
" Syafaaa ! " teriak Farah menuju ke arahnya yang lagi menyiram bunga .
" Wahh mekar bungamu ... seperti hati yang menyiramnya " canda Farah melihat Bian sedang menatap laptop di ruang tamu .
" Syafa . Kakakmu kenapa? , galau yah . Kulihat diam saja." Ucap Farah tanpa senyum . Tatapannya dalam seperti sedang membaca pikiran Bian .
" Diaaa? , meneketeheeee , hahahhaa " tawa Syafa yang tidak ambil pusing masalah kakaknya.
" Kau adiknya . Tapi kog tak peduli." Gerutu Farah lalu melihat Halwa datang .
" Halwa .. ayo masuk . Kita ngobrol di dalam saja " ajak Syafa mengandeng kedua sahabatnya itu .
" Ada apa ke sini ? , terus keadaan kak Arzil bagaimana ? , apa dia sudah bisa berjalan ? , dan ... ? " tanya Syafa tak henti buat Halwa bingung jawabnya .
" Stop . Pertanyaanmu seperti peluru tak berhenti . Aku pusing jawabnya " gerutu Halwa .
" Iya nih Syafa . Udah kangen yah sama kak Arzil. " Sindir Farah mencari keberadaan Syahril .
Terlihat Syahril datang bersama Atikah . Atikah mengendongnya . Atikah menyambut ramah pada Farah dan Halwa .
" Syahril , Om Bian mana ? " tanya kepura puraan Farah agar Syahril mengajak Bian berkumpul bersama . Meskipun perang dingin masih menghiasi hubungan keduanya .
" Om Bian lagi di kamar , lagi main , main apa yah ? " tanya Syahril menatap neneknya untuk memberi tahu yang di pegang Bian .
" Main laptop . " Ujar Atikah tersenyum .
" Ummi ... katanya mau ketemu ketemu Abi ? " cetus Syahril buat Atikah memandang Syafa agar menjelaskan padanya .
Tiga bulan sudah Syafa menjalani hubungan rahasia bersama Arzil tanpa sepengetahuan Ibunya .
" Maaf Bu , Syafa terpaksa merahasiakan ini demi kebaikan kak Arzil . Syafa pengen kak Arzil sembuh dulu. "
" Maksudmu Arzil itu " ujar Atikah mengingat kejadian tempo dulu .
" Iyya Bu. " Syafa mengenggam tangan Ibunya berharap ada pengertian . Mungkin dengan seperti ini Ibunya akan menerima Arzil menjadi menantunya .
" Baiklah . Sekarang temukan Ibu dengannya . Ibu mau meyakinkan bahwa Arzil memang sosok suami yang perlu di pertahankan atau sebaliknya " tegas Atikah berdiri sambil berbicara menghadap Syafa yang lagi duduk menunduk mendengar ucapan Ibunya . Ia merasa takut jika Ibunya akan memisahkan dia dan Arzil . Apalagi Bian saat masih mencari keberadaan Arzil .
" Baiklah Bu .. " ucapnya memandang Halwa untuk membantunya menjelaskan pada Ibunya .
Bian keluar dari kamarnya tak sengaja mendengar pembicaraan Syafa dan Ibunya . Bian bergegas menuju ke bawah dan melihat Syafa lagi berbicara pada Atikah masalah Arzil .
__ADS_1
" Syafa , apa Arzil masih lumpuh ? " ujar Bian ingin membantu Syafa namun Syafa menolak karna rasa percayanya pada Bian sudah hilang .
" Tidak perlu kak . Lagian ada Halwa yang membantu , dia juga dokter . Iyakan Halwa ? "
" iiiiya dok " jawab singkat Halwa .
Halwa tak tega melihat Bian yang begitu sedih , ia mencoba mendekati Syafa untuk merayu agar Syafa mendengar dulu penjelasan Bian .
" Syafa , tak seharusnya kamu bersikap kayak gini sama Bian . Dia kan kakakmu , " bujuk Halwa . Halwa sangat mencintai Bian , meski cintanya saat ini bertepuk sebelah tangan namun ia yakin suatu saat nanti Bian akan membalas cintanya .
" Tapi Wa ..."
" Ikatan persaudaraan lebih penting dari segalanya . Ingat itu ... jika saat ini kau marah padanya hanya karna satu kesalahan yang belum 100 % dia pelakunya . Cobalah untuk mendengar penjelasannya. " Rayu Halwa berusaha untuk Syafa membuka hati menerima Bian kembali .
" Benar Syafa " sahut Farah mendukung ucapan Halwa .
Syafa menatap Bian yang duduk menyandar di sofa . Bian memijat pelipisnya memikirkan siapa orang yang berani melakukan ini padanya hingga hubungan dia dan Syafa menjadi renggang .
Tiba-tiba ia terpikir Arzil dan meminta Syafa mengantarkan dirinya untuk bertemu Arzil .
" Sebaiknya sekarang antarkan aku ke tempat Arzil . Ada yang ingin aku bicarakan padanya ? " desah Bian lalu mengambil kunci mobilnya dan menyuruh Halwa memberi alamatnya tapi Halwa bingung karna mereka tidak ingin Bian tahu demi keselamatan Arzil .
" Baiklah , tapi aku tak mengizinkan kau pergi sendiri , aku akan ikut " ucap Halwa mengendong Syahril .
" Okey . Kalau perlu semuanya ikut agar kalian tahu siapa dalang semua ini " tegas Bian menyusul ke garasi menyetir mobilnya .
Sesampai di rumah Arzil , Halwa begitu kaget karna situasi cukup berbeda .
" Ada apa Halwa? , mengapa wajahmu berubah gitu . " tanya Syafa melihat Halwa sedang berbicara pada seseorang .
" Gawatt ... sekarang kita harus segera masuk sebelum semuanya terlambat " lirih Halwa dan yang lainnya berlari menuju rumah Arzil .
Pintu rumah Arzil sudah terbuka , terlihat Ardian , Kevin , Aldan , Tapasya , Elsa dan Mamahnya telah menunggu kehadiran mereka .
" Kak Arzil ... " ucap Syafa kaget melihat keadaan Arzil sudah di tempel beberapa alat yang di kira itu sebuah bom .
Bian melihat itu mundur . Ia tak menyangka semuanya telah mengkhianati Arzil yang selama ini sudah berbuat baik padanya .
" Ardian , apa yang membuat kau berubah seperti ini ? , dia itu kakakmu ." tegas Bian menyadarkan Ardian bahwa yang ia lakukan ini salah .
" Bukan urusanmu Bian . Aku begini karna kakak ku yang bodoh ini terlagu lugu . Dan kau Arzil sebaiknya cepat tanda tangan surat pengalihan kekuasaan kepada ku " paksa Ardian memegang kepala Arzil agar menuruti perintahnya .
__ADS_1
Arzil memandang Syafa yang begitu takut . Sesuai janjinya ia membawa Syahril untuk bertemu dengan Arzil .
" Abi.. " lirih Syahril mengulur tangannya menatap Pria yang sedang memandangnya penuh harap .
" Putraku..maafkan Abi Nak . Abi belum bisa mengendong kamu . Padahal moment ini sangat Abi impikan dari dulu." Batin Arzil menjerit melihat putranya . Namun ia tak bisa berbuat banyak kecuali pasrah akan takdir yang terjadi hari ini .
" Aku mohon jangan lakukan ini Elsa . Aku tahu kau sangat membenciku . Tapi tidak dengan cara seperti ini " bujuk Syafa agar Elsa mengingat kebaikan Arzil yang sudah menerimanya seperti adik kandung sendiri .
" Cepetan Arzil ! , tanda tangan . Kalau tidak bom ini akan meledak " ancam Ardian yang berjalan di depan Arzil sambil mengenteng remot control .
Sementara Aldan juga memengang rahang Arzil begitu erat .
Elsa memantau situasi bersama mamahnya dan Tapasya tersenyum sini memandang Arzil tak berdaya .
" Kau tunggu apa kak ! , cepatt tanda tangan saja ." Teriak Syafa sambil mengendong Syahril yang sudah menangis ketakutan .
" Tidak , Syafa . Jika aku tanda tangan bearti aku kalah " tegas Arzil melirik Kevin dan Bian untuk memulai aksinya . Kevin yang berpura - pura di pihak Ardian menendang remot itu hingga remot itu terpental jauh .
Sementara Bian menarik Aldan dari belakang hingga terjadi perkelahian .
Atikah dan Halwa serta Syafa berdiri di sudut dinding .
Mereka hanya bisa menatapnya . Syahril memeluk erat Syafa karna ketakutan .
" Ummi ... Syahril takut." Rengek Syahril tak henti .
" Wa ,, Farah mana ? , kog gak kelihatan. " Lirih Syafa sambil mencari keberadaan Farah .
Temannya sedikit tomboy ini terlihat sedang beradu keahlian . Farah terlihat begitu ahli dalam menjinakkan bom membuat Syafa dan Halwa terbelalak .
Ardian yang tak mau berlama di sana , ia mengeluarkan pistol ke arah Arzil namun dengan cepat Syafa berlari hingga mengenai lengannya . Syafa terjatuh tepat di depan Arzil , sang suami .
Namun sayangnya Syahril di bawa lari oleh Elsa dan mamahnya . Halwa tak mampu mencegah karna Atikah pingsan .
Bian melihat Atikah pingsan , berlari menangkap mamahnya , " Bi ii an ... ma mah ti tip Sya fa ... " ucap Atikah memegang pipi Bian lalu menghembus nafas terakhir .
" Mamah bangun mah , Bian belum siap kehilangan mamah " teriak Bian .
Bian mengambil pistol dari sepatunya dan ingin menembak Ardian tapi Ardian sudah kabur .
Sementara Arzil memeluk Syafa , " Kak , Syafa tidak apa-apa " lirihnya memegang lengan yang berdarah dengan senyum bercampur sedih . Ia menguncup pipi Arzil lalu pandangannya samar samar kemudian menjadi gelap .
__ADS_1