
Sejak meninggalkan rumah keluarga Anggara,Syafa tak sudi lagi untuk menginjak kaki ke sana.Segala pengkhianatan yang di lakukan Arzil begitu sakit.
Dia mencoba membuka kehidupan yang baru.Hidup tanpa sosok sang pewaris menjadi pelindung.Tak kisah hidup susah yang penting bahagia.
Syafa membawa map berisi surat lamaran,sudah di lemparnya ke mana-mana lowongan namun belum menampakkan hasilnya.
Berbekal ijazah pesantren,mungkin kesulitan mendapatkan kerja apalagi pekerjaan yang ia lamar rata-rata ijazah tidak sesui jurusan.
Dia duduk di pinggiran jempatan,mengalun alun kakinya melihat air di bawah.
dret dret dret
Syafa mengoceh ponselnya terlihat dari pihak kampus menelpon karna Syafa sudah seminggu tidak masuk kelas.
"Hallo,assalam mu'alaykum!"ucap gugupnya bingung memberi alasan.
"Wa'alaykum salam,Syafa ini Pak Beny.Bisakah sekarang kamu ke kampus?karna ada yang ingin saya katakan."
"Bisa Pak,insyallah dua puluh menit lagi saya ke sana"
"Baiklah,saya tunggu."
__ADS_1
tut tut tut
Syafa pergi menggunakan mobil angkot.Sesampai di parkiran dengan cepat ia berjalan ke ruangan Pak Beny.
Tok tok tok
"Masuk"ucap Pak Beny.
Sementara Syafa yang tak melihat Azril yang duduk di sofa,ia berjalan duduk di depan Pak Beny.
"Sebenarnya ada apa Pak,menyuruh saya ke sini?"tanya Syafa melihat Pak Beny sedang melihat di belakangnya.
"Ada yang ingin bertemu denganmu?"
"Tidak",Syafa berjalan keluar.Tak peduli orang-orang melihat dan menilainya seperti apa.Syafa dan Azril saling membuntuti dari belakang,mereka menyelinap di sela-sela kerumunan para pelajar.
Syafa pun berhasil ke luar melewati parkir hingga ujung jalan.
Kekecewaan dengan Azril masih melekat.Rasa untuk menerima belum siap.
Sepanjang jalan ia berusaha menahan air mata ini,namun terlalu berat menampung meluah mengalir membasahi pipinya.
__ADS_1
Syafa duduk mengucupkan telapak tangan mengusap air matanya.
"Syafa,tunggu!"teriak Azril melihat Syafa yang terus berjalan melintas jalan lalu duduk di halte pinggiran jalan.
Arzil melihatnya menangis ikut melintasi juga dan duduk di sampingnya.
Syafa memutar tubuhnya untuk berjalan dengan cepat Arzil menangkap tangannya,"Jangan pergi,kakak mohon!"
"Sudah,jangan cari Syafa lagi.Luka yang kak Arzil goreskan di hati Syafa sangat dalam hingga Syafa tak tahu kapan akan sembuh.Syafa harap kak Arzil bahagia,dan dapat mewujudkan keinginan Mamah.Syafa gak mau kehadiran Syafa menjadi penghalang antara kakak dan surga,lagipula Syafa udah terbiasa hidup sendiri tanpa orang tua dan minimnya kasih sayang"lirih Syafa melepas tangan kekar itu,berlalu pergi meninggalkan Arzil yang masih membisu.
"Baiklah,tapi satu pinta kakak!,selesaikan pendidikanmu agar kakak sedikit tenang.Semua biaya pendidikan kakak yang akan menanggung dan fokuslah pada cita-citamu.Setelah itu kakak akan melepaskanmu untuk memilih tujuan hidupmu sendiri"tegas Arzil,namun hatinya tak terbendung menahan sedih harus berpisah dengan Syafa,gadis kecil memberi warna yang berbeda di antara gadis yang lain.
"Oke,Syafa akan ikut perintah kakak tanda Syafa masih menghormati kakak sebagai suami.Terima kasih sudah mengajarkan Syafa arti cinta yang sebelumnya Syafa tidak tahu,terima kasih juga kakak sudah mengurus dan menyayangi Syafa dengan baik.Semoga Allah membalas kebaikan kakak"ucap Syafa sambil berpamitan menyalami Arzil yang masih menunduk menahan air mata dan tak mampu melihat wajah putih,berseri yang memberi kenyamanan saat menatapnya.
"Pergilah!,tak perlu kau mencium tanganku.Aku tak pantas untuk di hargai oleh gadis sepertimu.Benar kata pepatah orang baik akan dapat yang baik,mungkin ini hukuman untuk kakak karna kakak masih cinta dunia sampai melupakan dirimu"lirih Arzil,mengucup tangan mengusap wajah yang sedari menangis dalam diam.
Melihat Arzil tak mengulurkan tangan,Syafa mencium kening sang suami untuk terakhir kalinya dan mengucap salam kemudian pergi meninggalkan Arzil yang terpuruk dalam kesedihan.
Setelah Syafa melangkah barulah Arzil menatap pundak Syafa yang sudah menjauh pergi meninggalkan dirinya.
Syafa,gadis putih,berseri itu kini menjadi seorang Bidan yang cukup sukses.
__ADS_1
Keramahannya pada pasien memberi kenyamanan bagi yang merasakan kelembutan melayani pasien yang ingin melahirkan.
Semua itu ia lakukan demi menjaga amanah Arzil,yang mengharap ia bisameraih cita-citanya.