
Hari ini Syafa berencana mengisi liburannya mengikuti kegiatan sosial yang di adakan pihak rumah sakit menyambut hari Kesehatan Dunia.
Dia dan teamnya menuju ke lapangan yang begitu luas serta di hadiri para tamu dari berbagai daerah.
Syafa memakai seragamnya tak lupa jilbab besar menutup dadanya.Bian yang dari tadi tak menemuinya bergegas menuju ke arahnya yang sedang berbincang seputar kesehatan pada Halwa dan Farah.
Mereka sibuk menyusun peralatan kesehatan di atas mejanya masing-masing.Terlihat masyarakat sangat antusias mengikuti kegiatan ini.
syafa terdiam saat Bian berjalan menuju ke arahnya.
"Syafa kamu kog standnya di sini?,kenapa gak di tenda sana?,kebetulan tempatku kurang satu orang"ujar Bian mengharap Syafa gabung ke teamnya,namun Syafa menyarankan untuk Halwa yang membantu Bian.
Bian terdiam,sepertinya keinginannya sudah bisa di tebak oleh Syafa.
"Wa,kamu saja deh yang gabung team Dokter Bian?,aku sudah nyaman di sini"ucap Syafa memainkankan sebelah matanya membuat Halwa tersipu malu.
"Iya,kamu saja Halwa"sahut Farah mendukung tawaran Syafa.
"Aku sihh mau saja,tapi dokter Biannya keberatan gak?"tanya Halwa menatap Bian.
Bian masih diam,karna Syafa yang meminta akhirnya ia mengizinkan dengan sedikit terpaksa.
"Baiklah,mari Halwa ikut saya!"titah Bian berjalan tanpa pamitan.Halwa yang merasa Bian menerimanya terpaksa, sontak menatap Syafa.
"Sudah,jalan saja.Acara juga sebentar lagi di mulai"titah Syafa mendorong Halwa berjalan mengikuti Bian yang belum jauh mendahuluinya.
Acara berlangsung begitu meriah.Selain pengobatan dan pemeriksaan gratis,pihak rumah sakit juga berbagi santunan untuk anak yatim,fakir miskin dan kaum Duafa.
Ketika acara berlannsung,tiba-tiba seseorang pria memakai topi memegang perutnya yang sudah berlumuran darah,jalannya pincang memberi kesan bahwa ia sedang menahan sakit.
Dia menatap semua orang dengan samar.Darah segar terus saja mengalir hingga menembus pakaiannya.Pria itu tidak tahan lagi dan pingsan tepat di depan tenda Syafa.
Syafa tak sengaja melihatnya,ia berlari dan mendapati pria itu memegang peluru yang masih melekat di perutnya.
Syafa tak bisa berpikir panjang,menolong dan menyelamatkan seseorang adalah tugas utamanya.
Bian yang melihat kerumunan orang berkumpul di depan tenda Syafa berlari.
__ADS_1
Dia menyelinap di sela sela kerumunan orang,terlihat Syafa sedang menggigit peluru yang masih menempel di perut pria tak di kenal itu.
"Syafa,apa yang kau lakukan?,seharusnya kau jangan bertindak konyol seperti ini.Tunggu kontruksi dari Polisi.Pria ini tertembak,bagaimana kalau dia penjahat atau buronan polisi?"tegas Bian yang marah pada Syafa.
"Iya Syafa,sebaiknya tunggulah Polisi datang ke sini,pihak panitia sudah menelponnya"ujar Halwa di ikuti Farah yang mengangguk kepalanya.
Syafa yang sangat mengenal pria itu,ia tak peduli.Berbuih perkataan orang menghujatnya keras kepala ia tepiskan bahkan ia buang jauh-jauh hingga ke benua Eropa.
"Syafa,aku bilang hentikan,yah hentikan!"tegas Bian menahan tangan Syafa yang terus saja berusaha mengeluarkan peluru yang masih melekat di perut kanan sang pria.
"Aku bilang diam,yah diam!.Kalau kalian tidak mau membantuku sebaiknya kalian pergi,jangan mendekat.Aku tidak peduli jika Polisi menangkapku sekali pun memorgol aku"bentak Syafa yang sudah berhasil mengeluarkan pelurunya.
Kemudian beberapa Polisi datang menghampir mereka.Polisi memerintahkan untuk bubar kecuali Syafa yang masih duduk di samping pria itu.
"Maaf Pak,saya terpaksa melakukan tanpa menunggu bapak.Saya hanya merasa kasihan dengan pria ini.Jika tindakan saya ini melanggar hukum silahkan bawa saya ke kantor"lirihnya menyerahkan kedua tangan yang siap di borgol.
"Apa kau mengenal pri ini?"tanya petugas
kepolisian.
Syafa ragu mengatakan iya,ingin jujur tapi takut ketahuan teman-temannya.Akhirnya ia terpaksa berbohong.
"Baiklah,kalau gitu terima kasih telah membantunya"ucap Polisi itu.Kemudian membopong pria itu masuk ke dalam mobil.
Syafa menatap sedih kepergian pria itu.Kekhawatirannya tampak jelas di wajahnya.Ia masuk ke dalam tenda,mengambil minuman dan meneguknya hingga habis.
"Syafa,aku gak nyangka kamu senekat itu?"ucap Farah menatap Syafa yang memaling wajah dari tatapan Farah.
"Iya aku juga kecewa sama kamu"keluh Halwa yang menganggap Syafa wanita yang penurut serta menerima pendapat temannya kini berubah keras kepala karna pria itu.
"Iya aku juga"sahut Bian berjalan menyilang tangan ke arahnya.
Syafa merasa tersudutkan,ia pun memutuskan pergi meninggalkan mereka.
"Mereka hanya bisa berkata begini,begitu.Tapi mereka tidak tahu betapa beartinya pria itu untuk ku"gumamnya dalam hati.
Syafa menuju ke mushola untuk sholat zhuhur.Kepenatan dunia menjadi ia hampir melupakan akhirat.
__ADS_1
Tak lupa di sela sholat ia kirimkan doa untuk kedua orang tuanya.
Syafa menangis,wajah pria tadi masih membekas di pikirannya.
Entah apa yang di rasakannya saat ini,membenci tapi masih mengharap pria itu kembali.
Pertemuannya dengan sang Pewaris,menjadi awal kisah cinta Syafa season 2,aduhh pasti makin seru nihh...keg cacing kepanasan menunggu hujan turun hehehe.
Usai sholat ia beranjak menuju tenda tempat ia bertugas.Suasana begitu sunyi,tanpa sapaan dan obrolan dari kedua temannya.
dret dret dret
Ponselnya berdering terlihat sang Bibi Sonia sedang gelisah karna si Bocil sakit,demam.
"Hallo,Syafa buruan kembali Nak!,putramu demam,panas tinggi.Bibi udah kasih obat tapi tak kunjung turun.Mungkin dia kangen samamu?"lirih bik Sonia,sang pengasuh.
"Baik bik,Syafa segera ke sana"
tut tut tut
Telpon terputus...
Syafa segera mengambil tas kecilnya lalu di gantung di pundaknya.Ia bergegas menuju parkiran tak lupa pamit meminta izin kepada panitia.
Sesampai di parkiran kedua temannya dan dokter Bian mencarinya.Kepergian mendadaknya menimbulkan tanda tanya pada mereka.Apalagi Bian yang melihat sendiri betapa khawatirnya Syafa dengan pria itu.
"Dok,apa tahu di mana Syafa sekarang?,dia pergi begitu saja.Apa dia marah dengan sikap kita yang mengitimidasi dia?"tanya Halwa yang sudah berkeliling mencari Syafa.
"Entahlah,mungkin saja begitu.Ku pikir ada hal lain yang kita tidak ketahui tentangnya"ucap Bian membuat Halwa menatap dalam pria di hadapannya.
Ucapan Bian terlihat begitu senduh,bicaranya memelan seakan sedang mencerna kejadian yang barusan terjadi.
"Sudahlah,aku capek,besok saja kita tanyakan lagi ke orangnya"keluhnya pergi meninggalkan Halwa tanpa pamit.
Syafa baru saja sampai di rumah bik Sonia,terlihat putranya sangat pucat.Sebelum ia pergi ,Syahril putranya, kelihatan baik-baik saja namun tiba-tiba saja anaknya demam,mengingatkan dirinya pada kejadian tadi siang.
Syafa membawa Syahril ke klinik yang tak jauh dari rumahnya.
__ADS_1
Usai menembus obat dan membayarnya,Syafa kaget ternyata uangnya tinggal sedikit dan pastinya tidak mencukupi untuk kebutuhannya ke depan.
"Ya allah,gemana nih?,mana tabungan tinggal dikit.Aku tak mungkin meminta tolong pada Halwa,sementara yang kemarin saja belum lunas"lirih batinnya menghela nafas sambil menggendong putranya yang terlelap di dadanya.