang tak sengaja mendengar pembicaraan Syafa dan Mamahnya,sontak terdiam.
Kabar buruk membuat langkahnya berat.Tak mampu menatap Syafa,ia pun turun bergegas pergi ke luar.
Sementara Syafa semalaman menunggu Arzil,tapi tak kunjung datang.
Syafa melihat jam dinding menunjukkan pukul 02.00 malam.Rasa khawatir menyusup pada dirinya.Karna tak mengantuk Syafa lebih memilih sholat malam sambil menunggu sang suami pulang.
Tak berapa lama bunyi sebuah mobil menuju garasi,Syafa pun berlari.Ia melihat Arzil di bopong dengan seorang wanita sambil berbicara sudah mengaur.
Syafa yang tak sanggup memandangnya memilih mengurung diri di kamar.
__ADS_1
Selama ini,Syafa tak pernah melihat Arzil menyentuh minuman keras,tapi hari ini ia menyaksikan dengan kepalanya sendiri.
Setelah Syafa melaksanakan sholat shubuh,ia mencari Arzil.Tak sengaja ia mendengarkan suara tangisan Tapasya.
Pakaian kotor yang ia bawa seketika lepas saat melihat Arzil yang bertelanjang dada memarahi Tapasya.
"Kak,apa ini?"tanya Syafa menatap Tapasya menutup tubuhnya dengan selimut.
"Syafa,tenang dulu!,kakak bisa jelasin.Semua ini tak seperti yang Syafa pikirkan"
"Cukup kak,cukup.Kalo kakak menyukai Tapasya,bilang!,tak perlu harus melakukan ini"tegas Syafa,Syafa mencoba kuat namun matanya tak bisa di bohongi.
Syafa terduduk,ia menangis tak mampu menahan rasa sakit di hatinya.Peristiwa hari ini membawa luka batin yang dalam.
Salma mendengar pertengkaran antara Syafa dan Azril keluar menemui mereka.
"Ada apa nih,Arzil?"
"Semalam Arzil mabuk tante,lalu dia menelponku untuk menjemputnya.Tapi Arzil malah melakukan ini padaku?"lirih Tapasya yang berpura-pura sedih.
"Apa benar Arzil?"
"Aku lupa Mah,kelebihan minum membuat Arzil tidak sadarkan diri"ujar Arzil yang mencoba memberi penjelasan begitu juga Syafa mendengarnya tak percaya.
"Makanya kak,jangan pernah menyentuh minuman haram itu,kan sekarang lihat apa yang terjadi"lirih Syafa,ia berlari menuju ke kamar mengisi pakaiannya.
Arzil menangkap tangan Syafa,"Jangan lakukan ini pada kakak,sungguh kakak tak sanggup kehilangan Syafa"
"Seharusnya kakak berpikir sebelum melakukan itu.Syafa tahu, Syafa tak sempurna.Jika menikahi Tapasya buat kakak bahagia,lakukanlah kak.Syafa tak mau kakak melakukan seperti itu lagi,itu dosa kak"ucap Syafa dengan suara gemetar.
Syafa melepas tangan Arzil yang mencekam lengannya."Maafkan Syafa kak,Syafa tak mampu untuk berbagi"keluh Syafa yang mata sudah mulai bengkak.
"Sudahlah Arzil,lepaskan saja Syafa.Dia itu mandul gak kan bisa memberimu anak."cetus Salma yang sudah lama menginginkan ini terjadi.
Dengan berat Syafa melangkah,meninggalkan rumah yang penuh kenangan.Di lihatnya Arzil yang sudah nanar atas kepergiannya.
"Syafa,maafin kakak yah.Andai waktu bisa di ulang kakak akan lebih memilih tidak bertemu Syafa,daripada hati kakak yang sakit kehilangan Syafa"gumamnya dalam hati.
Kala itu dia bingung,tujuan pergi tidak ada.Tinggal di kota metropolitan benar-benar membuatnya ketakutan.
Di tatapnya cincin pemberian Arzil,kemudian di lepas dari jari manis dan mampir ke toko perhiasan.
__ADS_1
"Alhamdulillah,cukup untuk satu bulan kedepan"ucap syukur Syafa,mencari rumah kos kosan untuk ia tinggal sembari mencari pekerjaan untuk bertahan hidup.