Penantian Panjang Sang Pewaris

Penantian Panjang Sang Pewaris
Bab 48 : Jakarta punya cerita


__ADS_3

Syahril dan Amel begitu senang.Sesuai janji,Berto akan mengajarkan ilmu Bela Diri usai melakukan pekerjaan.Meskipun Syahril sudah menguasainya tapi butuh giat lebih demi mendalamkan lagi ilmu Bela dirinya.


"Mel,kamu udah siap belum?"


"Sudah dung.Lihat nih aku udah pakai sabuk pengaman." ucap bangganya membuat Syahril ketawa terbahak bahak.


"Kenapa ketawa? Lucu yah?"ucap polos Amel lalu mencubit pinggang Syahril.


"Awww.Sakit tahu.Tu sabuk dapat dari mana?Kog kumel gitu." ejek Syahril menambah kesal Amel padanya.


"Dari nemu.Kebetulan tadi mulung.Eh, jumpa nih sabuk.Jadi aku ambil saja.Lumayan! Buat jaga-jaga dari serangan musuh yang ingin menyerang dari atas." ujar Amel menggelitik perut Syahril mendengar ucapan polos Amel.


"Emang hujan!Yang serangannya dari atas." cetus Syahril lalu duduk meneguk air karna kehausan.


Berto datang memegang bibirnya yang sudah berdarah serta tubuhnya penuh memar seperti sedang usai melakukan perkelahian.


"Ayah,kau kenapa? Apa yang terjadi padamu?"lirih Amel menangis melihat kondisi Ayahnya yang sudah menahan kesakitan.


"Cepat kemasi pakaian kalian.Di sini sudah tidak aman!" titah Berto membuat keduanya tercengang dan saling pandang.


"Apa maksud om? Aku tak mengerti!" ujar Syaril sambil mengemasi pakaiannya.


"Jangan banyak bertanya.Cepat lakukan apa yang ku perintah." tegas Berto lalu menarik tangan Syahril dan Amel untuk segera meninggalkan Rumah kecil yang penuh kenangan masa kecil Syahril dan Amel.


"Hei Berto! Mau ke mana kau? Berikan anak itu padaku?" pinta pria asing itu.


"Tidak.Aku tidak akan menyerahkan Amel pada kalian." tegas Berto lalu menyerahkan tangan Amel ke Syahril.


"Syahril, ku titip Amel! Tolong jaga dia.Dan satu lagi jika kau menemukan orang ini.Tolong serahkan Amel kepadanya.Aku sudah tidak punya waktu.Cepat pergi!" teriak Berto sambil menyerahkan foto misterius itu dan mencoba melawan pria asing suruhan orang yang ingin merebut Amel darinya.


"Tidak.Aku tidak akan meninggalkan Ayah!"lirih Amel yang menangis.Demi menjaganya dia harus berpisah pada Ayahnya.


"Amel,cepat!Apa kau tak dengar perintah Ayahmu.Kita sudah tak punya waktu.Ayo..." titah Syahril menarik tangan Amel lalu berlari meninggalkan Berto.Sepanjang jalan Amel hanya menangis memeluk pakaian yang dirinya isi di kantong kresek.


Kini Amel dan Syahril bernafas lega.Keduanya sudah naik ke dalam bus menuju kota Jakarta.


"Amel.Sudahlah! Sampai kapan kau menangis?Matamu sudah bengkak.Aku janji akan menjagamu sampai aku menyerahkanmu dengan pria misterius di foto ini." ucap janji Syahril mengukir senyum di bibir Amel.

__ADS_1


"Sekarang tidurlah di pundakku." titahnya meletakkan kepala Amel di pundaknya lalu tersenyum melihat Amel sudah tertidur pulas karna kelelahan.


Sesampai di Jakarta,kota metropolitan yang memberi kenangan bahagia untuk Syahril namun terpahit untuk Amel.Di kota inilah dia kehilangan Bundanya dan menelan pahit menjalani hidup tanpa sosok Bunda.


"Amel,buruan!"titah Syahril mengenggam tangan Amel erat.


"Iya.." jawab singkatnya dan melepas paksa tangan Syahril.


Amel yang mulai merasakan Puber tentulah merasa berbeda saat Syahril mengenggam tangannya meski Syahril tak memiliki rasa padanya.


"Terserah dirimulah.Jangan salahkan aku kalo ada pria lain menganggumu!" teriak Syahril menatap kepergian Amel yang tak suka pada ulah Syahril yang berlebihan.


Langkah Syahril terhenti mengingat pesan Berto untuk mempertemukan Amel pada pria di foto itu.Syahril berlari mencari Amel yang sudah hilang jauh darinya.


"Amel...Amel...!" teriaknya mengucup tangan di mulut sambil menyebut nyebut nama Amel.


Berulang kali memanggil tapi tak ada jawaban atau kemunculan Amel di depannya.


Syahril mengempal kedua tangannya merasa menyesal membiarkan Amel jalan duluan.Dia terduduk di aspal sambil mengacak-acak rambutnya.Sifat kejantanannya luntur mengalir lewat aliran perasaan yang sedih harus berpisah pada Amel.


Amel sengaja bersembunyi dan mendiamkan diri di sekitaran Pasar tradisional itu.Dia berlonjak-lonjak kegirangan saat berhasil membawakan nasi dua bungkus plus minuman dari hasilnya mencuci piring di Rumah makan yang tak jauh dari Syahril duduk memikirkan dirinya.


Syahril mendongak dan menarik Amel lalu meletakkan kepala Amel di keteknya kemudian mengacak rambut Amel hingga berantakan.


"Dasar tukang rusuh! Kau tak tahu bagaimana khawatirnya aku padamu." sindir Syahril yang mengucap terus menerus melepaskan kekesalan pada ulah Amel.


"Sudahlah.Mulutmu kayak cewek.Risih aku mendengarkannya.Mending kita makan.Ku tahu kau tak punya uang lagi karna harus membayar ongkos naik bus tadi.Makanya aku pergi kerja diam-diam.Jika ku beritahu pasti kau tak akan mengizinkanku,Bocah ingusan."


"Bocah ingusan kau bilang?"tanya Syahril memadang dalam Amel.


Kata itu membekas pada Syahril yang di gelar Bocah ingusan.Ya,meskipun memang benar perbedaan jauh umur memang terlihat Amel lebih dewasa dari padanya.Tapi Syahril tetaplah Pria.Seiring waktu dirinya akan tumbuh menjadi Pria dewasa yang pasti akan merasakan jatuh cinta.


Mungkin saat ini Syahril hanya mengikuti perasaan yang mengalir begitu saja.Tanpa cinta tapi lebih kesan pada kata TERTARIK.


Seminggu tinggal di pinggiran jalan Syahril sangat bahagia karna setiap malam dirinya dan Amel selalu melihat pemandangan kota Jakarta dari Rumah singgah seadanya.


"Amel."

__ADS_1


"Hehm.Apa??"


"Bagaimana perasaanmu padaku?"


Amel menoleh pada Syahril.Pertanyaan barusan tentulah mencekik batinnya.


"Perasaan??maksudmu?" tanya Amel memandang Syahril yang sedang menatap kota Jakarta dari jembatan.Jarak Amel dan Syahril hanya semeter.Syahril memandang sekilas Amel menunggu jawaban yang di lontarkan Amel padanya.


"Biasa saja tuh.Gak ada yang special." ujar Amel lalu berjalan turun ke Rumah singgahnya yang mereka buat seadanya di kolong jembatan.


Syahril terdiam tanpa berkata.Kemudian terdengar Azhan isya berkumandang.


"Aku sholat jamaah dulu yah! Ingat jangan ke mana-mana tunggu sampai aku kembali."


Setelah memakai peci rajutan bewarna hitam.Syahril bergegas berangkat.Tak lupa dirinya memandang Amel tersenyum menaikkan alis matanya lalu berlari menuju mushola kecil yang tak jauh dari Rumah singgahnya.


Syahril bergegas berwudhu lalu masuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim.Syahril mulai beranjak dari duduknya namun di hentikan oleh salah satu Ustadz yang akan mengisi pengajian saat itu.


"Assalam mu'alaykum anak muda!.Siapa namamu?Ku lihat kau selalu aktif sholat dan mengikuti pengajian di sini.Aku sudah bertanya pada mereka di sini.Tapi di antaranya tidak mengenalmu?"tanya Ustadz Adil selain pengurus di mushola beliau juga di percaya menjadi pengisi kajian rutin yang di adakan setiap Ahad.


"Wa'alaykum salam.Nama saya Syahril mustofa.Biasa di panggil Mus.Saya kebetulan baru datang dari Bandung dan Rumah saya di kolong jembatan sana." jawab jujur Syahril.


Syahril terpaksa mengubah nama.Demi menjaga Identitas asli yang di perintahkan Berto padanya.Berto sangat mengenali siapa Syahril sebenarnya.Terlihat Syahril saat mengenakan jam tangan yang di jual Berto karna kekurangan uang.


flash Back On


"Syahril.Kemari kau?"panggilnya menghentikan Syahril yang sedang berlatih Bela Diri.


"Ada apa om?"


"Kau lihat jam tanganmu ini.Apa kau tahu arti ukiran ini?"tanya Berto menunjukan ukiran yang terdapat di belakang jam miliknya itu.


"Syahril tidak tahu.Yang pastinya itu pemberian Abi."


"Apa kau tahu siapa nama Abimu?"


Syahril mencoba mengingat saat om Bian memanggil Abinya.

__ADS_1


"Hehm..Arzil kalo tak salah.Masalahnya Syahril ketemu Abi saat Syahril masih berusia tiga tahun.Jadi tak mengenal kali sosok Abi sebenarnya."


"Arzil??Apa jangan-jangan kau..??gumam Berto lalu tersenyum memandang Syahril yang sudah berlari melanjutkan latihan Bela Diri.


__ADS_2