
Mobil melacu memasuki parkiran Rumah Sakit yang begitu luas.Kevin keluar dari mobil serta Arzil turun di bantu oleh Bian.
Arzil tahu pasti ada seseorang yang melakukan ini padanya.Terlihat Elsa dan Aida sudah terbaring lemah tanpa suara.Semua petugas memberikan kelonggaran jalan agar Arzil bisa berjalan tanpa penyekat.Arzil terlihat nanar mendapati Mamah dan Elsa sudah tak bernyawa lagi.
Sekujur tubuh terasa dingin dan menggigil melihat keluarga yang ia sayangi pergi tanpa kesan yang baik.Setelah rasa kecewa serta hempasan dendam yang mereka toreh dalam hatinya Arzil memalingkan wajah.
Sakit hati tetaplah sakit meskipun sekeping hati ini berusaha memaafkan kesalahannya namun goresan itu tetaplah membekas.
Arzil mencoba menahan satu per satu masalah mulai menghampiri hidupnya.
Sementara Bian sibuk mengangkat ponsel yang dari tadi berdering.
" Tidak mungkin," lirih Bian .
Keseriusannya dalam bicaranya membuat Arzil dan Bian menatapnya.Kali ini Bianlah yang begitu terpukul Syafa menghilang tidak ada kabar.
" Syafa "
Bian terduduk di kursi yang tersedia di koridor Rumah Sakit.Tatapannya kosong meruntuhkan kegagahan serta ketampanannya.Pasalnya Bian menangis namun suara tangisannya bisa terdengar orang lain.
Kevin menepuk pundaknya,"Syafa...menghilang,dan sekarang pihak Rumah Sakit sudah menghubungi pihak Kepolisian.Ku harap kau Arzil bisa bertenang." ucap Bian pada Arzil yang kaget saat mendengar Syafa hilang.
" Apa yang harus kita lakukan ?" tanya Arzil yang begitu frustasi.Selama in Arzil tak pernah sesedih ini.Merasakan kehilangan orang yang ia sayangi dalam satu hari.
Arzil memutuskan untuk pengurusan jenazah sang mamah dan adiknya.
Setelah urusan pemakaman selesai.Arzil bersama Kevin memutuskan untuk kembali ke rumah dan memikirkan langkah yang selanjutnya untuk di ambil.
Sementara Bian masih dalam pencaharian Syafa.Ia mencoba melihat cctv tapi sayang rekaman itu tak sedikitpun terekam saat Syafa keluar.Bian mengusap kasar wajahnya dan duduk bersandar di ruangan rekap ulang cctv yang ada di rumah sakit tersebut.
Namun Bian baru terpikir untuk mengambil cctv di parkiran saat para pengunjung menjenguk pasien.
Di detik terakhir terlihat seorang wanita keluar dari mobil memakai pakaian yang sedikit aneh lalu masuk menuju toilet dan keluar sudah menggunakan seragam perawat.
Bian melipat tangan dan menatap gerak gerik gadis yang menjadi tersangka utama.
Dia berjalan keluar bergegas menuju parkiran untuk segera meluncur ke rumah Arzil.Sepanjang perjalanan Bian memikirkan gadis itu hingga tak menyadari ia telah sampai di rumah Arzil.
" Bian,apa kau sudah mendapat info tentang Syafa?" tanya Arzil yang terlihat cemas dan sedikit takut .
" Syafa belum di temukan.Kemungkinan dia sudah di curi oleh seseorang?" Bian berdiri berdiri membelakangi Arzil dan Kevin.Tatapannya lurus memikirkan gadis yang tersangkanya.
Sementara Kevin menenangkan perasaan Arzil yang begitu hancur harus kehilangan orang yang ia cintai dalam kurun waktu yang bersamaan.
__ADS_1
" Aku sudah menyerahkan ini kepada kepoisian.Jadi kita menunggu kabar selanjutnya." tegas Bian memutar menghadap Arzil dan Kevin.
Di tempat lain Syahril semakin dekat dengan Ardian.Syahril bahkan menganggap Ardian seperti Ayahnya sendiri.
" Ayah,Syahril kedinginan." Syahril memeluk dirinya sambil menatap api unggun kecil yang di buat Ardian untuk menghangat Syahril yang begitu kedinginan.
Ardian melirik lalu melanjutkan membakar ikan.Beberapa hari di hutan,Ardian dan Syahril hanya mengisi perutnya dengan menu seadanya.
" Sabar,aku sedang membakar ikan.Jadi jangan banyak bertingkah." kesal Ardian merasa risih Syahril meminta ini meminta itu.
"Aayaah...Syarih dingin?" Syahril lagi-lagi mengeluh.Namun tubuhnya terlihat gemetar serta wajah yang pucat.
Ardian duduk menghadap Syahril.Ardian merasa suhu tubuh Syahril begitu panas.Sehingga ia memutuskan untuk mengendong Syahril mencari jalan keluar agar mudah membawa Syahril ke Fasilitas kesehatan.
Ardian berjalan begitu cepat hingga ia tak menyadari kakinya terkena duri dan berdarah.
Dia terus saja mengendong Syahril sampai akhirnya menemukan jalan keluar.Ardian tersenyum mengembang menatap jalan aspal sudah terlihat.Meski keringat sudah membasahi bajunya ia tak putus asa untuk berjalan kaki dalam kondisi kaki yang sudah berdarah.
tit tit tit
Sebuah mobil kijang innova berhenti di sampingnya.
Gadis berkerudung itu keluar saat melihat Ardian sudah terencot encot berjalan sambil mengendong anak kecil yang sudah pingsan.
Gadis itu bertanya karna curiga.Ardian mengendong anak kecil yang sudah tidak bersuara serta wajah yang pucat pasih.
"Tolong saya Nona.Anak ini demam,dan saya harus cepat mengantarkannya di Rumah Sakit." pinta Ardian menyerahkan Syahril ke gadis itu.
Ardian tahu,mungkin dengan cara ini dia bisa membawa Syahril dan mendapat pengobatan dengan cepat.
Gadis itu menatapnya.Mungkin ragu dengan ucapan Ardian,takutnya ini modus penculikan yang sering terjadi saat orang lalai dan percaya pada orang asing.
"Aku bukan orang jahat,percayalah!.Mungkin penampilannku seperti preman."Lirih Ardian memelas pada gadis itu agar percaya.
Merasa kasihan,gadis itu segera menyuruh Ardian duduk di belakang sambil memangku dan memeluk Syahril.
" Masih jauh ? " Ardian bertanya karna gadis itu mengemudi begitu lambat.
" 1 km lagi mungkin sampai." jawab gadis itu sembari melihat Syahril.
" Kelamaan.Sebaiknya kau minggir,biar aku saja yang mengemudi.Jika kau menyetir kayak gini bisa-bisa anak ini mati duluan." tegas Ardian menyuruh gadis itu untuk pindah ke belakang.
Gadis itu terlihat ragu dengan berat keluar dan duduk memeluk Syahril.Keduanya seperti keluarga mini yang sangat takut kehilangan anaknya.
__ADS_1
" Begini kalo menyetir darurat." kata Ardian yang menyetir dengan kelajuan di atas rata-rata.
Ardian menyetir sesekali melirik gadis itu di kaca spionnya.Gadis itu begitu takut dan cemas takut-takutnya Ardian menipu dirinya.
" Ya Allah , ini cowok sebenarnya siapa?,mengapa ia begitu ahli dalam menyetir. apaaa dia...?" ucap gadis itu terpikirkan Ardian seorang perampok.Gadis itu menepuk mulutnya dan ingin mengoceh ponselnya untuk meminta pertolongan.
Tak lama Ardian memasuki kawasan Rumah Sakit.Dengan cepat ia keluar dan mengendong Syahril menunu UGD.
" Dokter...,tolong saya." ucapnya meletakkan Syahril ke tempat tidur yang di sediakan pihak Rumah Sakit untuk memeriksa pasien.
" Maaf Pak,anak ini kenapa?"tanya salah satu perawat yang bertugas.
" Kalau saya tahu gak mungkin saya bawa dia ke sini.Sekarang cepat periksa anak ini?"titah Ardian namun terhenti saat gadis berkerudung itu memakai seragam seorang dokter sambil stetoskop melingkar di lehernya.
" Kau ! " ucapnya lalu mundur dan keluar.Ardian merasa malu karna ia berteriak sementara dokternya ada di sampingnya.
Tak lama perawat memanggil dan menyuruhnya masuk.
" Maaf,aku tak tahu kalau kau seorang dokter." kata Ardian tertunduk lalu senyum mengingat betapa sok pintarnya dia.
" Tidak apa.Aku tahu kau sangat mengkhawatirkan anak ini.Sekarang kau tak perlu risau,anak ini hanya demam biasa." ujar gadis itu memberikan resep obat untuk di tebus di apotik.
" Tapi...aku gak punya uang untuk menebus obat ini." lirih Ardian yang sangat malu mengucapkan itu.
Ardian mendorong kursi dan melangkah menuju Syahril yang sudah siuman.
" Syahril,maafin Om yah.Om tak punya uang untuk menembus obatmu.Jadi sebaiknya kita pulang saja." pinta Ardian mulai ingin mengendong Syahril untuk pulang.
" Pulang ke mana?,kitakan gak punya rumah." lirih Syahril memegang perutnya karna kelaparan.
Gadis itu menghela nafas berat.Ucapan Syahril menyusuk ke dalam hatinya yang tersentuh saat Syahril bilang tidak punya rumah.
" Namamu siapa Nak ?"
" Syahril Bu dokter.Bu dokter apa di sini tidak ada makanan gratis??"lirih Syahril memegang perutnya yang sudah tiga hari tidak menyentuh nasi.
"Kalau gitu,ayuk ikut Bu dokter sekalian ajak Om nya juga yah."
Gadis berkerudung ini bernama Desny.Tak lain adalah sahabat Syafa saat kuliah dulu.
Desny mengendong Syahril menuju kantin dan memesan beberapa makanan.
Syahril begitu bersemangat menyantapnya sambil menawarkan ke Ardian yang terdiam karna malu.
__ADS_1