Penantian Panjang Sang Pewaris

Penantian Panjang Sang Pewaris
Bab 25 : Kenyataan Pahit


__ADS_3

Bismillah😊


Alhamdulillah Novel ini masih masih berlanjut.Terima kasih pada readers yang masih setia membacanya....


Semoga yang membaca dan memberi like,comment,dan vote di beri kesehatan,umur berkah,dan murah rezeki 🤲🤲


Aaamiin😊


Bian merenung,kecewa,lagi-lagi kegagalan membina rumah tangga menghampirinya.


Bian menatap dalam Syafa dan Atikah.Syafa yang sedang mengendong Syahril,hanya bisa menangis.Atikah juga sama masih menatap ke dua anaknya yang masih sedih harus menerima kenyataan pahit.


"Syafa...maafin mamah sayang.Mamah tahu,mamah sudah berdosa meninggalkan kamu dan Bapak."Lirih Atikah mencium tangan Syafa.Sementara Syahril duduk di pangkuan sang ummi yang sedang menangis dalam diam.


"Syafa...sebaiknya jika mamah sedang bicara jangan menunduk gitu.Itu namanya kurang sopan.Dia itu Ibumu,ibu yang sudah melahirkanmu." Ucap Bian yang mencoba mendekati Syafa duduk di hadapannya.


"Tapi...dia juga Ibu yang telah meninggalkan aku bersama Bapak."


"Kalau kau ingin menyalahkan dia,salahkan aku.Karna akulah mamah meninggalkanmu."


"Karna kau jugalah Ibu lebih memilih mengurusi anak tiri daripada diriku anak kandungnya sendiri."Cetus Syafa mengagetkan Atikah dan Bian.


"Kau salah besar Syafa.Aku adalah kakak kandungmu..."tegas Bian memegang pundak Syafa.


"Tidak!" Syafa pergi meninggalkan kedua dan masuk ke dalam rumah.


"Sebaiknya kalian pergi dari sini." Ujar Syafa menutup pintunya.


Atikah memeluk Bian.Tak lama kemudian sebuah mobil mewah berhenti tepat di belakang mobil Bian.Dia tak lain adalah Arzil yang sengaja datang karna ingin berbicara masalah Syahril.


Arzil berjalan lurus tanpa betegur sapa dengan Bian dan Atikah.


Tok tok tok


"Syafa...buka pintunya."Titah Arzil mengejutkan Syafa yang sedang menangis sambil menidurkan putranya.


Ia meletakkan Syahril di kasur tipisnya.Kemudian berjalan menuju pintu,dan mengintai dari jendela kecilnya.


"Kak Arzil"pekiknya dalam hati.


"Syafa...cepetan buka pintunya!"


klek


"Dari mana kakak tahu alamatku?"ujar singkat Syafa.

__ADS_1


"Mencari alamatmu tidaklah sulit sayang.Sekarang,ikut aku dan tinggalkan rumah ini." Titah Arzil membuat Bian geram.Ia mengumpal tangan menahan gejolak udah di ubun-ubun.


Bian mengenggam leher baju Arzil."Lancang sekali kau menyuruh Syafa menurutimu.Emang kau siapanya Syafa?"cetus Bian.Ia sudah mengumpal tangan untuk memberi pelajaran kepada Arzil.


"Cukup!"ucap kesal Syafa.


"Tapi...."ujar singkat Arzil yang ingin memberi alasan.


"Kalian sebaik pergi dari rumahku.Kehadiran kalian hanya menganggu putraku yang sedang tidur."Kesal Syafa memaling wajah dan menutup pintu.


"Syafa..buka dulu pintunya.Ibu mohon Nak!"lirih Atikah terduduk menghadap pintu.


Syafa yang mendengar rintihan sang Ibu.Merasa sedih dan tak sampai hati.


Ia membuka pintu dan memeluk Atikah.


"Ibu...maafin Syafa Bu! , Syafa hanya butuh waktu untuk menerima semua ini."Lirih Syafa memeluk sang Ibu .


Syafa membangunkan Ibunya,dan menyuruh masuk ke dalam rumahnya.


"Syafa,siapa pria itu?"tanya Atikah mengusap air matanya.


"Dia adalah mantan suamiku."Jawab Syafa menunduk.


"Suamimu?"


"Kamu bicara apa Syafa?. Kalau Syahril bukannya anaknya,lalu anak siapa?"


"Syahril..."Jawab terputus Syafa.


"Dia anak ku Nyonya."Ujar Arzil yang main nyelonong saja,tanpa permisi.


"Arzil!"Teriak Bian


"Apa lagi?.Kau ingin menghalangiku untuk bertemu dengan istriku yah?.Asal kau tahu Syafa itu masih istri sah aku."Tegas Arzil yang sudah emosi.


"Istrimu?.Itu tidak mungkin bro.Syafa bilang kalau kau dan dia sudah bercerai tiga tahun yang lalu."Tegas Bian.


Syafa melempar surat perceraian ke arah Arzil.


"Ini buktinya!.Kalau kita sudah resmi bercerai."


"Aku menceraikanmu saat kau sedang hamil.Bearti menurut Agama tidak sah."Ucap Arzil merobek surat perceraian itu.


"Aku tidak peduli.Kalau gitu cepat talak aku."Pinta Syafa yang sudah begitu emosi.Sikap egois Arzil menginginkan Syafa kembali menambah sakit hatinya.

__ADS_1


"Aku tidak akan pernah menceraikanmu.Aku ingin kita berkumpul seperti dulu.Aku mencintaimu."Ungkap Arzil dengan harapan Syafa menerimanya kembali.


"Maaf kak.Aku tidak bisa meneruskan rumah tangga ini.Seperti yang aku katakan dulu,aku tidak siap untuk berbagi kasih pada istrimu.Lagipula kau sekarang sudah memiliki anak darinya.Aku tidak mau jadi pelakor dalam tanggamu."Lirih Syafa yang tak sengaja manik kristal putih jatuh mengalir dari matanya.


"Aku siap menceraikan Tapasya.Asalkan kau mau kembali kepadaku."Pinta Arzil merayu Syafa dan memegang lengan Syafa yang mulai ingin pergi melangkah meninggalkannya.


Syafa melepas sentuhan itu."Maaf aku tidak bisa kak."


Bian hanya mendengar dialog antara Syafa dan Arzil.Namun ia terkejut saat Arzil menyebut nama Tapasya.


"Apakah pria yang menikahi Tapasya adalah Arzil.Bearti Tapasya sumber kehancuran rumah tangga Arzil dan Syafa."Ucap dialog Bian dalam hati.


"Bian..."Panggil Atikah yang memandang sang putra hanya termenung tanpa bertindak membantu Syafa yang berdebat dengan Arzil.


"Aaa..pa Mah?"Jawab gugup Bian.


"Mengapa kau diam.Tolong Adikmu itu,jangan biarkan pria itu membawa Syafa."Pinta Mamahnya menghambur pemikiran Bian yang memikirkan Tapasya.


Bian membubarkan keduanya."Cukup Arzil.Sebaiknya kau pergi dari sini.Bukankah Syafa berulang kali menolakmu?.Tapi kau masih saja seperti pengemis."Sindir Bian tersenyum sinis.


"Aku tak peduli di bilang pengemis karna aku sangat mencintai Syafa."Bentak Arzil menantang Bian.


Bian menarik tangan Syafa dan menyuruh membereskan pakaiannya.Syafa yang tak punya pilihan terpaksa menuruti sang kakak yang di anggap kakak tirinya.


"Hei.Berani sekali kau menyentuh istriku?.Apa kau tidak tahu kalau kau bukan mukhrim Syafa.Jadi,tolong lepaskan tanganmu itu."


"Aku tidak mau.Emangnya mengapa??"


Atikah dengan segera menggendong Syahril masuk ke dalam mobil.Sementara Syafa mengikuti langkah sang mamah.


Bian menutup pintu dan kemudian meninggalkan Arzil yang masih berdiri mematung.


Bian masuk ke sebuah halaman yang luas dan memasuki mobilnya menuju garasi.


Syafa yang tak tahu harus bicara.Baginya demi mengelak dari Arzil mau tak mau ia lakukan.Meskipun berat untuk menjalani takdir yang tak tahu apa harus bahagia atau kecewa.


"Sayang.Mari masuk Nak!"Pinta Atikah menggendong Syahril membawa ke kamarnya.Sementara Syafa menatap Bian,dan kemudian mengikuti langkah Bian menuju kamarnya.


"Syafa,putriku.Mulai sekarang tinggallah di sini."Titah Atikah yang senyum bahagia.Bertahun-tahun mencari sang putri akhirnya bisa bertemu kembali.


Sementara Bian menuju ke kamarnya.Foto Syafa yang ia selipkan di bantalnya.Ia robek dan di buangnya ke tong sampah.


Perasaannya begitu hancur berkeping-keping.Takdir menginginkan mereka memiliki ikatan darah dan tak bisa menikah.


Dia mengambil sebuah foto di lemari kecilnya.Bian begitu sedih dan patah hati.Mencoba mencintai namun harus bearkhir tragedis.

__ADS_1


Apa Cinta ini tidak bearti?


Apa Cinta ini belum pasti memiliki tapi malah menjadi suatu ikatan yang pasti tapi sulit untuk di mengerti.


__ADS_2