Penantian Panjang Sang Pewaris

Penantian Panjang Sang Pewaris
Bab 49 : Pertemuan tak terduga


__ADS_3

Seusai berbincang dengan Ustadz Adli,Syahril memutuskan kembali ke Rumah singgah khawatir takut terjadi sesuatu pada Amel.


Amel sedang tertidur pulas.Kemudian Syahril menutup tubuh Amel dengan kardus bekas yang biasa ia gunakan untuk melawan dinginnya malam.


Syahril duduk bertukuk lutut meresapi hawa dingin menusuk qolbu.Syahril tersenyum pilu mengingat wajah ummi dari kejauhan langit membentang luas di hiasi bintang.


Syahril memeluk tubuhnya membayangkan dekapan kasih Ibu yang sudah bertahun tidak ia rasakan sambil memejamkan mata dan menyanyikan lagu.


...*Ambilkan Bulan bu...


Ambilkan Bulan bu


Untuk menerangi setiap malamku*...


Syahril menyanyikan tanpa sadar air matanya jatuh.


"Ummi!!!" teriak Syahril


Syafa yang tertidur tersentak bangun.Suara itu terlihat jelas menggelegar di telinganya.Keringat serta dadanya terasa sesak.


"Syahril???"ucap Syafa menyentuh dada dengan nafas terengah-engah.


Mendengar teriakan dari kamar Syafa.Bian segera menuju ke kamar adiknya.


"Mengapa kau berteriak?Ini masih malam." ujar Bian menggusal gusal matanya.


"Kak.Aku mohon! Besok kita pulang ke Jakarta ya.Aku yakin Syahril pasti ada di sana." bujuk Syafa merayu Bian.


"Tidak.Di sana kau tidak aman.Mereka semua mengintai kita.Aku membawamu ke sini agar kau aman.Aku yakin saat ini Ardian pasti merencanakan sesuatu untuk menyingkirkanmu.Tapi kak?Aku rindu dengan Syahril.Sudah 13 tahun aku tidak bertemu dengannya.Bagaimana dia sekarang?" lirih Syafa menangis memeluk foto Syahril.


"Sudahlah.Aku yakin suatu saat nanti pasti kau akan bertemu dengannya.Percayalah!" ucap Bian memegang pundak Syafa sambil berbicara menatap Syafa agar terlihat tenang.


Di tempat lain Syahril bergegas seperti biasa ia akan melanjutkan misinya mencari pria yang perintah Berto untuknya.


Syahril dan Amel berusaha bertanya ke orang-orang namun semua menjawab tidak mengenal pria itu.


"Ril.Aku capek,haus lagi.Kita istirahat dulu! Baru melanjutkan lagi."


"Baiklah."


Syahril duduk sambil menunduk.Tak lama ia mendengar bunyi letupan besar.


Booommm


Syahril menatap di sekitaran namun tak menemukan suara letupan itu.


Hanya terlihat sebuah mobil berhenti lalu mesinnya mengeluarkan asap hitam.Syahril mendekati namun di tahan Amel.


"Jangan.Ini Jakarta.Apa kau tak takut pada mereka?Coba kau lihat pakaian mereka begitu rapi seperti detective." sindir Amel berkacak pinggang di depan Syahril.

__ADS_1


Syahril tetap pada pendiriannya.Rasa hatinya begitu kuat untuk menolong Pria asing itu.


"Dasar keras kepala." teriak Amel menggerucut mulut sambil melipat tangan dan duduk.


"Maaf Pak! Mobilnya kenapa?"tanya Syahril berdiri menyandar di mobil sambil memegang pinggang memperhatikan kondisi mesin yang sudah mengepul.


"Saya kurang tahu.Mana di sini bengkelnya jauh." gerutu supir itu.


"Kalau anda mengizinkan.Biar saya coba memperbaiki kerusakannya." ucap Syahril menawar diri untuk membantu.


Awalnya Supir itu tidak yakin.Tampang Syahril bukan seperti montir melainkan pemulung karna terlihat Pakaiannya lusuh dan kumuh.


"Bagaimana Pak?" tanya supir itu kepada majikannya yang sedang duduk manis sambil menatap laptopnya untuk mengirim email bahwa dirinya tidak bisa hadir.Jadi menyuruh meetingnya di lakukan secara langsung melalui video call yang telah ia siapkan berkas-berkas penting sebelum memulai meeting.


"Hehm." jawab singkatnya


Syahril mencoba memperbaiki mesinnya.Meski tidak sekolah tapi dirinya sempat belajar pada seseorang.Setelah mengotak atik kabelnya,Syahril menyuruh Pak supir menyalakan mesinnya.Alhasil mesin mesin mobil hidup kembali.


"Alhamdulillah.." ucapnya lalu menutup hear hanged kembali.


"Terima kasih anak muda.Ngomong-ngomong kau tinggal di mana?"


"Saya tinggal di kolong jembatan situ.Kalo itu saya pamit dulu.Karna di sana temanku sudah menunggu." ucapnya lalu melangkah meninggalkan mobil itu.


"Pak Al,di mana anak muda itu?"tanya Arzil sambil mencari Syahril yang sudah pergi jauh.


"Anak itu sudah pergi Pak." ujar Pak Al masuk ke dalam mobil lalu melanjutkan kembali menuju Rumah Arzil.


Arzil membuka kaca matanya menggerut dahinya.Entah mengapa dia merindukan keluarganya.


"Di mana kau Syafa?Aku merindukanmu."lirihnya lalu menutup laptop dan mengambil ponselnya.


Kevin.Bagaimana dengan urusanmu?Apakah sudah selesai.


Belum Arzil.Selangkah lagi.


Bagus Kevin.Aku senang dengan kerjamu.Tunggu aku.Okey...


Okey.


Setelah mengirim pesan ke Kevin.Arzil mengukir sedikit senyum.


"Masih lama Pak?"tanya Arzil melihat jam sudah waktunya makan siang.


"Masih Pak."


"Kalau gitu,kita mampir ke Restorant dulu."


"Baik Pak." ujar Arzil lalu menyuruh berhenti di sebuah Restorant mewah yang tak jauh dari Rumah Syahril.

__ADS_1


Syahril sedang duduk melamun memikirkan Syafa.Entah mengapa ia begitu merindukan sosok umminya.


Rasa lapar tak ia rasakan.Hanya air putihlah yang menganjal di perutnya.Namun Syahril tak putus asa.Dia berusaha bangkit untuk mencari pekerjaan demi mencari sesuap Nasi.


"Amel.Jom!!Kita cari makan dulu?"ajak Syahril berjalan mencari makanan.


Setelah membeli nasi bungkus.Syahril bergegas membukanya.


"Makanlah.Aku lagi tidak lapar." titah Syahril lalu menyerahkan nasi bungkus pada Amel.


"Kau yakin tidak makan?Nanti sakit loh."ujar Amel menakuti Syahril.


"Aku tidak lapar."jawab singkatnya lalu melihat air sungai mengalir deras dari atas jembatan.


Syahril merasa kenyang.Kerinduan pada umminya menghilangkan selera makan.Dia terus terusan memikirkan Syafa.


"Aku rindu padamu." gumamnya lalu manik kristal jatuh terjun lurus ke bawah sungai mengalir deras.


"Ril.Aku habiskan ya?"


"Hehm."


Syahril berjalan sambil menunduk.Langkah tak begitu bersemangat.


Sementara Arzil keluar dari Restorant.Setelah mengisi perut ia berencana melanjutkan perjalanannya menuju Rumah yang sudah lama dia tinggalkan.


Mobil melaju melewati jalan lurus.Pak Al yang begitu mengenal anak muda tadi menghentikan mobilnya yang sudah terlanjur melewati Syahri lalu mundur tepat di samping Syahril.


"Ada apa Pak Al?"


Arzil membuka kaca mata hitam yang ia kenakan saat itu.Kemudian membuka jendela dan memandang Syahril yang sudah bingung.


"Kau anak muda yang tadi kan?"tanya Arzil memangku dagu berbicara santai pada Syahril.


"Iya Pak."


Arzil bingung tak tahu cara mengungkapnya.Suasana terlihat hangat dan harmonis mengalir begitu saja saat berbicara pada Syahril.


Arzil membuka pintu mobil dan menyuruh Syahril masuk.


"Masuklah.Bagaimana kita mengobrol di dalam saja?"titahnya menarik paksa tangan Syahril lalu menyuruh duduk di sampingnya.


Syahril kaget namun dirinya menolak mengingat Amel pasti sedang menunggunya kembali.


"Maaf Pak.Saya gak bisa.Teman saya pasti menunggu saya." alasannya lalu memutar tubuh untuk menyusul Amel.


"Kalau gitu ajak temanmu juga ke sini!" katanya lalu menyuruh Pak Al menyetir mengikuti arahan Syahril.


"Itu Pak,teman saya."

__ADS_1


"Suruh dia masuk!"titah Arzil dan meminta Amel masuk mengikutinya.


Amel menarik paksa Syahril keluar," Apa kau sudah gila?Kita tidak mengenal mereka.Kau yakin mereka orang baik?"bisik Amel sambil memandang Pak Al dan Arzil yang sedang besandar di mobilnya.


__ADS_2