
Syafa mengonceng Syahril,Bocil kecil ini sangat antusias dan tak bisa diam.
Hari ini ia libur,jadi memutuskan membawa Syahril ke tempat sahabatnya,Halwa.
Tak sengaja di persimpangan lampu merah,dua mata menatap Syafa tak percaya.
"Mah,kayaknya itu Syafa deh!"ucap Tapasya membuka jendela mobil agar bisa melihat lebih dekat.
"Iya benar Tapasya,tapi anak itu siapa?"
"Mana??"
"Ituh Mah,yang di boncengin Syafa"tegas Tapasya yang juga menggendong putri kecilnya.
"Mungkin itu anak dari suami barunya,kan kita tahu sebenarnya rahim Syafa sehat,kita saja yang membayar Dokter itu untuk mengatakan ia mandul"ucap tanpa dosa sang mantan martua,tapi ia gemesh melihat putra Syafa ketawa padanya serta menggerakkan tangan tangannya.
Lampu kini beralih hijau,semua kendaraan mulai berjalan mengikuti arah jalan untuk sampai ke tujuan.
Syafa yang fokus membawa kendaraan tak menyadari,seseorang telah memfoto Syahril,putranya.
Syafa memasuki halaman rumah yang luas,rumah milik sang Dokter cantik Halwa,sahabatnya.Begitu juga Farah sudah mengenteng sekantong jumbo jajan untuk sang keponakan,Syahril.
"Tuh dia,si ganteng sudah datang"ujar Farah menunjuk ke arah Syahril berlari meluruskan tangan yang siap merebut Syahril dari Syafa,namun di tepis Syafa karna Farah selalu lupa mencuci tangan.
"Jahat banget luh"cetus Farah melipat tangan menggerut bibirnya.
"Udah cuci tangan gak?,main sambar saja?emang putraku bola"gerutu Syafa,melirik ke Farah yang sudah jengkel.
"Sini si ganteng sama aku ajah"kata Halwa,kemudian menggendong Syahril masuk ke dalam rumahnya.
Farah yang jengkel ulah Syafa,hanya pasrah membawa kantong kreseknya berisi cemilan.
Mereka mengobrol sembari mengunyah beberapa cemilan.
Sementara Syahril bersama Farah,"Kamu itu kog ganteng banget,siapa sihh Abi loh?"cetus Farah mencubit pipi Syahril yang dari tadi ia gendong.
Mendengar pertanyaan Farah,Syafa melongos,"Kalo mau tanya jangan ke putraku?,dia masih kecil,yang ada aku nantinya berabe bingung jawabnya"cetus Syafa menyengir kuda,menambah keriuhan sesamanya.
Farah sedari tadi bermain lempar lemparan terhenti sejenak.Selama ini Farah tak pernah bertanya langsung perihal Abi Syahril,takutnya menyinggung perasaan Syafa.
Mendengar penuturan Syafa,kesempatan untuk bertanya langsung ia gunakan tanpa berpikir panjang.
Ia menyosor duduk di samping Syafa,bagitu juga Halwa mengikuti gerak Farah,duduk di sisi sebelahnya.Kini posisi Syafa di tengah di himpit kedua sahabatnya yang sudah berjalan tiga tahun lamanya.
"Kalian kenapa?,tiba-tiba agresif gini sama akuh,kamu juga Halwa ikut-ikutan Farah yang bar-bar ini!"ujar Syafa memperhatikan tingkah sahabatnya ini.
__ADS_1
"Lah,tadi bukan situ sendiri yang suruh akuh bertanya,siapa Abi tuh bocah?,sekarang malah pura-pura amnesia.Benarkan Halwa??"tanya Farah yang sudah di ujung ujung pengen tahu cerita masa lalu Syafa.
"Iya benar tuh!"sahut Halwa antusias.
"Cepetan cerita!"rengek Farah mencubit jilbab Syafa.Melihat sikap temannya seperti anak kecil,Syafa hanya menghela nafas berat.
"Mau tahu banget atau mau tahu saja?"tanya santai Syafa menatap kedua sahabatnya yang sudah memasang wajah keseriusan mendengar penjelasan Syafa.
"Bangett,bingitts,bangeeettt Syafa,cepetan ahh!"cetus Farah di ikuti oleh Halwa.
"Akuuhh juga tidak tahu!"ucap singkat Syafa mengangkat pundak kemudian menghela nafas panjang.
Farah yang sudah begitu antusias mendengar jawaban Syafa yang tidak masuk akal,sontak berdiri memegang pinggang,menahan asap yang sudah keluar dari telinganya dengan segera menghembuskan hingga poni rambutnya terangkat.
"Huuuuuuftttt"
Halwa menatap Syafa tak percaya,ia hanya memandang antara Syafa dan Syahril.
"Bagaimana bisa,Syahril jadi tanpa sel telur yang membuahi,apa kisah hidupmu seperti Maryam Ibunda nabi Isa As"ceplos Halwa yang tanpa berpikir panjang.
"Hush.Sembarangan kamu,Maryam wanita istimewa,sementara Syafa wanita akhir zaman yang berusaha mencontohi jejak mereka dalam bertakwa"cetus Farah yang terkadang ucapannya suka asal asalan tapi mengandung arti yang dalam.
"Sudah,sudah.Tak usah di bahas lagi,move on saja,anggap gak ada,oke!"rayu Syafa yang buntu memikirkannya.
"Kamu serius tidak tahu?"tanya Halwa merasa kasihan pada Syafa yang harus membesarkan anaknya tanpa suami.
Flash back on
Syafa sedih,menangis terharu saat wisuda tanpa di hadiri sang wali seperti teman lainnya.
Ada sedikit kecewa pada Arzil,tak dapat hadir karna ada meeting mendadak di luar kota.Saat itu hubungan keduanya sedikit membaik.Meski tak tinggal satu atap namun Arzil masih menanggung kebutuhan Syafa,sang istri hingga ia menyelesaikan pendidikannya.
Malam itu,sang sahabat Desni mengadakan pesta perpisahan kecil-kecilan di sebuah restorant sederhana bersama teman team bansos yang sering Syafa ikut.
"Syafa,setelah ini kamu udah ada planning mau ke mana?"tanya Desni memandang Syafa yang lagi sedih dan kecewa.
"Entahlah,aku belum ada tujuan mau kemana.Yahh...mungkin lebih tepatnya cari kerjaan mungki.Aku gak mau bergantung pada kak Arzil mulu.Sekarang ia sudah punya keluarga baru dan aku juga akan berpisah dengannya"lirihnya dengan mata berkaca-kaca sambil memutar mutar minuman dingin yang ia pesan.
"Kamu serius Syafa?"tanya Desni tak percaya.
"Iya aku serius!,aku wanita tak sempurna.Mamah mertuaku sangat menginginkan cucu sementara aku sudah di vonis mandul oleh Dokter"keluhnya tak terbendung.Rasa sakit menusuk hatinya saat mengucapkan kata mandul.
Mendengar cerita sang sahabat,Desni memeluk,menggosok punggung Syafa agar kuat menghadapi cobaan yang begitu besar menghampiri rumah tangganya yang sudah hampir tiga tahun.
"Kamu yang sabar yah,mungkin hari ini kamu sedih.Esok atau lusa kamu pasti meraih kebahagiaan"tutur Desni mengusap air mata Syafa yang sudah membajari kota jakarta.
__ADS_1
*Author saja gak kebayangin sedihnya Syafa*
"Makasih Des,masih setia menjadi temanku.Meskipun ini menjadi terakhir kita bertemu, karna besok dirimu akan pindah ke luar negeri"lirih Syafa memandangi sahabatnya yang begitu setia dalam membantu segala hal.
Namun keduanya tak menyadari,ada kejahatan mengintai Syafa yang siap menerkam.
Syafapun memeluk sahabatnya,dan memberi cinderamata sebagai kenangan.
"Ku harap kau suka hadiahnya"ujar tulus Syafa.
"Tentu,aku akan menyimpannya sebagai kenangan terindah"lirih Desni menahan tangis,keduanya saling berpelukan meluahkan perasaan yang tak ingin berpisah.
Usainya kedua berpamitan,Syafa pun pulang berjalan kaki karna tak jauh dari rumah kos kosan tempat ia tinggalnya saat ini.
Tiba-tiba sosok lelaki asing memeluknya dan memberi bius di mulutnya hingga ia pingsan tidak sadarkan diri.
Pria asing itu suruhan Tapasya yang menginginkan Syafa untuk menjauh dari suaminya.Ia membayarnya agar membunuh Syafa dan membuang jauh jauh dari kehidupan Arzil.
Pria itu membawa di sebuah rumah kecil,saat ingin melakukan aksi bejatnya,tiba-tiba sosok pria mendobrak pintu kamarnya dan terjadilah perkelahian kecil.
Syafa yang sudah tidak mengenakan pakaian,menyadari seperti terjadi sesuatu pada dirinya.Ia berjalan menghidupkan lampunya betapa kagetnya sudah banyak darah yang bercucuran.
Ia duduk memeluk tubuhnya dan menangis terisak-isak memikirkan siapa pria yang telah melakukan ini pada dirinya.
Ia bergegas mengenakan pakaiannya,dan meninggalkan rumah kecil yang memberi goresan luka yang dalam.
Awalnya ia merasa lega mengingat Dokter mengatakan bahwa dirinya mandul.Namun selang bulan berikutnya Syafa kaget siklus halangan menjadi lambat bahkan tidak datang.
Ia pun memutuskan untuk membeli alat kecil penguji kehamilan.
"Ini tidak mungkin!,Bagaimana ini bisa terjadi?,sementara Dokter mengatakan diriku mandul.Jadi selama ini aku yang mandul atau..?"ucap batinnya yang tak mampu menyambung kata.Pikirannya benar-benar bingung harus bicara apa.
Dua bulan berikutnya,ia mendapat kiriman surat dari Arzil,bahwa sekarang dirinya resmi berpisah dari sang suami.
Air mata Syafa bercucuran,ia menangis kuat besandar di ruang tamu kecilnya sambil mengelus perut yang sudah menginjak kehamilan delapan minggu.
Hatinya remuk,para tetangga sudah mencibirnya.Mengatain dirinya wanita penghibur malam berselimut pada jilbab besarnya.
Cobaan demi cobaan menghampiri,namun Syafa tetap kuat dan tegar menghadapi dengan sabar.
Berkat kesabarannya ia di terima bekerja di rumah sakit umum jakarta pusat sampai sekarang.
Membesarkan buah hatinya yang menjadi penyemangat dalam hidupnya.Yang lebih membahagiakan dirinya adalah gelaran menjadi seorang UMMI.
Sang anak yang mengerti pada kondisinya,tumbuh kembang sempurna seperti anak lainnya.
__ADS_1
Sejak itu Syafa tak pernah memikirkan siapa Abi sang anak,baginya fokus membesar dan mendidik menjadi anak sholeh adalah kunci utamanya.
Flash back off