Penantian Panjang Sang Pewaris

Penantian Panjang Sang Pewaris
Bab 32 : Depresi


__ADS_3

Syafa menatap kubur Atikah . Kepergian sang Ibu membuatnya begitu terpukul pasalnya ia baru merasakan belaian kasih Ibu tapi harus berpisah untuk selamanya .


Bian sang kakak selalu setia mendampingi Syafa apalagi mengingat pesan terakhir mamahnya .


" Syafa , kamu yang sabar yah . Selagi ada kakak , kakak akan berusaha melindungimu " ujar Bian mengusap punggung Syafa dan menyandarkan kepalanya di pundak .


Setelah membacakan do'a untuk mamahnya Syafa mulai melangkah meninggalkan pemakaman . Meski lengannya masih terasa nyeri tapi ia kuatkan demi melihat Ibunya untuk terakhir kali .


Terlihat Arzil juga tak kalah dari Bian berusaha menemani istrinya .


" Syafa , sudahlah jangan sedih lagi . Aku tak bisa melihatmu menangis " lirihnya memandang mata Syafa udah sembab kebanyakan menangis .


Syafa terlihat begitu pucat , dalam sehari ia harus merasakan kehilangan sosok Ibu dan sosok Syahril penyemangat hidupnya.


" Syahril,kau di mana Nak.Ummi rindu..." lirihnya memeluk baju Syahril dengan berlinangan air mata.


Halwa dan Farah juga setia menemani Syafa.Syafa terlihat depresi bahkan terkadang senyum dan menangis mengingat putranya yang begitu ia cintai.


Sebulan sudah Syafa uring uringan di rumah.Sejak Syahril menghilang Syafa lebih suka menyendiri.Terkadang ia menangis,tertawa,bahkan menghalu bertemu putranya.


" Syafa,tolong jangan siksa dirimu seperti ini.Masa depanmu masih panjang.Apa kau tak kasihan dengan Arzil,suamimu.Dia juga butuh perawatan dan pengobatan untuk penyembuhan kakinya" nasehat Bian menenangkan Syafa udah di luar batas pemikirannya dan tingkahnya.


Bian sedih,bingung,dia tak tahu harus menggunakan cara apa agar Syafa tidak terus terusan menyalahkan dirinya sendiri.


Begitu juga Halwa dan Farah sedih melihat Syafa yang begitu depresi kehilangan Ibu dan putranya.


" Syahril....akhirnya kamu kembali.Ummi sudah kehilangan nenek jadi ummi mohon Syahril jangan tinggalkan ummi yah" ujar Syafa memeluk bonekanya.Syafa memeluk sambil menangis meratapi kepergian sang anak.


Syafa tahu itu adalah boneka,tapi ia terus saja berhalu tentang putranya yang tak tahu di mana.


" Sayang,kakak mohon jangan siksa seperti ini.Ini kakak bawain nasi dan lauk kesukaan kamu,kamu makan yah.Biar kamu cepat sembuh kemudian kita cari Syahril sama-sama.Okeyy!"pinta Arzil mengulurkan sendok berisi nasi agar Syafa mau makan.


" Tidak,aku tidak mau makan kalau Syahril tidak di sini." ujarnya sambil tersenyum melihat Bian menuju ke arahnya dan memberikan boneka kesayangan Syahril.


Boneka Tayo pemberian dari Atikah saat Syahril pertama tinggal di sini.

__ADS_1


Flash Back On


" Syahril..nenek senang banget ternyata sekarang sudah punya cucu,ganteng lagi." Ucap Atikah mencubit dagu Syahril.Syahril membalas dengan senyuman.


Kemudian datanglah Bian membawa bungkusan besar berisi sebuah boneka Tayo kesukaan Syahril.


" Ye ye ye , Syahril dapat boneka . " Ujarnya sambil meloncat loncat di sofa .


" Telima kacih Nek.Syahril saayang nenek.Nenek kog tau kalo Syahril pengen boneka ini?, dulu Syahril mintak sama ummi tapi kata ummi uangnya belum cukup." Lirih Syahril memandang umminya.


" Iyya Bu.Bu kan tahu keadaan Syafa seperti apa?"kata Syafa mengingat kondisi ekonominya sangat minim.Dapat untuk kebutuhan sehari-hari saja udah bersyukur.


Syafa emang wanita yang selalu tampil apa adanya.Kehidupan sulit tidak membuatnya untuk memaksa diri berhutang ke sana ke sini.Baginya kebahagiaan bukan berasal dari harta melainkan rasa syukurlah hingga Allah menambah kenikmatan pada hamba-hambanya.


" Nanti kalo Syahril udah dewasa,Syahril bawa nenek,ummi,dan Om Bian naik mobil ini." ujar Syahril membuat Syafa tersenyum begitu juga Atikah dan Bian.


Flash Back Off


Syafa memeluknya begitu erat . Sementara Arzil melakukan pengobatan di rumahnya di temani Kevin.


Bik Inah begitu tampak bahagia namun wajahnya gusar mengkhawatirkan Naurah yang di tinggal Tapasya begitu saja.


" Mimy..Naurah rindu." Rengek Naurah memegang baju Bik Inah.


Naurah berlari memeluk Arzil, " Pipi...mimy mana?,udah hampir satu minggu mimy tak pulang-pulang.Mimy tak sayang lagi yah sama Naurah. " Rintih Naurah mendongak ke Arzil yang cuek sejak mengetahui Naurah bukan putrinya.


" Aku tidak tahu di mana mimy mu...dan jangan bertanya kepadaku lagi.Mimy mu sudah berbohong padaku,termasuk oma mu." Ucap Arzil dan pergi di ikuti Kevin mendorong rodanya.


Sebenarnya Kevin merasa tak tega melihat Naurah menangis.Mengenang kejahatan Tapasya menjadi benci.Tapi anak tetaplah anak dia tak pernah bisa memilih dari rahim siapa,apakah rahim dari Ibu yang baik atau sebaliknya.


Setelah mengantar Arzil ke kamar,Kevin turun mengendong Naurah menuju kamar Arzil.


" Arzil,apa kau tega membiarkan anak cantik ini tumbuh tanpa sosok Ibu dan Ayah yang menyayanginya." Tanya Kevin.


Arzil melirik ke arah Naurah , " mungkinkah aku menerimanya . Meskipun aku tak yakin kalau Naurah anak Bian." Gumamnya dalam hati

__ADS_1


" Kau boleh membenci Ibunya . Tapi ingat,dia ini masih kecil tidak tahu menahu masalah Ibunya.Menurutku tidak salahnya kau mengadopsinya."Ucap Kevin merayu Arzil agar menerima kehadiran Naurah,bocah kecil yang mungil ini.


Naurah berlari memeluk Arzil yang lagi duduk besandar di tempat tidurnya.


" Jangan tinggalkan Naurah Pi,Naurah tak mau pisah lagi sama Pipi "


" Iya sayang,pipi tidak akan meninggalkan Naurah lagi."


"Pipi ke mana saja selama ini?"tanya Naurah melihat Arzil lalu memeluknya.


dret dret dret


" Selamat siang Pak,kami dari Kepolisian sudah menemukan Aldan,Tapasya,dan Elsa beserta Ibunya.Silahkan anda datang ke kantor polisi untuk menindak lanjuti kasus ini."Ujar petugas kepolisian."


" Baik Pak,saya segera ke sana."


tut tut tut


Arzil meminta Kevin membawanya ke kantor Polisi.


" Kevin,aku mendapat info bahwa mereka sudah di temukan pihak kepolisian.Polisi meminta kita ke sana."


" Baiklah."


Sesampai di kantor Polisi terlihat Syafa dan Bian sedang berbicara menanyakan perihal Syahril yang saat ini tidak bersama mereka.


" Di mana kau sembunyikan keponakanku,hah?"bentak Bian mencekik baju Aldan.Saat kejadian itu Aldan dan lainnya kabur.Kemudian Bian melaporkan secara diam-diam pada sahabatnya yang juga berprofesi sebagai Polisi.


" Aaaku tidak tahuu,tanyakan pada Elsa dan mamahnya.Karna merekalah yang membawanya?"


" Elsa sekarang kau katakan di mana Syahril?,cepat katakan sebelum aku menyiksa hidupmu lebih hancur dari ini?"ancam Bian menatap tajam Elsa dan mamahnya.


" Hahhh,kau pikir aku takut dengan ancamanmu itu.Jangan pernah berpikir kalau aku akan memberi tahunya.Melihat kau dan Syafa hidup dalam keterpurukan itu sudah buat aku senang.Apalagi melihat kak Arzil yang serakah itu akan harta warisan dedy tambah membuatku puasss" ucap sombong Elsa yang masih kekeh tetap pendiriannya.


Bian berjalan menatap Sheila,"jika mereka tidak mau jujur,kurasa kau pasti akan jujur padaku.Tolong katakan di mana Syahril?,kau kan seorang Ibu pasti bisa merasakan bagaimana rasa sakit kehilangan orang yang kita sayangi.Kau lihat Syafa adik ku dia seperti orang gila yang terlalu memikirkan putranya.Apa kau tega sesama wanita?"lirih Bian duduk menghadap Sheila yang menunduk.

__ADS_1


__ADS_2