Penantian Panjang Sang Pewaris

Penantian Panjang Sang Pewaris
Bab 33 : Menyesal


__ADS_3

♡Kasih Ibu kepada beta


Tak terhingga sepanjang masa


Hanya memberi tak harap kembali


Bagai sang surya menyinari dunia...♡


Ucap Syafa mengingat Ibunya...


Lalu menangis kembali menyebut putranya .


Syafa berjalan menuju Sheila , " Ka kau Ibu yang ja hatt ...,sekarang katakan di mana putraku??"


Syafa menyiram Sheila dengan air.Rasa kesalnya pada Elsa membuatnya memukul Elsa dengan boneka yang ia bawa dari rumah.


" Rasakan ini hahaha "


Melihat ulah Syafa,Arzil menahannya. " Cukup Syafa,jangan lakukan itu lagi" kata Arzil


Syafa menatap anak kecil yang di gendong Kevin.


" Siapa dia???"


Syafa memegang wajah anak itu," kau mungil sekali.Maukah kau menjadi anakku?"


Ucapan Syafa tak beraturan membuat Naurah menangis, " Pipi...Naurah takut ??? teriak Naurah lalu menatap Sheila berlari memeluknya.


Arzil menahannya , " dia bukan mimymu,mulai detik ini aku tidak akan mempertemukanmu dengan Naurah.Kevin tolong bawa Naurah keluar." tegas Arzil sengaja menggertak Sheila agar mengaku.


Sheila meremas ujung bajunya,suaranya mulai ingin keluar namun berat seperti ada yang menyekat.


" Cepat katakan??"bentak Arzil memukul meja


" Ehmm,putramu sudah meninggal."


" Kau pasti bohong " teriak Arzil tak percaya namun matanya mulai nanar apalagi mengingat Syafa yang begitu depresi kehilangan Syahril.


" Tidak,aku berkata jujur.Saat Polisi mengejar kami,mobil kami masuk ke jurang.Kau tak lihat aku sudah terluka?"


Sheila menunjuk tubuhnya yang sudah penuh luka.


Bian sedih mendengar cerita Sheila.Ia tertegun, menelan saliva.Berat langkahnya saat memandang Syafa yang hilang akal.


Bian pergi dan menyuruh Pihak Kepolisian memasukkan kembali ke jeruji besi.

__ADS_1


" Penjarakan saja mereka " ucap Bian mengandeng Syafa menuju parkiran. Bian terus saja memandang Syafa .


Sementara Arzil menemui Elsa dan mamahnya,"Mengapa kalian tega melakukan ini padaku??


" Apa salahkuuu?,bukankah selama ini semua keinginan kalian ku turuti.Aku emang bukan terlahir dari rahim yang sama namun mamah sudah ku anggap sebagai Ibuku sendiri.Dan kau Elsa mengapa kau tega padaku?,apa masih kurang?,aku merasa malu karna yang mengkhianatiku bukan orang lain melainkan keluargaku sendiri.Asalkan kalian tahu aku tidak pernah serakah akan harta warisan dedy.Aku sudah mempersiapkan pembagian harta gono gini karna kau juga saudaraku.Ini buktinya!"ujar Arzil membuat pengakuan dan menyerahkan beberapa berkas atas nama mereka masing-masing.


Elsa mengambil berkas itu dan membacanya.Tubuhnya sejenak terhenti suaranya mulai luntur.Perkataan Arzil ada benarnya.Penyesalan membubuhi jiwanya mengenal kejahatan yang ia lakukan pada Arzil.


" Kak ini beneran??"


" Iya,apa kau tak bisa membaca?"lirih Arzil matanya berkaca kaca.Kecewa sedih sudah pasti ia rasakan.Mengira kasih persaudaraan akan utuh ternyata sebaliknya.


Ia memaling wajah menahan kesedihannya yang begitu kecewa pada dirinya sendiri yang tak mampu menjaga amanah Dedynya untuk menjaga kerukunan ikatan persaudaraan.


Lalu Arzil mendorong kursi rodanya menuju ke Aldan tak Tapasya yang sebentar lagi menjadi mantan istri.


" Aldan akan aku jelaskan padamu.Kematian Pak Bram bukan salah Dedy ku melainkan itu murni kecelakaan.Ini buktinya!"


Arzil memberikan beberapa bukti bahwa saat itu Bram sendirilah bunuh diri karna depresi memikul hutang yang banyak serta membunuh karyawannya bernama Lusy.


Aldan meratapi segala yang ia lakukan hanyalah menyiksa dirinya sendiri.Pada akhirnya dendam membawa luka dan derita pada hati yang menyimpannya.


Setelah menyerahkan itu, Arzil pergi meninggalkan mereka yang dalam penyesalan panjang.


Arzil menemui Syafa di kediaman rumah Bian.Bian menghempas duduk di sofa menyandar.Hatinya risau,galau,bungung harus mengatakan apa.Adik satu-satunya mengalami gangguan kejiwaan.


" Assalam mu'alaykum.." ucap Arzil dan Kevin.


Arzil bergegas mendekat ke arah Syafa.Sementara Kevin duduk behadapan dengan Bian.


" Apa yang harus kita lakukan?,Ardian saat ini masih berkeliaran tak tahu di mana?" ucap Kevin .


Kevin yang sekarang menjadi kepercayaan Arzil,satu-satunya orang yang setia pada Arzil selalu menemani Arzil suka dan duka.


Bian mengempal menahan kemarahan yang sudah memuncak.Segala masalah yang ia hadapi saat ini berawal dari Ardian.


" Jika kau aku temukan akan aku beri balasan" gerutu Bian yang tak menyangka teman yang di anggap sahabat tega melakukannya tanpa belai kasihan.


Di tempat lain Ardian sedang mengendong Syahril.Mobil mereka emang masuk ke dalam jurang namun dengan cepat Ardian mengendong Syahril meloncat ke dalam sungai.


Syahril terlihat pucat dan tidak sadarkan diri.Ardian tampak ketakutan , bagaimana tidak anak tanpa dosa ini harus terlibat pertikaian antara kakak dan Adik.


" Semua ini gara-gara Elsa! "


Ardian meletakkan anak itu di pinggiran sungai, serta mencoba menekan dadanya agar air yang menyusup ke perutnya dapat keluar.

__ADS_1


" Wek wek weeek," Syahril memuntahkan airnya. tatapannya terlihat teduh memandang Ardian yang begitu khawatir padanya.


" Ummi...Syahril pengen ummi."


Syahril terus saja merengek menarik baju Ardian agar mau mempertemukan dirinya dengan Syafa.


Ardian terdiam menunduk , ia tampak begitu bingung harus terlibat dengan anak kecil yang tak pernah tahu cara mengurusnya.


" Diam,aku bilang diam yah diam.Aku tak tahu di mana ummi mu."


Ardian membentak , telinganya sudah panas mendengar rengekan Syahril yang terus saja memaksanya.


Syahril menangis kencang , " om jahat,mengapa om memisahkan ku dengan ummi ku.Salahku apa??" tanya Syahril sambil menangis meluluhkan hati Ardian.


Ardian memeluknya , " Sekarang naiklah di belakangku.Aku akan mencoba mencari jalan keluar agar kau bisa bertemu ummi mu." Bujuk Ardian sambil mengendong Syahril di punggungnya.


Syahril tersenyum dan menuruti perintah Ardian.Kebersamaan mereka semakin erat.


" Om Syahril lapaarrr " keluh Syahril memelas menyentuh perutnya yang sudah memanggil mintak di isi .


" Aduhhh...anak ini benar-benar merepotkannn,menyesal aku menyelamatkannya." gumam Ardian


Ardian mendudukkan Syahril di berbatuan.Kemudian ia membuka bajunya untuk menangkap ikan dan membakarnya.


Syahril tersenyum di balik sifatnya yang keras,Ardian masih memiliki sifat peduli meskipun karna keterpaksaan.


" Om ikannya gedek kali.Pasti enak di bakar." Ujar Syahril melihat Ardian mengenteng ikan di bajunya.


" Kau itu selalu menyusahkan aku.Apa kau tak tahu aku sangat lelah " keluh Ardian mengipas wajahnya dengan dedaunan.


Syahril meloncat duduk di pangkuan Ardian.Ia memegang pipi Ardian dan mengusapnya.


" Om tahu,Syahril baru saja ingin merasakan sentuhan kasih sayang dari seorang Abi tapi....Syahril belum sempat.Empat tahun Syahril menunggunya" ucap sedih Syahril menunduk.Awalnya tampak begitu bahagia tapi beakhir pada perpisahan.


Kejadian Syahril mengingatnya pada Arzil sang kakak yang selalu menyayanginya.


*Flash Back On


Arzil sedang bermain bersama mamahnya,bernama jihan.


" Arzil jangan lari-lari sayang " ucap Jihan, namun tak lama bola Arzil berjalan menuju jalan . " Awaaaassss " teriak Jihan menatap mobil yang sedang melaju ke arah Arzil.Dengan cepat Jihan menolaknya hingga Jihanlah yang tertabrak dan meninggal.


" Maaaaamaaah ."


Arzil berlari memeluk mamahnya yang sudah berlumur darah di kepalanya*.

__ADS_1


__ADS_2