Penantian Panjang Sang Pewaris

Penantian Panjang Sang Pewaris
Bab 34 : Masa lalu Arzil


__ADS_3

Belum sebulan kepergian sang mamah , Dady Arzil bernama Malik membawa seorang wanita serta sepasang anak dari pernikahan siri yang di lakukan bersama wanita bernama Aida.


" Dady...." panggil Arzil memeluk Malik yang baru pulang dari luar kota.Langkahnya terhenti saat mendapatkan ada wanita bersama Dadynya.


" Hallo sayang,anak kebangaan Dady,bagaimana keadaanmu?"ucapnya sambil mengusap rambut Arzil.


Arzil menunduk dan jiwanya terasa hampa.Belum genap sebulan Dadynya sudah membawa wanita lain.


" Oh yah,Daddy lupa.Kenalin ini Aida,mamah tiri kamu dan yang dua anak itu adik-adik kamu,namanya Ardrian dan Elsa."


Mendengar ucapan daddynya Arzil termundur.Baru saja ia merasa rindu sosok mamynya tapi Daddynya dengan mudah melupakan sang mamy yang sangat berjasa dalam hidupnya.


Perusahaan yang Malik jalani sekarang itu murni harta turunan dari Jihan.Jadi wajar kalau pewarisnya adalah Arzil.


Tapi Aida merasa iri , ia merasa Arzil tidak adil pada adik-adiknya .


Kematian Jihan juga rencana dari Aida yang menginginkan statusnya berubah menjadi Nyonya di keluarga Anggara.


Setelah Daddynya mengetahui rahasia Aida selama ini.Malik marah dan melempar beberapa bukti yang tak sengaja ia temukan di dalam lemari.


" Aida,mengapa kau tega membunuh Jihan??"Malik menatap tajam Aida,seakan sedang mengintrogasi Aida yang di anggap lugu dan polos ternyata memiliki pisau yang tajam yang siap menusuknya secara pelan.


" Kau mau tahu mengapa ??? "


Aida melempari surat-surat warisan ke arah Malik.Surat itu adalah surat wasiat Jihan yang sengaja ia tulis bahwa seluruh hartanya jatuh ke tangan Arzil sang pewaris keluarga Anggara.


Malik membungkam...perkataan Aida membuatnya kecewa.Aida orang baru di rumahnya tapi sudah berani mempermasalahkan harta warisan peninggalan istri pertamanya.


" Kau....keterlaluan Aida " ujarnya.Suara Malik gemetar seakan tersekat oleh beban yang berat.Kecewa pada Aida yang ia anggap istri yang sayang pada dirinya serta Arzil tapi justru menampakkan gigi taringnya yang siap menerkam.


Malik menyentuh dadanya yang sudah sesak.Tubuhnya lunglai ia terjatuh hingga meninggal dunia.


Aida yang sudah merancang semuanya membuat ini seolah olah kejadian murni tanpa campur dari tangannya.


Ia menelpon Arzil yang sedang menempuh ilmu di Paris,London.

__ADS_1


" Hallo Arzil..hiks hiks hiks,Daddy mu Nak.Di di aa meninggal dunia akibat serangan jantung " ucap bicaranya penuh kepalsuan.


Arzil tersentak kaget hingga ponselnya terjatuh.Sebulan yang lalu Daddy nya baik baik saja tapi mengapa tiba-tiba mendadak mendapat kabar telah tiada.Pandangan kosong masuk ke dalam ingatan memory sebelum ia pulang ke Paris karna libur semesternya selesai.


" Arzil,Daddy titip ini.Ini adalah berkas-berkas penting.Daddy harap kau menjalankan sesuai amanah.Baca ini kalo Daddy telah tiada."


Air mata Arzil jatuh membasahi pipinya.Di bukanya kaca mata dengan cepat ia usap dan bersiap siap berangkat ke kota J tempat Daddy nya tinggal.


Terlihat seseorang sudah di tutup kain bercorak.Arzil terduduk menatap nanar kain bercorak itu tak lain adalah Malik.


Mulut mengbukam menahan gejolak yang ingin meledak ledak.Ingin rasanya berteriak agar bebannya terlepaskan.


" Daddy...." teriak kecilnya.Arzil melihat Mamah tirinya juga ikut sedih atas kepergian Malik.


Setelah pemakaman selesai ia menuju ke arah Aida, " mah,usai pemakaman ini ada yang ingin Arzil katakan."


Arzil memeluk sang adik bernama Ardian yang umurnya hanya berbeda lima tahun.


Kala itu Arzil berumur 20 tahun sedangkan Ardian 15 tahun.Keduanya begitu kompak dan akur.


" Sungguhhh..kak!" sahut Elsa mendongak ke wajah Arzil yang juga sesekali menatap keduanya.


" Tentu Elsa.Bagi kakak harta yang paling beharga adalah keluarga.Keluarga kakak adalah kalian termasuk mamah."


Arzil menatap mamahnya penuh harap.Apalagi sekarang ia sudah mendapat gelar yatim piatu.Harapannya adalah membuat keluarganya bahagia meski ia tahu sifat mamahnya karna sebelum Daddynya meninggal Malik sudah menceritakannya tapi Arzil tidak percaya dan berusaha mencoba menepis dugaan Malik pada mamah tirinya.


"Mah,kemungkinan Arzil tak bisa lama.Arzil harus melanjutkan study Arzil hingga selesai.Jadi,untuk sementara Perusahaan akan di serahkan kepada Pengacara Daddy yaitu Pak Anton.Nanti beliaulah yang mengaturnya.Untuk segala kebutuhan beliau juga yang mengurus." Jelas Arzil agar mamahnya mengerti.


" Baiklah " jawab Aida dengan senyum terpaksa.


Arzil tahu mungkin keputusannya agak sedikit berat.Raut Aida terlihat menolak setelah Arzil mengutarakan keinginannya.


Seminggu sudah Arzil tidak masuk kuliah.Dia memutuskan untuk kembali ke London,tak lupa berpamitan pada mamahnya.


" Mah,Arzil pamit ya...Arzil titip dua bocah ini.Kalo mereka bandel telpon saja Arzil.Nanti Arzil kasih pelajaran."

__ADS_1


Arzil tersenyum puas menakuti adiknya Elsa dan Ardian memeluknya begitu erat.


" Kami sayang kakak.Kami janji akan belajar sungguh-sungguh dan menjadi adik kebanggaan kakak , " ucap Elsa dan Ardian menyerahkan kelingking mereka ke arah Arzil agar membentuk tiga ikatan yang saling terhubung.


" Janji yah! , kakak pegang loh omongan kalian," lirihnya sambil membuka pintu mobil dan masuk lalu melambai tangan.


Arzil terlihat sedih meninggalkan mereka.Waktu terus berjalan tak terasa Arzil menyelesaikan pendidikan di London.Rasa rindu pada keluarga sudah bermain di pikirannya.


Tak lupa sebelum pulang,Arzil membelikan oleh-oleh untuk mamah dan adik-adiknya yang pasti sudah menunggunya.


" Alhamdulillah sampai juga " ucap syukur turun dari pesawat.


Ardian dan Elsa sudah melambai tangan menyambut kedatangannya. " Kak Arzil.." teriak Elsa si suara cempreng. Jika berteriak Arzil selalu merasa risih dengan suara khasnya.


" Iyaaa " jawab Arzil melambai tangan sambil tersenyum mengembang melihat adiknya yang sudah dewasa.


" Mamah mana????" Arzil memandang segala arah mencari mamahnya namun tidak ada.Arzil menatap Elsa," mamah lagi gak enak badan.Kak , oleh-olehnya mana?" rengek Elsa menarik tangan Arzil.


" Kamu tuh yah.Kak baru saja sampai malah di tanyain oleh-oleh." keluh Arzil menghela nafas berat lalu menggeleng .


Arzil berjalan menarik kopernya kemudian memasukkan ke dalam bagasi dan menyuruh supir untuk mengantar ke tempat mamahnya.


" Assalam mu'alaykum mah..." sapa Arzil


" Wa'alaykum salam.Eh kamu sudah sampai.Maafin mamah yah,gak bisa jemput kamu di bandara."


" Tidak masalah mah.Kata mereka mamah kurang sehat.Bagaimana kita ke dokter saja?"pinta Arzil yang perhatian pada mamahnya yang sebenarnya hanya berpura pura sakit.


" Tak perlu Nak "


Malamnya Pak Anton berkunjung ke rumah keluarga Anggara untuk membacakan wasiat Malik.Semua terlihat begitu tegang khususnya Aida yang sangat menginginkan harta warisan jatuh ke tangannya.


" Apa kalian sudah siap untuk mendengarkannya " ucap Pak Anton dengan tatapan serius.Kali ini Pak Anton membacanya agak sedikit ketakutan pasalnya surat wasiat itu berisi menyerahkan harta warisan sepenuhnya ke Arzil tanpa memberi sepeselpun untuk Ardian,Elsa dan Aida.


Sehingga terjadilah perselisihan sehingga mamahnya memutuskan untuk pindah ke Paris mengikuti Ardian yang juga menuntut ilmu di sana.

__ADS_1


Sementara Elsat tidak di izinkan ke Paris.Arzil memilih Elsa menempuh di perguruan yang tak jauh dari kotanya.Mengingat pergaulan sekarang begitu bebas.


__ADS_2