Penantian Panjang Sang Pewaris

Penantian Panjang Sang Pewaris
Bab 26 : Pengakuan Syafa dan Bian


__ADS_3

Syafa menekuk lutut di kamar barunya.Memandang ruangan yang begitu luas seukuran rumah lamanya.Ia menyusuri setiap langkah menatapi arsitektur kamar yang begitu mewah.


Dia membuka jendela melihat halaman yang begitu luas.


klek


"Dok...ter!"


"Boleh aku masuk ke dalam?"tanya Bian melihat Syafa berdiri di sisi jendela.


"Hehm.Ada apa ke sini?"


Bian mengambil kursi dan duduk di hadapan Syafa.Syafa menunduk merasa malu saat Bian menatapnya.


"Syafa..aku ini kakakmu.Mengapa kau masih malu padaku." Ungkap Bian menyuruh Syafa duduk di kasur.


"Aku ingin pulang.Aku tak mau tinggal di sini."Pinta Syafa duduk di samping Syahril yang lagi tertidur begitu pulas.


"Apa kau tega membangunkan Syahril yang begitu pulas tidur di sini?"


"Lalu tujuanmu ke sini apa?"cetus Syafa


"Siapa Abi Syahril?"tanya Bian yang begitu penasaran.Apalagi setelah mengetahui Syafa adalah adiknya.


"Aku tidak tahu.Tapi Arzil mengakui Syahril adalah putranya."Ujar Syafa bingung.


"Baiklah.Serahkan saja urusan ini padaku."Titah Bian agar Syafa tidak perlu memikirkan siapa Ayah dari Syahril.


Tak lama kemudian,Atikah datang membawa mapan berisi minuman dan cemilan.


"Mamah"ucap Bian dan menyuruh Atikah duduk di sampingnya.


"Ibu..Syafa tidak mau tinggal di sini."Tegas Syafa yang belum bisa menerima kenyataan pahit ini.


Rasa trauma hidup bersama orang kaya.Masih tergiang dalam pikirannya.


"Syafa....kamu putri Ibu.Ibu tak mungkin membiarkan kamu tinggal di rumah yang begitu sempit dan fasilitas tidak memadai.Kasihan Syahril,dia pasti kedinginan tidur di kasur yang begitu tipis.Apa kau tak kasihan dengan putramu?.Oh yah uang yang tadi dari mana kau mendapatkannya?"tanya Atikah menyerahkan amplop coklat ke tangan Syafa.

__ADS_1


"In...ni uang Halwa.Aku meminjamnya karna tak mau berhutang budi pada Dokter."Lirih Syafa menjawabnya.Bian yang mulai menerima Syafa menjadi adiknya tersenyum karna Syafa masih memanggilnya Dokter.


"Panggil kakak saja.Arzil saja bisa kau panggil kakak,masak dengan aku tidak bisa."Cetus Bian membuat Syafa mèlongo menatapnya.


"Jadi kau iri padanya?"


"Tentu.Akulah seharusnya kau panggil kakak.Bukan Arzil yang rela menduakan cintamu."Sindir Bian yang berdiri sambil berbicara melihat situasi di luar.


"Aku masih bingung Bu.Bukankah kata Bapak kakak ku sudah meninggal?"tanya Syafa melihat ke arah Ibunya.


"Ibu terpaksa berbohong Nak.Sebenarnya kakakmu masih hidup.Ibulah yang memberinya kepada Nyonya Rianti karna beliau telah membantu Ibu membiayai persalinan Bian.Kala itu Ibu bingung,dan dengan berat hati Ibu memberikan Bian pada Nyonya Rianti.Nyonya Rianti sakit kanker rahim sehingga tidak bisa mempunyai anak.Makanya Ibu ke kota ini untuk menemui Bian sesuai perjanjian yang di sepakati Nyonya Rianti."Lirih Atikah mengungkap maksud ia ke kota dan trrpaksa meninggalkan Syafa yang masih berusia tiga bulan.


Syafa menangis terharu.Ternyata dugaan Ibunya meninggalkannya bukan karna harta melainkan kerinduan pada sang anak.


"Maafin Syafa Bu.Syafa benar-benar tidak tahu kalo Ibu ke kota ini mencari Dokter ini." Senyum Syafa melihat Bian yang mulai sedikit kesal mendengar Syafa memanggilnya Dokter.


Bian beranjak duduk di samping Syafa dan mengusap kepala Syafa.


"Kau sekarang sudah berani usil padaku.Kau tahu Syafa,aku menyukaimu karna senyum manismu itu.Sayangnya senyum itu bukan untuk ku."Lirih Bian mengingat saat ia begitu mengharap Syafa menjadi istrinya.


"Hush.Bicara apa?"


"Kau adalah kakak ku.Ingat....masih ada Halwa tuh yang nungguin kakak."Cetus Syafa mencolet hidung mancung Bian.


"Halwa...? siapa dia ?"tanya Atikah antusias saat nama Halwa di sebut Syafa.


"Ibu tidak tahu.Kalau kau Bian ini punya penggemar rahasia?"sindir Syafa.Sementara Bian mulai beranjak pergi karna tak mau membahas tentang Halwa.


Keesokan harinya Syafa yang sudah memakai seragamnya turun ke bawah untuk sarapan.


"Syafa...kau mau ke mana?"tanya Bian menatap Syafa yang sudah siap masuk bekerja.


"Aku mau kerja kak.Sudah hampir tiga minggu aku tidak masuk kerja.Rasanya rindu sama teman-temanku.Lagipula kalo gak kerja terus ntar gaji ku di potong lagi."Cetus Syafa yang sedang memoles roti tawar dengan selai dan memberikan ke Bian yang juga duduk bersamanya.


Usai sarapan Bian dan Syafa menyalami Ibunya .


"Bu..Syafa titip Syahril yah!"pinta Syafa menyalami Ibunya.

__ADS_1


"Iya sayang.Kalian hati-hati yah."Pesan Ibunya yang begitu menyayangi Bian dan Syafa.


♧♧♧♧♧


"Kak aku duluan yah?"ucap Syafa menutup pintu mobilnya dan berlari menuju ruangan kerjanya.


Farah dan Halwa yang juga sama berjalan beriringan menuju ruangan kerja tak sengaja melihat Bian berjalan terburu-buru mengejar Syafa.


"Syafa tunggu!.Dasar bocah kurang ajar main tinggal saja."Cetus Bian mengusap jilbab Syafa, tak sengaja Syafa menatap dalam Bian yang sudah menjadi kakaknya.


Rasa bahagia Syafa terlihat di wajahnya.Dia menampakkan sikap romantis bukan sebagai kekasih melainkan sebagai kakak yang akan menjaga dan melindunginya.


"Kak,nanti pulang duluan saja yah.Aku mau ketemu Halwa dan Farah dulu.Sekalian mau balikin uang ini."Ucap alasannya yang sebenarnya ingin menjadi mak comblang untuk Bian dan Halwa.


"Syafaaa.."panggil Farah sambil melambai tangan.


Tidak di Halwa yang masih diam karna rasa cemburu pada Syafa.


"Halwa.Ini aku kembalikan uangmu." Syafa menyerahkan amplop kepada Halwa dengan paksa.


"Bukankah kau bilang ingin memberi ini kepada Dokter Bian.Agar pernikahanmu di batalkan."Ucap Halwa yang masih berharap bisa memperjuangkan cintanya untuk Bian.


Meskipun kemarin ia mengatakan ikhlas untuk melupakan perasaannya.Tapi tidak semudah ucapannya yang harus berbalik arah mencintai Bian.


"Aku tak butuh uang ini Halwa.Selama ini aku baru menyadari bahwa kak Bian sangat mencintaiku."Ucap Syafa mengandeng Bian.Syafa melirik Bian yang biasa saja melihat Halwa dan tersenyum melihat ulah adiknya,Syafa.


Halwa merasa cemburu tak mampu menahan rasa sakit hatinya yang begitu teriris saat Syafa mengatakan Bian sangat mencintainya.


"Kalian dari mana?"Senyum Farah melihat Syafa bergandengan dengan Bian begitu mesra.


"Dari rumah.Aku belum cerita nih sama kalian.Sebenarnya aku dan kak Bian batal menikah loh.Iya kan kak?" Syafa melepas tangannya dan mengangkat dagu Halwa yang menunduk menahan air matanya.


"Kau serius Syafa?.Kog bisa?" Ujar Farah berdiri di depan Syafa yang sedang menatap Halwa.


Syafa mengangguk dan memeluk Halwa.


"Aku dan Kak Bian saudara.Iyakan kak?"cetus Syafa menyenggol lengan Bian agar membuat pengakuan pada Sahabatnya.

__ADS_1


"Iya"Ujar singkat Bian meninggalkan mereka dan sekilas melirik Halwa yang tersenyum bahagia.


__ADS_2