Penantian Panjang Sang Pewaris

Penantian Panjang Sang Pewaris
Bab 24 : Adik Kandung


__ADS_3

Bian menatap foto sang calon istri,hatinya begitu berbunga-bunga.Hari nan bahagia dan bersejarah dalam hidupnya tinggal menunggu hari.


"Sekian lama aku menunggu hal ini terjadi,akhirnya kesampaian juga"ucapnya senyum-senyum sendiri saat mengingat Syafa.


Atikah ingin menuju ke kamar Bian,keinginan untuk mengatakan rahasia terbesar pada putranya sudah di ujung-ujung kepala.


Dia tak bisa lagi menunda,menundanya akan menambah luka untuk Bian yang begitu mengharap Syafa menjadi istrinya.


Tok tok tok


"Bian,boleh mamah masuk?"tanya Atikah dengan perasaan tak karuan.Ia menyentuh dadanya dan menaik nafas dalam.


"Masuk saja mah,pintunya tidak di kunci"ucap Bian,segera ia menyimpan foto Syafa di bawah bantal tidurnya.Kemudian ia duduk bersila,seakan akan sedang bermain ponsel.


Klek


"Bian,mamah mau mintak tolong,bisakah kamu mengantar mamah ke rumah Syafa,sekarang?ada yang ingin mamah bicarakan padanya"titah Atikah,kemudian melihat Bian senyum bahagia saat sang mamah menyebut Syafa.


"Ya Allah,andai Bian tahu kenyataan pahit kalau gadis yang ingin ia nikahi adalah adik kandungnya sendiri,apa dia bisa ikhlas dan menerima?"gumam Atikah dalam hati,apalagi Bian bersiul saat mengambil kunci mobilnya dan turun menuju garasi.


Bian membawa mamahnya ke rumah Syafa,terlihat Syafa sedang bermain dengan putranya,Syahril.


"Abi"ucap Syahril berlari memeluk Bian,Bian menggendong dan menciumnya.


"Jagoan Abi,udah makan?"tanya Bian mencubit hidung Syahril yang gemesin.


Di usia dua tahun setengah,Syahril sudah bisa berbicara meskipun tidak lancar namun ia bisa di bilang cepat dalam berbicara.


"Cudah,ummi mana?"


Syafa terus saja membersihkan mainan tanpa menyambut kedatangan Bian dan Atikah.


Bian merasa heran,sikap Syafa yang berubah begitu dratis membuatnya berdialog pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Bian berjalan menuju ke arah Syafa yang tanpa senyuman dan kata sapaan.


"Calon suami datang,bukan di sambut malah di cuekin?"cetus Bian yang sudah kesal perlakuan Syafa padanya.


Atikah mendengar kata Calon Suami hatinya semakin takut dan bergemuruh.


Syafa masuk ke kamar mengambil sebuah amplop bewarna coklat berisi uang biaya pengobatan Syahril agar tidak merasa berhutang budi pada Bian,apalagi mengetahui Bian adalah saudara tirinya.


Syafa mengambil tangan dan meletakkan amplop coklat itu ke Atikah.


"Apa maksudmu Syafa?"lirih Atikah yang tak henti menatap Syafa,raut wajahnya dingin.


"Itu uang yang aku pinjam kemarin untuk pengobatan Syahril.Aku tidak mau memakan budi dengan orang yang telah membuangku?"lirih Syafa dengan mata berkaca-kaca sambil membereskan pakaiannya.


Melihat itu,Bian mengambil amplop itu dan menyerahkan kembali ke Syafa.


"Apa yang kau bicarakan?,aku menolongmu ikhlas,lagipula sebentar lagi kau menjadi istriku"lirih Bian bicara serius,wajahnya merah padam dan kecewa pada sikap Syafa yang mendadak berubah setelah pulang dari kampung halamannya.


"Aku pikir,mertuaku saja yang tak menginginkan kehadiranku.Rupanya Ibu kandungku juga yang melahirkanku kemudian pergi meninggalkanku hanya demi mencari pria yang kaya,dan meninggalkan suaminya yang selalu berharap ia kembali"lirih Syafa,ia tak mampu lagi menahan kesedihannya.Sehingga putih,bening bercucuran mengalir membasahi pipinya.


"Ibu kandung?"ucap Bian tak percaya,sementara Atikah memegang tangan Bian agar bisa mengerti posisi dirinya saat ini.


Atikah bingung,pemilik hati yang mana harus di dahulukan.Syafa dan Bian sama-sama anak kandung yang lahir dari rahim yang sama serta nasap yang sama.


"Mamah,mohon!mengertilah posisi mamah.Mamah sudah bingung menjelasnya seperti apa?,kau dan Syafa memiliki ikatan darah yang sama,lahir dari Ibu yang sama"tegas Atikah.


"Jadi,ini alasan mamah ajak Bian ke sini?.Putri terbuang yang di maksud Syafa adalah dirinya?"ucap Bian menunjuk ke arah Syafa yang begitu terpukul atas semua ini.


Bian memegang pinggang dan menyandar kepala di pengelangan tangannya yang menempel di dinding rumah Syafa,Ia bergumam.


"Aku hampir saya menjalin hubungan terlarang,aku tak tahu apa aku bisa ikhlas menerimanya atau tidak?"gumamnya dalam hati.


Suasana begitu tegang,Syahril hanya memeluk umminya.

__ADS_1


Flash Back On


Atikah berjalan mencari alamat Nyonya yang sudah mengambil anaknya.


Ia melihat rumah sang Nyonya sangat besar dan terlihat seorang anak laki-laki bermain bola di halamannya yang besar.


Nyonya besar itu bernama Rianti.Ia berjalan menggunakan kursi roda.


Tanpa sengaja,ia memandang Atikah sudah berdiri di besi pagarnya sambil melihat bocah laki-laki itu bermain.


Rianti memanggil sang bocah untuk mendorongnya menuju ke Atikah yang sudah berdiri lama di sana.


"Akhirnya,kamu datang juga.Lihatlah sekarang putramu sudah besar"lirih Rianti,tubuhnya begitu kurus serta wajah yang pucat.


Rianti menyuruh Atikah masuk dan duduk di ruang tamu agar bisa leluasa dalam berbicara.


"Nyonya kau sekarang kelihatan berbeda,apa kau sakit?"tanya Atikah yang begitu kaget melihat perubahan tubuh Rianti yang semakin kurus.


"Seperti inilah aku.Kankerku menyebar lagi mesti rahimku sudah di angkat,makanya aku membuat perjanjian untukmu datang ke sini.Aku khawatir pada putraku, jika aku pergi meninggalkan dirinya tanpa sosok Ibu yang bisa menggantikan diriku di sampingnya"ungkap sedihnya yang terlihat dari tatapan matanya yang nanar.


"Lalu apa tujuanmu menyuruhku ke sini"tanya Atikah sembari melihat Bian yang tersenyum padanya.


"Aku ingin kau tinggal di sini,jadi Mamahnya Bian.Bian pasti senang dan bahagia bertemu dengan Ibu kandungnya"lirih Rianti yang begitu berharap agar Atikah tinggal bersama Bian dan melupakan keluarganya.


"Bagaimana dengan suami dan putriku"lirih Atikah tak kuasa menahan sedih harus berpisah pada sang anak dan suami tercinta.


"Lupakan saja mereka,buat kau seolah-olah ingin menikah lagi"ucap Rianti yang tak peduli perasaan Atikah.


Atikah merenung,di sisi lain ia sangat berat meninggalkan sang putri,namun ia juga rindu pada sosok putra yang sudah sepuluh tahun terpisah.


Sejak itu Atikah memutuskan untuk mengasuh sang anak.Rianti yang sakit-sakitan terpaksa harus di rawat rumah sakit.Sehingga Bian jarang bertemu mamahnya dan banyak mengisi kebersamaan bersama Atikah.


Atikah sangat bahagia,rindu yang ia rasakan selama ini harus terbalaskan,namun di balik bahagiannya ada duka yang dalam yaitu meninggalnya Rianti ke pangkuhan ilahi dan berpisah pada sang putri tercinta.

__ADS_1


__ADS_2