Penantian Panjang Sang Pewaris

Penantian Panjang Sang Pewaris
Bab 47 : Amel dan Syahril


__ADS_3

Berto membawa Syahril ke Rumahnya.Terlihat Amel dengan pakaian kumuhnya tersenyum menunggu sang Ayah di depan pintu.


"Ayahhh" panggilnya berlari menghambur memeluk kaki Ayah yang sedari tadi ia tunggu.Amel mendongak ke Ayahnya dan memandang Syahril.


"Siapa dia?" lirikya lalu mengangkat tangan agar Berto menggendongnya sambil mencubit hidung Amel yang mancung.


"Iya,Ayah lupa memperkenalkanmu padanya.Dia Syahril! Mulai sekarang dia akan tinggal bersama kita.Dia juga akan menjadi temanmu.Jadi putri Ayah tidak akan kesepian lagi.Iyakan Syahril??"


"Iya.Benar yang di katakan om Berto." ujar Syahril kemudian tersenyum melirik Amel yang masih dalam gendongan Berto.


"Mari Syahril masuk!"titahnya berjalan menuju Rumah tuanya di ikuti oleh Syahril.Syahril merasa takut dan ragu untuk masuk.


Di samping Rumah itu kecil.Dinding Rumahnya juga terbuat dari triplek yang sudah mengembang di sirami air hujan.Rumah itu juga di kelilingi barang-barang bekas serta tumpukan sampah sudah pasti akan ada binatang yang berbisa.Meskipun dirinya pernah hidup miskin tapi tak separah kehidupan yang di alami Berto dan Amel saat ini.


Syahril merasa takut menghadapi situasi seperti ini.Apalagi memikirkan dirinya masih kecil belum bisa melindungi dirinya dari musuh.Baik musuh yang terlihat maupun tidak.


Berto membuka nasi bungkus lalu menyuapkan untuk putrinya.


"Ayo Nak di makan!"titahnya menganga memberi arahan agar Amel membuka mulutnya.


"Tumben Ayah!Lauknya enak? Biasa juga sayur doang." cetus Amel memakannya dengan lahap hingga tak tersisa.


"Syukuri saja.Ini semua karna Ayah bertemu dengan Syahril.Anak itu bukan anak sembarangan." bisik Berto sambil memandang Syahril yang lagi main lukis lukisan di tanah.Entah mengapa ia merindukan umminya.


"Ummi!Syahril rindu." lirihnya memeluk batang lidi yang dia gunakan untuk melukis gambar.Syahril mengambar anak kecil yang sedang bergandengan dengan seorang wanita berjilbab.Dia sangat merindukan dekapan kasih ummi yang menghangatkan dirinya.


Malam ini Syahril tak bisa tidur.Bunyi nging nging mengusik hingga sulit untuk memejamkan mata.Syahril sibuk menggaruk garuk tangan dan kakinya yang gatal karna gigitan nyamuk.


Dia merasa heran melihat Amel dan Berto tertidur pulas hingga terdengar dengkuran.Syahril memeluk dirinya sendiri dan menangis teringat pada umminya.


Suara tangisan Syahril membangunkan Berto dari tidurnya.Berto menghampiri Syahril yang menggusal gusal kedua matanya.


"Kau belum tidur Nak!"


Syahril hanya menggeleng sambil tersedu-sedu menunjukkan tangannya yang sudah berbentol bentol karna gigitan nyamuk.


"Rupanya ini penyebab kau tak bisa tidur?"kata Berto memegang lengan Syahril.Berto memeluk Syahril sambil memegang baju untuk mengusir nyamuk yang menganggu tidur Syahril.Syahril merasa hangat lalu memejamkan mata dalam dekapan Berto hingga menjelang shubuh.

__ADS_1


Azhan subuh berkumandang membangunkan jiwa Syahril yang sudah terbiasa berjamaah bersama umminya.


"Om bangun.Hari sudah shubuh! Sebaiknya kita sholat shubuh dulu." ujarnya menepuk nepuk pipi Berto agar bangun dari tidurnya.


"Masih pagi Ril.Om masih ngantuk.Haaaaa!"ucapnya lalu menguap dan tidur lagi.


Syahril menggelitk pinggang Berto namun tak mendapat respons.Akhirnya Syahril memilih Sholat sendiri.Setelah sholat ia memilih duduk di luar sambil memandang langit yang sudah mau terang.


"Ummi.Syahri kangen! Akankah kita akan bertemu lagi? atau selamanya Syahril hidup di sini bersama keluarga om Berto." lirihnya memandang lagi lalu mengusap air mata dengan lengannya.


Berto dan Amel baru saja terbangun dari tidurnya.Berto keluar mencari Syahril terlihat sedang melamun jauh.


"Syahril!Kau mau ikut aku atau tetap di sini?" tanya Berto sambil mengenteng goni dan memegang besi untuk mengisi barang bekas ke dalam goni.


Syahril menggeleng lalu memandang langit kembali.Tiba-tiba dia berpikir mengapa tidak meminta tolong pada Berto untuk mengantarnya pulang bertemu Syafa.


Syahril duduk memeluk betis Berto," Om.Syahril mohon!Tolong antar Syahril ketemu ummi?Syahril kangen ummi." pintanya memelas.


"Maaf aku tidak bisa!"lirihnya membangunkan Syahril dan berjongkok di hadapannya sambil mengusap lembut punggung Syahril agar kuat menjalani keras kehidupan ini.


"Aku bilang tidak bisa ya tidak! Emang kau tahu alamat keluargamu? atau nama kota tempat tinggalmu?"cetus Berto membuat tangisan Syahril pecah.


"Jakarta." Satu kata yang Syahril tahu.Selebihnya ia tidak tahu karna masih kecil jadi tidak menghafalkannya.


"Asal kau tahu sekarang ini kau di kota Bandung.Jarak untuk ke sana sangat jauh.Lagipula Jakarta itu luas." kata Berto melangkah melanjutkan rutinitas pekerjaannya yang tertunda karna ulah Syahril.


Amel menghampiri Syahril sambil tersenyum.


"Sudah!Jangan sedih.Dulu aku juga sama sepertimu.Berpisah dengan Bunda karna tragedi malam itu.Ayahku terpaksa membawa lariku dan meninggalkan Bunda.Kala itu Bundalah yang memaksa Ayah untuk membawaku pergi.Tapi..saat ingin menyelamatkan Bunda.Ayah terlambat karna Bunda sudah tertembak.Demi melindungiku Ayah terpaksa berlari meninggalkan Bunda yang sedang terluka.Apa kau tak lihat kaki Ayahku sedikit pincang karna peluru itu.Aku masih ingat tragedi itu.Tragedi di mana aku harus berpisah pada Bunda yang begitu aku sayangi.Kemudian Ayah memutuskan pindah ke luar kota demi menyelamatkanku." lirih Amel mengusap air matanya.


Sejak itu Syahril tak pernah lagi mengeluh dan meminta Berto mengantarkannya ke Rumahnya.


TIGA BELAS TAHUN KEMUDIAN


Hari ini Berto mengajak Syahril ke pasar untuk membantunya bekerja sebagai tukang pikul.Syahril yang terbiasa dengan kehidupan yang kerasnya membuat dirinya menjalani tanpa beban.


"Lumayan!Muach!"ujarnya menghitung uang lalu menciumnya.

__ADS_1


Meski begitu ia tak lupa ajaran umminya untuk tetap menjaga sholat meskipun sedang melakukan pekerjaan.


Dia menghentikan pekerjaan saat Azhan berkumandang.


"Alhamdulillah.Sudah waktunya sholat." ucapnya lalu berjalan menuju ke mushola.


Setelah melaksanakan sholat ia kembali ke Pasar.Syahril bergegas pergi namun di hentikan beberapa preman yang biasa melakukan pungli di Pasar.


"Hei! Bocah.Berikan uang itu pada kami.Kalau tidak kau akan tahu akibatnya?"ucap ke lima Preman yang siap menghajar Syahril.


Syahril merasa takut dan berlari.Berto yang sibuk mencari Syahril tak sengaja melihat Preman sudah berkeliling memutar tubuh Syahril.


"Hentikan! Kalau berani hadapi aku." kata Berto menantang kelima Preman yang sok jagoan.


Syahril berlari bersembunyi di belakang pohon sambil memperhatikan pertarungan antara Berto dan preman itu membuatnya terkagum-kagum.Aksi Bela Diri Berto luar biasa membuat preman itu ketakutan dan lari tunggang langgang meninggalkan Berto yang sudah berkacak pinggang lalu merangkul pundak Syahril untuk pulang.


Sepanjang jalan Syahril tergiang-giang dengan aksi Berto.Rasa keinginan tahunya tinggi dan meminta Berto mengajarinya.


"Om.Ajarin Syahril ya?Syahril mohon." Rayunya memelas di depan Berto yang sedang mengunyah gorengan yang mereka beli sewaktu pulang ke Rumah.


"Tidak.Kau masih kecil."


Syahril memain matanya ke arah Amel untuk meminta pembelaan.


"Ayah.Sama ilmu kog pelit.Syahrilkan sudah besar.Sudah seharusnya Ayah menurunkan ilmu kepadanya.Amel juga mau! Biar gak bergantung terus sama Ayah." bujuk Amel memegang tangan Ayahnya sambil tersenyum ke arah Syahril.


"Kalian berdua itu sama saja."


"Kog sama?Syahril kan laki-laki sementara Amel perempuan.Terus samanya apa?"keluh Amel menatap Ayahnya.


"Sama-sama menyusahkan aku." cetus Berto lalu masuk ke dalam Rumah.


"Eh,Amel cobe rayu tu Ayah lu?Mana tahu rayuanmu membuatnya mau mengajari kita?"


Amel masuk menuju ke Ayahnya.Ucapan barusan Syahril ada baiknya juga di coba.Baru mau melangkah Berto sudah berteriak.


"Iya.iya besok aku ajari kalian.Dan kau Syahril jangan mengajarkan yang bukan-bukan pada putriku."cetusnya lalu keluar melihat Syahril dan Amel duduk berdampingan lalu tersenyum puas.

__ADS_1


__ADS_2