
Sebelum acara pernikahan di lakukan,Syafa memutuskan pulang kampung untuk mengunjungi makam sang bapak yang ia rindukan.
Lima tahun tak mengunjungi kampung halaman,membuatnya nekad ingin pergi sekalian ziarah ke makam sang bapak yang begitu ia rindukan bersama Syahril dan tak lupa meminta izin dengan Bian,agar sang calon suami tidak memikirkan hal negatif padanya.
Bian ingin mengantar,namun ada pertemuan rapat sesama dokter.Jadi,terpaksa mengizinkan Syafa mengikuti bis dan hanya mengantarkan sampai terminal.
"Alhamdulillah,sampai juga"ucap syukur Syafa mengendong Syahril yang baru berusia dua tahun setengah keluar dari pintu bis.
Syafa menatap keadaan di sekitar terminal,ia tampak begitu bahagia.Lima tahun lamanya tidak menginjak kota kelahirannya yang penuh kisah duka maupun suka.
Syafa berjalan sembari tersenyum menatap sang putra.Ia harus menempuh setengah lagi untuk sampai di kampung halamannya.
"Terima kasih Pak"ucap Syafa mengulurkan uang ke Pak supir angkot.
"Sama-sama Neng"
Syafa menuju ke Pemakaman Umum.Pemakaman terlihat banyak berubah,ia pun harus mencari satu persatu dan membaca setiap batu nisan.
Tepat di suatu makam tertulis bernama IMRON,ia tersenyum bahagia.
"Assalam mu'alaykum ya ahli kubur"ucap Syafa dan tak lupa melepas sendalnya menuju pemakaman sang bapak.
"Maafin Syafa,baru bisa datang.Syafa ke sini bersama cucu bapak,namanya Syahril"ucapnya sembari menatap sang putra yang duduk jongkok di samping Syafa.
"Ini makam kakek sayang"ucapnya sambil mengusap rambut Syahril.
"Kakek?"
"Iya sayang.Bapak, Syafa mintak maaf tidak bisa menjalankan amanah bapak, untuk mempertahankan rumah tangga Syafa dan kak Arzil"lirih Syafa,tanpa terasa air matanya jatuh membasahi tanah,ia tak mampu menahan luka yang begitu perih atas perlakuan sang mertua yang tidak menyukainya.
Setelah bercerita masalah hatinya,ia mendoakan Imron agar selamat dunia dan akhirat.
Syafa beranjak,ia kembali menatap dan memegang batu nisan serta menciumnya.
"Syafa pamit yah"ucapnya meninggalkan makam Imron.Kemudian mulai melangkah berjalan keluar namun terhenti saat seseorang memanggilnya.
"Neng tunggu!"
__ADS_1
"Ada apa Pak?,apa bapak mengenal saya?"tanya Syafa melirik ke arah bapak yang sedang mengambil sesuatu di tasnya.
"Nah,ini titipan dari seseorang.Beberapa tahun yang lalu ada seorang wanita paruh baya datang mengunjungi makam Pak Imron.Beliau memberikan ini pada saya,dan menyuruh saya memberinya jika ada seorang gadis mengunjungi makam Pak Imron serta meminta untuk membersihkan makam Pak Imron"ucap sang bapak Penjaga makam.
"Lima?,kenapa suratnya sebanyak ini?"tanya penasaran Syafa.
"Kan udah lima tahun Neng tak ke sini"cetus Pak Penjaga makam,kemudian meninggalkan Syafa untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
Syafa melanjutkan perjalanannya,ia duduk di sebuah halte yang tak jauh dari Pemakaman.
Rasa penasaran pada isi surat dengan segera ia membukanya.
"Jalan mawar no.3 gang Merpati,Jakarta timur"ucapnya saat membaca isi surat yang begitu singkat.
Syafa merenung memikirkan makna dari surat tersebut tanpa nama pengirim.
Kelima surat semuanya isinya sama,hanya bertulisan sebuah alamat.
Ia pun memutuskan kembali ke Jakarta,namun karna hari sudah sore terpaksa ia cancel dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Jakarta besok Pagi.
Syafa berjalan mencari tempat penginapan yang murah.
Keesokan harinya Syafa bergegas menuju terminal.Tanpa mengulur waktu,Syafa mencari alamat yang terdapat dalam surat tersebut.
Langkahnya terhenti,tubuhnya gemetar serta perasaan hancur mengetahui alamat rumah itu adalah istana besar milik sang calon mertua.
Pikirannya kabut,serta menahan sesak mendapati Calon mertua sedang bersantai di balkon membaca majalah.
Atikah yang tak sengaja menatap Syafa dan Syahril berdiri mematung di luar pagar,dengan segera turun menuju ke arah Syafa.
"Syafa!,mari masuk?"sapa Atikah namun Syafa masih terdiam tanpa bicara sepatah kata.Tubuhnya kaku,mulutnya berat,dan dadanya sesak.
Syafa hanya menatap dan mengambil tangan Atikah untuk menyerahkan surat yang ia terima dari Penjaga makam.
"Aku ke sini hanya mau memberikan ini?"lirih Syafa menahan air mata.
"Kau...?"
__ADS_1
"Iyah,aku adalah Syafa Kirana.Puteri yang kau tinggalkan demi harta"kesal Syafa yang sudah menangis.
Atikah melangkah ingin memeluk Syafa,namun Syafa menolak.
"Jangan sentuh aku,aku sangat marah padamu.Aku tak habis pikir,bagaimana wajahmu bisa berubah seperti ini,hingga aku tak mengenalmu"tanya Syafa.
"Ibu mengalami kecelakaan.Wajah ibu mengalami luka bakar sehingga harus di lakukan operasi plastik"ucap Atikah menjelaskan pada Syafa agar mengerti dan memaafkan dirinya.
Syafa meninggalkan Atikah,berjalan pulang menggendong Syahril.
Dia memikirkan hubungannya dengan Bian.Apalagi saat mengetahui Atikah adalah Ibu kandungnya dan bearti Bian adalah saudaranya.
Bian tak sengaja melihat Syafa berjalan kaki.Mobilnya ia hentikan di pinggir jalan dan menawar diri untuk mengantar Syafa dan Syahril pulang ke rumah.
"Syafa!"panggil Bian,keluar dari mobilnya dan menyuruh Syafa masuk ke dalam mobil.
Syafa terus saja berjalan,perasaannya benar-benar hancur di saat Bian melamarnya,ia mendapat kabar buruk bahwa Atikah adalah Ibu kandungnya.
Syafa tak mengubris panggilan Bian,ia masih dalam pemikirannya.Dia berjalan sambil mengenggam tangan Syahril.Syahril hanya merengek agar Syafa menghentikan langkahnya.
"Abi,abi"Panggil Syahril yang melihat Bian berjalan mengejar Syafa.Bian yang kesal ulah Syafa yang berubah dingin,dengan segera menagkap Bian dan mengendongnya.
"Apa kau sudah gila?,anakmu menangis tapi kau malah cuek"kesal Bian yang menatap wajah Syafa berubah cuek dan dingin padanya.
"Kalau kau mau tahu,tanyakan saja pada mamahmu!"cetus Syafa.Bian mendengar itu merasa heran,tak biasanya sikap Syafa berubah kasar seperti ini.
Bian meninggalkan Syafa yang masih berdiri,tanpa menjawab balik perkataan Syafa.
Sesampai di rumah,terlihat Atikah sedang murung sembari menatap foto sang bayi.
"Mamah!"sapa Bian berlari duduk di samping Atikah yang sudah sedih.
"Mamah kenapa?"tanya Bian yang melihat Atikah tidak seperti biasanya.Sesaat ia teringat ucapan Syafa untuk menanyai perubahan sikapnya.
"Kamu ingat gak?,adikmu yang Mamah ceritakan dulu?"tanya Atikah membuat Bian memutar memori otaknya untuk mengingat cerita sang Mamah.
"Adik yang Mamah tinggal saat usia tiga bulan bersama bapak.Emangnya kenapa?,apa ada kabar keberadaannya?"tanya Bian penasaran.Ia kembali menatap Mamahnya agar menceritakan maksud pertanyaan Mamahnya.
__ADS_1
"Dia ada di sini sayang,bahkan sangat dekat dengan kita"ungkap Atikah antara haru dan syok mengingat sebentar lagi Bian akan menikah dengan Syafa.Pastinya akan menyakiti perasaan Bian yang begitu mencintai Syafa.