Penantian Panjang Sang Pewaris

Penantian Panjang Sang Pewaris
Bab 50 : Bertemu Arzil


__ADS_3

Syahril tak memperdulikan ucapan Amel.Dirinya memantapkan hati masuk ke dalam mobil.Dengan berat Amel mau tak mau mengikuti Syahril.


"Hah.gitu dong,nurut." puji Syahril mengacak rambut Amel.


"Singkirkan tanganmu itu.Gak sopan!" cetus Amel merasa risih


Syahril mengangkat lembut tangannya dari kepala Amel lalu mengacaknya kembali.


"Dasar Bocah usil.Sudah, aku tak mau bicara padamu lagi." kesal Amel lalu terpandang wajah Arzil yang ketawa melihat ulah mereka.


Arzil mengajak mereka masuk ke sebuah Cafe yang terkesan mewah.


"Mari,ikut saya!"perintah Arzil di ikuti Syahril dan Amel yang dari tadi merasa tidak enak.


"Pak Al gak ikut?"


"Gag lah Pak.Saya di sini saja menjaga keamanan."ujarnya besandar sambil mencoba memejamkan mata.


Pak Al memang terlihat seperti Supir.Jika di lihat dari pakaian dirinya seperti Supir sungguhan.Di sebalik itu Pak Al adalah bodyguard yang Arzil bayar untuk menjaganya sampai dirinya bisa bertemu Kevin.


Saat ini Kevin sedang merencanakan sesuatu untuk melawan Ardian cs.Kevin dan Arzil sengaja menghilang serta membuat pemberitaan tentang kecelakaan yang terjadi 13 tahun yang lalu.


flash back on


Arzil terlihat gelisah sejak kehadiran Paman Athur di Rumahnya.Kecurigaannya semakin kuat saat mengetahui Paman Athur membebaskan Ardian dari hukumannya.


Malam itu Arzil meminta Kevin untuk mengatur rencana sedemikian rapi agar mereka tidak curiga.


Salah satunya membuat pertengkaran kecil dengan Syafa sampai sengaja memasukkan mobilnya ke dalam jurang.


"Kevin.Kamu yakin ini akan berjalan dengan lancar?"


Arzil tahu di balik rencana dirinya harus bertengkar dengan Syafa.


"Kau tenang saja.Apa kau tak percaya denganku?" ujar Kevin menaikkan alisnya lalu mendongak melihat Arzil yang gusar karna meninggalkan Syafa yang sedang sedih.


"Baiklah.Ku serahkan ini semua padamu.Lalu bagaimana dengan Bian?Kau tak mengajak dirinya untuk bergabung ke team kita." ujar Arzil menghentak meja pelan dengan kedua tangan.

__ADS_1


Kevin mendongak lalu berdiri memutar tubuh berjalan menuju sisi Arzil.


"Hei.Apa matamu sudah buta?Bian sedang galau memikirkan Halwa.Mana mungkin dia bisa fokus pada misi ini." kata Kevin lalu duduk kembali di posisinya tadi.


Kevin benar.Jika mengajak orang yang sedang galau bisa-bisa misi ini jadi berantakan.Apalagi kalau Bian tahu harus mengorbankan perasaan Syafa.Sudah pasti Bian menolaknya mentah-mentah.


Lagi pula Jika misi ini berhasil Arzil bisa kembali dengan istri dan anaknya.Semua ini Arzil lakukan untuk mengajar pengkhianat yang di lakukan keluarganya sendiri.


"Tapi kalau Bian tahu pasti dia marah." gerutu Arzil berdiri menyilang tangan menghadap Kevin.


"Kau tenang saja.Setiap cerita pasti ada antagonis,protagonis dan peran pendukung.Si Bian anggap saja peran pendukung yang akan menolong Syafa.Selesaikan?" ucap Kevin lalu mengebas kedua tangannya.


flash back off


Arzil menyuruh Amel dan Syahril duduk serta mempersilahkan memesan menu.


"Kau mau pesan apa?" Arzil menaikkan alis menyuruh Syahril memesan minuman.


Syahril dan Amel hanya saling menyenggol lengan.Keduanya saling menyerahkan buku menu.Syahril bingung!Mau pesan tapi tak tahu karna Syahril buta huruf.Begitu juga dengan Amel.Dari kecil tidak menempuh bangku sekolah karna tak punya biaya.Boro-boro mau sekolah untuk biaya hidup saja sudah tunggang langgang tak karuan.Harus mengais sana mengais sini.Mereka menjalani hidup seperti burung kais pagi makan pagi.Kais petang makan petang.Sungguh berat kehidupan Syahril.Meski begitu Syahril tetap belajar mengaji di masjid yang tak jauh dari Rumahnya.


"Maaf.Kami tidak tahu membaca." ujar Syahril lalu menyerahkan buku menu ke Arzil.


Arzil memegang buku menu dan memesan beberapa makanan lalu menyerahkan ke pelayan Cafe.


"Dari tadi mengobrol,tapi kau tak menyebut namamu?"


Syahril bingung,mau jujur atau berbohong.Dia selalu ingat pesan Berto jangan mudah memberi tahu siapa namamu.


"Mus.Namaku Mus." jawab singkat Syahril


"Dan kau siapa?"


Arzil mengarah mata ke gadis di samping Syahril.


"Amelia.Biasa di panggil Amel."


Pelayan memgantar pesanan dan menyusun di atas meja.Amel dan Syahril menatap takjub Makanan yang di pesan Arzil begitu banyak.

__ADS_1


"Ayo..di cicipi.Aku yakin pasti kalian lapar."


Syahril memakan dengan lahap.Sesekali Syahril memandang Arzil yang sedang memandangnya makan.


"Mengapa kau menatapku seperti itu?" tanya Syahril lalu dirinya tak sengaja melihat jam tangan Arzil yang menempel di lengannya.


"Aku hanya kasihan pada kalian.Kalau kalian tak keberatan tinggallah bersamaku.Aku juga di Rumah tinggal sendiri." tawar Arzil memandang Syahril dan Amel yang sedang menikmati menu di hadapannya.


Syahril terus saja menatap jam itu.Jam itu sangat mirip dengan jam miliknya.Sayangnya jam itu sudah Syahril jual.Syahril tak begitu mengingat wajah Abinya di karnakan terlalu sering berpisah.Apalagi sudah 13 tahun Syahril tidak bertemu dan pastinya banyak yang berubah.


"Hei.Mus!Apa kau dan temanmu itu mau tinggal denganku?Nanti kalian aku cari guru les untuk mengajar kalian membaca." ujar Arzil sambil menunggu jawaban dari Syahril.


"Aku terserah saja.Tapi tidak tahu dengan Amel.Apa dia mau atau tidak?" kata Syahril melirik Amel yang duduk di sampingnya.


"Bagaimana Amel?Mus sudah mau.Kau itu seorang gadis, apa gak takut tinggal di kolong jembatan gitu.Kalo ada pria hidung belang kayak mana?"kata Arzil menakuti Amel agar tak menolak niat baiknya.


"Bukankah kalian berdua juga pria?Bisa saja kalian seperti yang anda masuk.Pria hidung belang!"sindir Amel


Sindiran Amel menggelitik jiwa Syahril.Selama ini Syahril tak pernah melakukan yang aneh-aneh padanya.Bahkan selalu melindunginya.Tapi mengapa Amel bisa melontarkan kata itu padanya.


"Hei Amel!Jaga ucapanmu itu.Bapak ini berniat membantu kita.Mengapa kau menolak?"


"Darimana kau tahu?Emang kau punya indra ke enam bisa membaca batin seseorang." sindir Amel menarik kursi berdiri dan pergi meninggalkan Arzil dan Syahril.


"Dasar keras kepala." batin Amel


Amel berjalan sambil memutar tubuh melihat reaksi Syahri.Apa mengejarnya atau tetap duduk manis tanpa memikirkan perasaannya.Amel tak sengaja menabrak Pak Al yang ingin memberi tahu kalo Kevin sudah menunggu di hotel yang mereka janji untuk bertemu.


"Ups.Ma af Pak.Amel tak sengaja." kata Amel lalu memunguti uang koin dan foto pria misterius yang di perintahkan Berto.


Pak Al mengamati foto yang di pegang Amel lalu memasukkan dalam saku bajunya.


"Tunggu!" ucap Pak Al


"Ada apa Pak?"


"Bisa kau berikan foto itu padaku?"tanya Pak Al menengadah tangan di hadapan Amel.

__ADS_1


"Apa Bapak mengenalnya?" ucap Amel lalu menyerahkan foto itu.


Amel senang karna selangkah lagi dia akan bertemu dengan pria misterius itu.


__ADS_2