Penantian Panjang Sang Pewaris

Penantian Panjang Sang Pewaris
Bab 45 : Hilangnya Arzil


__ADS_3

Syafa menangis terisak-isak di kamar yang tadinya ia anggap Ruang rindu.Ruang di mana ia bisa mengingat kenangan manis bersama suami tercintanya.


"Ummi...kog lama di kamar? Abi mana? Baru saja Syahril pengen ketemu Abi.Eh malah,sudah pergi!" keluh Syahril yang mulai menerima kehadiran Arzil sebagai Abinya.


"Maafin Abi yah..Abi tadi buru-buru.Sebentar lagi juga pulang.Sabar ya Nak!" ujar Syafa memberi pengertian pada putranya.Syafa memeluk Syahril mendekapkan di dadanya.Kecemburuan tak beralasan yang Arzil lakukan padanya merasa Syafa tertekan.Syafa merasa sakit di kepalanya sehingga memutuskan menelpon suaminya namun di angkat oleh seorang wanita.


"Assalam mu'alaykum..maaf ini siapa? Saya ingin bicara dengan suamiku? Tolong berikan ponsel ini kepadanya!" ucapnya sedikit gemetar karna wanita itu memanggil Arzil dengan nada sedikit manja.


Merasa menunggu lama,Syafa mematikan ponselnya.Dia berusaha untuk tenang dan tidak berpikiran negatif dulu sebelum suaminya menjelaskannya.Syafa menyentuh dadanya tak berhenti menyebut istigfar agar rasa ketakutan serta was wasnya berkurang.


Tak lama Bian datang ingin menjenguk Syafa sekalian keponakannya.Bian mengenteng buah tangan untuk Syahril yang selalu ngambek kalo Bian tidak membawa suatu saat ingin bertemu dengannya.


"Assalam mu'alaykum anak sholeh ! Ummi mana? Ini om bawain kamu sesuatu.Tapi suruh ummi turun ke bawah dulu.Oke Jagoan!"


"Wa'alaykum salam.Oke om.Tunggu di sini.Tapi berikan dulu kresek itu." pinta Syahril mengambil paksa kresek di tangan omnya itu.Lalu berjalan memanggil umminya.Terlihat Syafa keluar dengan wajah yang pucat menambah kekhawatiran Bian terhada adiknya.


"Kau sakit yah?" tanya Bian lalu bergegas berlari menuju Syafa yang tubuhnya sudah gemulai tergeletak jatuh menyusuri tangga membuat mata Bian membulat karna tak sempat menangkap Syafa.Tubuh Syafa terkulai lemah tidak sadarkan diri.Darah mengalir deras dari kepalanya.Dengan sigap Bian menggendong adiknya menuju ke Rumah Sakit.


Sebulan tak berkunjung melihat Syafa menaikkan adrenalinnya saat memandang adiknya sudah tak berdaya.Kesibukan dirinya bekerja membuatnya tak sempat berkunjung menemui adiknya.


Syafa memegang erat tangan Bian seolah ingin mengatakan sesuatu yang berat.Matanya teduh serta pandangannya sudah nanar menatap sang kakak.


"Jika terjadi suatu padaku.Syafa titip Syahril kak." lirihnya lalu terpejam tidak sadarkan diri.Bian mengendong Syahril karna sudah sampai di ambang pintu IGD.


Bian mencoba menenangkan keponakannya yang sudah menangis melihat Syafa.

__ADS_1


"Om.Ummi mau di bawa ke mana??" Rengeknya menangis memeluk Bian.


Bian ingin menanyakan apa yang terjadi pada Syafa belakangan ini.


Terlihat sekali Rumah tangga Syafa sedang ada masalah karna ketidak hadiran Arzil di sampingnya.


Bian mencoba menghuungi Arzil namun gagal membuatnya semakin frustasi.Di tambah lagi masalah hubungan dengan Halwa yang tak tahu kelanjutan ceritanya.


Bian juga merasa aneh atas kejadian terjadi pada Syafa.Seperti yang ia ketahui Ardian dan Paman Athur tinggal serumah tapi sekarang mengapa tidak terlihat.


"Sebenarnya di mana mereka? Awaas kau Arzil! Bisa-bisanya di masalah genting seperti ini kau tidak ada." gerutu Bian mengempal tangan lalu mencoba senyum terpaksa di hadapan Syahril dan Bik Inah.


"Bik,bisa di ceritakan kemana Arzil pergi?"


Flash Back On


Dia duduk menangis sambil memandang foto Arzil.


"Kak! Kau di mana? Apa karna kau marah pada ku hingga menghukumku seperti ini."


Tak lama Ardian dan Paman Athur pulang dari suatu tempat.Keduanya terlihat tegang lalu masuk ke dalam kamar.Syafa ingin bertanya namun hatinya tak kuasa mengingat betapa cemburunya Arzil karna kedekatan dia dan Ardian.Salah satu menjaga perasaan suaminya hanya dengan satu cara yaitu menjauhi Ardian agar tidak terjadi kesalah pahaman antara mereka.


Syafa memilih masuk ke kamar namun ia tak sengaja mendengar obrolan antara Athur dan Bian.


"Paman.Bagaimana kalau Syafa tahu bahwa Arzil mengalami kecelakaan dan sampai sekarang belum di temukan jenazahnya? Aku khawatirkan pasti dia akan terluka.Sampai kapan kita akan merahasiakan ini darinya?" tanya Ardian merasa bersalah menyembunyikan masalah ini pada Syafa.

__ADS_1


"Apa yang kau pikirkan? Justru ini berita terbaik untuk kita.Dengan begitu kita bisa menguasai hartanya dan segera mengambil alih perusahaan miliknya." tegas Athur membuat Syafa terduduk terhempas mendengar pernyataan Athur yang selama ini di anggap Arzil pamannya.Tubuhnya terasa berat tak mampu berjalan.Tulang belulangnya hancur tak mampu menompang dirinya untuk berjalan.


Syafa mencoba bangkit menuju kamarnya.Perasaannya hancur tak karuan.Suami yang ia cintai kini telah pergi meninggalkan dia untuk selamanya.Pikirannya mulai mengingat kenangan indah menjuraikan air mata deras membasahi pipinya.Syafa memeluk Syahril.Dia tak menyangka Syahril akan mengikuti jejaknya menjadi yatim.


Syafa memutuskan pergi ke kantor untuk mengetahui di mana Arzil mengadakan meeting di luar kota.Ia masih balum percaya kalo suaminya telah tiada.Syafa bergegas berjalan lalu masuk tanpa bertanya pada Sekretarisnya.Semua menatap aneh kehadiran Syafa yang datang mendadak mengusik jiwanya yang merindukan suaminya.Tujuannya cuma satu memastikan suaminya masih hidup atau telah meninggal.Kalaupun telah tiada di mana jenazahnya.Kata-kata itu bermain di pikirannya membuatnya bersemangat untuk mencari suaminya.


Ardian dan Athur yang sudang duduk menikmati merayakan hari bahagianya karna sudah berhasil menjadi pemilik perusahaan Arzil.Ardian duduk memutar kursinya tertawa kecil karna sudah sah menjadi CEO di perusahaan milik sang kakak.


Syafa membuka pintunya sambil ketawa menyindir.Jiwanya menjerit saat mengetahui Ardian dan Athur di balik pengkhianatan ini.


"Inikah caramu membalas kebaikan kakakmu??Asal kalian tahu! Aku tak butuh harta ini.Sekarang beri tahu aku di mana suamiku?" teriak Syafa menghentak meja kerja Ardian .


Ardian berdiri dan memainkan alisnya memutar Syafa yang sudah berdiri menatap tajam padanya.


"Kau ingin bertemu suamimu? Temui saja ia di Akhirat karna suamimu yang bodoh itu sudah meninggal." cetus Ardian.Kemudian duduk kembali melipat tangan mengusir Syafa keluar.


"Keluar kau! Sebelum aku menyuruh security mengusir paksa."


" Asalkau tahu! Pewaris tunggal Arzil masih hidup jadi jangan harap kalian bisa tenang menikmati harta warisan anak yatim.Camkan itu!" ujar Syafa mengentak meja memudar semangat Ardian dan Athur mengingat Arzil memiliki seorang putra yaitu Syahril.


Syahril sedang bermain bersama Bik Inah Art kepercayaan Arzil.


"Den Syahril hati-hati takut jatuh.Tapi bik, bola Syahril?" Rengeknya melihat bolanya meluncur jauh menuju jalan besar.Syahril berlari namun dengan cepat Syafa menghentikan karna ada mobil yang melaju.Tubuh Syafa sedikit tergores menahan Syahril yang hampir celaka karna ada yang sengaja melakukan aksi tersebut.


"Kamu gak apa-apa kan sayang?"rintihnya memeriksa tubuh Syahril dan menangis memeluknya.

__ADS_1


"Syahril tidak kenapa-kenapa ummi.Jadi,jangan menangis! Syahril sehat." ucap Syahril mengusap lembut air mata Syafa yang sudah keluar membasahi pipi.


__ADS_2