Penantian Panjang Sang Pewaris

Penantian Panjang Sang Pewaris
Bab 37 : Bertemu Abi


__ADS_3

Desny tak berhenti memandang Syahril yang kelaparan.Ia tersenyum mengembang lalu berdiri memanggil Bu kantin.


" Bu deh,semuanya berapa?" tanya melihat arloji di tangan menyengir kepada Syahril lalu duduk melipat tangan memperhatikan Syahril yang duduk di hadapannya.Sekilas Desny melihat Ardian yang hanya diam tanpa menyentuh menu yang tersedia di meja.


" Bu kopinya satu plus susu yah," Desny mendorong kursi menuju toilet tak sengaja terlihat kaki Ardian yang membengkak.


" Ya ampunn,apa kakimu terasa sakit??"tanya Desny menyentuh kaki Ardian namun dengan cepat Ardian menarik cepat kakinya.


Desny mendongak, " Hei,kakimu ini bengkak kalo di biarin nanti bisa-bisa pendarahan jika tak di obati dengan cepat." gerutu Desny.Tak lama Bu deh mengantarkan kopi susu dan meletakkan di atas meja.


" Ini neng kopinya,sesuai pesanan." ujar Bu deh lalu tersenyum melihat Desny berjongkok memeriksa kaki Ardian, " pacarnya yah ? "


" Makasih,Bu deh ini bisa saja deh.Oh ya nih kopinya untuk kamu.Sebaiknya di minum,setelah itu ikut aku untuk mengobati kakimu." tutur Desny menyengir memandang Bu deh yang sudah menjauh pergi.


Setelah mengisi perut,Desny membayar pesanan dan membawa Ardian ke ruang pemeriksaan.


" Cie,cie...tumben Bu,pacarnya yah?" usil perawat yang biasa menemani Desny bertugas.


" Kamu tuh,bisa saja.Dari tadi ngejekin diriku terus,aku jadi malu." lirihnya dengan pipi sedikit memerah.Tak sengaja Ardian menatapnya lalu tersenyum.


" Tapi cocok ku Bu,ganteng lagi."


" Udah ahhhh.Aku lagi serius nih..." kata Desny mengakhiri dengan bernafas lega," akhirnya selesai juga."


Selesai memperban Desny menembus obat dan menyerahkan kepada Ardian.


" Nih obatnya...jangan lupa di minum sesuai aturan." tegas Desny lalu meninggalkan Ardian dan Syahril untuk melanjutkan rutinitas pekerjaannya.


" Tunggu," panggilnya menghentikan langkah Desny.Desny memutar tubuhnya dan terlihat mengukir senyuman lalu berjalan ke ruangannya.

__ADS_1


Ardian mulai pergi meninggalkan Rumah Sakit.Dia tampak terlihat bingung akan arah tujuannya untuk berlabuh.


Ardian terus saja berjalan sambil mengendong Syahril.Syahril terlihat senang di gendong belakang oleh Ardian dan sesekali ia mengajak Ardian untuk berbicara.


" Ayah,Bu dokter tadi baik banget." cetusnya berbicara tanpa sadar seseorang sudah memperhatikan gerak gerik Ardian dari kejauhan.


" Iya,Bu dokter tadi memang baik.Cantik lagi,"ceplos Ardian tanpa sadar ia memuji Desny.


Mendengar penuturan Ardian,Syahril teringat pada sang ummi yang ia rindukan.


" Ayahhh,Syahril kangeen sama ummi.Syahril pengen ketemu ummi."


Ardian menggaruk kepala dan terpaksa berhenti berjalan.Rasa kakinya masih terasa sakit melambatkan jalannya.


Ardian membungkuk berbicara pada Syahril.


Sementara seseorang menghubungi untuk mengatakan kalau sasaran sudah di temukan.


" Tangkap dia. " cetus pria itu yang sedang duduk di kursi mahkotanya sambil memainkan jari-jarinya.Sedikit terlihat senang karna orang yang dia cari dapat di temukan.


Ardian yang sedang berjalan di datangi beberapa orang tak di kenal dan memaksa dirinya masuk ke dalam mobil.


" Cepat masuk,kalau tidak pistol ini akan meluncur ke anak ini." ancam pria asing itu membuat Ardian tak punya pilihan selain mengikuti perintahnya.


Sesampai di sana Ardian dan Syahril masuk ke ruangan yang sedikit mencekam.Ardian memeluk Syahril yang ketakutan.


" Ayahh,Syahril ta ta kut." lirih Syahril memeluknya begitu erat lalu menyandar kepala di pundak Ardian.


Terlihat sosok pria sedang terduduk lalu berdiri menghadap Ardian.

__ADS_1


" Bi bi an...." ucapnya yang tak menyangka Bian akan terjerumus kembali ke dunia masa lalunya.


" Ambil paksa anak itu." perintah Bian melirik ke salah satu anggotanya.


Tak lama Kevin dan Arzil pun datang.Arzil yang sudah bisa berjalan sangat bersemangat mendapat kabar kalo Ardian masih hidup.


Ardian terduduk malu.Sikapnya selama ini sama sekali membuat Bian dan lainnya begitu kecewa.Persahabatan serta ikatan saudara tidak ada artinya hanya demi keegoisan akan harta dan kekuasaan.


" Di mana Syahril??" tanya Arzil menatap ke segala arah lalu memandang Ardian yang sudah terduduk tanpa berkata.


Arzil mencekam leher Ardian, " di mana putraku,hah?,cepat jawab.Kalo tidak...?"


" Kalo tidak apa??,kau akan membunuhku.gitu..." cetus Ardian membalas tatapan Arzil dengan tajam seolah ingin menantang Arzil.


Tak lama seorang anggotanya menyerahkan Syahril kepada Arzil.


" Putraku." Azril memeluknya dan mencium Syahril.


" Kau siapa??,lepaskan Ayahku..." lirih Syahril memelas agar Arzil melepas Ardian yang selama ini menjadi pelindungnya.


" Ini Abi sayang.Dia orang jahat Nak.Dia telah memisahkan kita.Gara-gara dia ummimu hilang."


" Tidak,dia orang baik.Dialah menjagaku serta melindungiku.Aku mohonnn tolong lepaskan dia." bujuk Syahril mengucup pipi Arzil agar mengurung niat untuk berbuat jahat pada Ardian.


Tak sampai di situ,Syahril juga memohon pada Bian.


" Om...Syahril mohon.Lepaskan Ayah,aku sangat sayang padanya."


Bian tak dapat berkutik.Ucapan dan bujukan sang keponakan meluluhkan hatinya yang dari tadi menahan emosi yang sudah memuncak.Begitu juga Arzil dan Kevin.Ketiganya saling pandang mencerna ucapan Syahril.

__ADS_1


__ADS_2