Penantian Panjang Sang Pewaris

Penantian Panjang Sang Pewaris
Bab 21 : Rahasia Terungkap


__ADS_3

Syafa terdiam,mencerna setiap kata yang di ucapkan Arzil.


"Kau pasti sedang bercanda?"


"Aku serius Syafa,anak ini anak aku,buah cinta kita"tegas Arzil meyakinkan Syafa.


"Tidak!"ucap tegas Syafa menutup telinganya.Pikirannya kebingungan,tak tahu harus bahagia atau kecewa.


"Kalau kau tak percaya aku bisa melakukan tes DNA sekarang"tegas Arzil memaksa Syafa untuk menatapnya.


Syafa terduduk,ucapan Arzil membuatnya bingung.Bening putih jatuh membasahi pipinya.


Dengan gemetar Syafa mengusirnya,"Pergi kakak,dari sini!"


Arzil duduk mensejajarkan dengan Syafa,berharap sang istri bisa menerima takdir.


"Kau terlambat kak?"


"Apa maksud ucapanmu?"


"Aku baru saja menerima lamaran orang,dan tak lama lagi melangsungkan pernikahan"lirih Syafa dengan mata berkaca-kaca.


Arzil bangkit dari duduknya dan memutar tubuh membelakangi Syafa.


"Tidak akan aku biarkan itu terjadi,camkan itu!"tegas Arzil,kemudian membuka pintu keluar meninggalkan Syafa yang masih di rundung sedih.


Halwa serta Farah yang melihat Arzil keluar dari kamar Syahril di rawat,saling pandang dan berlari menuju Syafa.


klek


"Syafa!,kamu kenapa menangis?"tanya Halwa memeluk Syafa.


"Apa pria itu membuatmu menangis?"ujar Farah yang ingin memcoba keluar memberi pelajaran namun di halangi Syafa.


"Tidak perlu Farah,terima kasih kalian sudah datang ke sini".


"Siapa pria itu?"tanya Halwa mengusap punggung Syafa agar bisa menjelaskan padanya.


"Iya siapa?"sahut Farah.


"Pria itu adalah...."


Belum usai berbicara,Bian datang bersama kedua pria tadi.Ardian lagi-lagi tak sengaja menatap Halwa.


"Kamu kenapa Syafa?"tanya Bian yang sangat mengkhwatirkan Syafa,pandangan tak henti menatapnya.Halwa yang melihat betapa perhatiannya Bian pada Syafa, membuat hatinya terenyah,menangis dalam diam.


"Pria itu?"ujar Farah.


Ardian dam Kevin saling bertanya.


"Maksudmu,Arzil?"kata Ardian singkat


"Aku gak tahu namanya.Terserah mau Arzil,asal atau apalah.Yang pastinya pria itulah yang membuat Syafa menangis"ucap Farah yang bicara asal.


Mendengar penuturan Farah,Bian marah besar dan mengenggam leher kerah Ardian,temannya.


"Cepat katakan di mana kakakmu?"bentak Bian.

__ADS_1


"Lepaskan dulu tanganmu kawan,kita bisa bicara ini secara baik,tanpa harus seperti ini"bujuk Ardian sambil membenarkan kerah bajunya.


Ardian dan Biann sebenarnya berteman baik,bahkan sempat menjalin persahabatan.Bianpun ikut gabung dalam gengster yang dibentuk oleh Ardian.Keduanya saling membantu dan kompak dalam segala hal.


Sejak Bian menyukai Syafa perlahan ia mulai mundur dan tak mau terlibat lagi dalam gengster yang di ciptakan Ardian dan fokus dalam memperbaiki diri dengan memperdalam ilmu agama serta mengikuti pengajian-pengajian yang di adakan di lingkungannya.


"Kalian ke sini untuk konsultasi masalah perut kakakmu,mengapa jadi konsultasi masalah hidup dan hati kakakmu?"cetus Bian yang sudah geram,ulah Arzil membuat Syafa menangis.


"Kalau gitu,kami pamit dulu"ucap Ardian di ikuti Kevin.


Kevin yang usil memainkan matanya ke arah Farah.Farah yang melihat hanya merasa geli dan ilfeel.


"Stressss"teriak Farah kemudian menutup mulutnya takut menganggu pasien lainnya.


Sesampai di apartement,Arzil murung dan kecewa.Ucapan kata TERLAMBAT yang di lontarkan Syafa merasuh dalam jiwanya.


"Ini tak boleh terjadi"ucap Arzil menggumpal tangan dan menumbuk dinding kamarnya.


Ardian dan Kevin hanya bisa memandang tanpa harus menahannya.


"Kau kenapa pergi begitu saja?"tanya Ardian


"Aku tadi menemui Syafa,tapi sayang aku terlambat"ujarnya tak terima ucapan Syafa.


"Terlambat?"tanya Kevin melongos tak percaya.Seorang Arzil yang di katakan tak pernah kalah namun lemah masalah wanita.


"Kau sakit!"tanya Kevin lagi


Kevin menyentuh pelipis Arzil.


"Tidak"


"Wajar!,sepertinya kau lagi Hipertensi"canda Kevin meriuhkan suasana.


"Hipentensi Cinta Syafa,ha ha ha"cetus Kevin kemudian menertawai Arzil.


Sementara Ardian hanya bisa menggeleng kepala.


"Pergi sana!,sebelum ku lempar kau dengan pisau ini"ancam Arzil yang ingin mengambil pisau di sepatunya.


"Oke-oke.Sekarang aku pergi nih,tapi ingat jangan marah-marah nanti perutmu sakit lagi"ucapnya kemudian pergi meninggalkan apartement.


Di tempat lain Syafa mencoba melupakan kisah cintanya.


Di ciumnya Syahril yang sudah siuman.


"Ummi,Syahril haus?"lirih Syahril yang sudah tak minum satu hari.


"Ini sayang,minumlah!"ucap Syafa membantu menyandarkan Syahril dengan bantal.


Bian datang membawa kresek berisi buah-buahan.


"Syahril...!panggil Bian,ia tersenyum dan menyerahkan kresek berisi buah kepada Syafa.


"Ummi,dia siapa?"


"Kenalin saya Bian,calon Abimu!"ucap semangat Bian mengulurkan tangan menyalami Syahril.

__ADS_1


Syahril menyambutnya dan memeluk Bian.


"Abi?"ucap Syahril.


Syafa menyaksikan begitu haru,namun ada dua mata yang mendengarnya dan tak terima.


"Abi?"cetus Halwa.


"Halwa,semuanya bisa aku jelaskan"kata Syafa menarik tangan Halwa yang mau keluar.


"Aku rasa tidak perlu Syafa.Semuanya sudah jelas,kau dan dokter Bian ada main di belakangku"cetus Halwa yang matanya sudah berkaca-kaca.


"Percuma Syafa,Halwa lagi kecewa.Biarpun kau menjelaskan panjang lebar,dia pasti tidak akan terima"ujar Bian menyuruh membiarkan Halwa keluar meninggalkan Syafa.


Halwa meninggalkan Syafa,ia begitu kecewa dan sedih.Sikap Syafa selama ini hanya pura-pura tidak menyukai Bian.


Ingin rasanya berteriak,tapi mengenang putranya yang baru sembuh terpaksa ia tahan.Dengan sigap Syafa mengusap air matanya.


"Ummi,mengapa tante Halwa pergi?"


"Tante Halwa lagi ada keperluan,bentar lagi juga datang menjenguk kamu?"bujuk Syafa menenangkan Syahril.


"Oh yah Syafa,besok mamahku akan ke sini mau jenguk Syahril sekalian ketemu samamu?"ucap Bian menggusar pikiran Syafa yang masih memikirkan Halwa.


"Andai saja,aku tidak berhutang budi padamu,mungkin aku akan menolak lamaran ini"ucap Syafa dalam hati.


"Tapi dok,apa tidak terlalu cepat?"


"Lebih cepat lebih baik Syafa.Aku khawatir,jika aku mengulurkan waktu untuk menikahimu,Arzil akan datang ke sini mengambil dirimu?"tegas Bian yang sedang bermain dengan Syahril.


"Bukan itu.Aku takut Halwa akan lebih marah kepadaku,dia adalah sahabatku.Bagiku ikatan persahabatan lebih penting dari sekedar hubungan ini"cetus Syafa membuat wajah Bian berubah datar.


"Sekedar??"lirih Bian kecewa.


"Aku dan Halwa hampir tiga tahun menjalin hubungan dengannya,suka duka kami lewati.Apa aku bisa bahagia?,sementara hatinya terluka.Dia sangat mencintaimu sejak pertama bertemu hingga sekarang"ucap Syafa,berharap Bian mengubah keputusan untuk menikahinya.


"Tidak,keputusanku sudah bulat.Aku tidak mau kehilangan lagi karna lalai dengan perasaanku"lirih Bian yang memiliki masa lalu kehilangan sang kekasih.


Bian pergi meninggalkan Syafa tak lupa berpamitan dengan Syahril.


Keesokan harinya usai bertugas Farah mendatangi Syafa.


"Syafa,kamu lagi cekcok yah sama Halwa?"tanya Farah yang melihat Syafa begitu murung sambil memotong buah untuk putranya.


"Hehm,aku bingung Farah.Dokter Bian melamarku,aku sudah menolak karna Halwa menyukainya.Tapi Dokter Bian tetap dengan keputusannya karna ingin melindungiku dan Syahril.Kau kan tahu hidupku pas pasan sementara Syahril juga butuh sosok Abi yang menjaga dan menyayanginya.Lalu salahku di mana?,sekarang Halwa marah besar padaku bahkan mungkin membenciku"lirih Syafa dengan manik berkaca-kaca.Baginya Farahlah mungkin jadi penengah antara dia dan Halwa.


"Sebenarnya di sini yang butuh sosok Bian adalah kamu,bukan Halwa.Secara kamu punya anak dan Syahril juga butuh seorang Abi untuk menyayanginya.Tapi aku bingung,bagaimana menjelaskan ke Halwa"ucap Farah memainkan jari di dagunya untuk bisa berpikir dan berbicara dengan Halwa.


Klek


"Halwa..!"


Syafa menghambur memeluk Halwa,dia mengambil kedua tangan Halwa."Halwa,maafin aku yah!,sungguh aku tak mampu menolak lamaran ini?"


"Akulah yang minta maaf Syafa.Aku terlalu egois,kau tak usah memikirkan aku.Aku sudah ikhlas merelakan Bian untukmu dan menguburkan perasaanku kepadanya"ucap Halwa kemudian memberi Syahril sebuah kado.


"Yeahhh,akhirnya tante datang juga.Syahril kangen sama tante"lirih Syahril membuka kado dari Halwa.

__ADS_1


"Tante Farah kog gak bawa kado?"


"Ini kadonya,muuacchh,sebuah kecupan sayang"ucap Farah ketawa melihat Syahril mengelap bekas ciumannya.


__ADS_2